Bus, Solusi Mobilitas Kaum Urban

Sebagai ibu kota negara, Jakarta memiliki sejumlah masalah yang cukup pelik dan memerlukan solusi yang begitu kompleks. Masalah transportasi misalnya. Jika kita diminta untuk menyebutkan satu hal yang identik dengan Jakarta selain Monas, maka pastilah macet yang terlintas. Yah, karena macet Jakarta seolah sudah menjadi identitas. Padahal kalau kita cermati, sumber kemacetan bukan berasal dari Jakarta. Kenapa? Kalian taulah dari mana asalnya kendaraan yang menumpuk di Jakarta pada hari kerja dan seolah lenyap saat hari libur. Kota penyangga seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi merupakan penyumbang utama kemacetan Jakarta. Sistem transportasi dari 5 wilayah perkotaan yang kerap kita kenal dengan Jabodetabek ini memang harus diperbaharui.

Sistem transportasi wilayah perkotaan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi merupakan bagian dari sistem transportasi nasional mempunyai peran yang strategis dalam mendukung pembangunan nasional. Peningkatan pelayanan, konektivitas, dan mobilitas harian orang dan barang, di wilayah perkotaan memerlukan perencanaan, pembangunan, pengembangan, pengelolaan, pengawasan, dan evaluasi sistem transportasi yang terintegrasi, efelitif, efisien, dan terjangkau oleh masyarakat dengan tidak dibatasi oleh wilayah administrasi pemerintahan. Bayangkan jika peningkatan itu terus terjadi seperti air yang mengalir tanpa kran yang mengatur laju alirannya, maka akan semakin runyamlah hidup di daerah Jabodetabek. Utamanya di Jakarta yang menjadi pusat dari semuanya.

Sadar perlu adanya kran, dalam hal ini adalah kebijakan untuk mengatur peningkatan daya fungsi transportasi, pemerintah pun berbenah dan terus mencari solusi. Karena tanpa atribut pemerintahan mereka juga bagian dari masyarakat yang mengeluhkan masalah transportasi ini bukan? Mereka tetap bagian dari kita.

Belum lama ini Pak Jokowi mengeluarkan Peraturan Presiden yang konsen untuk memperbaiki sistem transportasi. Perpres Nomor 55 Tahun 2018 tentang Rencana Induk Transportasi Jabodetabek (RITJ) untuk memberikan kejelasan tentang bagaimana pembenahan dan pengelolaan transportasi Jabodetabek harus dilakukan. Keseriusan pemerintah menangani hal ini disampaikan oleh Kepala Badan Pengelolaan Transportasi Jabodetabek (BPTJ), Bambang Prihartono saat Perpres ini disosialisasikan. Beliau menyampaikan hanya dalam 1 minggu rancangan perpres ini diajukan, presiden telah menandatanganinya. Boleh dibilang, ini adalah bukti besarnya perhatian presiden tentang pembenahan transportasi Jabodetabek.

RITJ merupakan pedoman bagi pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam perencanaan pembangunan, pengembangan, dan pengelolaan, serta pengawasan dan evaluasi transportasi di wilayah perkotaan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Pelaksanaan RITJ dilaksanakan secara bertahap, tidak bisa simsalabim dalam semalam. Kenapa? Karena ini bangun sistem, bukan bangun candi. Lagipula pemerintah bukan Bandung Bondowoso. RITJ memiliki 3 tahapan: Tahap I tahun 2018–2019. Tahap II tahun 2020–2024. Tahap III tahun 2025-2029.

Kenapa harus terintegrasi? Karena masing-masing wilayah tersebut memiliki Pemerintahannya masing-masing, jika tidak ada aturan khusus yang menjembatani, akan sangat sulit mewujudkan transportasi yang lancar, nyaman dan maju di ibu kota dan kota-kota satelitnya.

Pepres ini memiliki misi dimana penyelenggaraan dan pengelolaan transportasi Jabodetabek perlu memadukan pembangunan dan pengembangan sistem jaringan prasarana transportasi dan jaringan pelayanan transportasi baik intra moda maupun antar moda.Memadukan pembangunan dan pengembangan transportasi perkotaan antar wilayah Jabodetabek dalam satu kesatuan wilayah perkotaan. Mengintegrasikan pengoperasian transportasi perkotaan dan mengintegrasikan rencana pembiayaan transportasi perkotaan.

Pada 2029, pemerintah berjanji untuk sasaran terukur dalam penyelenggaraan transportasi di kawasan Jabodetabek, seperti sebagai berikut:

  1. Pergerakan orang dengan menggunakan angkutan umum perkotaan harus mencapai 60% (enam puluh persen) dari total pergerakan orang,
  2. Waktu perjalanan orang rata-rata di dalam kendaraan angkutan umum perkotaan adalah 1 (satu) jam 30 (tiga puluh) menit pada jam puncak dari tempat asal ke tujuan,
  3. Kecepatan rata-rata kendaraan angkutan umum perkotaan pada jam puncak di seluruh jaringan jalan minimd 30 (tiga puluh) kilometer per jam,
  4. Cakupan pelayanan angkutan umum perkotaan mencapai 80% (delapan puluh persen) dari panjang jalan,
  5. Akses jalan kaki ke angkutan umum maksimal 500 m (lima ratus meter),
  6. Setiap daerah harus mempunyai jaringan layanan lokal jaringan pengumpan (feeder) yang diintegrasikan dengan jaringan utama (trunk), melalui satu simpul transportasi perkotaan,
  7. Simpul transportasi perkotaan harus memiliki fasilitas pejalan kaki dan fasilitas parkir pindah moda (park and ride) dengan jarak perpindahan antar moda tidak lebih dari 500 m (lima ratus meter),
  8. Perpindahan moda dalam satu kali perjalanan maksimal 3 (tiga) kali.

Untuk mewujudkan RITJ, kini mulai dibangun terminal-terminal yang terintegrasi. Misal di beberapa stasiun, kini sudah ada halte transjakarta feeder, akses ke bandara dibuka dari berbagai titik, halte MRT dekat dengan perkantoran dan jalur TransJakarta, penambahan rel ganda di beberapa stasiun, dan lain lain. Bahkan ke depannya, fasilitas  terminal dan stasiun akan dikembangkan tidak saja sesuai fungsinya, tetapi juga dibangun pusat perbelanjaan dan perkantoran di dalamnya.

Jika sasaran RITJ itu dapat terlaksana dengan baik, pasti hidup di Jabodetabek khususnya di Jakarta akan semakin nyaman, semakin terukur kalau mau kemana-mana, semakin hemat, dan tentu semakin sehat karena terhindar dari stress macet. Selagi menunggu hal itu terwujud kita bisa lakukan akselerasi penyelesaian masalah juga kok, dengan naik kendaraan umum.

Memang sulit beralih, jika sudah terbiasa naik kendaraan pribadi. Tapi daripada kita sekedar mengkritik pemerintah karena Jakarta macet, lebih baik kita bantu pemerintah dengan apa yang bisa kita lakukan. Salah satunya dengan “Happy naik kendaraan umum”. Fasilitas kendaraan umum ini terus dibenahi, jalanan macet pun terus diatasi. Kalau kita membantu dengan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, pasti kemacetan lebih mudah diatasi.

A Spiritual Journey to Mecca and Medina part 2 (Tamat)

Perjalanan umrah saya boleh dibilang lancar tanpa hambatan yang berarti. Selama empat hari di Madinah, kami menyempatkan diri untuk mengeksplorasi tempat-tempat bersejarah. Selain Masjid Nabawi, kami juga mengunjungi beberapa masjid yang menjadi tonggak peradaban lslam di kota Madinah. Salah satunya adalah Masjid Quba, masjid ini merupakan bangunan tempat ibadah yang pertama kali dibangun oleh Rasulullah ketika tiba di Madinah.

Selain masjid Quba, masjid Qiblatain juga menjadi tempat bersejarah yang kami kunjungi. Berada di sekitar sini membuat saya penasaran dengan bentuk pemukiman asli warga Madinah. Karena selama tinggal di Madinah, bangunan yang saya lihat hanya hotel, masjid dan pertokoan. Akhirnya dengan penuh harap saya meminta driver untuk berhenti sejenak di dekat pemukiman.

Salah satu sudut pemukiman orang arab
Suatu sore di Madina

Sejujurnya, mengeksplorasi pemukiman warga dengan kondisi mobil parkir di sembarang tempat membuat driver dan mutawif was-was. Di Saudi Arabia, banyak aturan dan denda jika kita berhenti parkir tidak sesuai rambu-rambu. Driver dan mutawif bisa didenda sekitar lima ribu riyal jika ketahuan oleh petugas. Akhirnya driver dan mutawif mengizinkan saya turun dan saya berjanji kepada mereka untuk hunting foto tidak lebih dari lima menit.

Tidak banyak yang saya lihat, namun cukup untuk menghilangkan rasa penasaran saya seperti apa bentuk pemukiman warga asli. Selesai hunting foto saya segera kembali ke mobil dan pulang ke hotel.

