5 Tips Memilih Proteksi Pendidikan Anak

Jadi, beberapa hari lalu saya teman kantor lama saya curhat. “Eh, anakku sekarang udah mau masuk SD, enak ya kamu masih single dan belum punya tanggungan.” Sekilas pernyataan tersebut membuat saya tersenyum bahagia.  Ya, bahagia karena belum punya tanggungan.

Eh, belum punya tanggungan bukan berarti kita nggak menyiapkan masa depan. Dalam hal menyusun keuangan, boleh dibilang saya sangat concern. Sudah lama saya tertarik dengan yang namanya perencanaan keuangan.

Continue reading “5 Tips Memilih Proteksi Pendidikan Anak”

Sajian Piring Terbang di Resepsi Pernikahan

“Duh, sudah lama nggak pulang kampung,” biasanya kalimat itu yang sering muncul kalau saya lagi ngobrol sama teman-teman SMP di WAG. Banyak banget kenangan sewaktu tinggal di Ngawi.

Dulu, sewaktu tinggal di Ngawi saya sering ikut kegiatan-kegiatan di yang diadakan oleh pemuda di lingkungan RT. Salah satu yang paling saya ingat adalah Sinoman. Apa itu?

Nasi pupuk yang terdiri dari nasi, daging lapis, acar putih, dan kerupuk bawang pic: Picdeer.com

Jadi gini, sesuai tradisi di kampung, khususnya daerah Solo-Madiun dan karesidenan di sekitarnya, setiap ada acara hajatan pernikahan, selalu dibentuk panitia yang diakomodir oleh keluarga dan warga setempat. Enggak ada tuh yang namanya wedding organizer seperti di Jakarta.

Baca juga: Perbedaan Budaya Solo dan Jogja

Kalau di kampung ada hajatan, pemuda-pemuda dan warga di lingkungan RT yang selalu sibuk. Semua turut mangayu bagya (turut berbahagia). Mulai dari pra-hajatan hingga pasca hajatan. Setidaknya ada tiga tahapan: yang pertama adalah pra hajatan sekitar satu atau dua minggu sebelum acara, si pemangku hajat akan mengundang seluruh warga.

Undangan ini dimaksudkan untuk berembug dan bermusyawarah menentukan panitia. Rembugan pra hajatan ini namanya Kumbokarnan. Panitia akan dibagi-bagi sesuai jobdesc yang dibutuhkan. Ada yang rewang (masak-masak) dekorasi (bikin janur dan kembar mayang), pelayan atau sinoman, biasanya para pemuda (ini yang sering saya jabat :D).

Sinoman ini akan bertugas pas hari H saat upacara resepsi berlangsung. Kenapa memakai sinoman? Karena sesuai tradisi, resepsi pernikahan di kampung menggunakan sistem piring terbang.

Apa itu, UFO?

No, bukan, jadi pesta resepsi pernikahan itu tidak menggunakan sistem prasmanan atau standing party cem pesta di kota-kota besar. Semua tamu yang hadir harus datang sesuai jam yang tertera di undangan. Semua wajib duduk di bangku masing-masing yang sudah disediakan. Mengikuti seluruh rangkaian upacara adat dan hiburan dari awal sampai akhir.

Baca juga: 11 Tradisi Jawa yang Sudah Langka

Tamu nggak boleh selonong boy ke pelaminan, salam-salaman terus selfie sama pengantin. Salam-salaman hanya dilakukan di akhir acara.

Terus ngapain aja selama itu?

Sebagai tamu undangan kita harus duduk khidmat menikmati acara yang disediakan pemangku hajat. Hiburannya: kalau nggak gamelan, campur sari atau wayangan semalam suntuk.

Terus kapan kita makannnya? Nah ini, makanan untuk para tamu akan diantarkan langsung oleh petugas yang dinamakan sinoman tadi. Kalau dirujuk dari sejarah bahasa mungkin artinya mungkin “sing enom”. Masih muda, masih kuat angkut-angkut baki berisi makanan dan minuman. Seterong man! Sistem pengantaran makanan satu per satu ini yang dinamakan piring terbang.

Urutannya menunya begini: USDEK, U merujuk dari kata unjukan atau minuman, pertama kali para tamu yang hadir biasanya akan disuguhi teh manis panas. Baik acaranya pagi, sore, maupun siang bolong dengan matahari bersinar panas di atas kepala. Teh manis panas ini hukumnya wajib, kalaupun ada gantinya biasanya teh botol tanpa es.

Sop Manten pic: cookpad.com

Sajian yang ke dua adalah huruf S alias Sop tanpa nasi. Satu piring sop isinya berupa suwiran daging ayam, kapri, wortel dan macaroni. Tambahan lainnya adalah jamur es. Sop ini porsinya kecil dan rasanya sangat segar. Sewaktu nulis ini, saya kangen cita rasa sop yang nggak bisa dilupain dan nggak bisa ditemuin di Jakarta.

Sajian ke tiga: Dahar (hidangan utama), menu utama ini biasanya antara nasi Pupuk (bukan pupuk tanaman ya :D) atau Selat Solo. Nasi Pupuk ini semacam nasi rames yang terdiri dari secentong nasi yang dicetak dalam mangkok, daging lapis, acar putih, pindang telur, dan kerupuk udang.

Nah, kalau Selat Solo biasanya isinya berupa potongan daging sapi dibentuk bulat, kentang goreng, buncis, wortel dan telur rebus. Tanpa nasi ya gaes! Terus atasnya disiram kuah berwarna coklat.

Karena porsinya kecil jadi rasanya mantul banget, buat yang lapar pasti rasanya kurang nampol. Tapi, apa daya, tamu-tamu yang hadir enggak bisa nambah. Satu orang cukup satu porsi, udah gitu ya, orang Jawa kalau makan di acara resepsi, sudah ada aturan tidak tertulis: harus disisain supaya nggak dibilang rakus dan nggak pernah makan. 😀 Saya pun kadang suka kangen menu makanan ini.

Es Podeng pic: cookpad.com

Kemudian sajian terakhir adalah es, biasanya es podeng dengan isian agar-agar, kolang kaling, dan setup nanas. Beda banget kan ya, sama es podeng yang dijual abang-abang di Jakarta.

Dan yang terakhir Kondur (pulang), sebelum kondur, tamu-tamu harus salam-salaman sama pengantin, beruntung kalau bisa selfie-selfiean. Eh, tapi kan zaman dulu belum ada kamera hp, jadi jarang banget tuh tamu pepotoan sama pengantin.

Nah, di situlah peran sinoman alias menjadi pramusaji. Jadi misalkan ada dua ribu tamu undangan, akan ada dua ribu piring, gelas dan teman-temannya. Satu hal yang membahagiakan bagi sinoman adalah mereka boleh makan sepuasnya.

