4 Jenis Asuransi yang Cocok bagi Milenial

Manusia boleh berencana, tetapi Tuhan juga yang menentukan takdir. Sering kan, dengar ungkapan itu? Kalau kita perhatikan, ungkapan klasik ini memang benar adanya. Hidup memang penuh resiko, tetapi bukan berarti kita menyerah pada takdir. Bukankah Tuhan juga sudah memerintahkan manusia, untuk mengubah takdir dengan segala kekuatan yang diberikan olehNya.

Apa saja sih, resiko dalam hidup? Contoh dari yang paling kecil: jatuh di kamar mandi, kehilangan motor atau mobil, kebakaran rumah, kehilangan anggota tubuh, atau bahkan kehilangan nyawa. Hidup yang penuh resiko ini, bukan tidak ada tidak ada maksudnya. Dengan adanya resiko tersebut, Tuhan mengajarkan kita untuk selalu berpikir mencari solusi. Supaya menjadi manusia yang tangguh dan kuat

Pertanyaannya sekarang, ketika ada potensi resiko resiko yang akan menimpa kita, apakah sebaiknya pasrah saja, atau justru melakukan persiapan terbaik untuk berjaga-jaga seandainya resiko itu tiba.

Dalam ajaran agama yang saya yakini, Tuhan mengajarkan manusia untuk mempersiapkan diri dalam segala kondisi. Tuhan memberi petunjuk untuk mempersiapkan lima perkara sebelum lima perkara lainnya datang. Yaitu waktu muda sebelum datang waktu tuamu, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, waktu kayamu sebelum datang waktu miskin, waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu, dan hidupmu sebelum datang matimu.

Perintah tersebut bukan bermaksud untuk mengajak berpikir pesimis, tetapi sebaliknya justru mengajak kita berpikir jauh ke depan. Ada banyak tujuan di depan sana yang masih ingin dicapai. Karena itu, dalam mencapai tujuan-tujuan tadi, seyogianya kita juga mempersiapkan diri menghadapi sejumlah risiko yang mungkin saja terjadi.

Salah satu cara untuk mengantisipasi resiko di atas adalah dengan cara mengambil asuransi. Ya, meskipun masih muda, sebaiknya kita belajar berpikir jauh ke depan. Toh, manfaat asuransi banyak. Btw, apa saja sik asuransi yang cocok untuk milenial seperti kita? Simak uraian berikut:

Asuransi Perjalanan

Milenial zaman now pasti hobi kan, sama yang namanya traveling. Saya juga sik, terus biar kita bisa traveling dengan aman, nyaman dan tenang selama perjalanan, sebaiknya persiapkan dengan asuransi. Bukan untuk apa-apa, tapi yang namanya resiko kan pasti bisa aja terjadi. Minimal kehilangan barang atau koper selama perjalanan. Atau amit-amit kalau sampai sakit dan kenapa-kenapa selama traveling. Jangan sampai deh, ya. Tapi kalau sudah beli asuransi kan jadi lebih tenang. Betul, nggak?

Asuransi Jiwa

Barangkali, banyak di antara kita yang menjadi kepala keluarga. Kepala keluarga tidak berarti harus seorang suami atau ayah. Siapapun yang menanggung nafkah utama dalam keluarga, bisa diartikan sebagai kepala keluarga. Intinya, jika penghasilan dari penanggung utama sebuah terhenti, maka keluarganya bisa mengalami kesulitan. Bisa jadi penanggung utama penghasilan keluarga adalah seorang anak. Maka asuransi jiwa seperti ini harus kita miliki.

Asuransi Pendidikan

Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia. Seberapa buruknya kondisi kita, pendidikan harus tetap diupayakan. Bagi keluarga muda milenial, memiliki asuransi pendidikan untuk anak wajib hukumnya. Toh, dengan memiliki asuransi pendidikan, berarti kita memiliki jaminan untuk masa depan mereka. Dengan menginvestasikan sebagian kecil pendapatan kita untuk pendidikan mereka, berarti kita telah berikhtiar untuk melindungi pendidikan mereka jika hal-hal yang tidak kita inginkan terjadi.

Asuransi  Kebakaran

Memiliki rumah bagi milenial muda adalah bukti kematangan sebuah keluarga. Namun, ketika sudah memiliki rumah, jangan melupakan aspek proteksi. Potensi kebakaran misalnya, bisa menimpa siapapun, supaya rumah yang kita tinggali aman dari potensi tersebut, kita harus memiliki asuransi kebakaran. Kalau ada hal-hal yang tidak kita inginkan terjadi, kita masih bisa memperoleh manfaat dari asuransi.

Nah, empat jenis asuransi di atas sebaiknya kita miliki. Bukan berharap untuk yang terburuk, tapi untuk mempersiapkan kondisi yang tidak kita inginkan terjadi.

Memilih Asuransi yang Tepat bagi Milenial

milenial harus punya asuransi untuk melindungi masa depan

Gaya dinamis yang dimiliki milenial memang tak bisa dipisahkan dari kehidupan zaman now. Dengan segala kesibukan yang dimiliki milenial, waktu yang digunakan untuk memilih dan memilah asuransi pun semakin terbatas. Tidak banyak pilihan asuransi yang bisa mengcover semua kebutuhan di atas hanya dengan mengandalkan satu Id.

Salah satu asuransi yang pas dengan kebutuhan di atas adalah HappyOne.id. Dengan konsep perlindungan All in-One  dengan menggunakan satu ID. Jadi tidak perlu repot-repot lagi untuk beli satu per satu asuransi yang kita butuhkan. Mulai dari asuransi perjalanan dengan HappyTrip, asuransi pendidikan atau HappyEdu, asuransi jiwa HappyMe dan asuransi perlindungan rumah HappyHome.

Cukup dengan menggunakan OneID kalian bisa mendapatkan seluruh perlindungan hingga cek riwayat polis yang kalian miliki dengan lebih mudah. Prosesnya pun lebih cepat dengan fitur download e-Policy kapan saja melalui website.

So, buat yang ingin merasa aman, nyaman dan terlindungi, segera miliki asuransi ya!

Hidup Sehat Dimulai dari Kualitas Air yang Kita Konsumsi

penyakit tidak menular diakibatkan oleh gaya hidup yang tidak seimbang

“Ribuan orang bisa hidup tanpa cinta, namun tidak mungkin bisa hidup tanpa air – W.H. Auden”

Ngomongin air, emang benar sih manusia nggak akan bisa hidup tanpa air. Mungkin kalau lapar masih bisa ditahan, tapi, kalau haus siapa sih yang sanggup. Air ibarat kehidupan itu sendiri. Tubuh manusia sendiri 60 puluh persennya terdiri dari air.

Beberapa hari yang lalu, saat menghadiri Hydration Talk, saya jadi tersadar bahwa selama ini sering mengabaikan pentingnya menjaga konsumsi air.  Dalam talkshow tersebut disebutkan bahwa manusia bisa hidup tiga bulan tanpa makan, tapi tidak bisa hidup tanpa air kurang dari tujuh hari.

Tidak hanya jenisnya, tapi juga kadang saya sering minum sembarangan tanpa memperhatikan komposisi kandungan air dalam botol kemasan yang saya minum.

Padahal, kalau sering baca tabel komposisi air kemasan, kadang banyak zat kandungan yang dapat mengakibatkan resiko penyakit tidak menular (PTM) seperti Jantung dan Diabetes Melitus. Salah satu penyebabnya adalah kandungan gula dan kalori berlebih dalam minuman kemasan.

situasi gizi di indonesia

Kalau zaman dulu penyakit yang diderita masyarakat kebanyakan penyakit menular, zaman sekarang sudah berubah. Penyakit tidak menular semakin banyak diderita. Apabila konsumen lebih cermat memilih minuman kemasan yang akan dikonsumsi, maka Penyakit Tidak Menular (PTM) tersebut dapat dicegah.

Saran sih, kalau kita mau minum air kemasan dalam botol, sebaiknya baca dulu gizi dan kandungan yang tercantum dalam tabel. Selain meminimalisir konsumsi zat berbahaya, kualitas minuman kemasan juga mempengaruhi kualitas kesehatan kita. Harus diimbangi dengan pengetahuan terhadap batasan konsumsinya.

Sebaiknya, mulailah minum air mineral. Selain sehat, mengonsumsi air mineral dapat mencegah dehidrasi. Mudah kok, mengecek apakah tubuh kita mengalami dehidrasi atau nggak. Tingkat kejernihan urine bisa menjadi indikator.