Miqat di Bír Ali
Sholat jumat terakhir di masjid nabawi

Setelah empat hari berada di Madinah, tiba saatnya untuk menunaikan ibadah umroh yang wajib di Kota Mekkah. Sholat Jumat terakhir di Masjid Nabawi membuat saya terharu dan sedih karena harus meninggalkan Madinah. Kami menunaikan sholat Jumat dengan berpakaian ihram. Yaitu dua helai kain putih tanpa jahitan untuk laki-laki dan baju tertutup untuk wanita sesuai batas aurat. Selama memakai pakaian ihram bagi laki-laki tidak diperbolehkan memakai pakaian dalam. Mutawif mengingatkan kami untuk tidak memakai wewangian, lotion, menggunting kuku, mencukur ataupun mencabut bulu di badan setelah mengenakan pakaian ihram.

Baca juga: A Spiritual Journey to Mecca and Medinna part 1

Selesai sholat Jumat kami menuju kota Mekah dan mengambil miqat (lokasi untuk mengambil niat yang sudah ditentukan) di Masjid B’ir Ali. Suhu di sekitar Masjid B’ir Ali sekitar empat puluh derajat celcius. Ketika ada angin berhembus dan mengenai muka rasanya seperti ditampar exhaust AC. Di masjid ini kami menunaikan sholat sunnah ihram.

Dari kota Madinah menuju Mekkah perjalanan ditempuh sekitar lima jam tanpa istirahat. Mobil hanya berhenti sekitar lima menit di sebuah SPBU. Tidak banyak yang kami lakukan di dalam mobil selain berdoa, berdzikir dan tidur. Di sepanjang jalan, pemandangan yang kita lihat kurang lebih sama seperti jalur yang kita lalui dari Jeddah menuju Madinah yaitu gunung batu dan padang tandus.

Sekitar pukul tujuh malam kami tiba di hotel. Makan malam sudah tersedia, kami makan dan beristirahat sejenak, kemudian langsung menuju Masjidil Haram untuk sholat dan tawaf. Inilah kali pertama bagi saya melihat langsung keagungan dan kemegahan Masjidil Haram. Rasa haru dan bahagia yang tak terkira ketika melihat langsung bangunan Kabbah, hingga tak terasa mata saya meneteskan airmata. Bangunan yang menjadi kiblat sholat umat lslam di seluruh dunia.

Bangunan berbentuk kubus berlapis kain kiswah hitam itu begitu mengharukan. Salah satu sisinya memiliki talang air yang terbuat dari emas murni. Di sekelilingnya terdapat bangunan setengah lingkaran yang disebut Hijr Ismail dan Maqam lbrahim (bukan makam dalam bahasa lndonesia). Maqam lbrahim adalah  batu yang memiliki bekas tapak kaki Nabi lbrahim ketika beliau meninggikan bangunan Kabbah. Maqam lbrahim ini disimpan dalam tabung keemasan yang memiliki kubah. Bekas tapaknya bisa terlihat dari kaca bening yang melindunginya.

Selesai tawaf, kami melanjutkan ibadah Sai. Lokasi untuk menunaikan Sai tidak jauh dari Kabbah. Dimulai dari bukit Safa menuju bukit Marwah. Kami berlari-lari kecil dari Safa ke Marwah. Tepat di bagian dinding yang memiliki lampu berwarna hijau kita disunnahkan untuk mempercepat lari sampai lampu hijau berikutnya. Total tiga setengah putaran dengan jarak sekitar tiga setengah kilometer. Disunnahkan untuk berdoa sambil melihat Kabbah bila mencapai salah satu sisi bukit.

Selesai Sai sekitar pukul satu malam dan dilanjutkan memotong rambut untuk melengkapi syarat sahnya ibadah umrah. Dengan berakhirnya ibadah Sai dan memotong rambut maka berakhir pula ibadah wajib umrah. Selebihnya kami sholat dan berdoa di dalam masjid.

Sekitar pukul dua malam kami kembali ke hotel dan beristirahat.

Sekedar informasi penjagaan di Masjidil Haram ini cukup ketat. Semua tas diperiksa oleh polisi masjid yang bertugas. Stroller bayi tidak diperkenankan untuk dibawa masuk. Teman saya yang nekat membawa stroller, akhirnya terpaksa menitipkan di box penitipan berbayar yang terletak di luar masjid.

Pertama kali tawaf di depan Kabbah
Di depan Masjidil Haram

Mutawif saya menjelaskan, ketika kita sudah selesai umroh untuk diri sendiri, kita boleh mengumrohkan anggota keluarga maupun saudara. Akhirnya kami semua sepakat untuk ‘menghadiahkan umroh’ untuk anggota keluarga kita yang sudah berpulang, maupun anggota keluarga yang tidak bisa ke tanah suci karena alasan kesehatan. Umroh kedua kita laksanakan pada hari berikutnya dengan mengambil miqat di Masjid Aisyah. Salah satu tempat terdekat dari Masjidil Haram untuk mengambil miqat.

Di sela-sela ibadah di Masjidil haram kami juga berziarah di tempat-tempat bersejarah bagi umat lslam. Salah satunya adalah Jabal Rahmah. Salah satu tempat yang paling romantis menurut sejarah. Karena di sinilah Nabi Adam dan Hawa dipertemukan kembali setelah diturunkan ke bumi.

Di Jabal Rahmah ini banyak peziarah yang berdoa meminta pasangan. Jabal Rahmah sendiri berupa bukit batu yang di bagian puncaknya terdapat sebuah tugu sebagai penanda. Satu hal yang amat disayangkan adalah banyak sekali tangan-tangan jahil yang mencoret-coret situs bersejarah ini.

Jabal Rahmah
Sore di Mekkah

Hari-hari terakhir di Kota Mekkah kami maksimalkan untuk beribadah dan melakukan kontemplasi. Terasa menyedihkan memang ketika kita harus berpisah dengan kota suci Mekkah dan Masjidil Haram. Di sela-sela waktu luang, kami juga menyempatkan diri mencari oleh-oleh di sekitar hotel. Maklum sepanjang jalan menuju Masjidil Haram banyak sekali toko yang menawarkan oleh-oleh dan jajanan khas.

Selain oleh-oleh, saya juga menyempatkan diri untuk menikmati “KFC” ala Arab yang bernama Al Baiq. Selain  ayam ala “KFC” saya juga sempat menikmati jus Arab yang terdiri dari campuran berbagai buah dengan topping menggoda seperti buah kiwi, anggur, apel dan kacang almond. Rasaya segar banget menikmati jus di tengah cuaca panas kota Mekkah yang mencapai empat puluh derajat celcius.

Jus dengan topping buah-buahan
Masjid Qisos

Dan pada akhirnya kami harus berpisah dengan tanah suci. Banyak kenangan dan rasa haru yang tidak bisa saya lukiskan dengan kata-kata. Pun sewaktu menulis cerita ini, saya begitu rindu dengan kota suci. Semoga Allah memberikan rezeki dan kesempatan untuk kembali lagi ke sana.

lnterior Masjid Qisos

Saya hanya berharap, semoga kalian yang ingin menunaikan ibadah umroh, bisa terlaksana ketika masih muda. Mengapa? Karena umroh maupun haji merupakan ibadah yang sangat mengandalkan kekuatan fisik. Selagi bisa umroh ketika masih muda, kenapa harus menunggu usia lanjut.

Baca juga: A Spiritual Journey to Mecca and Medinna part 1

Staycation Hemat di Kota Bogor

    staycation di sebuah hotel adalah liburan yang sedang hits sekarang

Traveling buat saya adalah hobi yang membuat hidup makin produktif. Memang sih, secara sepintas seperti menghambur-hamburkan uang. Eh, itu kan yang terlihat? Hasil yang tidak terlihat dari traveling kan banyak. Setelah liburan, otak fresh, hidup makin produktif, pengalaman  dan pertemanan juga bertambah dan tentunya hati makin bahagia. Ya, nggak? Iya-in aja deh, biar nggak ribet, hehehe.

Banyak cara lho, supaya traveling tidak membuat kantong jadi boros. Diantaranya dengan membuat travel plan jauh-jauh hari sebelum keberangkatan. Dengan begitu kita bisa menyiasati anggaran yang paling besar yaitu biaya hotel, villa atau penginapan, biaya transportasi seperti tiket pesawat ataupun kereta api. Dengan mem-booking tiket pesawat, hotel atau villa jauh-jauh hari, harganya jauh lebih murah. Untuk keperluan tersebut, biasanya saya mencari informasi tiket murah melalui Traveloka.

Selain mem-booking tiket jauh-jauh hari supaya anggaran traveling hemat, hindari traveling pada saat musim liburan. Tau sendiri, kan? Harga-harga tiket kalau musim liburan seperti liburan sekolah pada bulan Juli-Agustus, libur lebaran, libur natal ataupun libur tahun baru. Ingat prinsip ekonomi! Semakin tinggi permintaan, semakin tinggi pula harga yang ditawarkan.

booking hotel makin gampang dengan traveloka

Staycation di Bogor bersama teman-teman komunitas

Nah, kali ini saya ingin merencanakan liburan yang nggak terlalu jauh dari Jakarta. Sebenarnya sih, ini untuk merayakan ulang tahun komunitas. Pada awalnya, ada beberapa lokasi pilihan yang akan kita jadikan lokasi untuk staycation seperti: Bogor, Bandung, Jogja dan Malang. Namun, berhubung pesertanya cukup banyak, dan kami semua memiliki kesibukan masing-masing, jadi kami merencanakan liburan yang lokasinya dekat dan terjangkau untuk semua peserta. Tidak perlu jauh-jauh dan supaya tidak berakhir sebagai wacana, toh, yang penting kan kebersamaannya. Betul, nggak?