Maklum lah ya, butuh energi besar buat ngangkut-ngangkut semua peralatan makan tersebut. Dan di situ, kita semua nggak dibayar sepeserpun alias gratis.  Kita sadar kok, kalau ini adalah kerja sosial. So, nggak harus nunggu ditunjuk pun kita tau diri. Kalau keluarga kita ada hajatan, semua juga pasti akan membantu kita tanpa diminta.

Yang dibayar hanya mereka yang bekerja keras rewang di dapur, biasanya ibu-ibu yang menjadi kepala koki, penanak nasi, pembuat minuman dan petugas cuci piring. Selebihnya, yang rewang (membantu) ya enggak dibayar. Sebagai gantinya tuan rumah akan membagikan hantaran berupa nasi lengkap dengan sayur dan lauk pauk untuk keluarganya karena mereka sudah rewang di rumahnya. Kita semua bekerja sukarela mangayubagya (turut berbahagia).

Satu hal lagi yang membuat saya bahagia ketika ada hajatan di kampung adalah ketika keluarga menerima punjungan. Biasanya ini sebagai undangan kehormatan. Punjungan ini berupa makanan hantaran yang terdiri dari satu susun rantang (zaman dulu) yang dikirimkan untuk tamu undangan khusus. Isinya nasi, ayam ingkung, sayur tempe atau kentang, kerupuk, dan jajan pasar.

Karena punjungan ini statusnya istimewa, so penerima punjungan harus tau diri dengan memberikan amplop lebih dari rata-rata saat pesta resepsi. Ya, karena kita menerima hantaran istimewa tadi. Nggak ada aturan baku terkait jumlah nominalnya. Penerima punjungan harus tanggap ing waskita (peka) bahwa kita dihormati oleh pemangku hajat.

Terus, biasanya seminggu setelah acara biasanya ada penutupan panitia. Namanya Sumsuman, ini bentuk rasa terima kasih keluarga pemangku hajat dengan mengundang mereka makan bubur sumsum. Filosofinya adalah biar rasa capek selama acara hilang sampai ke tulang sumsum.

Kalaupun acara penutupan panitia ini tidak diadakan di rumah pemangku hajat, sebagai pengganti, biasanya mereka mengirimkan sepiring bubur sumsum kepada para tetangga.

Ah, betapa saya merindukan momen-momen guyub rukun selama tinggal di kampung. Hal yang sama tidak pernah saya temui setelah hijrah di Jakarta. Jangankan menerima punjungan, sekadar njagong manten saja, hanya sebatas setor muka. Tak lebih dari sepuluh menit, isi buku tamu salaman dengan manten, nyicipin makanan sekadarnya, langsung pulang.

Kalaupun njagong teman dekat, bisa jadi saya sekalian reunian bareng teman-teman. Menu-menu dan acara yang sama sewaktu di kampung tidak pernah saya temukan lagi. Iya, saya paham, di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Saya hanya mengikuti adat perkotaan, tempat saya kini tinggal.

Kalau tradisi di kampung kalian seperti apa? Komen di bawah ya J

Cara Mudah Rencanakan Pendidikan Anak

“Pendidikan adalah cara terbaik untuk mengubah masa depan”

“lng ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” kalau ini adalah kutipan lokal yang sering banget saya dengar. Ketika masih SD, pasti sering baca tulisan ini di logo-logo seragam sekolah dasar. Leluhur kita Ki Hajar Dewantara menanamkan pendidikan itu dimulai dari keluarga.

How do we know?

Pernah liat acara mantenan Jawa? Seenggaknya pernah lihat kan, acara pernikahan adat Jawa, yang salah satu prosesinya adalah “Sindur binayang”. Itu lho yang mantennya dikrukupin pakai kain merah yang pinggirannya garis putih meliuk-liuk. Si bapak berjalan di depan megang ujung kain, manten di tengah dan si ibu mendorong dari belakang menuju kursi pelaminan. 

Prosesi itu adalah lambang kutipan dari Ki Hajar Dewantara di atas. Si bapak pengantin, sebagai kepala keluarga mengajarkan anak, untuk menjadi pemimpin di depan. Di belakang pengantin, si ibu turut mendorong dari belakang.

Pinggiran kain sindur yang meliuk-liuk adalah perlambang bahwa kehidupan itu, nggak selamanya lurus. Banyak kerikil (cobaan) dan keluarga adalah support system pertama untuk menghadapi pasang surut kehidupan.

Ing ngarsa sung tuladha: di depan memberi contoh (bapak), ing madya mangun karsa: di tengah menciptakan semangat (manten), tut wuri handayani: di belakang memberikan daya kekuatan (ibu).

Pranata ini adalah lambang tanggung jawab orangtua dalam memberikan tuntunan dan pendidikan yang baik. Termasuk menyiapkan segala antisipasinya.

Sebagai calon orangtua yang belum memiliki tanggungan anak, tentu bukan berarti kita berhenti belajar. Belajar tidak melulu di bangku formal, kan? Berhubung saya sudah nggak duduk di bangku kuliah, tetapi saya masih tetap berusaha mengembangkan diri dengan berbagai kegiatan.

Tau kan, yang namanya pendidikan itu investasi yang nggak akan pernah rugi. Makanya, sebagai calon orangtua yang baik, kita wajib belajar setiap saat. Termasuk dalam menyiapkan dana pendidikan. Ya, mumpung masih single dan belum banyak kebutuhan.

Jangan sampai mentang-mentang masih single, kita bebas membelanjakan pendapatan sesuai keinginan. Udah gitu kan, faktanya biaya pendidikan di Indonesia (catat di dalam negeri) setiap tahunnya semakin mahal.

Itu baru biaya pendidikan di dalam negeri, di luar negeri sudah pasti jauh lebih mahal. Yah.. memang kita tahu biaya pendidikan sekarang sangat mahal, terutama biaya untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

Kalau sering baca-baca informasi statistik, biaya pendidikan itu selalu mengalami inflasi 15-20 persen setiap tahunnya. Bayangkan berapa nilainya 15 atau 18 tahun ke depan? Namun, bukan berarti kita nggak bisa merencanakannya.

Sebagai calon orangtua, kita juga harus paham bahwa biaya pendidikan itu ada yang wajib dan juga ada yang sifatnya tambahan. Di negara kita kan, menganut wajib belajar 12 tahun, mulai dari SD sampai SMA, sehingga orangtua punya opsi untuk mendapatkan biaya pendidikan secara gratis.

Namun, biaya pendukung wajib ada, seperti seragam, buku-buku, les-les tambahan dan beragam biaya pendukung lainnya. Mulai dari pre-school hingga perguruan tinggi. Orangtua juga harus mawas diri dan bijak mengatur pendapatannya untuk menyiapkan dana pendidikan anak.