Dalam workshop Hydration Talk tersebut disebutkan bahwa Angka Kecukupan Gizi (AKG) orang lndonesia masih rendah. Kemenkes telah mengeluarkan panduan “isi piringku” yaitu 2/3 karbohidrat,1/3 protein dan lemak, ½ sayur dan buah.

Selain itu, Kemenkes juga mengeluarkan panduan tentang takaran gula, garam dan minyak. Batas aman konsumsi gula harian adalah empat sendok makan, garam lima sendok teh dan minyak maksimal lima sendok makan.  

Di lndonesia sendiri, tidak semua produk makanan dan minuman kemasan mencantumkan kandungan  dan komposisi bahan-bahannya.

Lalu gimana solusinya?

Solusi untuk mencegah Penyakit Tidak Menular adalah dengan membatasi mengonsumsi makanan yang tinggi kalori. Selain itu, bisa dengan mengubah gaya hidup dan pola makan. Olah raga dan istirahat yang cukup juga harus diperhatikan. Nggak susah, kan?

Danone-Indonesia, selaku perusahaan yang memiliki misi membawa kesehatan bagi masyarakat, telah memulai kampanye hidup sehat dengan mengajak masyarakat memperhatikan label komposisi pada makanan dan  minuman yang akan dikonsumsi.

Sejalan dengan halt tersebut, Hydration Science Director PT Tirta Investama (Danone-AQUA) dr. Tria Rosemiarti mendukung pentingnya menumbuhkan kesadaran dan perhatian masyarakat terkait asupan nutrisi tubuh yang sehat dan seimbang. Edukasi perlu dilakukan agar masyarakat dapat secara cerdas mengetahui alternative makanan dan minuman yang sebaiknya mereka konsumsi.

Jadi bagaimana, sudah siap untuk hidup lebih sehat?

danone dukung gaya hidup sehat
perhatikan tabel minuman yang akan kita konsumsi

Hepi-hepi dengan HappyOne.id

Bapak Rudy Chen Selaku CEO Asuransi Astra

Saya nggak setuju kalau ada yang bilang Millenial zaman now hobinya cuma foya-foya. Memang sih, dibandingkan generasi sebelumnya Baby Boomers dan Generasi X, kaum Milenial cenderung banyak yang membelanjakan uangnya untuk hal-hal yang bersifat experience-based consumption. Tapi, nggak semua milenial seperti itu kok. Banyak di antara mereka yang menyeimbangkan pengeluarannya dengan belanja produk investasi seperti reksadana dan saham dan tentunya proteksi.

Banyak dari mereka yang concern dengan pengeluaran untuk masa depan. Contohnya belanja produk proteksi alias asuransi. Sebagai milenial, saya sendiri menyeimbangkan pengeluaran untuk belanja investasi dan proteksi. Mengapa? Ya, namanya juga hidup. Kadang nggak selamanya sehat dan selalu “di atas”, apalagi saya juga hobi jalan-jalan. Jangan sampai deh, sakit pas lagi di perjalanan.

Sekedar sharing, saya pernah kok waktu jalan-jalan tiba-tiba ngedrop. Duh, jangan lagi deh. Sumpah ini rasanya nggak enak banget. Untungnya sih, saya jalan pas rame-rame sama teman. Nggak kebayang kalau sendirian. Udah gitu, nyari rumah sakit di tempat wisata kan, gampang-gampang susah. Belum lagi masalah biaya, harus siap-siap uang ekstra.

Beruntungnya, waktu sakit saya punya cadangan dana darurat. Memang sih, dari dulu saya sangat concern dengan perencanaan keuangan. Dana darurat itu, memang saya kumpulkan tiap bulan. Istilahnya nyicil sebanyak tiga sampai enam kali pengeluaran bulanan saya (sebagai orang yang masih single). Beda lagi buat yang udah nikah. Dana darurat yang harus dikumpulkan, jumlahnya 12 kali pengeluaran bulanan.

Happy Moment.

Fungsinya apa? Contohnya ya kayak tadi, pas lagi sakit bisa buat berobat. Kalau ada kondisi emergency, dana darurat tadi bisa dipakai. Asal jangan buat belanja ya! 😀

Terus, kalau ada yang bilang: “Berat euy, nabung buat dana darurat”.  Solusi lainya ya tinggal beli asuransi. Fungsi asuransi di sini nggak menghilangkan esensi dari dana darurat, lho. Cuma memperingan aja, jadi tetap, kalian harus mengalokasikan uang untuk kebutuhan darurat. Sementara kebutuhan proteksi sudah di-cover sama asuransi.

Dana darurat yang kalian kumpulkan, bisa dipakai kalau ada hal-hal seperti: PHK (bagi yang udah kerja), dan hal-hal emergency lain yang nggak dicover sama asuransi. Kalau kalian nggak punya dana darurat, berarti kondisi keuangan kalian “sedang sakit dan dalam bahaya”. Karena, kalau tiba-tiba butuh uang, larinya ke utang. Betul, nggak?

Fyi, dana darurat bisa ditempatkan di tabungan rencana, deposito, emas, atau reksadana pasar uang. Intinya mudah diakses dan dicairkan kapan saja saat darurat.

Nggak mau beli asuransi? Kalian harus nabung lebih gede lagi kalau nggak punya asuransi. Beda halnya kalau kalian sudah diprotek asuransi. Kalau ada apa-apa, udah nggak terlalu pusing. Selain itu, punya asuransi juga akan membuat hidup kalian lebih tenang. Ibaratnya, bayar seribu bisa dapat sepuluh ribu.

Memilih Asuransi yang Cocok untuk Milenial

Zaman now, asuransi kan seabreg-abreg. Nah, gimana tuh memilih asuransi yang cocok. Beberapa hari yang lalu, saya menghadiri peluncuran happyone.id dari Asuransi Astra. Di happyone.id ini ada empat jenis asuransi yang cocok banget dengan gaya milenial. Serunya lagi, asuransi gaya baru ini tersedia dalam satu platform digital dengan cukup menggunakan satu id saja.

peluncuran asuransi astra

Empat jenis asuransi tersebut adalah HappyTrip, Happy Me, HappyEd dan HappyHome. Happyone.id diluncurkan oleh Suparno Djasmin selaku Direktur Astra Internasional dan Rudy Chen sebagai CEO Asuransi Astra. Acara peluncuran berlangsung di Thamrin Nine Ballroom, Jakarta.

Hari gini, siapa sih yang nggak mau dapat perlindungan maksimal. Buat saya, hobi jalan-jalan boleh, tapi kita juga harus aware. Kalau lagi traveling, selalu ada resiko yang kadang nggak bisa kita hindari. Dengan adanya asuransi perjalanan HappyTrip, kita bisa lebih tenang kalau ada resiko gangguan transportasi. Nggak cuma resiko transportasi. Resiko kehilangan dan kerusakan bagasi juga akan ditanggung oleh HappyTrip. Maksimal banget, kan?

Selain Happy Trip, asuransi HappyMe juga jadi kebutuhan milenial. HappyMe adalah layanan asuransi yang memberikan perlindungan diri dan resiko kecelakaan diri dengan manfaat utama santunan ketika meninggal atau cacat tetap akibat kecelakaan. Enaknya, kita bebas menentukan nilai premi sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Pendidikan adalah salah satu cara kita untuk maju dan berkembang. Nah, ada HappyEdu! dari HappyOne.id. HappyEdu! Ini memberikan penawaran perlindungan pendidikan bagi anak, apabila tertanggung utama, dalam hal ini orang tua meninggal dunia karena kecelakaan. Sama seperti HappyMe, nilai premi dan manfaat bisa disesuaikan dengan kebutuhan yang diinginkan.

HappyOne.id cocok untuk milenial

Yang terakhir adalah layanan asuransi HappyHome. Layanan asuransi ini memberikan perlindungan rumah dari bahaya yang tidak kita inginkan. Seperti resiko kebakaran, kerusuhan, maupun santunan pembelian perabot jika terjadi kebakaran. Paket komplit, kan?

Sudah lengkapkah perlindungan yang kalian miliki? Yuk, buktikan kalau sebagai milenial kita nggak cuma hobi foya-foya. Boleh dunk hepi-hepi, asal kebutuhan akan perlindungan sudah kita miliki. Saatnya kita buktikan kalau generasi milenial, aware dalam mengatur keuangan dan kebutuhan  masa depan. Happy to try!