Liburan kami nanti rencananya akan menginap di sebuah villa di kota Bogor. Untuk lokasi villanya seperti biasa akan saya book melalui  Villa Traveloka. Praktis dan nggak ribet, daripada harus mencari lokasi on the spot. Ya, kan? Untuk konsep acara, kita akan membuat liburan ala staycation. Kumpul, masak bareng, makan-makan dan menikmati suasana di sekitar Kota Bogor.

Buat yang pengen tau staycation itu apa? baca di sini.

Setelah membandingkan beberapa daftar rate villa dari online travel agent (OTA) dan cek sana sini, akhirnya kita menemukan lokasi yang representative. Lokasi villa sudah saya peroleh melalui  situs online ternama Villa Traveloka. Buat yang belum pernah coba, cara carinya seperti ini, praktis kok!

mudah banget booking tiket, hotel atau penginapan dengan traveloka
pilihan penginapan di traveloka beragam, bisa disesuaikan dengan budget liburan

 

Kenapa sih suka booking dari Villa Traveloka? Begini lho, online travel agent (OTA) yang satu ini selain praktis, pembayarannya juga mudah. Selain itu, pilihan hotel dan villanya juga banyak. Paling lengkap di seluruh lndonesia bahkan dunia. Asyiknya lagi, beberapa penginapan menawarkan promo dengan biaya yang dapat memangkas budget perjalanan.

Kelebihan lain pakai  Villa Traveloka adalah metode pembayarannya yang banyak pilihan. Bisa transfer melalui mesin atm, transfer via internet banking, virtual account, kartu kredit bahkan uang cash. Tuh, buat kalian yang nggak punya kartu kredit ataupun kartu atm, bisa kok bayar cash.

Kembali ke rencana staycation, mengapa kita memilih Kota Bogor? Karena Bogor adalah salah satu daerah tujuan yang sangat indah. Kota hujan yang berada di Jawa Barat memiliki banyak daerah wisata. Meskipun saya sudah berkali-kali ke ke Bogor, namun tidak pernah bosan. Pergi ke kota ini memang membawa kesenangan tersendiri. Selain hawanya yang relative sejuk, Bogor juga mempunyai ragam kuliner kekinian yang tentunya sayang bila dilewatkan. Cocok banget deh pokoknya buat kita para milenial.

Salah satu objek wisata yang akan kita kunjungi adalah Istana Bogor, di halaman Istana Bogor terdapat danau cantik yang dihiasi bunga-bunga teratai. Kolam air dan air mancur juga menambah daya tarik landmark Kota Bogor. Saking cantiknya, tempat ini sering dimanfaatkan untuk foto pre wedding. Barangkali, bisa jadi inspirasi buat kalian yang ingin foto pre-wed.

Orang-orang yang datang ke sini bukan hanya warga sekitar, tapi juga banyak yang berasal dari luar kota Bogor. Lengkapnya faslitas umum yang ada di sekitar Istana Bogor, semakin membuat kawasan wisata ini tak pernah sepi pengunjung.

Kota Bogor juga memiliki berbagai kuliner yang terkenal. Salah satunya adalah lapis talas, kue kekinian yang memiliki tekstur lembut ini, bakal menjadi kuliner favorit yang akan kita buru saat staycation nanti. Bogor memang salah satu surga kuliner yang  mudah dijangkau dari Jakarta. Pertimbangan ini pula yang membuat kami memilihnya.

Nah, buat kalian yang belum pernah staycation dengan teman-teman komunitas, boleh lho dicoba tips saya di atas! Dengan Villa Traveloka, dijamin deh, liburan kita menjadi hemat.

menikmati suasana hotel adalah bagian dari staycation

A Spiritual Journey to Mecca and Medina part 1

Welcome to KSA, negara yang secara resmi bernama The Kingdom of  Saudi Arabia. Salah satu negara yang menjadi impian bagi jutaan umat muslim untuk mengunjunginya. Negara yang bagi saya, ketika menyalakan channel NatGeo, seperti sedang dibacakan doa oleh seorang kyai.

rombongan kami

Cuaca musim panas dengan suhu 40 derajat menyambut saya di bandara King Abdulaziz International Airport (KAIA). Kedatangan saya ke salah satu negara di Timur Tengah ini, tak lain dan tak bukan adalah untuk menunaikan ibadah umroh. Rombongan kami berjumlah 6 orang, yang terdiri dari 4 anak muda, 1 balita  dan 1 lansia, ayah dari salah satu jamaah.  Memang, tidak seperti jamaah umroh pada umumnya yang bisa berjumlah puluhan bahkan ratusan.

Setelah lolos melewati imigrasi dan security check point. Saya dan rombongan disambut oleh Pak Sudirman, beliau ini yang bertugas mengurus semua akomodasi kami selama di Mekkah dan Madinah. Mulai dari hotel hingga mobil Elf yang akan kami gunakan untuk city tour atau berziarah. Bahasa arabnya sangat fasih, meskipun wajahnya sangat khas orang lndonesia.

Kami hanya termangu, saat Pak Sudirman cas cis cus ngobrol dengan petugas bandara. Di antara kami berenam tidak ada satupun yang bisa berbahasa arab. Lebih dari 10 tahun beliau tinggal di Saudi Arabia. Selesai dengan urusan bagasi kami segera masuk mobil Elf yang sudah menanti di terminal kedatangan. Di dalam mobil, Mas Abdurrahman, selaku mutawif alias pembimbing ibadah umrah yang ditunjuk agen travel, sudah menanti.

Sekedar flashback, niat beribadah umroh ini sebenarnya sudah lama saya impikan. Akhir tahun lalu saya sengaja menuliskan keinginan ini dalam resolusi tahunan. Alhamdulillah di bulan ke 5 ini bisa terlaksana. Saya sangat percaya, bahwa semua doa-doa yang baik, yang tulus kita tulis, pasti akan dikabulkan olehNya. Entah mungkin dikabulkan secara langsung, dikabulkan nanti, ataupun diganti dengan yang lebih baik.

Banyak insight ketika saya melakukan perjalanan spiritual. Harap maklum, saya sendiri bukan tipikal orang yang religius. Beribadah saja masih belum sempurna, alhamdulillah diberi rezeki bisa mengunjungi Baitullah. Buat saya ini adalah puncak perjalanan hidup, agar saya selalu belajar bersyukur dengan kehidupan yang begitu indah, yang diberikan olehNya.

Dalam hidup kita membutuhkan jeda. Terlalu membosankan jika hidup berjalan lurus tanpa jeda. Umroh buat saya adalah jeda, mengistirahatkan sejenak beban pikiran dan fokus pada keikhlasan beribadah.

Mobil Elf membawa kami berenam menuju kota Madinah. Ya, perjalanan umroh saya akan dimulai dari kota Madinah Al Munawaroh. Kota di mana Rasulullah Saw dimakamkan. Kota Madinah berjarak sekitar 5 jam dari Jeddah. Pada mulanya, saya mengira negara arab itu seperti yang tergambar dalam film Aladin, di mana wilayahnya hanya terdapat gundukan gurun pasir dan unta-unta yang berbaris. Pemandangan yang terlintas dalam benak saya itu ternyata salah besar.

Jalur sepanjang Jeddah-Madinah lebih banyak didominasi bukit batu gersang. Sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah gunung-gunung batu tanpa penghijauan. Kalaupun ada tanaman yang tumbuh, mungkin hanyalah tanaman gurun, itupun tidak banyak. Gurun pasir yang indah, seperti yang saya bayangkan sebelumnya, jarang terlihat. Beberapa ekor hewan gurun  liar, seperti unta dan domba, kadang terlihat di kiri-kanan jalan. Berteduh di balik pohon yang kuat tumbuh di panasnya gunung batu.

Saya jarang sekali menemukan pemukiman warga di sepanjang jalur Jeddah-Madinah. Kalaupun ada hanyalah satu dua bangunan yang sudah ditinggalkan pemiliknya. Langitnya bersih tanpa awan. Boleh dibilang tempat ini memiliki “kesenjangan produktivitas” bila dibandingkan dengan bumi nusantara yang gemah ripah loh jinawi.

Mobil elf membawa kami dengan kecepatan 100-110 km per jam. Di jalur utama ini jarang terlihat kendaraan melintas. Jalur yang sepi ini membujur sepanjang 417 km dari kota Jeddah. Setara dengan jarak Jakarta-Banjarnegara. Tidak ada hiburan semacam musik di dalam mobil. Karena musik hukumnya haram di sini. Aktivitas utama yang bisa kami lakukan hanyalah berdoa ataupun membaca buku panduan ibadah umroh. Selebihnya kami istirahat tidur.

pemandangan sepanjang jeddah madinah
sepinya jalur utama

Sesekali Mas Abdurrahman memberikan arahan dos and don’ts selama beribadah. Di tengah perjalanan kami kelaparan. Saya meminta Mas Abdu mencarikan lokasi rest area supaya kami bisa makan. Yang saya ingat, terakhir kali kami mengisi perut saat berada di atas pesawat. Jangan dibayangkan jalur Jeddah-Madinah ini seperti Pantura yang dengan mudah menepi, dan mencari restoran ataupun rest area.