Menabung dan menyiapkan asuransi adalah langkah yang paling mudah. Salah satu cara yang paling mudah adalah merencanakan pendidikan anak dengan HappyEdu. Mudah karena kita tinggal memilih produk asuransi dari Astra ini hanya dengan satu ID.

Nggak perlu repot-repot, terus manfaatnya juga banyak. Mulai dari santunan biaya pendidikan anak jika tertanggung meninggal dunia karena kecelakaan, hingga manfaat tambahan seperti tunjangan kehilangan pendapatan karena cacat tetap atau keseluruhan, dan beragam manfaat tambahan lainnya.

Dari segi biaya juga nggak terlalu mahal kok. Range preminya mulai dari Rp100ribu-Rp180ribu. So, pengen pendidikan buah hati kita terlindungi? Serahkan saja sama HappyEdu dari HappyOne.

Selamat merencanakan!   

Menelusuri Keindahan Rumah Joglo

Saya tuh suka banget yang namanya rumah-rumah klasik. Beberapa kali mengunjungi rumah-rumah tradisional berbahan dasar kayu selalu membuat saya takjub. Salah satu rumah tradisional favorit saya adalah rumah Joglo.

Joglo Rumah Tembi di Yogyakarta

Rumah tradisional yang asli berasal dari Jawa ini memang sangat indah. Biasanya dalam satu komplek bangunan lengkap terdiri dari beberapa bagian ruang. Dari arah depan sebuah gerbang dengan pintu kayu atau dalam bahasa Jawa bisa disebut regol.

Di bagian belakang pintu regol dilengkapi dinding pembatas yang disebut rana. Dinding ini berfungsi sebagai pembatas dan penghalang. Sehingga ketika pintu gerbang atau regol dibuka, halaman rumah tidak terlihat langsung dari jalan raya.

pendopo gaya solo dengan warna coklat kayu

Halaman depan biasanya ditanami dengan bunga melati, beringin atau pohon peneduh lainnya. Komplek rumah Joglo yang lengkap bagian depan adalah kuncung. Fungsi kuncung sebagai area drop off untuk tamu-tamu sebelum memasuki rumah.

Di belakang kuncung, atau ruang kedua adalah pendopo. Jenis pendopo ini pun beragam. Ada Joglo Limasan Lawakan atau Joglo Lawakan, Joglo Sinom, Joglo Jompongan, Joglo Pangrawit, Joglo Mangkurat, Joglo Hageng, Joglo Semar Tinandhu, Joglo Jepara, Joglo Kudus, Joglo Pati, dan Joglo Rembang. Banyak, ya!

Krobongan dengan hiasan patung loro blonyo dan kain cindhe merah

Nah, bagian rumah Joglo yang paling menarik adalah bagian langit-langit pendopo. Namanya Tumpang Sari, terdiri dari tumpukan balok-balok kayu yang disusun vertikal menyerupai Piramida terbalik. Jumlah susunan kayu balok Tumpang Sari ini wajib ganjil. Mulai dari 3, 5, 9 hingga 11 susunan.

Empat tiang penyangga tumpang sari ini dinamakan soko guru. Biasanya terbuat dari kayu jati dengan kualitas super. Untuk menjadi penyangga tumpang sari, soko guru ini biasanya dipilih dari kayu yang memiliki percabangan.

pendopo gaya Jogja dengan warna hijau kuning atau gadhung melati

Mengapa?

Karena secara logika batang kayu yang bercabang memiliki kekuatan lebih untuk menjadi penyangga beban. Oh ya, tumpang sari yang berada di tengah-tengah pendopo ini biasanya diukir dengan sangat indah. Cara pemasangannya pun tidak menggunakan paku melainkan dengan menggunakan pasak kayu dengan sistem interlock dan knock down.

Satu bagian pendopo biasanya terdiri dari beberapa tiang penyangga selain empat soko guru utama. Jumlahnya biasanya kelipatan empat di bagian sisi terluar sesuai dengan kebutuhan. Tiang-tiang penyangga dan soko guru ini memiliki pondasi dari tanah yang ditinggikan atau biasa disebut siti hinggil.

gandok

Tiang-tiang dan soko guru ditanam pada sebuah batu alam yang disebut ompak. Bisa berbentuk bulat, persegi empat, segi enam atau segi delapan. Warna-warna utama rumah joglo dibagi menjadi dua coklat kayu alami untuk corak Solo. Istilah lain untuk warna-warna yang menganut keraton Solo/Surakarta biasa disebut Bangun Tulak. Selain coklat biasanya didominasi warna-warna biru.

Sedangkan warna-warna kayu rumah joglo bergaya Yogyakarta biasa disebut Gadung Melati yang cenderung perpaduan antara warna hijau dan kuning. Ragam hias ukiran rumah Joglo biasanya bercorak alas-alasan (tanaman hutan), flora dan fauna. Mulai dari tanaman rambat, bunga teratai hingga bunga melati. Kesan hiasan ukiran ini semakin megah bila dilapisi prada (warna emas).

Denah rumah joglo lengkap
pendopo ndalem kalitan solo milik keluarga cendana

Setelah ruangan pendopo yang sering digunakan untuk menyambut tamu, ruang selanjutnya adalah pringgitan. Area transisi ini pada awalnya sering digunakan untuk menyimpan dan mengadakan pertunjukkan wayang dan gamelan. Maklum lah ya, orang Jawa zaman dulu kan hiburan utamanya wayang.

Setelah area pringgitan, ruangan selanjutnya adalah Omah nDalem. Ruangan ini bersifat pribadi dengan tiga kamar tidur: Senthong Kiwa (ruang kiri), Krobongan (kamar tengah), dan Senthong tengen (kamar kanan). Krobongan biasa menjadi ruang kamar yang paling istimewa. Zaman dahulu digunakan sebagai ruang untuk menyimpan barang-barang pusaka peninggalan keluarga.

omah ndalem kalitan, bagian belakang saya merupakan senthong dan krobongan

Fungsi lain dari ruang Krobongan adalah sebagai kamar pengantin. Nama lain Krobongan adalah Pendaringan (tempat untuk menyimpan gabah atau padi kering), Sepen (tempat untuk menyepi), ruang Dewi Sri (Pasren), yang sering dianggap sebagai dewa kesuburan bagi orang Jawa. Ruang Krobongan biasanya dihias indah dengan kain cindhe berwarna merah.

Di bagian tengahnya biasa dihias dengan tumpukan bantal dan guling dengan dilapisi kain cindhe. Selain bantal dan guling di bagian depan Krobongan biasanya diletakkan barang-barang seperti bokor, paidon (tempat untuk membuang ludah) pusaka seperti  tombak dan payung pusaka. Selain itu di bagian kanan dan kiri diletakkan sepasang patung pengantin dari kayu yang biasa disebut Loro Blonyo.