Kirim Paket Hemat dengan Paxel

Kirim paket jadi makin gampang karena ada Happines Hero (kurir Paxel)

Jujur, saya jarang banget yang namanya kirim-kirim barang. Malah sebaliknya, saya sering banget terima barang kiriman dari kurir alias barang belanja daring. Ya maklumlah, lha wong saya bukan pelaku bisnis online.

Tapiiii, beberapa hari lalu, saya kebingungan ketika teman ketinggalan barang di rumah saya. Mungkin, karena faktor U, dia jadi lupa. 😀 Padahal, lokasi antara rumah kami lumayan jauh. Bukan jauh lagi sih, beda galaksi kalau kata dia. Udah gitu, barang yang ketinggalan mendesak mau dipakai pas akhir pekan buat kondangan.

Kalau hari biasa, nggak mungkin dia bolak-balik hanya sekedar mengambil barang yang ketinggalan di rumah saya. Apalagi saya, nggak mungkin ke rumah dia buat nganter kecuali pas weekend. Itu pun, belum tentu waktunya bisa. Lagian pas weekend barang yang berupa baju itu, mau dipakai kondangan. Mau pakai jasa pengiriman logistik, sayanya juga nggak keburu ke sana-sini. Tau sendiri kan, tinggal di Jakarta. Berangkat kerja harus pagi-pagi, pulangnya juga nggak jelas. *tjurhat detected*

Pas bingung-bingungnya dia nyaranin kirim barang pakai aplikasi Paxel. Jujur, saya sih baru dengar aplikasi ini. Konsepnya kurang lebih seperti ini, saya sebagai konsumen mengisi data pengiriman setelah download aplikasinya, terus nanti ada Happiness Hero (sebutan untuk kurir Paxel) yang datang jemput paket yang akan kita kirim. Enak sih, jadi gak perlu ribet ke konter pengiriman seperti logistik konvensional.

tampilan platform paxel yang user friendly

Setelah barang diterima Happiness Hero kita bisa mantau lewat aplikasi. So, aman banget kalau mau kirim barang. Dan nggak sampai tiga jam barang yang saya kirim sudah sampai dengan selamat di rumah teman.

Jadi, Paxel ini adalah start-up logistik berbasis aplikasi yang mengusung layanan same day delivery dengan ongkos kirim flat (selama di area Jabodetabek ya) dengan jaminan uang kembali. Mirip sih, sama kurir ojek daring, bedanya itu tadi. Jadi, gak perlu takut kemahalan seperti kalau mau kirim lewat kurir ojek daring. Kelebihan lain, pelanggan bisa menentukan sendiri ukuran packaging, sesuai dengan paket yang akan dikirim. Bahkan, jika diperlukan Paxel juga menyediakan extra packaging seperti bubble wrap. Udah gitu, kita bebas nentuin jadwal pick up pengiriman sesuai jadwal yang kita inginkan. Paket komplit sih, kalau saya bilang.

Saat ini Paxel baru mengakomodir area Jabodetabek, Semarang dan Bandung, ke depan jangkauanya bakal makin luas. Pemesanan layanan cukup menggunakan aplikasi. Jadi, kalau mau kirim barang dalam kondisi darurat maksimal dalam 8 jam barang akan sampai ke tempat tujuan. Lebih cepat sih dibanding pakai kurir konvensional.

Paxel memiliki empat jenis model layanan: Door to door, door to locker, locker to home, dan locker to locker. Tapi setau saya sih, sementara ini yang tersedia baru door to door. Yang lainnya masih dalam progres.

Yang bikin saya takjub sih, konsep pengiriman Paxel ini nggak dilakukan oleh satu orang. Jadi si abang Happines Hero sebagai mitra kurir terdedikasi, akan datang ke rumah buat ngambil barang yang akan kita kirim. Abis itu, dia akan menaruhnya di feeder Paxel terdekat. Berikutnya ada mitra dedicated lain yang akan mengantar paket tadi sampai ke tempat tujuan. Fasilitas ini sangat memudahkan saya. Sebab, saya tidak perlu repot datang ke konter jasa pengiriman konvensional untuk kirim barang.

So, konsepnya estafet, dari satu tempat ke tempat lain. Konsep estafet kayak gini meminimalisir keterlambatan pengiriman paket. Karena first mile sama last mile nggak dilakukan sendiri. Sebab antar mitra terdedikasi yang sudah paham kondisi jalanan, akan tahu di mana saja jalan pintasnya.

Kirim paket hemat pakai Paxel, tarifnya flat.

Antarkan Kebaikan

Satu hal yang saya suka dari Paxel ini adalah tagline yang diusung oleh perusahaan: Make the first move untuk #AntarkanKebaikan. Jadi, saya dapat info dari ownernya bahwa beliau terinspirasi untuk mendirikan Paxel ketika melaksanakan perjalanan spiritual umroh. Paxel ini lahir terinspirasi dari surat Al Maun ayat 107. Beliau berpendapat bahwa logistik yang murah dapat meningkatkan perekonomian masyarakat Indonesia. Dengan berprinsip mengantarkan kebaikan kepada sesama dan membantu orang, akan membuat bisnis bertahan lama.

Nilai plusnya lagi, layanan Paxel ini bisa kita nikmati kapan saja tanpa ada batasan waktu ataupun hari libur. Banyak ya plus-plusnya Paxel ini. Info neh, kalau kalian mau unduh aplikasi Paxel di Playstore dan App Store, kalian bakal dapat free credit sebasar 100K. Mayan, kan bisa buat kirim paket gratis buat teman dan saudara. Udah gitu kalau kalian bagiin referral code, kalian bakalan dapat tambahan free credit 50K kalau ada pelanggan yang berhasil mengunduh aplikasinya. Buruan, gih! Mumpung masih promo.

Belajar lagi di Gelaran Indonesia Knowledge Forum VII

Buat saya, bisa menghadiri acara-acara yang membuat pikiran fresh dan semangat, sangatlah menyenangkan. Seperti acara diskusi Indonesia Knowledge Forum (IKF) yang diadakan oleh BCA misalnya. Kenapa seru? Soale, gelaran IKF VII tahun ini, banyak menghadirkan pembicara yang kompeten dibidangnya. Salah satunya adalah Pak Jahja Setiaatmadja. Tau kan, siapa beliau? Yap, beliau adalah Presdir BCA.

Fyi, gelaran IKF tahun ini ternyata sudah memasuki tahun ke 7. Temanya pas banget sama kondisi kekinian, ‘Fostering Innovation and Creating Value Through Transformation’.  Suka banget pokoknya datang ke acara ini.

Opening IKF VII sendiri dimulai pukul 9 pagi. Tapi berhubung pembicara acara ini keren-keren, saya bela-belain deh, datang pagi. Saking semangatnya jam 8 saya udah sampai di lokasi. Maklum takut macet. Kan sayang kalau sampai ketinggalan.

Speech dari Pak Jahja Setiaatmadja

Setelah daftar ulang (maksudnya ngisi daftar hadir), saya segera masuk. Liat-liat berbagai stan pameran yang kece-kece. Diantara orang-orang yang hadir dengan baju batik, saya cuma pakai kemeja lengan panjang. Padahal sih, niat awalnya mau pakai batik juga.

Sebetulnya, acara ini berlangsung selama dua hari. Dari tanggal 9-10 Oktober 2018. Tapi sayang, saya cuma bisa hadir sehari. Gak papa deh, daripada nggak sama sekali ya, kan?

Serunya lagi, forum ini juga diikuti serangkaian expo dan exhibition yang diikuti exhibitor penyedia pengetahuan dan teknologi. Untuk mengikuti acara ini, ada investasi yang harus kita keluarkan. Sekitar Rp 1 juta per hari, kalau mau ikut full 2 hari Rp 3,5 juta. Lumayan, kan? Maklum sih, lokasinya di Hotel Ritz Carlton, Pasific Place, Jakarta. Tapi, biaya segitu sebanding kok, dengan ilmu keren yang diperoleh.

Waktu opening ceremony-nya, bikin saya takjub. Panggung utamanya super lebar, dilengkapi big screen di bagian belakang. Kalau diitung, mungkin lebarnya hampir tiga kali layar bioskop. Selain panggung utamanya yang megah, yang saya suka dari acara opening IKF ini, karena adanya DJ yang menjadi penampil kolaborasi dengan musik gamelan. Indonesia banget deh, pokoknya!