Beruntungnya, karena Mas Abdu ini tinggal di Mekkah, jadi dia tahu tempat makan yang cukup enak dan cocok dengan lidah kita. Dia memesankan kami nasi Mandhi, 2 nampan nasi Mandhi dengan topping ayam bakar dan daging domba, habis kami lahap. Saya sendiri memilih nasi Mandhi dengan topping  ayam bakar, karena memang enggak doyan kambing. Nasi Mandhi ini terbuat dari beras Basmati yang memiliki tekstur panjang. Soal rasa, boleh dibilang sangat enak. Jauh lebih enak ketimbang yang pernah saya makan di Jakarta.

nasi mandhi
lahap menghabiskan nasi mandhi

Kami menyudahi makan siang yang dilanjutkan sholat dhuhur dan ashar dengan cara dijamak. Jika tidak meleset, kita akan sampai kota Madinah sekitar pukul 5 sore.

Memulai ibadah dari Kota Madinah

Tepat sekitar pukul 5 sore, mobil kami tiba di depan hotel. Dengan sigap petugas hotel membantu kami memindahkan koper-koper menuju kamar di lantai 9. Pemandangan dari kamar hotel adalah jalanan di depan masjid. Hotel kami berada tepat di gate 15 Masjid Nabawi. Sekumpulan burung merpati terbang menghiasi jalanan.

Boleh dibilang suasana kota Madinah ini lebih syahdu bila dibandingkan degan kota Mekkah. Suhunya berkisar 35 derajat celcius, cukup panas memang, tapi tidak membuat badan kita berkeringat. Ini dikarenakan tingkat humiditynya yang rendah.

pelataran masjid nabawi
interior masjid nabawi

Sesuai rencana kami akan tinggal di Madinah selama 4 hari 3 malam. Hari pertama lebih banyak dihabiskan beribadah di masjid Nabawi. Energi dan semangat untuk beribadah sangat terasa di sini. Jika azan berkumandang, seluruh toko akan tutup, semua orang akan segera menuju masjid Nabawi untuk menunaikan sholat. Masjid ini terbuka untuk umum selama 24 jam. Tidak perlu takut haus karena ratusan galon air zamzam tersedia penuh. Petugas akan segera menggantinya jika kosong. Saya sendiri selalu berbekal tumbler untuk mengambil air zamzam dari masjid, supaya bisa diminum jika sedang di hotel.

Masjid Nabawi ini sangat luas, bisa menampung sekitar 600.000 jamaah lebih. Di pelataran masjid, puluhan payung-payung raksasa akan terbuka secara otomatis selepas azan subuh, dan kembali menutup menjelang magrib. Info yang saya tahu, pada pinggiran payung raksasa itu terdapat pita biru yang terbuat dari material khusus. Pita ini berfungsi menurunkan suhu hingga 8 derajat celcius. Maklum, suhu di Madinah bisa mencapai 50 derajat celcius pada saat musim panas.

Di dalam masjid suhunya jauh lebih dingin. Tidak seperti umumnya masjid-masjid di Indonesia yang sering dibuat bertingkat, masjid Nabawi hanya memiliki 1 lantai. 2 lantai di bagian basement hanya digunakan sebagai toilet dan tempat untuk berwudhu. Bukan area untuk beribadah. Untuk ke toilet kita menggunakan eskalator. Baru kali ini saya menemukan eskalator yang berfungsi khusus untuk menuju toilet.

Keunikan lain ketika beribadah di masjid Nabawi adalah: jika selepas sholat wajib kita akan dianjurkan imam untuk melakukan sholat jenazah. Mengapa? Karena jamaah di masjid ini berasal dari semua negara, dan bisa dipastikan ada yang meninggal di sana setiap harinya, karena jumlahnya puluhan hingga ratusan ribu. Imam akan memberitahukan jamaah untuk memimpin sholat jenazah selepas sholat wajib.

Hari kedua di Madinah, Mas Abdu mengajak kami mengunjungi Raudhah. Raudhah yang memiliki arti taman surga ini adalah, sebuah ruangan yang berjarak antara bekas mimbar Nabi Muhammad dan rumahnya yang sekarang menjadi makam beliau. Luasnya hanya sebesar lapangan bola basket. Penanda utama adalah ruangan ini diberi karpet berwarna hijau. Sementara semua karpet di masjid Nabai berwarna merah. Lokasinya berada di dalam masjid Nabawi.

area raudhah
antrean menuju raudhah
makam nabi muhammad

Keistimewaan berdoa dan beribadah di sini adalah kita seperti di taman surga. Salah satu tempat yang paling mustajab untuk berdoa. Area di mana doa-doa akan dikabulkan. Itu sebabnya tempat ini tidak pernah sepi selama 24 jam. Jamaah umroh dan haji hanya memiliki waktu sekitar 30 menit untuk beribadah dan berdoa. Antreanya? Jangan ditanya, jamaah dari seluruh dunia tumplek blek di area yang hanya seluas 140an meter persegi. Apalagi untuk jamaah wanita yang waktunya dibatasi hanya selepas sholat subuh, dzuhur dan isya.

Untuk beribadah di sini kita bisa antre sekitar 1 jam-an. Pengunjung malam hari lebih sepi, tapi bukan berarti tidak berebutan dan berdesak-desakan. Antrean utama dibagi menjadi 2 ruang. Di luar itu antrean lebih panjang dan mengular. Butuh kesabaran memang, sebanding dengan mustajabnya doa-doa yang akan dikabulkan.

(bersambung..)

Mendaki Gunung Salak : Kemah di Gunung Bunder, Naik ke Puncak Manik

Dikenal sebagai gunung paling angker di Jawa Barat, tak membuat para pendaki ciut nyali untuk naik ke Gunung Salak. Jangan arogan dan jangan pernah menanyakan di mana letak buah salak, jadi dua dari beberapa pantangan jika kamu ingin mendaki salah satu tempat wisata di Bogor yang satu ini. Tentu saja, ada banyak cerita mistis yang bakal kamu dengar jika orang-orang mendengar niatmu untuk naik ke gunung ini.

Di balik kisah-kisah seperti ditemukannya babi sebesar truk tronton atau ular emas yang konon dipercaya sebagai penunggu Gunung Salak, tempat ini menyimpan keindahan yang bikin kamu berdecak kagum jika sudah melihatnya sendiri. Ada beberapa tempat yang wajib kamu datangi jika naik ke gunung ini. Kamu bisa camping di sana, dan menikmati apa yang dipersembahkan oleh alam, untuk kita manusia yang wajib menjaganya.

  1. Gunung Bunder

sumber: wisatagunungbunderbogor.wordpress.com

Hal pertama yang bisa kamu lakukan bareng keluarga atau teman-teman adalah menuju Gunung Bunder yang berada di kaki Gunung Salak. Sebelum mendaki lebih tinggi, kamu bisa berkemah di sini. Pemandangannya yang menakjubkan dijamin bikin kamu tak kehabisan spot untuk berfoto. Tempat ini juga punya beberapa curug yang indah. Sampai di Gunung Bunder ini saja rasanya sudah sangat puas dan fikiran pun segar kembali.

Jika kamu ingin naik lebih tinggi lagi atau memang punya tujuan untuk menuju puncak, tempat ini menjadi lokasi untuk beristirahat mengumpulkan tenaga sebelum melanjutkan perjalanan. Namun kalau kamu tak ingin ke puncak, ada Kawah Ratu yang juga menarik untuk dikunjungi. Kamu yang memang punya hobi mendaki gunung pasti bakal memilih untuk melanjutkan perjalanan sampai ke puncak, bukan?

Baca juga : Ranu Kumbolo, Danau Cantik Yang Misterius

  1. Kawah Ratu

sumber:kompas.com

Perjalanan selanjutnya setelah melewati kaki gunung, jika kamu memang bertujuan menjelajah Gunung Salak berarti kamu wajib mampir ke Kawah Ratu. Untuk menuju sini, lewat jalur Pasir Reungit, harus trekking dulu sejauh 3,6 km yang bisa ditempuh sekitar 2 jam lebih. Jangan khawatir, medan yang lebih banyak landai tak akan membuat kamu lebih cepat lelah. Sebelum sampai ke Kawah Ratu, ada dua kawah yang bakal kamu lewati, yaitu Kawah Mati I dan Kawah Mati II dengan bau belerang yang cukup menyengat.

Berbeda dengan Kawah Ijen atau Tangkuban Perahu yang membentuk kaldera luas atau cekungan dari puncak gunung, Kawah Ratu memang tidak terlalu luas. Bentuknya lebih menyerupai bukit kapur yang berasap di berbagai titik. Sebaiknya memang tidak lama-lama berada di tempat ini. Setelah mengabadikan momen dengan foto atau video, segera lanjutkan perjalanan menjauhi kawah dengan asap belerang yang bisa membahayakan pernafasanmu.