Desain Omah nDalem ini mirip dengan pendopo dengan langit-langit yang dihiasi tumpang sari.

Di bagian belakang rumah Joglo biasanya terdapat bangunan yang disebut pawon atau dapur dan pakiwan (toilet). Di sisi kanan dan kiri Omah nDalem ada bangunan tambahan yang disebut gandhok tengen dan gandhok kiwa. Bangunan tambahan ini berfungsi sebagai ruang untuk ruang tidur bagi keluarga, saudara, asisten rumah tangga atau tamu-tamu yang menginap.

pendopo pakualaman yogyakarta

Gandhok kiwa berada di bagian kiri bangunan Omah nDalem dan Gandhok Tengen berada di bagian kanan. Keduanya terpisah dari bangunan utama. Sebagai pemisah antara halaman pendopo dan omah ndalem biasanya dibuat Seketheng yang berfungsi sebagai pembatas dan memiliki dua buah gerbang kecil.

Nah, yang menarik lainnya rumah joglo ini biasanya dibangun dengan menggunakan kayu jati berkualitas tinggi. Bahan kayu jati tersebut terbukti sangat awet dan bisa bertahan puluhan hingga ratusan tahun.

Tapi satu hal yang harus diingat, bahan bangunan dari kayu sangat rentan dengan risiko kebakaran. Saya pengen banget punya rumah Joglo seperti ini. Satu-satunya cara untuk melindungi rumah joglo adalah mengasuransikannya.

Asuransi yang paling mudah dan terjangkau untuk rumah adalah HappyHome dari HappyOne.

Solo Traveling, Jangan Lupakan Ini

“To travel is to take a journey into yourself.”

Mumpung masih single, banyak lho kegiatan yang bisa dilakukan. Sesekali dalam hidup, coba lakukan hal-hal yang di luar kebiasaan. Solo traveling misalnya. Saya sih pernah beberapa kali melakukannya. Bukan buat sok-sokan atau apa, tapi emang benar-benar pengen melakukan hal-hal yang antimainstream. 

Dan solo traveling adalah jawaban yang paling ampuh menurut saya.

Mengapa? 

Karena dengan solo traveling saya bisa bertemu dengan banyak orang. Orang-orang baru yang bisa ditemui di sepanjang jalan. Ngobrol ngalor-ngidul dan tentunya saya bisa “ngangsu kawruh lan pitutur” (menimba inspirasi) dari mereka. 

Buat saya solo traveling mengajarkan banyak hal: kemandirian, kebebasan, dan kebahagiaan bertemu dengan orang-orang baru. 

Namun, buat sebagian orang solo traveling itu nggak mudah. Khususnya buat wanita, perlu pertimbangan matang-matang sebelum melakukannya. Ya izin dari orangtualah, izin dari suami dan anak-anak (kalau sudah berkeluarga). Bukan berarti nggak boleh lho,ya!

Kalau belum berani sendiri beberapa tips ini bisa lho buat panduan:

Minta Satu Hari Bebas

Kalau traveling sama teman-teman sudah mainstream-lah. Coba deh kalau lagi traveling ramai-ramai, minta ke tour leader buat nyisihin satu hari bebas. 

Bebas ke mana aja dan bebas ngapain apa aja. Yang penting tetap sesuai kesepakatan di awal. Jangan nyusahin teman dan kembali ke penginapan sesuai jadwal yang dijanjikan. Biar teman-teman yang lain nggak bingung nyariin posisi kita. 

Cari Informasi Sebanyak-banyaknya.

Mengumpulkan informasi selengkap-lengkapnya tentang tempat tujuan kita untuk solo traveling merupakan hal yang sangat penting dan membantu biar nggak terlihat ceroboh. Informasi tempat menginap, transportasi di sekitar lokasi wisata hingga jam malam yang mungkin berlaku di sana. Zaman sekarang juga gampang kan nyari infonya di internet. Atau bisa juga tanya ke teman yang pernah ke sana sebelumnya.

Jangan Menundang Perhatian Penjahat

Khusus buat wanita, sebisa mungkin jangan menggunakan perhiasan berlebihan. Gunakan baju yang membuat aman dan nyaman jangan sampai mengundang penjahat mendekat deh, pokoknya. Yang wajar-wajar aja. Kalaupun sedang dalam situasi yang kurang aman, segera mencari tempat aman seperti kantor polisi, pos satpam atau keramaian. Cara lain adalah bisa langsung masuk ke restoran. Intinya sebisa mungkin bersikap tenang dan tidak gegabah.

Pelajari Bahasa Lokal

Jika kalian memutuskan untuk melakukan solo traveling ke daerah tertentu yang bahasanya berbeda dengan bahasa ibu, pelajari dulu bahasa dasarnya. Minimal tahulah cara mengucapkan terima kasih, beberapa kalimat pertanyaan dasar. Hal ini bisa membantu kalau kalian dalam kesulitan.

Jangan Lupakan Proteksi

Kalau belum berani solo trip ke luar negeri, cobain dulu solo trip di dalam negeri. Simpel kan? Eh, tapi satu hal yang perlu diperhatikan adalah faktor perlindungan. Yah, namanya juga keluyuran di kota atau negara orang lain. Kan, serem kalau ada apa-apa. Amit-amit, deh!

Cara yang paling gampang adalah beli asuransi perjalanan. Contohnya bisa beli HappyTrip dari HappyOne ini sih yang paling gampang dan harganya lumayan terjangkau di kantong.

Mengenal Lima Kebiasaan Baik tentang Keuangan

Tahun 2019 masih single? Hmm, mumpung masih single bukan berarti kita nggak melakukan apa-apa untuk menyiapkan masa depan, kan? Apalagi kalau sudah menikah nanti, banyak printilan-printilan rumah tangga yang bisa kita siapkan dari sekarang, lho!

Apa saja?

Sedikit curhat neh, tahun lalu saya berubah haluan, dari dunia keuangan beralih ke dunia literasi. Meskipun berbeda arah, tapi tetap kok, masih berkaitan di dunia yang masih ada sangkut pautnya dengan dunia keuangan.

Intinya gini, saya mau sharing lagi masalah masalah keuangan. Nggak papa, kan? Dua belas tahun menggeluti dunia perbankan, saya jadi belajar banyak. Terutama dari yang saya amati dan pelajari secara langsung karena seringnya bertemu dan berinteraksi dengan nasabah.

Khususnya cara mereka dalam mengelola keuangan mulai dari nol. Maklum, mantan Funding Officer, jadi sedikit banyak tau dari pengalaman dan curhatan nasabah hingga mampu mencapai tujuan keuangan mereka.