Selesai opening, acara dibuka oleh Presdir BCA, Bapak Jahja Setiaatmadja, beliau menyampaikan bahwa zaman now, bisnis fintech itu banyak banget. Namun, nggak semua bisnis fintech berkembang. Untuk bisa bertahan di bidang ini nggak mudah, harus tangguh dan kreatif serta memiliki beberapa syarat: Harus user friendly, bisa menciptakan critical mass, memiliki produk yang berkualitas, financing dan dipercaya konsumen.

Memang sih, dengan adanya disrupsi digital kayak sekarang, mau nggak mau kita harus bisa beradaptasi. Kalau nggak mau kegilas zaman, kita harus berubah. Baik swasta maupun pemerintah. BCA sendiri sudah beradaptasi dengan masuk dunia digital.

Selain beradaptasi dengan perubahan zaman, kita juga harus bisa melakukan perubahan mindset. Tetap berprinsip pada gaya hidup yang sudah out of fashion, atau mengikuti kebutuhan ilmu pengetahuan. Ini sih, balik ke prinsip masing-masing.

Terus Financing  tuh, buat apa? Ya kalau mau serius bisnis harus berani burning money buat promosi di awal-awal. #NgomongAlaJaksel. 😀 Tuh, buat yang lagi merintis bisnis start-up, saran Pak Jahja bisa dicontek.

Selesai speech dari Pak Jahja, pembicara selanjutnya dari Kementrian Perhubungan yang diwakili oleh Pak Djoko Sasono selaku Sekjen Kemenhub. Beliau menyampaikan informasi bahwa Pemerintah melalui Kemenhub, ikut menjembatani kegiatan dan pertanggungjawaban terhadap konektifitas dalam dunia digital di seluruh wilayah Indonesia.

Speech dari Pak Djoko Sasono

Kemenhub sendiri juga sudah melakukan berbagai adaptasi, dengan menerapkan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam mengambil kebijakan. Misalnya, penerapan TIK dalam pelayanan perijinan online atau daring. Kemenhub menyadari bahwa, aplikasi online bertujuan untuk meningkatkan pelayanan dan menjadi faktor penggerak untuk mewujudkan penyelenggaraan transportasi efisien, efektif, transparan dan akuntabel.

Terobosan lain yang juga dilakukan oleh Kemenhub adalah penerapan Electronic Toll Collection System (ETCS). Sistem pembayaran dengan menggunakan On Board Unit (OBU). Dengan berlakunya ETCS secara otomatis waktu transaksi di gardu tol menjadi lebih singkat dan mengurangi kemacetan.

Selain dua pembicara di atas, masih ada 20 pembicara lain yang inspiratif dari beragam industri. Saya merasa beruntung bisa turut berpartisipasi dan menambah ilmu pengetahuan di gelaran Indonesia Knowledge Forum VII ini. Semoga tahun-tahun berikutnya bisa ikut lagi. Amin.

Bus, Solusi Mobilitas Kaum Urban

Sebagai ibu kota negara, Jakarta memiliki sejumlah masalah yang cukup pelik dan memerlukan solusi yang begitu kompleks. Masalah transportasi misalnya. Jika kita diminta untuk menyebutkan satu hal yang identik dengan Jakarta selain Monas, maka pastilah macet yang terlintas. Yah, karena macet Jakarta seolah sudah menjadi identitas. Padahal kalau kita cermati, sumber kemacetan bukan berasal dari Jakarta. Kenapa? Kalian taulah dari mana asalnya kendaraan yang menumpuk di Jakarta pada hari kerja dan seolah lenyap saat hari libur. Kota penyangga seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi merupakan penyumbang utama kemacetan Jakarta. Sistem transportasi dari 5 wilayah perkotaan yang kerap kita kenal dengan Jabodetabek ini memang harus diperbaharui.

Sistem transportasi wilayah perkotaan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi merupakan bagian dari sistem transportasi nasional mempunyai peran yang strategis dalam mendukung pembangunan nasional. Peningkatan pelayanan, konektivitas, dan mobilitas harian orang dan barang, di wilayah perkotaan memerlukan perencanaan, pembangunan, pengembangan, pengelolaan, pengawasan, dan evaluasi sistem transportasi yang terintegrasi, efelitif, efisien, dan terjangkau oleh masyarakat dengan tidak dibatasi oleh wilayah administrasi pemerintahan. Bayangkan jika peningkatan itu terus terjadi seperti air yang mengalir tanpa kran yang mengatur laju alirannya, maka akan semakin runyamlah hidup di daerah Jabodetabek. Utamanya di Jakarta yang menjadi pusat dari semuanya.

Sadar perlu adanya kran, dalam hal ini adalah kebijakan untuk mengatur peningkatan daya fungsi transportasi, pemerintah pun berbenah dan terus mencari solusi. Karena tanpa atribut pemerintahan mereka juga bagian dari masyarakat yang mengeluhkan masalah transportasi ini bukan? Mereka tetap bagian dari kita.

Belum lama ini Pak Jokowi mengeluarkan Peraturan Presiden yang konsen untuk memperbaiki sistem transportasi. Perpres Nomor 55 Tahun 2018 tentang Rencana Induk Transportasi Jabodetabek (RITJ) untuk memberikan kejelasan tentang bagaimana pembenahan dan pengelolaan transportasi Jabodetabek harus dilakukan. Keseriusan pemerintah menangani hal ini disampaikan oleh Kepala Badan Pengelolaan Transportasi Jabodetabek (BPTJ), Bambang Prihartono saat Perpres ini disosialisasikan. Beliau menyampaikan hanya dalam 1 minggu rancangan perpres ini diajukan, presiden telah menandatanganinya. Boleh dibilang, ini adalah bukti besarnya perhatian presiden tentang pembenahan transportasi Jabodetabek.

RITJ merupakan pedoman bagi pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam perencanaan pembangunan, pengembangan, dan pengelolaan, serta pengawasan dan evaluasi transportasi di wilayah perkotaan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Pelaksanaan RITJ dilaksanakan secara bertahap, tidak bisa simsalabim dalam semalam. Kenapa? Karena ini bangun sistem, bukan bangun candi. Lagipula pemerintah bukan Bandung Bondowoso. RITJ memiliki 3 tahapan: Tahap I tahun 2018–2019. Tahap II tahun 2020–2024. Tahap III tahun 2025-2029.

Kenapa harus terintegrasi? Karena masing-masing wilayah tersebut memiliki Pemerintahannya masing-masing, jika tidak ada aturan khusus yang menjembatani, akan sangat sulit mewujudkan transportasi yang lancar, nyaman dan maju di ibu kota dan kota-kota satelitnya.

Pepres ini memiliki misi dimana penyelenggaraan dan pengelolaan transportasi Jabodetabek perlu memadukan pembangunan dan pengembangan sistem jaringan prasarana transportasi dan jaringan pelayanan transportasi baik intra moda maupun antar moda.Memadukan pembangunan dan pengembangan transportasi perkotaan antar wilayah Jabodetabek dalam satu kesatuan wilayah perkotaan. Mengintegrasikan pengoperasian transportasi perkotaan dan mengintegrasikan rencana pembiayaan transportasi perkotaan.

Pada 2029, pemerintah berjanji untuk sasaran terukur dalam penyelenggaraan transportasi di kawasan Jabodetabek, seperti sebagai berikut:

  1. Pergerakan orang dengan menggunakan angkutan umum perkotaan harus mencapai 60% (enam puluh persen) dari total pergerakan orang,
  2. Waktu perjalanan orang rata-rata di dalam kendaraan angkutan umum perkotaan adalah 1 (satu) jam 30 (tiga puluh) menit pada jam puncak dari tempat asal ke tujuan,
  3. Kecepatan rata-rata kendaraan angkutan umum perkotaan pada jam puncak di seluruh jaringan jalan minimd 30 (tiga puluh) kilometer per jam,
  4. Cakupan pelayanan angkutan umum perkotaan mencapai 80% (delapan puluh persen) dari panjang jalan,
  5. Akses jalan kaki ke angkutan umum maksimal 500 m (lima ratus meter),
  6. Setiap daerah harus mempunyai jaringan layanan lokal jaringan pengumpan (feeder) yang diintegrasikan dengan jaringan utama (trunk), melalui satu simpul transportasi perkotaan,
  7. Simpul transportasi perkotaan harus memiliki fasilitas pejalan kaki dan fasilitas parkir pindah moda (park and ride) dengan jarak perpindahan antar moda tidak lebih dari 500 m (lima ratus meter),
  8. Perpindahan moda dalam satu kali perjalanan maksimal 3 (tiga) kali.