  1. Puncak Manik

sumber:dakatour.com

Bagi yang memang bertujuan untuk naik sampai ke puncak, Gunung Salak dapat didaki dari beberapa jalur. Puncak yang paling sering didaki adalah Puncak Salak II dengan ketinggian 2.180 mdpl dan Puncak Salak I dengan ketinggian 2.211 mdpl. Kamu bisa lewat melalui jalur paling ramai dari arah utara, yaitu Curugnangka yang bakal membawamu ke Puncak Salak II. Dari sini, kamu bisa lanjut ke Puncak Salak I.

Jika tak mau lewat Puncak Salak II, Puncak Salak I bisa juga didaki dari timur, lewat Cimelati, dekat Cicurug, Sukabumi. Di Puncak Salak I ini terdapat petilasan berupa makam, yang disebut-sebut sebagai petilasan Embah Salak. Makam ini kabarnya sempat hancur saat tragedi pesawat Shukoi. Puncak inilah yang disebut Puncak Manik, yang terkenal dengan keindahan pemandangannya. Ini merupakan tempat instagramable yang tak boleh kamu lewatkan untuk mengabadikannya dalam bentuk gambar atau video.

Nah, dari tiga destinasi di atas, kira-kira kamu mau ke mana saja? Jika sudah menginjakkan kaki di area Gunung Salak, memang lebih baik sekalian menuju Puncak Manik, ya. Namun jika kamu hanya ingin berkemah santai, kamu bisa menghentikan penjelajahanmu sampai Gunung Bunder saja. Dan jika kamu masih ingin berkunjung ke tempat wisata lain di Bogor, kamu bisa kunjungi saja halaman Traveloka dan mencari alternatif liburan lainnya.

Staycation di Guesthouse, Liburan Seru yang Makin Hits

Libur long weekend akhir tahun sudah tiba, bingung mau ke mana? Berhubung saya sedang dalam masa pemulihan, jadi memang tidak bisa pergi jauh. Tapi kalau hanya menghabiskan 4 hari libur di kamar, pastinya bakalan boring. Akhirnya, saya memutuskan untuk staycation 3D2N di Maharani Guesthouse. Lokasinya masih di Jakarta Selatan. Tepatnya di Jl. Kebon Baru 2 no 8 Tebet. Dekat dengan stasiun Cawang dan tempat nongkrong di sekitaran Tebet.

Staycation ngapain aja sih? Begini, berhubung saya cuma pengen leyeh-leyeh dan nggak mau beraktivitas berat, maka saya putuskan mengisi staycation dengan baca buku, ngeteh, nulis blog, chit-chat bareng teman dan tiduran. Maklum kondisi tubuh sedang dalam masa pemulihan. Jadi saya benar-benar menghindari aktivitas berat seperti pergi ke luar kota.

Maharani Guesthouse, tempat saya menginap ini awalnya memang rumah tinggal. Berada di komplek perumahan di kawasan Tebet. Jadi akses transportasinya tergolong gampang, dekat ke mana-mana. Dari stasiun Cawang maupun dari jalan MT Haryono. Maharani Guesthouse mempunyai 5 kamar tidur dengan ukuran dan fasilitas yang berbeda-beda. 3 kamar di lantai bawah mempunyai fasilistas deluxe yang cukup lumayan dengan kamar mandi di dalam. Ruangan ber-AC dengan pilihan tempat tidur berkapasitas 2 hingga 6 orang dengan tambahan extra bed.

Saya menghabiskan 3 hari 2 malam di Maharani Guesthouse. Lumayan untuk memulihkan badan setelah sakit. Meghabiskan staycation dengan membaca buku, ngeteh sore-sore sambil ngobrol bareng teman-teman menjadi kegiatan menyenangkan buat saya. Dan tentunya tidak membutuhkan budget besar untuk liburan akhir tahun.

chit-chat sambil ngerjain tugas bareng teman-teman membuat staycation makin seru

Fasilitas Maharani Guesthouse ini cukup lengkap. Disediakan sarapan pagi, air minum dan air hangat untuk mandi (khusus untuk kamar suite). Selain itu juga di lantai 2 dilengkapi dengan meeting room. Di lantai 1 terdapat co-working space yang bisa digunakan untuk bekerja. Bean bag, sofa dan kasur lipat di area tv bisa jadi tempat leyeh-leyeh yang menyenangkan. Buat yang muslim jangan kawatir untuk beribadah. Di lantai 1 tersedia musola, jika ingin solat berjamaah di masjid tinggal keluar lewat taman, di sana ada ‘pintu rahasia’ yang menghubungkan guesthouse langsung dengan masjid milik warga.

Taman di belakang guesthouse ini bisa dipakai loh untuk barbeque party. Jadi kalau lagi kumpul sama teman-teman buat ngerayain ultah bisa juga dengan pesta barbeque. Wiiih, makin seru kan? Fasilitas lain seperti dapur, ruang makan, parkir serta toilet juga memadai. Ada 3 toilet, jadi gak usah takut buat ngantri.

leyeh-leyeh sambil baca di ruang tv

By the way, ngomongin liburan dengan konsep staycation memang lagi hits belakangan ini. Selain menjadi alternatif liburan yang murah meriah, bisa juga menjadi ajang reunian bareng teman-teman. Gak perlu jauh-jauh ke luar kota, di dalam kota pun juga asyik.  Staycation sambil ngobrolin proyek bareng teman juga seru kok, dijamin liburan kalian makin berfaedah.

Etika menggunakan fasilitas guesthouse

Staycation dengan budget murah di guesthouse memang seru, namun jangan lupa perhatikan etika menggunakan fasilitas guesthouse. Guesthouse bukan hotel, jadi jangan harap kita akan dilayani seperti layaknya menginap di hotel. Semua fasilitas serba self service, setelah menggunakan fasilitas seperti alat makan, peralatan dapur, kabel colokan, meja kerja dan lain sebagainya. Jangan lupa untuk dicuci dan dibereskan kembali ke tempat semula. Fasilitas tersebut akan digunakan oleh tamu lain, jangan biarkan mereka menggunakan alat bekas pakai kita yang masih kotor dan berantakan.

Ingat setiap guesthouse mempunyai peraturan yang berbeda-beda. Jangan bertindak asusila ketika  staycation, jika ada larangan untuk merokok, patuhi, namun jika masih ingin tetap merokok tanyakan pada petugas di ruang mana yang bebas merokok.

Ketika memilih kamar tipe bunkbed kita akan berbagi ruang dengan tamu lain, pastikan untuk menjaga sopan santun, jangan berisik atau menyalakan lampu utama ketika semua tamu sedang tidur, jika masih ingin beraktivitas gunakan lampu kecil di samping tempat tidur (sayangnya di Maharani Guesthouse belum ada). Alternatifnya kita bisa menggunakan lampu senter dari hp. Atau jika memang ada tamu lain ingin menggunakan lampu utama dan kita ingin beristirahat, gunakan tutup mata untuk tidur. Kalau ingin mendengarkan musik gunakan headset. Saling jaga privasi untuk tidak ‘kepo’ dengan aktivitas tamu lain.

Gunakan toilet sesuai etika kebersihan, jangan pernah meninggalkan jejak, tissue ataupun sampah di dalam kloset. Pastikan sebelum keluar, tamu lain akan nyaman menggunakan toilet setelah kita.

Nah, itulah beberapa aturan tidak tertulis ketika menginap di sebuah guesthouse. Ingat ya attitude kita adalah cerminan siapa kita. Selamat berlibur dan menikmati staycation.

Maharani Guesthouse

Jl. Kebon Baru II No 8, Tebet, Jakarta Selatan

Phone : 0852-2649-5070

 

Musim Liburan, Staycation di Hotel aja!

Bulan Desember sudah di depan mata. Pergantian tahun tinggal sebentar lagi, rutinitas liburan akhir tahun segera datang. Bingung mau ke mana? Gak perlu bingung sih, kalau memang enggan ke luar kota karena budget terbatas, banyak kok pilihan liburan lain tanpa harus pergi keluar kota. Salah satunya adalah Staycation. Zaman sekarang lagi musim-musimnya menghabiskan liburan dengan konsep Staycation. Lagi hitz banget deh.

Btw, buat yang belum tau apa itu staycation, baca nih! Saya salin dari laman www.practicalmoneyskills.co.id staycation berarti tipe liburan klasik yang hemat tanpa meninggalkan kota atau negara Anda. Nah, sudah tau kan? Jadi, kalau kalian pengen hemat saat liburan akhir tahun, banyak kok pilihan tempat yang bisa dijadikan staycation. Bisa hotel, apartemen atau villa. Gak harus jauh-jauh ke luar kota, di tengah kota juga tak kalah menariknya. Saat malam tiba, kita bisa loh menikmati cityview dari ketinggian hotel tempat kita menginap. Jarang-jarang kan, menikmati pemandangan kota pada malam hari?

Ngapain aja sih staycation? Kalau selama ini kalian bosan dengan jenis liburan dengan tipe petualangan seperti : naik gunung, selam bebas, panjat tebing dan petualangan lain, dengan staycation di hotel, kita bisa menikmati waktu sambil leyeh-leyeh, ngopi sambil baca buku, renang di kolam hotel, menikmati makanan hotel yang pastinya enak dan masih banyak lagi kegiatan asik yang bisa dilakukan saat staycation. Intinya sih lebih banyak ‘me time’nya saat staycation di hotel.