Beberapa kebiasaan dari mereka dari saya rangkum dan saya kumpulin. Dan menurut saya ini berguna banget terutama buat bekal nanti ketika berumah tangga.

Tau kan, kebiasaan yang kita jalankan setiap harinya menentukan seperti apa masa depan kita, lho! Tak terkecuali dalam hal keuangan. Coba amati cara dan kebiasaan kita mengelola uang. Kalau saat ini kondisi keuangan kita masih carut marut, meskipun memiliki penghasilan rutin bulanan, tetapi kita nggak dapat menikmatinya atau pas-pasan bahkan defisit setiap akhir bulan, saatnya instrospeksi diri.

Mengenal beberapa kebiasaan baik tentang keuangan yang udah dipraktikkan oleh mantan nasabah-nasabah deposan saya berikut ini, bisa menjadikan hidup saya lebih positif.

Yuk, kita mulai!

Menabung

Ini sih simpel ya kedengarannya. Dari kecil dulu kita udah diajarin sama orangtua dan guru buat menabung. Tapi kenyataanya, banyak lho teman-teman saya yang penghasilannya dua digit tapi selalu defisit setiap bulan. Banyak juga dari mereka yang berprinsip YOLO (You Only Live Once) so, nggak peduli seberapa besarnya penghasilan kalian, kalau nggak pernah menabung ya bakalan abis.

Saya sih selalu rutin menabung setelah terima gaji. Produk tabungan banyak kok, nggak cuma tabungan reguler tapi juga ada tabungan rencana. Sistemnya bisa autodebet tiap abis gajian, uang kita masuk ke rekening tabungan rencana yang nggak bisa diambil setiap saat lewat atm atau tarik tunai. Produk tabungan rencana ini cocok banget buat kalian yang nggak bisa disiplin menabung.

Mencatat pengeluaran

Tau nggak sih, mantan nasabah saya dulu teliti banget kalau mengatur masalah keuangan. Setiap pengeluaran rata-rata dicatat secara rutin. Tujuannya untuk mengendalikan pengeluaran, dengan mencatat pengeluaran kita bisa lebih bijak dalam menata masa depan, iya nggak? Aseek.

Catatan pengeluaran ini bisa jadi acuan dalam membuat anggaran bulanan. Biar nggak jebol, selain itu dengan mencatat pengeluaran kita juga bisa memperbaiki kebiasaan buruk dalam mengelola keuangan.

Bijak dalam berutang

Sepanjang yang saya amati sih ya, mantan nasabah saya jarang banget berutang. Apalagi sekadar buat beli barang-barang yang nilainya turun seperti barang elektronik, kendaraan bermotor, baju atau perlengkapan yang boleh dibilang pengeluaran konsumtif.

Kalaupun terpaksa berutang mereka akan mengalokasikan utangnya untuk barang-barang yang nilainya akan naik di masa mendatang. Atau mereka akan benar-benar berutang dalam kondisi yang sangat darurat. Jarang banget menggunakan kartu kredit untuk belanja karena mereka tau bunga kartu kredit sangat tinggi. Bisa mencapai 36 persen per tahun. Ngeri, ya! Saya sendiri juga nggak pernah punya kartu kredit satu pun. Lebih suka belanja dengan kartu debit.

Menjaga keamanan finansial keluarga

Caranya gampang sih, yang saya tau dan saya pelajari, mantan nasabah-nasabah saya mengalokasikan sebagian pengeluarannya untuk membeli asuransi. Asuransi ini berfungsi untuk melindungi diri dari segala kerugian dan hal-hal yang tidak kita inginkan.

Asuransi juga berfungsi sebagai perencanaan risiko karena sakit dan pengganti nafkah karena pemberi nafkah tidak bisa bekerja saat sakit. Salah satu cara mudah membeli asuransi adalah melalui platform HappyOne. Kenapa mudah? Karena cukup dengan satu ID, kita bisa lho membeli beragam asuransi. Apalagi buat pasangan muda. Asuransi ini cocok banget karena jenis perlindungannya banyak dengan biaya cukup terjangkau.

Berinvestasi

Banyak cara untuk berinvestasi. Bisa dengan menabung atau membeli logam mulia, deposito, reksadana, saham ataupun membeli properti. Ini sih tergantung tujuan keuangan dan jangka waktu kapan uangnya mau dipakai lagi. Mantan nasabah saya dulu melakukan diversifikasi untuk melakukan investasi. Ibaratnya sik, nggak menaruh telur dalam satu keranjang. Mereka

Selain itu, produk investasi bisa disesuaikan dengan profil risiko masing-masing. Mulai dari yang konservatif, moderat atau agresif. Kalau masih muda dan belum banyak tanggunan, bisa kok masuk ke saham atau reksadana saham. Pengalaman dari membeli reksadana saham, imbal hasilnya lumayan kok.

Dari lima kebiasaan di atas, mana saja yang udah diterapkan? Saya sih, insyaallah udah semuanya. Yuk, mumpung masih di awal tahun. Dengan mulai menerapkan perencanaan keuangan dengan baik, insyaallah masa depan kita jauh lebih baik. Iya, nggak?

Suntuk? Liburan Murah Aja ke Bandung

“Duh, sumpek banget ya Jakarta, pengen kabur sejenak deh kayaknya,”  kalimat itu sering banget saya ucapin kalau udah bosan banget sama aktivitas di ibukota. Maklum ya, sebagai orang yang masih menjemput rezeki from nine to five plus-plus, yang namanya liburan di luar kota seperti saya, kok rasanya wajib banget.

Nggak usah jauh-jauh juga sih, yang penting otak bisa segar lagi balik liburan. Btw, Happy New Year 2019, masih awal tahun, kan? Semoga di tahun baru, rezeki makin berlimpah, amin. Gimana liburan tahun barunya? Masih pengen diperpanjang? Uhuhu saya juga mau. 😀

Kegiatan masih sepi kan, di awal tahun?

Bersyukur deh, buat yang masih sepi. Saya mah, teteup. :D. Pas di meja kantor, kalau lagi sepi kegiatan yang paling seru buat saya adalah lingkarin kalender. Apalagi kalau bukan nyari tanggal merah, terus belakangan ini tiba-tiba kepikiran banget pengen ke Bandung. Tumbenan amat, ya?

kuote yang bikin kangen bandung

Ngomongin Bandung, kan, nggak jauh banget dari Jakarta. Seringnya kalau ke Bandung itu nebeng mobil sama teman. Kalau nggak ya naik travel atau bus, yang paling cepat sih naik kereta. Eh, bisa juga sih pakai pesawat, tapi kan? You know-lah, mahal dan pe-er banget ke bandaranya.