Untuk mewujudkan RITJ, kini mulai dibangun terminal-terminal yang terintegrasi. Misal di beberapa stasiun, kini sudah ada halte transjakarta feeder, akses ke bandara dibuka dari berbagai titik, halte MRT dekat dengan perkantoran dan jalur TransJakarta, penambahan rel ganda di beberapa stasiun, dan lain lain. Bahkan ke depannya, fasilitas  terminal dan stasiun akan dikembangkan tidak saja sesuai fungsinya, tetapi juga dibangun pusat perbelanjaan dan perkantoran di dalamnya.

Jika sasaran RITJ itu dapat terlaksana dengan baik, pasti hidup di Jabodetabek khususnya di Jakarta akan semakin nyaman, semakin terukur kalau mau kemana-mana, semakin hemat, dan tentu semakin sehat karena terhindar dari stress macet. Selagi menunggu hal itu terwujud kita bisa lakukan akselerasi penyelesaian masalah juga kok, dengan naik kendaraan umum.

Memang sulit beralih, jika sudah terbiasa naik kendaraan pribadi. Tapi daripada kita sekedar mengkritik pemerintah karena Jakarta macet, lebih baik kita bantu pemerintah dengan apa yang bisa kita lakukan. Salah satunya dengan “Happy naik kendaraan umum”. Fasilitas kendaraan umum ini terus dibenahi, jalanan macet pun terus diatasi. Kalau kita membantu dengan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, pasti kemacetan lebih mudah diatasi.

Mengenal Credit Scoring di Dunia Perbankan

Roadshow Finhacks 2018 #DataChallenge di Jakarta

Saya teringat, beberapa tahun yang lalu, pernah nyemplung dan berususan dengan dunia credit scoring. Apa itu sebenarnya credit scoring? Credit scoring atau penilaian kredit adalah sistem yang digunakan oleh bank atau lembaga pembiayaan lainnya yang bertujuan untuk menilai sebuah perusahaan maupun individu layak atau tidak untuk mendapatkan pinjaman. Jadi begini, ketika kita mempunyai sejarah utang dengan dunia perbankan, baik utang usaha, utang konsumtif ataupun kartu kredit, nama kita sebagai nasabah, secara langsung akan terekam ke dalam database Bank lndonesia. Laporan yang dikeluarkan BI (sebelum berpindah ke OJK) sering disebut dengan istilah BI Checking.

Sejak bulan Januari 2017, OJK Mengambil alih layanan tersebut dan berganti nama menjadi Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) atau istilah lainnya Informasi Debitur (Indeb). Tetapi kalangan perbankan masih sering menyebutnya dengan  istilah BI Checking.

Semua lembaga keuangan, baik bank maupun industri keuangan non bank wajib melaporkan setiap bulan kepada OJK, tentang jejak rekam pembayaran utang nasabahnya. Big data dari semua bank ini nantinya akan diolah menjadi satu laporan. Idealnya setiap nasabah hanya memiliki 1 DIN (Debtor Information Number) meskipun dia tercatat memiliki beberapa rekening pembiayaan di berbagai bank yang berbeda.  Dari sejarah pembayaran utang atau cicilan tersebut, OJK akan membuat 5 kategori nasabah mulai dari: Lancar, Dalam Perhatian Khusus, Kurang Lancar, Diragukan, hingga Macet.

Sebelum kredit yang kita ajukan disetujui, bank terlebih dahulu akan meminta informasi jejak rekam utang calon nasabahnya ke OJK melalui Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) untuk mengecek status calon nasabah tersebut. Semua jejak rekam utang tersebut terlihat jelas dalam laporan Indeb. Pertukaran informasi antara bank dengan OJK tersebut akan menjadi bagian dari penentu, apakah kredit calon nasabahnya akan disetujui atau ditolak.

So, buat kalian yang ingin memiliki laporan yang clean dengan status lancar, jangan sekali-kali menunggak dalam pembayaran cicilan utang ya, termasuk kartu kredit. Laporan tersebut oleh bank akan menjadi referensi atau credit scoring dalam pengajuan kredit atau pembiayaan seperti KPR, Kredit Kepemilikan Mobil atau kredit yang lain.

Bahkan, saya dan teman-teman di kantor dulu sering bercanda, sebelum yakin menikah dengan calon pasangan, cek dulu history utangnya di OJK. Jangan sampai punya tunggakan utang yang sangat besar dan baru ketahuan setelah menikah. Menyedihkan kalau sampai di-blacklist dari perbankan karena punya tunggakan utang. Bukan apa, biasanya kan setelah menikah, pasangan baru pengen membeli rumah dengan KPR, gimana kalau ditolak?

BCA Gelar Finhacks 2018 #DataChallenge

Seberapa penting data science untuk kelangsungan sebuah perusahaan? Kalau boleh saya jawab, tentu sangat penting. Data science sendiri berarti mengekstrak suatu data agar bisa difilter dan ditemukan data yang benar untuk menghasilkan produk data yang valid. Sayangnya, data science yang dikembangkan oleh OJK  melalui Sistem Layanan  Informasi Keuangan (SLIK) tidak mengakomodir semua elemen yang dibutuhkan oleh bank dalam memberikan referensi credit scoring. Data ini belum terintegrasi dengan informasi laporan pajak, pembayaran tagihan listrik, tagihan telepon maupun informasi tagihan lainnya.

Bank sebagai lembaga keuangan dengan prinsip kehati-hatian tertinggi, mutlak memerlukan semua data tersebut untuk menganalisa calon nasabahnya. Tujuannya jelas, untuk deteksi dini Fraud (Fraud Detection). Fraud Detection sendiri bisa diartikan mendeteksi kecurangan yang dilakukan dengan memanipulasi informasi. Peluang inilah yang ditangkap oleh BCA untuk menemukan solusi melalui data science dengan menggelar Finhacks 2018 #DataChallenge.

Tiga kategori permasalahan utama yang akan dikompetisikan dalam Finhacks 2018 #DataChallenge  adalah Credit scoring, Fraud Detection dan ATM Cash Optimization. Peluang bagus buat kalian yang memiliki passion di bidang data science, karena kalian bisa mengembangkan talenta dan bereksplorasi untuk menemukan solusi perbankan. Apalagi dalam 3 tahun ke depan, BCA menargetkan punya 1000 data scientist dan data analyst. Siapa tau kalian berminat menjadi bagian dari insan BCA.

Jika di atas sudah saya jelaskan mengenai Credit scoring dan Fraud Detection, kategori yang ke-3 adalah ATM Cash Optimization. Dalam banyak hal, perlu dilakukan kegiatan analitik agar kegiatan ATM Cash Otimization dapat dilakukan dengan akurat. Terkadang, solusi yang feasible tidak dapat diperoleh secara optimal hanya dengan memperhatikan batasan-batasan tertentu yang sudah diterapkan oleh bank. Contohnya: dalam pengisian uang di mesin ATM, di mana mesin ATM di komplek perkantoran lebih cepat habis pada saat hari kerja, sementara pola penarikan di beberapa tempat hiburan seperti mall terjadi sebaliknya, cepat habis pada saat akhir pekan.

Dalam kompetisi ini peserta dituntut untuk mengembangkan model matematika (mathematical methods) supaya bisa memberikan solusi untuk tiga kategori tersebut. Yang menarik, masing-masing kategori akan dipilih lima tim terbaik dengan total hadiah senilai Rp. 480 juta. Mayan kan buat jajan cilok sekampung J.

Jadi kapan bisa daftar? Kompetisi ini terbuka untuk umum. Syaratnya cuma satu, WNI berusia 18 tahun keatas. Boleh sendiri atau tergabung dalam satu tim dengan jumlah maksimal 3 orang. Pendaftaran dibuka mulai tanggal 8 Agustus 2018 – 8 Oktober 2018 melalui website http://finhacks.id/ Pada saat pendaftaran ini sekaligus dilakukan online pre assessment test. Bagi yang lolos pre assessment test bisa mengikuti babak online data challenge. Babak final atau Demo Day akan diselenggarakan pada tanggal 14 November 2018.