Liburan Seru di Kamar Hotel Aston Marina Ancol

Buat yang tinggal di sekitar Jabodetabek, seru juga loh menikmati liburan di dalam kamar hotel, di Hotel Aston Marina Ancol ini contohnya. Lokasinya pas banget di tengah jantung area Jakarta Utara dengan view Pantai Ancol, aksesnya juga mudah. Dekat dengan pintu tol dan shelter busway. Cuma 25 menit dari Bandara Internasional Soekarno Hatta. Nah, gampang kan?

Pilihan kamarnya juga beragam lho, mulai dari tipe 1, 2 dan 3 kamar tidur, lengkap. Total jumlah kamarnya sendiri ada 356. Selain itu koneksi internetnya juga lancar jaya. Gratis untuk seluruh area. Bonusnya lagi nih, Hotel Aston Marina Ancol juga menyediakan fasilitas antar jemput  setiap hari dengan tujuan Ancol dan Mangga Dua. Tuh, kurang apa coba?

Anyway, memasuki bulan Oktober 2017 kemarin, Hotel Aston Marina Ancol genap berusia 9 tahun loh. Banyak acara seru digelar, mulai dari tanggal 10-12 November 2017. Temanya juga seru : “I Love Local Product”, banyak bazaar, workshop dan fashion show batik, lomba menghias cupcake, cooking class, beauty class, coffee clinic dan banyak lagi. Asik banget deh pokoknya, dijamin gak nyesel kalau pas kebetulan staycation pada tanggal tersebut.

Dari Workshop Batik Hingga Cooking Class di Dalam Hotel

Siapa bilang di hotel tidak bisa belajar membatik? Kegiatan seru seperti mengenal tata cara pembuatan dan pemrosesan batik, dari selembar kain putih menjadi kain cantik bisa jadi pilihan kegiatan saat staycation. Dijamin sih kita makin cinta dengan produk  Indonesia yang sangat bernilai tersebut. Gak gampang lho menggambar diatas lembaran kain dengan menggunakan canting berisi malam cair.

workshop batik

Membatik udah, terus ngapain lagi? Eh, sewaktu perhelatan ulang tahun, Hotel Aston Marina Ancol juga mengadakan Cooking Class yang disponsori Forvita dan Kokita. Para peserta yang kebanyakan tamu hotel diundang untuk ikut memasak Chiken Bomb  Ball dan Sate Lilit. Seru kan? Selain itu juga ada lomba menghias cupcake yang disponsori oleh Pondan. Yang pasti sih kegiatan seperti ini bikin staycation makin seru.

Tuh, siapa bilang mengisi liburan dengan staycation di hotel bikin boring. Gak Cuma numpang tidur di dalam hotel,  tapi kalau pengen tidur juga sah-sah aja kok. Namanya juga staycation, badan kita jadi rileks karena kualitas tidur lebih terjamin. Gak harus panas-panasan ikut kegiatan outdoor saat liburan. Yuk, sesekali menikmati liburan tanpa harus berlelah-lelah ria. Jadi gimana, sudah siap staycation akhir tahun ini? Jangan lupa hubungi Hotel Aston Marina Ancol.

Hotel Aston Marina Ancol

Marina Mediterania, Tower A. Jl. Lodan Raya No. 2A, Jakarta 14430

email: Reservations@AstonMarinaAncol.com

Telp.: 021 698 37 120

Fax: 021 698 37 140

Tips Survival Yang Wajib Kalian Tahu Sebelum Naik Gunung, Cewek Wajib Baca!

Dibahas Dari Sisi Medis Oleh dr. Ridho Adriansyah dari RS. Firdaus

Diskusi santai menguak mitos dan fakta tentang pendakian

Ketika sedang kemping dan bermalam dengan menggunakan tenda, kalian menaburi sekeliling tenda dengan garam, berharap hewan berbahaya semacam ular takut masuk ke dalam tenda, pernahkah kalian pernah melakukan ini? Apakah ular benar-benar takut dengan garam? Sekedar mitos atau fakta? Atau tiba-tiba ketika sedang berada di ketinggian salah seorang teman kita mengalami hypotermia, apa yang harus kita lakukan? Benarkah dengan memeluknya tanpa busana bisa membuatnya sadar? Mitos atau fakta?

Nah, beberapa pertanyaan di atas kemarin dibahas  dan dijawab langsung oleh beberapa narasumber kece diantaranya dr. Ridho Adriansyah, Sp, PD dari RS. Firdaus, Harley B. Sasta seorang penggiat alam, penulis dan pemerhati konservasi alam dari Federasi  Mountaneering Indonesia, Tyo Survival Eks. Host Survival & Jejak Petualang Trans7 serta Siti Maryam seorang wanita tangguh survivor 4 hari 3 malam di Gunung Rinjani dan Edy M. Yamin selaku founder Backpacker Jakarta.

Acara kece tersebut terlaksana berkat kerjasama antara Klub Buku & Blogger (Kubbu) Backpacker Jakarta dengan RS. Firdaus. Acara berlangsung seru di Casapatsong’s Kitchen Express. Mitos dan fakta seputar pendakian dibahas dari sisi medis oleh dr. Ridho Adriansyah, dokter yang juga pernah naik gunung ini dinas di RS. Firdaus. Buat kalian yang belum tahu, RS. Firdaus adalah Rumah Sakit Paru yang berada di bilangan Jakarta Utara.

SEKILAS TENTANG RUMAH SAKIT FIRDAUS
Sebelum dikenal dengan rumah sakit dengan spesialisasi penanganan paru, RS. Firdaus awalnya adalah sebuah klinik yang didirikan pada tahun 1995. Karena kebutuhan pasien akan pelayanan kesehatan yang makin berkembang maka pada tanggal 7 April tahun 1998 beliau mengajak teman-teman dokter umum lain untuk membuka praktek dokter bersama dan pada akhirnya dibukalah ”KLINIK FIRDAUS” dengan pelayanan  Praktek Dokter Bersama 24 Jam.

Dalam perjalanan dan perkembangan klinik FIRDAUS, setelah diamati dan dilakukan evaluasi tentang kebutuhan dasar pelayanan kesehatan masyarakat dan atas dasar data medik yang dievaluasi, maka diperoleh kesimpulan bahwa pasien terbanyak yang datang berobat adalah pasien PARU dimana didalamnya termasuk penyakit yang mendominasi masyarakat lapisan bawah adalah Infeksi saluran napas atas, TBC paru, Pneumonia, Penyakit Paru Obstruksi Khronik, asma dan Kanker Paru.

Berdasarkan fakta dan tuntutan masyarakat akan kebutuhan pelayanan kesehatan khususnya dibidang PARU, maka arah pengembangan pelayanan kesehatan di klinik FIRDAUS lebih diarahkan ke pelayanan PARU dan menjadikan PARU sebagai layanan utama dan unggulan. Fokus RS Firdaus ternyata pada pelayanan BPJS terbaik. “Fungsi rumah sakit tak hanya mengobati, tapi juga memberikan informasi..” Tutur Nanisa selaku Marcom dari RS. Firdaus.

TIPS BERTAHAN HIDUP DI ALAM SERTA MITOS DAN FAKTANYA

Nah, sekarang saya mau lanjutkan tentang tips-tips bertahan hidup di alam serta mitos dan faktanya. Mitos sendiri berarti suatu cerita atau dongeng yang berlatar belakang kisah kejadian masa lalu. Mirip  hubungan kita yang hanya sekedar mitos, oke lupakan!

Mitos yang pertama, benarkah ular takut garam? Mas Tyo Survival yang ahli dalam dunia per-ular-an memberikan contoh langsung dengan mengeluarkan ular yang dia bawa, kemudian meletakkan di lantai yang sudah ditaburi garam. Dengan santainya ular tersebut melintas diatasnya, ternyata ular takut garam hanyalah mitos. Karena sejarah awalnya garam adalah media pemujaan.

Jenis binatang yang sensitif dengan garam adalah binatang yang berlendir. Tubuh ular bersisik tapi tidak berlendir. Ular sangat takut dengan ijuk yang biasa dipakai untuk sapu, karena tubuhnya bersisik dan sangat sensitif. Selain ijuk ular juga sensitif dengan wewangian, cukup semprotkan parfum untuk menghalau ular. Dijamin ular akar kabur menjauh.

Lalu bagaimana menghadapi hewan buas seperti harimau misalnya, Tyo memberikan contoh dengan meniup kantung plastik, ketika sudah mengembang kita bisa memukul kantong hingga meletus dan menimbulkan bunyi ‘dooor’. Trik ini bisa dipakai untuk menakuti hewan karena mirip suara senapan.

Selanjutnya Tyo mencontohkan pentingnya membawa trash bag plastic yang multi fungsi, bisa dipakai untuk pelampung dengan meniupnya dan memasukkan ke dalam tas atau carriel, bisa dipakai alas duduk atau tidur, bisa sebagai pengganti jas hujan dan lain sebagainya.