Saya pengen banget ke Bandung nyobain transportasi lain. Yang belum pernah dicoba sih xtrans shuttle.

Terus, ke Bandung mau ngapain? Incaran saya sih tiga kegiatan di bawah ini:

Jalan-jalan di Braga

Sebenarnya nggak ada tujuan yang adventurous banget di Bandung. Seperti halnya Yogyakarta, Bandung buat saya sekadar tempat untuk melepas penat. Jalan-jalan santai di sekitaran jalan Braga merupakan kegiatan yang asik. Apalagi sejak ada program Braga Culinary Night sejak 2014 lalu.

Boleh dibilang, jalan Braga yang merupakan jalan hits di Bandung ini, seperti Malioboro-nya Jogja. Saya pengen menikmati suasanan malam di Braga. Menikmati pemandangan dan hilir mudik traveler dari luar kota Bandung. Sesederhana itu? Iya, buat saya menikmati bangunan tua di kiri kanan jalan Braga adalah kegiatan yang mengasyikan. Toh, jalan ini hidup dan nggak pernah sepi selama 24 jam. Rasanya nggak sabar jalan-jalan ke Jalan Braga buat menikmati keramaian dan sejumlah wisata di dalamnya.

ramainya bandung beda sama jakarta

Ngopi atau Ngeteh di Dago Pakar

Sebenarnya saya kurang menyukai kopi. Tapi entah kenapa kalau ke Bandung, rasanya pengen banget ngopi-ngopi, sesekali aja. Atau kalau nggak, ngeteh juga boleh. Suasana Dago Pakar yang sejuk kayaknya cocok buat ngopi atau ngeteh di sore menjelang malam.

Apalagi di bawah pohon pinus sambil liatin pemandangan. Pokoknya wajib banget ini kalau kabur ke Bandung. Nggak boleh kelewatan kalau nongkrong di Bandung.

kafe di bandung lucu-lucu, nggak kalah sama jakarta

Ngicipin Kuliner Sunda

Nyari makanan Sunda di Jakarta emang banyak sih. Tapi kan, makan masakan Sunda di daerah asal, rasanya pasti nggak pernah salah. Nasi tutug oncom, nasi liwet atau nasi bakar. Ditambah lagi dengan gurame goreng dan berbagai jenis pepes. Duh, saya nulis ini kok jadi ngiler sambil ngebayangin. Apalagi terakhir ke Bandung malah nggak sempat kulineran masakan Sunda.

terakhir ke bandung malah makan soto betawi

Awal tahun gini seru ya kalau bisa kabur buat relaksasi. Apalagi saya akhir tahun kemarin masih nguli, nggak kebagian deh itu yang namanya long weekend. Libur cuma pas tahun baru aja, itupun masih lembur di kantor malamnya.

Pokoknya tiga keinginan sederhana di atas cukuplah buat ngilangin stres. Semoga dalam waktu dekat ini bisa segera kabur ke Bandung. Lagian juga nggak terlalu mahal, kan? Kuy, ke Bandung!

Kilas Balik 2018 dan Resolusi untuk 2019

Tahun 2018, baru saja berlalu. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, saya membuat beberapa resolusi dan mengevaluasi target-target yang saya buat di 2018. Memang sih, awal tahun kemarin saya nggak banyak membuat resolusi. Maklum, pas banget akhir tahun 2017 ngedrop. So, prioritas saya saat itu cuma pengen sehat dulu. Selebihnya, hanya membuat lima resolusi ringan.

Alhamdulillah, saya bisa kembali sehat dan bisa mengejar semua resolusi yang saya buat. Di tahun ini pula saya banyak mendapatkan kejutan manis. Ya, meskipun nggak semua resolusi yang saya buat tercapai, tapi setidaknya hampir 95 persen tercapai.

umrah adalah resolusi terbesar saya di 2018

Di awal tahun, belajar instrumen biola menjadi salah satu resolusi yang saya tulis. Alasannya simpel, karena alat musik yang satu ini memang menantang untuk dipelajari. Tapi sayang, saya hanya sempat mencicipi selama tiga bulan. Maklum, setelah sembuh dari sakit, saya kembali sok sibuk. Dan jadwal latian biola yang ngepas banget tiap wiken jadi terbengkalai.

Di sisi lain, saya sangat bersyukur karena pada bulan Mei lalu, salah satu resolusi terbesar saya tercapai. Yaitu mengunjungi Baitullah untuk menunaikan ibadah umrah. Ini adalah perjalanan spiritual yang saya impikan dari dulu. Bersyukur ketika di akhir tahun menuliskan resolusi tersebut, Allah SWT mengabulkan keinginan saya.

Resolusi lain yang saya buat pada awal tahun kemarin adalah menaikkan berat badan 70kg, puji syukur, akhir tahun ini targetnya terlampaui. Dari 54kg (saat sakit) menjadi 73kg, naik sekitar 19kg dalam kurun waktu satu tahun. Bersyukur banget dengan pencapaian yang satu ini, karena biasanya berat saya dari dulu sekitar 63-65kg.

Resolusi ringan lainnya adalah hidup sehat dengan menjaga makanan dan berolahraga. Selain itu, saya juga ingin traveling. Mulai dari naik gunung, main ke pantai, maupun ke liburan ke pulau-pulau. Alhamdulillah bisa saya lakukan semua.

traveling adalah hadiah untuk diri sendiri

Selain beberapa resolusi yang sudah tercapai, saya juga banyak mendapatkan kejutan-kejutan lain. Salah satunya adalah tahun ini saya bisa menulis dua buah buku sekaligus. Menulis buku adalah salah satu impian dan masuk bucket list yang harus direalisasikan. Alhamdulillah dua naskah buku saya bisa diterbitkan.

salah satu buku saya terbit di tahun ini, alhamdulillah

Di sisi lain, saya juga bersyukur bisa mengembangkan hobi bermain gamelan. Meskipun bukan seniman murni, tapi saya bisa tampil bermain gamelan di berbagai acara. Mulai dari pernikahan, opening perusahaan, penyambutan tamu-tamu asing, pentas mandiri dan lain sebagainya.

blessings in disguise bisa pentas gamelan di berbagai event

Intinya, saya bersyukur telah melewati 2018 dengan banyak nikmat yang nggak bisa dihitung. Saya yakin, ketika kita menuliskan keinginan atau mimpi-mimpi yang ingin kita wujudkan, mimpi tersebut akan lebih mudah dicapai.

Resolusi untuk 2019

Tahun 2019, banyak banget ide berlarian di kepala. Untuk menjaga supaya ide-ide yang kadang muncul secara random dan sporadis di kepala, saya membuat buku kecil yang saya namakan Buku Ide 2109. Receh banget, ya? Mungkin menurut orang lain seperti itu. Namun, buat saya Buku Ide 2019 sangat membantu saya untuk menabung ide-ide yang ingin direalisasikan.