Ayo! Semakin cepat kalian mendaftar, semakin banyak waktu untuk memecahkan masalah secara komprehensif. Good luck!

Totalitas! Inilah Kemeriahan di Balik Pertunjukan Drama Musikal Mamma Mia

Biasanya opera  atau drama musikal hanya ditampilkan di negara Eropa dan Amerika, kalau kita lihat negara-negara yang maju, hampir semuanya punya gedung opera. Meskipun di lndonesia masih jarang ada pementasan opera  atau drama musikal, namun bukan berarti tidak ada. Memang sih, pementasan opera atau drama musikal masih dinilai asing oleh masyarakat kita.

Pas banget tanggal 28 Agustus – 9 September 2018, drama musikal Mamma Mia (The Smash Hit Musical based on the songs of ABBA) sedang mengadakan tour ke Jakarta. Untuk pertama kalinya Mamma Mia ditampilkan, seru banget! Akhirnya bisa nonton langsung drama musikal yang kece ini di Theater Jakarta, Taman Ismail Marzuki. Beruntungnya lagi, lndonesia menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang didatangi langsung.

Baca juga Mau Nonton Mamma Mia? Baca dulu Panduannya

Drama musikal ini emang lahir dari negaranya Ratu Elizabeth II, di West End London. Mamma Mia mengisahkan cerita cinta lintas generasi yang berpusat pada kehidupan ibu dan anak. Tau dong, lagu Dancing Queen-nya ABBA? Lagu hits tahun 70-an ini, memang asyik dipakai untuk ng-dance. Percaya deh, meskipun tahun segitu saya belum lahir, tapi lagu ini cukup familiar di telinga saya. Lagu ini memang legend banget, buktinya sampai sekarang masih sering diputar, kan? Lagu-lagu ABBA ini yang akan menjadi backsong dalam semua adegan Mamma Mia.

Highlight dari Mamma Mia

Apa saja yang menarik dari pertunjukan Mamma Mia? Berikut ini beberapa keseruannya:

Drama yang Ditampilkan, Sesuai dengan Kisah Asli dari Negara Asalnya

Beberapa  adegan yang menjadi highlight di pertunjukkan ini adalah ketika Donna pertama kali menyadari bahwa ketiga pria di masa lalunya muncul di rumahnya. Pada awalnya Donna enggan menemui mereka dan memilih untuk bersembunyi. Tapi akhirnya, secara tidak terduga mereka malah bertemu.

Adegan “Dancing Queen” , menampilkan 3 pemeran utama wanita. Mereka adalah Donna, Tanya, dan Rosie, ketiganya adalah ibu-ibu paruh baya yang sedang bernostalgia dengan masa lalunya. Masa muda yang penuh semangat, energik dan sangat menikmati hidup. Cerita ini disadur sesuai dengan pertunjukkan aslinya di West End, London maupun di Broadway (New York) yang sudah bertahan selama lebih dari 10 tahun. Tidak ada yang dirubah sama sekali, jadi kalau kalian menonton pertunjukkannya di Jakarta, dijamin sama persis dengan apa yang ditampilkan di negara asalnya

Setting Panggung yang Sederhana namun Elegan

Boleh dibilang setting panggung Mamma Mia ini sangat minimalis. Eitss, tapi jangan salah, meskipun setting panggungnya minimalis, tapi sangat elegan. Setiap perubahan adegan, dalam sekejap setting-nya langsung berubah. Meskipun tidak ditutupin tirai saat set-nya berubah, seperti pada pertunjukkan opera pada umumnya, namun mata penonton dijamin tidak terganggu dengan perubahan tata letak property, karena perubahan set-nya sangat smooth. Konsep panggungnya less is more.

Masih tayang, lho sampai tanggal 9 September 2018

Di sisi lain, yang membuat saya takjub adalah pemilihan material dan desain background panggung. Bentuknya unik, berupa dinding setengah lingkaran yang dilengkapi pintu pada bagian tengahnya. Dinding ini terdiri dari dua buah. Karena bentuknya setengah lingkaran, jika digeser dengan sudut tertentu dan digabungkan satu dengan yang lain, maka akan membentuk latar sesuai adegan. Di satu saat bisa menjadi halaman depan rumah, namun di adegan lain bisa membentuk kamar tidur, halaman pantai dan sebagainya. Keren, ya!

Tata Musik yang Ciamik

Waktu pertama kali nonton Mamma Mia, saya mikir kalau musiknya menggunakan konsep Minus One alias sudah direkam lebih dulu. Ternyata saya salah, tidak semua musiknya direkam, lebih tepatnya mereka memankan keyboard secara langsung. Musisi yang memainkannya berada tepat di depan panggung. Dengan adanya musik yang dimainkan secara langsung, tentu meminimalisir kesalahan, baik dalam penggunaan musik latar adegan maupun nyanyian.

Kerennya lagi, para pemain tidak hanya pandai berakting tapi juga piwai dalam bernyanyi. Ya iya sih, namanya juga drama musikal, kan enggak lucu kalau suaranya di-dubbing. Energinya juga luar biasa dalam menari.

Kostum yang Eye Catching

Selain tata musik dan suara para pemain yang berkualitas, kostum pun tak kalah serunya. Pertunjukan yang berlangsung selama kurang lebih 3 jam ini menampilkan kostum-kostum keren. Kostum tersebut juga tidak sembarang dipilih, beberapa didesain secara khusus. Maklum, Mamma Mia memiliki desainer sendiri dalam pembuatan kostum.

Penampilan Mamma Mia juga didukung oleh aktor panggung yang sangat professional. Sayang banget saya tidak begitu tau siapa aja mereka. Yang saya tau, Mamma Mia ini karya sensasional Judy Craymer. Toh, yang penting penampilan mereka tidak mengecewakan.

Totalitas! Satu kata yang menggambarkan pertunjukan Mamma Mia pada malam tersebut. Ini terbukti dari desain pencahayaan, alur cerita, tata artistik dan lain sebagainya. Satu hal yang kurang, hanyalah soal bahasa pengantar. Karena mereka berasal dari lnggris, tentu saja dialog yang digunakan juga dalam bahasa inggris. Seandainya di atas panggung disediakan running text, tentu penonton akan lebih menikmati lagi. Kekurangan ini tidak terlalu berarti, karena mayoritas penonton yang hadir, bisa memahami adegan yang ditampilkan dengan bantuan ekspresi yang disuguhkan.

Saya pun berfikir bahwa mereka yang hadir, rata-rata juga mampu berbahasa inggris. Ini terbukti dari reaksi kompak dalam beberapa adegan. Saya sendiri, meskipun tidak fasih dalam berbahasa inggris, masih bisa menikmati dialognya.

Keseruan lain, penampilan Mamma Mia juga mengajak penonton untuk bernyanyi dan bernostalgia dengan lagu-lagu 90-an seperti I Have a Dream, Dancing Queen dan lagu-lagu hits ABBA lainnya. By the way, buat kalian yang belum nonton, Mamma Mia masih akan digelar sampai tanggal 9 September 2018, di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM). Jangan kelewatan nonton ya! Kapan lagi nonton pertunjukan drama musikal kelas dunia di Jakarta.

Film Sultan Agung, Tahta, Perjuangan, Cinta

    Sumber gambar tirto.id

“Marsudi Ajining Diri” – Kita harus bisa menghargai diri sendiri sebelum menghargai orang  lain – Kanjeng Sunan Kalijaga

Jauh hari, sebelum film Sultan Agung tayang di bioskop, dan masih dalam proses, saya sudah membatin, nanti kalau sudah tayang harus nonton film ini. Film kolosal tentang perjuangan Raja Mataram ke-3 pengganti Panembahan Hanyakrawati ini, memang lumayan epic. Saya sampai follow semua akun instagram para pemain dan sutradaranya, agar semata-mata nggak ketinggalan jadwalnya.

Nah, pas banget tanggal 23 Agustus 2018 kemarin, filmnya tayang serentak di XXI. Buat penyuka sejarah seperti saya, film ini lumayan menghibur. Sutradaranya nggak asing lagi sih, Mas Hanung Bramantyo. Setelah menyuguhkan film Kartini tahun lalu, Mas Hanung kembali dengan debut barunya: Sultan Agung, Tahta, Perjuangan, Cinta. Apa saja yang menarik dari film ini? Mari kita kupas satu per satu:

Aktor-aktor yang lkut Bermain

Dari sisi pemain, boleh dibilang lumayan berkualitas. Ada Adinia Wirasti yang berperan sebagai Lembayung, si Lembayung ini adalah “wanita masa lalu”nya Mas Rangsang alias Sultan Agung yang diperankan oleh Ario Bayu. Sementara Lembayung muda diperankan oleh Putri Marino berpasangan dengan Martino Lio yang berperan sebagai Mas Rangsang (Sultan Agung) saat masih muda.