Di sini mas Tyo juga memberikan contoh jenis tanaman yang aman dikonsumsi saat kondisi darurat di alam diantaranya adalah Begonia dan Nepentes atau yang sering dikenal dengan Kantung Semar. Dua tumbuhan ini banyak ditemukan didalam hutan hujan tropis. Salah satu ciri tumbuhan yang aman atau tidak beracun adalah tumbuhan yang dimakan satwa.

Mitos lain, benarkah wanita dilarang mendaki gunung said haid atau datang bulan? Ini hanyalah faktor medis, karena disaat datang bulan fisik dan psikologi wanita mengalami penurunan. dr. Ridho Adriansyah RS Firdaus menjelaskan beberapa hal yang harus diperhatikan ketika akan mendaki, diantaranya :

1.    Pastikan kondisi fisik dan mental sehat.
2.    Persiapkan penghangat tubuh seperti jaket, celana gunung, siapkan pula makanan, air serta obat-obatan dalam kondisi cukup
3.    Pastikan pula pakaian pengganti tersedia, ini untuk antisipasi ketika sewaktu-waktu cuaca kurang bersahabat.
4.    Hal paling penting adalah jangan lupa menyiapkan tenda, bivak atau tempat berteduh.
5.    Patuhi segala aturan yang disampaikan tim ranger dan hormati adat istiadat penduduk setempat.
6.    Jangan pernah mendaki sendirian, ajaklah minimal 3 orang teman ketika mendaki.
7.    Jangan lupa berdoa.

Ketika mengalami kondisi darurat saat pendakian, tersesat atau terpisah dari rombongan misalnya, apa yang harus dilakukan? Pengalaman ini disampaikan langsung oleh Siti Maryam dan Edy M Yamin, setelah 4 hari 3 malam Siti terpisah dari rombongan Edy  dan menghilang di Gunung Rinjani, awalnya Siti memisahkan diri dari rombongan karena ingin BAB, namun secara tak sengaja dia terperosok ke dalam semak-semak dan terjatuh di pinggiran jurang.

Selama empat hari Siti bertahan hidup dengan mengandalkan madu sachet dan permen yang tersisa di dalam kantung celana, semua barang ia titipkan ke temannya saat ijin ingin BAB, Siti tetap tenang dan tetap berpikir logis untuk mencari jalur kembali ke basecamp. Keinginannya untuk tetap survive dan mentalnya yang tangguh akhirnya membuat dirinya selamat dan ditemukan kembali oleh seorang penggembala. Kemauan yang kuat untuk tetap hidup adalah salah satu kemampuan survival sejati.

Dr. Ridho Adriansyah RS. Firdaus kembali menambahkan, dalam ketinggian tertentu umumnya di atas 3000 MDPL tubuh manusia beradaptasi, ketika gagal beradaptasi, maka kita akan sakit atau istilah yang dikenal adalah High Altitude Sickness (HAS) yang terdiri dari 3 jenis Acute Mountain Sickness (AMS), High Altitude Cerebral Edema (HACE) & High Altitude Pulmonary Edema (HAPE).

Cara mengatasinya adalah dengan beristirahat selama 15 menit sebelum meneruskan pendakian. Jika memaksakan pendakian otak kita akan terasa bengkak dan kesadaran akan menurun. Jika tubuh kekurangan glukosa, cairan dan elektrolit tubuh manusia akan mudah mengalami halusinasi.

Di sisi lain untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan saat mendaki gunung seperti sakit misalnya, dr. Ridho Adriansyah menganjurkan supaya para pendaki membawa P3K standart seperti Paracetamol, obat alergi, obat penyakit khusus pribadi, jangan lupa juga untuk membawa oksigen kaleng, karena semakin tinggi gunung kadar oksigen semakin sedikit.

Tubuh manusia itu memiliki batasan dan masing-masing orang berbeda-beda. Manusia bisa bertahan dengan tidak makan tapi tidak bisa dengan tidak minum. Ketika manusia tidak minum selama 3 hari ginjal bisa rusak. Batas tubuh mengalami dehidrasi dalam dunia medis adalah 3 hari.

Nah, sudah tahu kan mitos dan fakta tentang pendakian? So jangan takut mendaki gunung kalau sudah tahu fakta dan mitosnya.

Tulisan ini dibuat atas kerjasama antara Klub Buku & Blogger Backpacker Jakarta dengan RS. Firdaus

Ranu Kumbolo, Danau Cantik Yang Misterius

Ranu Kumbolo saat matahari terbit

Sudah pernah ikut trip yang penuh drama? Alhamdulillah saya sudah, untungnya sih nggak berlanjut terus-terusan, cukup drama kita aja yang nggak pernah berakhir (lupakan kalimat terakhir!). Yeay! akhirnya kesampaian juga mengunjungi danau paling indah dalam impian saya, Ranu Kumbolo. Sudah tau donk danau yang saya maksud?  Berkat baca novel 5 cm kemudian dilanjut nonton filmnya, akhirnya saya mupeng juga untuk kemping ceria di pinggiran danau tersebut.

Drama sudah  dimulai dari awal merencanakan ikut trip ini, yang pertama dari izin cuti, setelah cuti disetujui, mendadak saya mendapat info kalau tiket kereta kepulangan sudah habis. Duuuh, piye iki? Akhirnya teman-teman sepakat untuk merubah tanggal keberangkatan dan kepulangan. Eh, ladalah, saya kan nggak segampang itu untuk merubah jadwal cuti. Macam pepatah Jawa “esok tempe, sore dele” pagi tempe, sorenya berubah lagi jadi kedelai. Saya harus mencari momen dan alasan yang pas supaya perubahan cuti disetujui. Pe er nomer satu!

Akhirnya setelah urusan revisi percutian disetujui. Saya terus memantau grup whatsapp untuk menunggu perkembangan selanjutnya. Eh, nggak dinyana-nyana ternyata jadwal trip berubah ke tanggal yang disepakati diawal, berhubung tiket kepulangan yang tersedia hanya separuh dari total jumlah peserta trip setelah jadwal dirubah. Dan saya pun harus mengajukan revisi cuti kembali. Pe er nomer dua! Abang lelah, Dek! 

Drama cuta-cuti kelar, drama selanjutnya adalah drama tiket kepulangan. Rencana kepulangan dari stasiun Malang mendadak batal karena kehabisan tiket pulang. Alhasil, demi mengejar waktu liburan berjalan sesuai jadwal cuti, teman-teman memutuskan untuk mengejar tiket balik dari stasiun Semarang. Kebayang dong ya, Malang-Semarang, kita memutuskan untuk sewa mobil elf. Akhirnya setelah rembugan sana-sini, sebagian peserta memutuskan untuk extend di Malang dengan jadwal kepulangan berbeda-beda. Saya dan separuh teman lainnya yang fakir cuti tergabung dalam grup kepulangan via stasiun Semarang. Via darat, eh maksudnya naik mobil elf.

sunrise-nya kece banget
misty

Okay, drama-drama sudah memasuki episode terakhir, saatnya kita fokus untuk menikmati perjalanan. Jakarta-Malang ditempuh dalam waktu kurang lebih 17 jam. Tidur di kereta dengan posisi punggung vertikal, sejujurnya saya nggak bakalan bisa tidur dengan posisi badan begitu. Akhirnya, berhubung kita berada di posisi gerbong paling belakang, saya bertiga teman memutuskan untuk menggelar matras dan tidur di bagian belakang. Baru sekitar satu jam merebahkan badan di atas matras, tiba-tiba saya dibangunkan oleh Polsuska, kami dilarang tidur di bawah karena posisinya mengganggu penumpang yang ingin ke toilet. Pfffttt!!

Balik lagi ke kursi, saya tetap tidak bisa tidur. Akhirnya saya menggelar matras di kolong bangku. Memaksakan diri untuk tidur horizontal, karena besok badan harus bugar supaya kuat trekking menuju Ranu Kumbolo. Tau kan? space kolong bangku kereta itu seluas apa, beruntunglah badan saya ideal jadi muat aja, meskipun nggak bisa bolak-balikin badan saat tidur.

Paginya, sesampainya di Malang impian saya adalah sarapan nasi pecel, sarapan nasi pecel adalah kemewahan bagi saya yang tinggal di Jakarta. Namun sayang banget karena waktunya mepet, pas sampai warung makan, pecelnya keburu habis  Dari stasiun Malang menuju basecamp sementara, kami nyarter angkot menuju Tumpang untuk beristirahat dan belanja logistik.

Oro-Oro Ombo
Ranu Kumbolo dari Tanjakan Cinta

Dari sini kita akan diangkut mobil jeep menuju Ranu Pane, Ranu dalam bahasa jawa berarti air atau sebutan untuk danau yang dalam bahasa sunda sering disebut Situ atau Setu. Di Ranu Pane kami dikumpulkan ke dalam basecamp penampungan, kemudian antri untuk diberi briefing mengenai dos and don’ts selama trekking hingga turun kembali. Intinya jangan pernah meninggalkan apapun kecuali jejak dan jangan mengambil sesuatu kecuali foto. Berhubung tadi pagi belum sempat makan pecel, saya menyempatkan diri untuk membeli pecel sayur untuk bekal makan nanti malam, jangan takut basi karena suhu di sini sangat dingin, jadi pecelnya tetap segar meski ditaruh ke dalam tas.