Beberapa ide yang ingin saya realisasikan di tahun 2019 adalah ingin membuat perform lintas komunitas. Dengan mengawinkan pentas gamelan, sastra (puisi), tari, dan stand up comedy.

Mengapa?

Saya ingin banget mengenalkan generasi muda, bahwa gamelan itu bisa dinikmati oleh semua kalangan. Tidak hanya untuk orang-orang sepuh dan generasi baby boomers.

Selain itu, di tahun 2019 ini saya punya target untuk membaca buku sebulan 2-4 kali. Timbunan buku yang ada di rak sudah mulai memanggil. Semangat membeli, ternyata lebih besar daripada semangat membaca. So, tahun ini saya berkomitmen untuk lebih banyak membaca buku dibanding tahun sebelumnya.

Wishlist lainnya adalah bisa traveling ke Jepang, Toraja, Wai Rebo. Syukur-syukur bisa menginjakkan kaki ke benua biru Eropa. Amin.

Yah, yang namanya rezeki kan nggak ada yang tau. Siapa tau dapat rezeki nomplok bisa traveling ke Yurep. Ditulis aja dulu, seperti halnya pepatah: “When there is a will there is a way”, setuju, nggak? Saya sih setuju banget.

Memulai hidup sehat dengan memperhatikan pola makan dan berolah raga juga menjadi resolusi saya di tahun 2019. Mulai lagi food combining yang pernah saya lakukan di tahun 2013.

Resolusi keuangan juga saya masukkan di tahun 2019. Belajar lagi untuk meningkatkan aset dan investasi. Selain itu saya juga ingin memperhatikan aspek proteksi, salah satunya adalah dengan melengkapi resolusi keuangan dengan asuransi.

Dari beragam produk asuransi, salah satu asuransi yang cocok untuk milenial seperti saya adalah asuransi HappyOne dari Astra. Asuransi ini menawarkan beragam produk yang terjangkau bagi milenial. Mulai dari HappyMe (asuransi kecelakaan diri), HappyTrip (asuransi perjalanan), HappyEdu (asuransi perlindungan/santunan pendidikan), dan HappyHome (asuransi kebakaran).

Mengapa pilih HappyOne?

Alasannya simpel sih, tarif asuransi ini cukup terjangkau bagi kantong milenial. Dengan perlindungan yang maksimal pastinya akan melengkapi resolusi 2019 semakin mantul.

Oke, segitu aja kilas balik 2018 dan resolusi untuk 2019. Anyway, selamat tahun baru 2019. Semoga di tahun ini kita makin optimis untuk menyongsong masa depan. Amin.

 

Museum di Tengah Kebun, Koleksi Pribadi yang Dilindungi


ruang tamu museum tengah kebun

Matahari belum terlalu tinggi, ketika saya menginjakkan kaki di depan sebuah gerbang rumah dengan ornamen kayu yang sangat khas. Ya, ini adalah kali ke-3 saya mengunjungi Museum di Tengah Kebun yang berlokasi di daerah Kemang. Dari arah pintu gerbang saya menyusuri jalan setapak sepanjang kurang lebih 40 meter menuju sebuah teras dengan pintu kayu dari abad ke-10.

Di sisi kanan kirinya terdapat soko guru (tiang) yang berhiaskan topeng-topeng kayu dari abad 18-an akhir. Di depan kuncung (teras luar untuk drop off tamu) pada bagian tengahnya terdapat sebuah patung Dwarapala. Bila kita sering mengunjungi rumah joglo atau berasitektur Jawa, tentu sering melihat dua buah arca yang berada di bagian kanan dan kiri gerbang. Ya, arca tersebut bernama Dwarapala.

Mengapa di Museum Tengah Kebun ini arcanya berjumlah satu?

Ternyata, sang pemilik museum Bapak Sjahrial Djalil menghendaki semua koleksinya harus asli dan autentik. Arca Dwarapala yang merupakan koleksi Museum di Tengah Kebun merupakan arca asli dan tidak memiliki kembaran.

Begitu masuk ke dalam ruangan pertama, mata saya langsung disuguhkan dengan ruang Loro Blonyo. Ikon di ruang tersebut merupakan sepasang patung pengantin Jawa yang terbuat dari kayu dari abad 19-an. Di tengah ruang, terdapat sebuah patung Buddha yang terbuat dari perunggu.

Menuju ruang makan, sebuah meja dari kayu abad ke 18-an yang berasal dari Denmark menjadi penanda utama ruang Dewi Sri. Peralatan makan yang terbuat dari kayu disusun rapi dengan jarak yang sama. “Beliau masih menggunakan ruang makan ini, bisa dilihat tatanan piring, gelas, sendok, pisau dan berbagai peralatan lainnya masih tersedia lengkap,” ungkap Afifah, sang tour guide dari Museum di Tengah Kebun.

Berseberangan dengan meja makan, deretan wayang golek tampak berjejer rapi. Sebuah kaca besar diletakkan di belakang barisan wayang. Salah satu sisi dindingnya dihiasi lukisan-lukisan dan stupa kecil yang terbuat dari batu.

Begitu keluar dari ruang makan, saya diantar Afifah menuju ke ruangan berikutnya. Akses yang menuju ruang kerja tersebut dibatasi oleh sebuah “pringgitan”. Mata saya langsung tertuju pada sesosok patung wanita dengan ukiran halus. Nandiswara, salah satu arca tercantik dan terhalus yang pernah saya lihat. Ia berdiri di sebelah kiri pintu masuk.

Menurut informasi dari tour guide, Nandiswara ditemukan di daerah Kedu era Mataram Kuno.  Dari sini saya dibawa Afifah menjelajahi ruangan demi ruangan. Ratusan artefak disusun secara estetis, tidak seperti pada umumnya sebuah museum. Mulai dari peninggalan-peninggalan sebelum masehi hingga buku asli milik sufi kenamaan Jalaludin Rumi.

ruang tidur dan koleksi artefak yang ternilai

Museum di Tengah Kebun menurut saya adalah salah satu museum terbaik yang pernah saya kunjungi. Meskipun sebenarnya ini merupakan  rumah pribadi dari Bapak Sjarial Djalil, tetapi dikelola dengan sangat baik dan professional.