Actor kawakan seperti Deddy Sutomo (alm), Cristine Hakim dan Merriam Belina pun tak ketinggalan ikut bermain. Acting mereka bertiga nggak usah diceritakan lagi. Cristine Hakim berperan sebagai Gusti Raden Banowati, istri ke-2 Panembahan Hanyakrawati, ayah dari Raden Mas Rangsang. Sementara sang permaisuri, Gusti Raden Tulung Ayu diperankan oleh Merriam Belina. Deddy Sutomo (alm) memerankan Ki Jejer dengan totalitas. Ki Jejer adalah sosok guru yang bijaksana dalam membentuk karakter Mas Rangsang sebagai Raja Mataram kelak.

Selain deretan actor berkualitas, masih banyak lagi actor pendukung yang ikut bermain. Ada Anindya Putri yang berperan sebagai permaisuri Sultan Agung, Asmara Abigail, Teuku Rifnu Wikana, Lukman Sardi dan masih banyak lagi. Dukungan acting mereka lumayan membuat epic film ini.

Selain kualitas para pemain yang mumpuni, seluruh aktor utama dalam film ini diwajibkan berlatih berkuda guna mendalami peran secara totalitas. Ini elemen penting dan keren menurut saya, sih.

Set Lokasi Studio yang Berkualitas

Banyak hal yang saya sukai dari film Sultan Agung. Film kolosal ini tak hanya menghadirkan pemain yang mumpuni, tapi juga set yang digunakan untuk shooting film. Untuk sebuah film kolosal, set yang digunakan cukup artistik. Replika keraton Mataram dibuat seperti keraton Jawa pada umumnya. Pembangungan pendopo istana dan benteng VOC di Batavia dibangun di sebuah studio alam di Sleman, Jogjakarta.

Tidak seperti bangunan gimmick, pendopo istana dan benteng bekas film Sultan Agung ini dibuat asli, yang kemudian dihibahkan kepada masyarakat sekitar setelah pembuatan film selesai. Mooryati Soedibyo Cinema sebagai produser, sengaja membangun set dan lokasi yang sangat menyerupai aslinya. Benteng dan istana dibangun dengan sangat serius.

Bagi Mooryati, penting sekali menunjukkan keaslian sebuah kerajaan Mataram. Untuk membangun studio alam, dibutuhkan lahan luas dan kontruksi khusus untuk mewujudkannya. Nantinya, lokasi ini akan menjadi tempat wisata bagi penikmat sejarah dan film lndonesia.

Kostum dan Tata Artistik Lainnya

Selain studio alam yang dibuat sangat serius, pemilihan kostum juga dilakukan sangat detil. Memang sih, beberapa waktu lalu sempat ada kritik dari salah satu putri keraton Jogja, terkait penggunaan motif batik yang keliru. Sangat dimaklumi, karena risetnya mungkin kurang mendalam.

Secara keseluruhan kostum yang digunakan para pemain sangat berkualitas dan sesuai dengan kondisi masyarakat Jawa abad ke-16. Penggunaan kostum motif lurik untuk tokoh tertentu, anggota keraton beserta abdi dalemnya juga kostum untuk para prajurit tidak terlihat asal-asalan.

Tata Musik dan Tata Suara

Mungkin dari semua usaha yang dilakukan untuk membuat film Sultan Agung terlihat totalitas, koreksi saya hanya soal tata musik. Untuk tata suara, sudah baguslah menurut orang awam seperti saya. Dalam beberapa adegan, diperlihatkan seperangkat alat gamelan. Sebagai seorang yang hobi main gamelan, buat saya rasanya sayang banget kalau gamelan tersebut tidak dimainkan secara maksimal.

Memang sih, sewaktu adegan pembuka diselipkan vocal sindenan. Namun, di beberapa adegan seperti penobatan raja, sebaiknya penggunaan suara gamelan lebih di-highlight. Penggunaan Gending Monggang mungkin akan membuat adegan penobatan raja semakin terlihat dramatis. Adegan tari bedhaya pun, akan terlihat lebih hidup jika diselipkan gending Ketawang-an. Juga saat adegan perang, mungkin akan lebih ‘wow’ jika suara gamelan ‘dikawinkan’ dengan music latarnya.

Namun, pemilihan lagu Lir- ilir karya kanjeng Sunan Kalijaga saat ending, lumayan menutupi kekecewaan saya. Mungkin, alasan pemilihan lagu Lir – ilir, selain memiliki makna filosofis yang sangat dalam, lagu ini juga lumayan familiar di telinga para penonton.

Well, dengan sedikit kekuranganya, secara keseluruhan, untuk sebuah karya kolosal, film ini memang sangat layak ditonton. Khususnya buat generasi milenial seperti saya. Ya, selain menyuguhkan keindahan alam pulau Jawa abad ke-16, banyak pesan moral yang diselipkan dalam film ini. Keotentikan cerita serta tokohnya mungkin sedikit berubah, namun tetap tidak mengurangi estetika yang disuguhkan. Semoga review singkat ini bisa jadi bahan referensi sebelum menonton.

Pendekar Nusantara Menantang Sun Tzu

Zaman dahulu, senjata modern dan teknologi bukanlah barang yang mudah ditemukan. Bagi seorang panglima militer, untuk memenangkan suatu peperangan tidak cukup hanya mengandalkan senjata. Kunci utama dari kemenangan dalam sebuah peperangan adalah strategi.

Jauh sebelum nusantara dikenal oleh dunia, tersebutlah seorang panglima perang bernama Sun Tzu atau Sun Zi (nama lain Sun Tzu). Sun Tzu adalah seorang jenderal yang ahli dalam strategi perang dari Tiongkok. Gaya kepemimpinannya sudah sangat tua, karena dia lahir sekitar enam abad sebelum Masehi.

Baca juga Sroedji, Sang Patriot

Sejarah Sun Tzu memiliki beberapa versi. Namun, secara umum sejarawan meyakini bahwa buku Seni Perang Sun Tzu (The Art of War) diperkirakan ditulis sekitar abad ke-6 SM. Meskipun sebagai pengarang, nama Sun Tzu sendiri masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan.

Beberapa hal yang menjadi alasan diantaranya adalah suku kata “Zi” dalam nama Sun Zi (nama lain Sun Tzu) dalam kosakata Tiongkok mengacu pada kedudukan seorang filsuf atau ahli pikir. Sehingga Sun Zi bisa diartikan sebagai “Filsuf Sun” atau ahli pikir bernama Sun.

Bila ditelaah lebih jauh, keberadaan Sun Tzu memiliki rentang waktu yang cukup lama bila dibandingkan dengan eksistensi bumi nusantara. Ada satu hal yang sangat menarik, ketika saya membaca buku berjudul “Pendekar Nusantara Menantang Sun Tzu” karya Singgih Pambudi Arinto dan Dawit Tornado Pidjath. Kumpulan strategi perang yang tertulis dalam buku The Art of War karya Sun Tzu, ternyata berabad-abad kemudian diterapkan oleh pendekar nusantara dalam meraih kekuasan maupun mengusir penjajah.

Apakah ini berarti para pendahulu nusantara membaca buku The Art of War? Saya tidak yakin, rentang waktu dan jarak antara bumi nusantara dengan Tiongkok terlalu jauh. Selain itu, teknologi serta transportasi belum secanggih dan secepat sekarang untuk melakukan pertukaran informasi. Belum lagi dengan perbedaan bahasa dan huruf atau alfabet.

Nusantara, pada masa-masa kerajaan abad ke-8 sampai dengan abad ke-16, telah menorehkan sejarah emas sebagai kekuatan yang disegani di Asia Tenggara. Sebagai contoh, Kertanegara yang mampu melaksanakan Ekspedisi Pamalayu dan berhasil menaklukan puluhan kerajaan, tentulah ahli strategi yang mumpuni. Raden Wijaya, pendiri kerajaan Majapahit yang merupakan kerajaan terbesar di Asia Tenggara, pada saat itu tentulah ahli strategi yang hebat.