Trekking dimulai dari gerbang selamat datang, selepas solat ashar atau sekitar setengah lima sore. Jarak antar pos berbeda-beda jauhnya, sekitar satu sampai dua jam-an. Jarak paling jauh adalah dari pos 2 menuju pos 3. Pas di pos 3 ada sedikit tanjakan, harus sedikit ekstra hati-hati karena jalur malam itu licin bekas hujan badai sehari sebelumnya. Sempat sedikit gerimis tapi Alhamdulillah cuaca cerah kembali hingga kami pulang.

Ada 4 pos yang harus kami lewati, di pos pertama dan kedua ada warung yang menjual makanan dan buah-buahan. Lumayan untuk mengisi perut, saya sih lebih suka makan buah selama perjalanan. Selain segar, buah juga mudah diserap tubuh untuk mengembalikan energi yang terpakai. Infonya sih, di setiap pos ada yang menjual makanan tapi hanya di pos 1 dan 2 yang buka sampai malam hari.

Sebenarnya kalau trekking di gunung nggak bawa apa-apa pasti badan enteng, iyalah, tapi kan nggak mungkin ke gunung tanpa perlengkapan. Saya sendiri membawa carriel dan daypack, ditambah tenda dan logistik dari minyak goreng sampai beras. Kebayang dong kalau sudah capek, saya buru-buru nyandar di pohon atau kalau ada tempat luas untuk istirahat saya langsung geletak gitu aja. Gak peduli basah, becek atau kotor. Yang penting –hati– punggung bisa merebah, meski cuma sebentar.

Ranu Kumbolo dingin? Jawaban saya : Enggak, eh maksudnya nggak salah lagi 😀 (abaikan!) sebenarnya ini yang saya takutkan. Hasil browsing sana-sini cuaca dingin di Ranu Kumbolo mencapai puncaknya pas musim kemarau, sekitar Juli-Agustus tepat saat saya berada di sana. Dan saya paling sebel sama cuaca dingin, cukup sikap dia aja yang dingin, kamu jangan! Okay, lupakan curhatan saya.

Demi menahan hawa dingin di Ranu Kumbolo, saya memakai enam lapis baju, tidak langsung saya pakai semuanya sih, tapi bertahap. Sewaktu trekking saya memakai kaos polyester yang saya anggap pengganti Long John kemudian T-shirt lalu dilapisi kemeja flannel baru kemudian jaket gunung. Namun, sewaktu tidur saya memakai tambahan jaket dan jas hujan. By the way, jas hujan ini ampuh lho untuk menahan dingin sikapnya Ranu Kumbolo. Setelah itu baru masuk ke dalam Sleeping bag.

Apa yang menarik di Ranu Kumbolo? Banyak banget, melihat keindahan bulan di atas danau, kebetulan cuaca sedang cerah. Paginya menikmati sunrise yang muncul dari dua bukit, menjelang siang naik sedikit menuju Tanjakan Cinta, mitosnya kalau pas naik ketika dipanggil nggak menoleh cinta kita akan abadi. Saya sih tetap nengok meski nggak ada yang manggil, sayang kalau view danau yang indah dari atas dilewatkan begitu saja.

Dari Tanjakan Cinta turun sedikit kita menuju Oro-Oro Ombo, dalam bahasa Jawa Oro-Oro Ombo berarti padang yang sangat luas. Sumpah, tempat ini keren bin instagramable banget, berupa hamparan padang yang maha luas, ditumbuhi bunga Verbena berwarna ungu, berhubung ini bunga parasit yang tergolong hama, kalian diijinkan loh untuk memetik dan membawanya pulang. Tapi jangan sekali-kali memetik bunga Edelweis ya!.

(Bersambung…)

Liburan Murah di Kandang Godzilla, Ini Biayanya!

Lebaran tahun ini saya tidak menjadwalkan untuk mudik seperti tahun-tahun sebelumnya. Dalam rangka menghabiskan sisa-sisa libur lebaran yang masih 2 hari lagi, akhirnya saya menerima ajakan beberapa teman untuk mengunjungi tempat wisata baru yang katanya sedang hits dan instagramable di daerah Solear, Cisoka, Tangerang, sekitar perbatasan Serang, Banten.

Nama lokasi wisata ini terbilang unik, Kandang Godzilla. Sebenarnya nama asli tempat wisata ini adalah Tebing Koja, entah karena alasan apa hingga akhirnya orang-orang menyebutnya Kandang Godzilla. Mungkin karena penampakannya mirip dunia hewan-hewan purbakala yang sudah punah, seperti dalam film The Lost World.

Awalnya tempat ini adalah lokasi tambang pasir, karena sudah tidak dipakai lagi akhirnya membentuk tebing-tebing curam yang tergenangi air, hingga mirip seperti dunia yang hilang.

Kalau boleh dibilang, akses menuju Kandang Godzilla ini terbilang mudah dan murah. Buat saya dan teman-teman yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya bisa menggunakan KRL tujuan Rangkas Bitung.

Bila ingin pergi bersama rombongan dari Jabodetabek, Stasiun Tanah Abang bisa dijadikan lokasi mepo alias meeting point keberangkatan. Saya sendiri lebih memilih mencegat teman-teman dari Stasiun Kebayoran Lama, karena aksesnya lebih dekat dari rumah dan tidak perlu bolak-balik ke Tanah Abang.

Dari Stasiun Tanah Abang kita turun di Stasiun Tigaraksa. Begitu keluar stasiun kita bisa mencari angkutan umum, taksi online maupun ojek online untuk menuju Kandang Godzilla. Tarifnya bervariasi tergantung pintar-pintarnya kita menawar.

Untuk angkutan umum kisaran harganya sekitar 160.000 – 180.000, tarif tersebut bisa kita bagi  dengan teman-teman, maksimal 14 orang dalam satu mobil angkutan. Kalau datang sendiri atau berdua saya sarankan untuk menggunakan ojek atau taksi online. Selain lebih murah tentu juga lebih efisien.

Di lokasi ini sebenarnya ada tiga tempat wisata yang letaknya berdekatan. Selain Kandang Godzilla, juga ada Danau Biru Cisoka dan Makam Keramat Solear yang letaknya di tengah hutan dan dipenuhi monyet-monyet liar.

Lokasi terakhir tidak saya rekomendasikan, kenapa? Karena selain kurang layak dikunjungi, tempat ini juga kotor dan banyak pungutan liar. Bayangkan, hanya karena kita salah masuk ke lokasi wisata ini, mobil angkutan yang kami sewa dikenakan tarif parkir sebesar 15 ribu rupiah dalam waktu kurang dari 10 menit. Hampir 3 kali lipat tarif parkir mobil 1 jam pertama di Jakarta.

Alhasil, setelah ngotot-ototan dengan jawara tukang parkir, kami berhasil menawar tarif 15 ribu rupiah untuk 2 mobil sekaligus. Lokasi parkirnya pun mirip jalur off road yang berlumpur. Selain itu, sewaktu masuk ke gerbang pertama, setiap mobil yang masuk dikenakan pungli sebesar 10 ribu rupiah.

Jangan pernah tanya tiket bukti masuknya. Tidak akan pernah ada. Bagi kami sebenarnya bukan masalah kalau itu memang tarif resmi dan ada buktinya. Namun kenyataannya tidak demikian, info yang saya dengar dari warga sekitar, pungli-pungli tersebut masuk ke kantong pribadi.

Spot terbaik di Kandang Godzilla

Kembali ke Kandang Godzilla, lokasi ini terbilang masih sepi. Tarif masuknya 3 ribu rupiah per orang. Biaya parkir 5 ribu rupiah. Cukup masuk akal dibanding Makam Keramat Solear. Ada bukti tiketnya pula. Untuk rombongan bisa minta potongan harga semisal lebih dari 10 orang.

Karena tergolong baru dan belum banyak pengunjung jadi pengelolaanya masih sederhana. Sangat disarankan jika berkunjung ke sini untuk memakai topi dan kacamata hitam, karena lokasinya cukup terik. Bawa air mineral yang cukup dan bekal makanan sendiri kalau tidak menyukai jajanan instan di sekitar Kandang Godzilla.

Kalau benar-benar ingin menikmati Kandang Godzilla sebaiknya datang pagi atau sore hari. Cuacanya tidak menyengat dan seterik saat siang hari. Setelah dari Kandang Godzilla bisa lanjut ke Danau Biru Cisoka. Dan kalau benar-benar ingin berziarah ke Makam Keramat Solear bisa dilanjut sore harinya. Lumayan bisa dapat 3 spot sekaligus dalam satu hari.

Danau Biru Cisoka

Dari hasil perjalanan kami, total biaya untuk akomodasi diluar makan tidak lebih dari 50 k. Untuk makan tentunya sangat bervariasi dengan kebutuhan masing-masing. Sekali lagi saya sarankan untuk membawa bekal sendiri, karena tidak banyak pilihan makanan di sana. Untuk lokasi alamnya cukup instagramable lah, kalau ditanya apakah saya mau kembali lagi ke sana? Saya bilang cukup sekali saja.