Sepulangnya dari museum, saya jadi berpikir jika terjadi hal-hal buruk (semoga tidak pernah) misalnya kebakaran, kehilangan, pencurian atau berbagai kejadian merugikan lainnya, saya yakin Bapak Sjahrial Djalil telah mengantisipasinya dengan berbagai perlindungan termasuk asuransi. Asuransi adalah hal yang mutlak diperlukan untuk melindungi koleksinya yang begitu luar biasa dan tak ternilai.

kuncung, area teras untuk drop off tamu dihiasi topeng-topeng klasik

Berkaca dari situ, memang sudah sewajarnya kita memiliki upaya untuk melindungi tempat tinggal. Meskipun tidak memiliki koleksi artefak yang tak ternilai, memang sudah sepatutnya tempat-tinggal wajib dilindungi dari berbagai kejadian yang merugikan dan tidak terduga.

ruang makan dewi sri

jajaran wayang golek menjadi penanda salah sisi ruang makan

Salah satu produk perlindungan rumah yang mudah untuk didapatkan dan terjangkau untuk semua kalangan adalah asuransi HappyHome dari HappyOneID. Dengan premi mulai dari Rp 98.750 – Rp 750.000, bisa melindungi rumah dari kerugian akibat kebakaran, sambaran petir, ledakan hingga santunan bagi pemilik rumah jika terjadi kecelakaan diri akibat kebakaran.

Selain itu, HappyHome juga memberikan jaminan jika ada kerusuhan, pemogokan, perbuatan jahat dan huru-hara. Dengan manfaat yang beragam HappyHome bisa menjadi pilihan untuk melindungi rumah dan memberikan ketenangan akibat kejadian yang tidak diinginkan.

halaman belakang museum tengah kebun

arca dwarapala di depan kuncung

 

 

 

Menyiapkan Dana dan Asuransi Pendidikan, Perlukah?

“Education is the passport to the future, for tomorrow belongs to those who prepare for it today” ~ Malcolm X

Bencana tsunami yang terjadi di Selat Sunda beberapa waktu lalu menyadarkan kita bahwa yang namanya musibah atau bencana bisa terjadi kapan saja dan tidak bisa diprediksi. Ngeri ya, tapi sebagai manusia yang percaya Tuhan, kita harus yakin bahwa tidak ada di dunia ini yang terjadi tanpa kehendakNya.

Eh, tapi kan yang namanya ikhtiar wajib hukumnya. Ya, kan?

Saya jadi teringat, beberapa tahun lalu teman kantor saya meninggal mendadak tanpa didahului sakit. Melihat anak-anaknya yang masih kecil, saya jadi kasihan. Apalagi istrinya tidak bekerja dan hanya mengandalkan penghasilan dari suaminya. Akhirnya saya dan teman-teman di kantor sepakat untuk membantu meringankan biaya pendidikan anak-anaknya.

Yah, meskipun jumlahnya tidak banyak, setidaknya bisa meringankan beban. Dari sini saya jadi berpikir bahwa sangat penting mempersiapkan segala sesuatu. Termasuk dalam mempersiapkan biaya pendidikan anak.

Bagi sebagian orang, kesadaran untuk merencanakan dan mempersiapkan masa depan dan keuangan adalah hal yang amat penting. Termasuk saya, bukan apa-apa, ketidakpastian akan masa depan harus disikapi dengan bijak. Salah satunya adalah dengan membekali diri dengan asuransi.

Terlebih, bila kita sudah memiliki keluarga. Jaminan pendidikan anak yang berkualitas, merupakan hal yang paling utama. Meskipun belum berkeluarga, toh nggak ada salahnya mencoba untuk memikirkan masa depan calon buah hati.

Dari beberapa kali konsultasi keuangan ke teman saya yang kebetulan seorang perencana keuangan. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika merencanakan kebutuhan dana pendidikan. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mencari informasi mengenai biaya pendidikan saat ini, hingga tingkat dan kualitas institusi pendidikan yang  diinginkan, misalnya sekolah negeri, swasta, atau bahkan hingga ke luar negeri.

Lah, terus bagaimana dengan asuransi pendidikan?

Selain menyiapkan dana pendidikan, membekali anak dengan asuransi pendidikan tentu hal yang sangat bijak. Dana pendidikan dengan asuransi pendidikan adalah dua hal yang berbeda. Dana pendidikan adalah dana yang sudah dipersiapkan, sedangkan asuransi pendidikan melindunginya. Dengan memiliki keduanya, asuransi dan dana pendidikan yang dipersiapkan sekaligus, membuat masa depan anak menjadi lebih aman dan terjamin. Iya, nggak?

Memilih Asuransi Pendidikan yang Tepat

Nah, kalau kita merasa kewalahan dan nggak punya cukup waktu untuk memilih beragam asuransi pendidikan. Bisa kok, memiliki asuransi dengan konsep single ID. Jadi, kita cukup punya satu ID untuk membeli beragam jenis asuransi. Salah satunya adalah asuransi HappyEdu dari HappyOne.id. Platform asuransi dari Astra ini menyediakan beragam asuransi mulai dari asuransi pendidikan (HappyEdu atau HappyEdu Micro), asuransi perjalanan (HappyTrip), asuransi kecelakaan diri (HappyMe atau HappyMe Micro), dan asuransi kebakaran (HappyHome)

HappyEdu, apa saja manfaatnya?

Manfaat utama bagi pemegang polis HappyEdu adalah santunan pendidikan anak jika tertanggung meninggal dunia karena kecelakaan. Manfaat tambahannya berupa santunan meninggal dunia atau cacat keseluruhan karena kecelakaan.

Selain itu, juga ada kok manfaat lainnya, yaitu santunan rawat inap di rumah sakit karena kecelakaan minimal lima hari berturut-turut. Santunan biaya pemakaman dan tunjangan kehilangan pendapatan karena cacat tetap keseluruhan.

Terus, kalau HappyEdu Micro apa bedanya?

Jadi, yang membedakan antara HappyEdu dengan HappyEdu Micro itu biaya preminya. HappyEdu Micro biaya preminya lebih terjangkau mulai dari Rp 10 ribu – Rp 30 ribu. Sedangkan HappyEdu mulai dari Rp 50 ribu – Rp 180 ribu. Murah, kan?

Oya, usia tertanggung keduanya mulai dari 17-64 tahun dengan periode pertanggungan satu tahun. Sedangkan usia anaknya sendiri mulai dari 1-21 tahun.

Sudah tau kan, manfaat asuransi pendidikan? So, nggak ada alasan lagi deh, nggak membekali buah hati dengan asuransi pendidikan. Saat kita sudah pensiun nanti dan ada hal-hal yang nggak diinginkan terjadi, kita sudah memiliki persiapan yang matang dari sekarang.

Bukankah sangat membahagiakan jika kita bisa menikmati masa pensiun tanpa harus memikirkan masalah biaya pendidikan anak? Jadi, jangan tunda-tunda lagi, mulailah persiapkan dana dan asuransi pendidikan sekarang juga!

Ingat, pendidikan adalah investasi penting untuk masa depan anak kita, dan pastikan kita akan merencanakan yang terbaik untuk mereka.