Selain Kertanegara dan Raden Wijaya, masih banyak tokoh lain yang secara tidak langsung menerapkan strategi perang yang telah ditulis oleh Sun Tzu. Beberapa karya gemilang yang berisi strategi perang, yang kemudian dijadikan acuan para raja dan panglima perang, salah satunya adalah Kakawin Bharatayudha.

Karya termashyur tersebut ditulis oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh dari Kerajaan Kediri, yang saat itu dipimpin oleh Prabu Jayabaya sekitar tahun 1157 Masehi. Dalam Kakawin ini ada 10 strategi (disebut “wyuha”), antara lain:

  1. Wukir Sagara Wyuha (strategi perang dengan susunan pasukan berbentuk bukit dan samudera).
  2. Wajratiksna Wyuha (strategi perang dengan susunan pasukan berbentuk wajra).
  3. Kagapati/Garuda Wyuha (strategi perang dengan susunan pasukan berbentuk garuda).
  4. Gajendramatta/Gajamatta Wyuha (strategi perang dengan susunan pasukan berbentuk gajah mengamuk).
  5. Cakra Wyuha (strategi perang dengan susunan pasukan berbentuk cakra).
  6. Makara Wyuha (strategi perang dengan susunan pasukan berbentuk makara/udang).
  7. Sucimuka Wyuha (strategi perang dengan susunan pasukan yang ujungnya berbentuk jarum).
  8. Padma Wyuha (strategi perang dengan susunan pasukan berbentuk bunga teratai).
  9. Ardhacandra Wyuha (strategi perang dengan susunan pasukan berbentuk bulan sabit).
  10. Kannaya Wyuha (strategi perang dengan susunan pasukan berbentuk lingkaran berlapis).

Bumi nusantara tercinta ini, menyimpan ribuan misteri dan kisah heroik yang membuat kita merasa bangga. Dalam buku “Pendekar Nusantara Menantang Sun Tzu”, kita juga diajak untuk lebih mengenal kearifan lokal, tentang nilai-nilai kepahlawanan yang inspiratif. Dari Sabang sampai Marauke, puluhan strategi perang maupun strategi untuk memperoleh kekuasaan, telah diimplementasikan para pendekar nusantara.

Satu hal yang menjadi catatan penting adalah, para tokoh nusantara ini, pada saat melaksanakan strategi perang, tidaklah dipengaruhi oleh ajaran Sun Tzu.

Strategi tersebut, bisa jadi mirip dengan apa yang telah ditulis Sun Tzu, namun, bukan berarti para pendekar nusantara ‘mencontek’ ataupun membaca teori Sun Tzu sebelumnya. Beberapa di antaranya adalah:

Strategi Sun Tzu ke-1:

“Perdaya Langit untuk Melewati Samudera”

Bergerak dalam kegelapan dan bayang-bayang, menggunakan tempat-tempat tersembunyi, atau bersembunyi di belakang layar, hanya akan menarik kecurigaan. Untuk memperlemah pertahanan musuh, Anda harus bertindak di tempat terbuka menyembuyikan maksud tersembunyi Anda, dengan aktivitas biasa sehari-hari. Bersikap natural seperti biasanya.

Strategi Nusantara:

“Siasat Sang Teuku perdaya Kompeni”

Pada tahun 1883, Belanda berdamai dengan pasukan Teuku Umar. Selama berdamai dengan Belanda, Teuku Umar masuk dinas militer dan justru banyak membantu pejuang Aceh melawan Belanda, dengan jalan melatih mereka bertempur.

Tahun 1884, Teuku Umar berhasil merampas senjata dan perlengkapan perang milik Belanda yang dipercayakan kepadanya, saat Belanda membebaskan kapal Niecro milik lnggris dari Raja Teunom. Pada saat berdamai dengan Belanda, Teuku Umar menunjukkan kesetiaanya dengan sangat meyakinkan. Setiap pejabat Belanda yang datang ke rumahnya, selalu disambut dengan menyenangkan. Ia selalu memenuhi setiap panggilan dari Gurbenur Belanda di Kutaraja, dan memberikan laporan yang memuaskan, sehingga ia mendapat kepercayaan yang besar dari Gurbenur Belanda.

Istrinya, Cut Nyak Dien sempat malu, bingung dan marah atas keputusan yang diambil suaminya tersebut. Namun, kepercayaan yang diberikan Belanda tersebut, dimanfaatkan dengan baik demi kepentingan perjuangan rakyat Aceh.

Dalam peperangan, Teuku Umar hanya melakukan perang pura-pura dan hanya memerangi Ulee Balang yang memeras rakyat (misalnya Teuku Mat Amien). Pasukan yang ia sebar bukan untuk mengejar musuh, melainkan untuk menghubungi para pemimpin dan pejuang Aceh dan menyampaikan pesan rahasia.

Cut Nyak Dien pun sadar, bahwa selama ini suaminya hanya bersandiwara di hadapan Belanda, kesetiaanya kepada Belanda hanyalah strategi untuk membantu perjuangan rakyat Aceh.

Analisis:

Strategi Teuku Umar ialah berpura-pura tunduk pada Belanda. Hal ini sama saja dengan memperdaya langit (Belanda) untuk melewati samudra (mendapatkan dana dan senjata perang serta peluru). Dengan modal inilah Teuku Umar berhasil mendapatkan modal yang cukup untuk berperang melawan Belanda.

Strategi Sun Tzu ke-13:

“Pinjam Mayat Orang Lain untuk Menghidupkan Kembali Jiwanya”

Menghidupkan kembali orang mati. Ambil sebuah lembaga, teknologi atau satu cara yang telah dilupakan atau tidak digunakan lagi untuk kepentingan diri sendiri. Hidupkan kembali sesuatu dari masa lalu dengan member tujuan baru dan bawa ide-ide lama, kebiasaan, dan tradisi ke dalam kehidupan sehari-hari.

Strategi Nusantara:

“Siasat Usung Tandu Untung Surapati”

Pada bulan September 1706 gabungan VOC, Kartasura, Madura, dan Surabaya dipimpin Mayor Goovert Knole menyerbu Pasuruan. Pertempuran tersebut menewaskan Untung Surapati alias Wiranegara. Namun, ia berwasiat kematiannya dirahasiakan. Makamnya diratakan dengan tanah. Perjuangan dilanjutakan putra-putranya dengan membawa tandu berisi Surapati palsu. Hasilnya pihak Belanda tertipu. Anak buah Surapati pun tetap semangat bertempur.

Analisis:

Strategi Untung Surapati yang mewasiatkan untuk merahasiakan kematiannya dilaksanakan dengan baik oleh keturunannya. Sehingga pengikutnya tetap setia berjuang melawan Belanda dan Belanda tertipu oleh tandu kosong. Melihat tandu yang diusung anak-anak Surapati, semangat juang pengikutnya semakin bertambah.

Teuku Umar dan Untung Surapati hanyalah salah satu dari sekian banyak pendekar nusantara. Dalam buku “Pendekar Nusantara Menantang Sun Tzu” disebutkan bahwa Sun Tzu memiliki 36 strategi perang lainnya. Semua strategi tersebut berhasil diterapkan oleh para pendekar nusantara dalam merebut kekuasaan. Tidak hanya Teuku Umar dan Untung Surapati, tapi juga ada Raden Inten, Ken Arok, Ra Kuti, Gajah Mada hingga Pattimura dan pendekar-pendekar lainnya.

Pada saat ini, sejarah keemasan lndonesia sudah mulai dilupakan oleh generasi muda. Sebagai imbas dari efek negatif globalisasi, serta masuknya budaya asing ke lndonesia. Alangkah baiknya, bila generasi milenial seperti saya, kembali mempelajari khasanah budaya dan kearifan lokal. Tidak perlu mengagung-agungkan sejarah bangsa lain yang belum tentu lebih hebat dari yang kita miliki.

Untuk menjadi bangsa yang besar, kita telah memiliki modal yang besar, serta perjalanan panjang sejarah perjuangan bangsa. Mari mengenal nusantara dengan lebih baik, sehingga membentuk warganegara yang berbudaya dan berkepribadian di abad modern ini.

Judul Buku: Pendekar Nusantara Menentang Sun Tzu

Pengarang: Singgih Pambudi Arinto & Dawit Tornadi Pidjath

Penerbit: Gramedia