Mengenal Dana Darurat yang Wajib Kita Punya

Dana darurat, apa tuh? Hmm, mungkin banyak di antara kita yang belum tau apa itu dana darurat. Yes! Kali ini saya mau sharing tentang dana darurat. Sebenere, ini adalah salah satu komponen dalam menyusun perencanaan keuangan. Punya dana darurat itu hukumnya wajib, tapi masih banyak orang yang meremehkan tujuan keuangan yang satu ini.

Padahal, kebayang nggak sih kalau tiba-tiba kita membutuhkan uang dalam jumlah besar dan mendesak. Misalnya ketika lagi ada musibah, sakit, kehilangan pekerjaan, menanggung biaya pengobatan yang tidak ditanggung asuransi, memperbaiki rumah/kendaraan saat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti kecelakaan atau bencana alam dan huru-hara.

Continue reading “Mengenal Dana Darurat yang Wajib Kita Punya”

5 Tips Memilih Proteksi Pendidikan Anak

Jadi, beberapa hari lalu saya teman kantor lama saya curhat. “Eh, anakku sekarang udah mau masuk SD, enak ya kamu masih single dan belum punya tanggungan.” Sekilas pernyataan tersebut membuat saya tersenyum bahagia.  Ya, bahagia karena belum punya tanggungan.

Eh, belum punya tanggungan bukan berarti kita nggak menyiapkan masa depan. Dalam hal menyusun keuangan, boleh dibilang saya sangat concern. Sudah lama saya tertarik dengan yang namanya perencanaan keuangan.

Continue reading “5 Tips Memilih Proteksi Pendidikan Anak”

Cara Mudah Rencanakan Pendidikan Anak

“Pendidikan adalah cara terbaik untuk mengubah masa depan”

“lng ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” kalau ini adalah kutipan lokal yang sering banget saya dengar. Ketika masih SD, pasti sering baca tulisan ini di logo-logo seragam sekolah dasar. Leluhur kita Ki Hajar Dewantara menanamkan pendidikan itu dimulai dari keluarga.

How do we know?

Pernah liat acara mantenan Jawa? Seenggaknya pernah lihat kan, acara pernikahan adat Jawa, yang salah satu prosesinya adalah “Sindur binayang”. Itu lho yang mantennya dikrukupin pakai kain merah yang pinggirannya garis putih meliuk-liuk. Si bapak berjalan di depan megang ujung kain, manten di tengah dan si ibu mendorong dari belakang menuju kursi pelaminan. 

Prosesi itu adalah lambang kutipan dari Ki Hajar Dewantara di atas. Si bapak pengantin, sebagai kepala keluarga mengajarkan anak, untuk menjadi pemimpin di depan. Di belakang pengantin, si ibu turut mendorong dari belakang.

Pinggiran kain sindur yang meliuk-liuk adalah perlambang bahwa kehidupan itu, nggak selamanya lurus. Banyak kerikil (cobaan) dan keluarga adalah support system pertama untuk menghadapi pasang surut kehidupan.

Ing ngarsa sung tuladha: di depan memberi contoh (bapak), ing madya mangun karsa: di tengah menciptakan semangat (manten), tut wuri handayani: di belakang memberikan daya kekuatan (ibu).

Pranata ini adalah lambang tanggung jawab orangtua dalam memberikan tuntunan dan pendidikan yang baik. Termasuk menyiapkan segala antisipasinya.

Sebagai calon orangtua yang belum memiliki tanggungan anak, tentu bukan berarti kita berhenti belajar. Belajar tidak melulu di bangku formal, kan? Berhubung saya sudah nggak duduk di bangku kuliah, tetapi saya masih tetap berusaha mengembangkan diri dengan berbagai kegiatan.

Tau kan, yang namanya pendidikan itu investasi yang nggak akan pernah rugi. Makanya, sebagai calon orangtua yang baik, kita wajib belajar setiap saat. Termasuk dalam menyiapkan dana pendidikan. Ya, mumpung masih single dan belum banyak kebutuhan.

Jangan sampai mentang-mentang masih single, kita bebas membelanjakan pendapatan sesuai keinginan. Udah gitu kan, faktanya biaya pendidikan di Indonesia (catat di dalam negeri) setiap tahunnya semakin mahal.

Itu baru biaya pendidikan di dalam negeri, di luar negeri sudah pasti jauh lebih mahal. Yah.. memang kita tahu biaya pendidikan sekarang sangat mahal, terutama biaya untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

Kalau sering baca-baca informasi statistik, biaya pendidikan itu selalu mengalami inflasi 15-20 persen setiap tahunnya. Bayangkan berapa nilainya 15 atau 18 tahun ke depan? Namun, bukan berarti kita nggak bisa merencanakannya.

Sebagai calon orangtua, kita juga harus paham bahwa biaya pendidikan itu ada yang wajib dan juga ada yang sifatnya tambahan. Di negara kita kan, menganut wajib belajar 12 tahun, mulai dari SD sampai SMA, sehingga orangtua punya opsi untuk mendapatkan biaya pendidikan secara gratis.

Namun, biaya pendukung wajib ada, seperti seragam, buku-buku, les-les tambahan dan beragam biaya pendukung lainnya. Mulai dari pre-school hingga perguruan tinggi. Orangtua juga harus mawas diri dan bijak mengatur pendapatannya untuk menyiapkan dana pendidikan anak.

Menabung dan menyiapkan asuransi adalah langkah yang paling mudah. Salah satu cara yang paling mudah adalah merencanakan pendidikan anak dengan HappyEdu. Mudah karena kita tinggal memilih produk asuransi dari Astra ini hanya dengan satu ID.

Nggak perlu repot-repot, terus manfaatnya juga banyak. Mulai dari santunan biaya pendidikan anak jika tertanggung meninggal dunia karena kecelakaan, hingga manfaat tambahan seperti tunjangan kehilangan pendapatan karena cacat tetap atau keseluruhan, dan beragam manfaat tambahan lainnya.

Dari segi biaya juga nggak terlalu mahal kok. Range preminya mulai dari Rp100ribu-Rp180ribu. So, pengen pendidikan buah hati kita terlindungi? Serahkan saja sama HappyEdu dari HappyOne.

Selamat merencanakan!   

Mengenal Lima Kebiasaan Baik tentang Keuangan

Tahun 2019 masih single? Hmm, mumpung masih single bukan berarti kita nggak melakukan apa-apa untuk menyiapkan masa depan, kan? Apalagi kalau sudah menikah nanti, banyak printilan-printilan rumah tangga yang bisa kita siapkan dari sekarang, lho!

Apa saja?

Sedikit curhat neh, tahun lalu saya berubah haluan, dari dunia keuangan beralih ke dunia literasi. Meskipun berbeda arah, tapi tetap kok, masih berkaitan di dunia yang masih ada sangkut pautnya dengan dunia keuangan.

Intinya gini, saya mau sharing lagi masalah masalah keuangan. Nggak papa, kan? Dua belas tahun menggeluti dunia perbankan, saya jadi belajar banyak. Terutama dari yang saya amati dan pelajari secara langsung karena seringnya bertemu dan berinteraksi dengan nasabah.

Khususnya cara mereka dalam mengelola keuangan mulai dari nol. Maklum, mantan Funding Officer, jadi sedikit banyak tau dari pengalaman dan curhatan nasabah hingga mampu mencapai tujuan keuangan mereka.

Beberapa kebiasaan dari mereka dari saya rangkum dan saya kumpulin. Dan menurut saya ini berguna banget terutama buat bekal nanti ketika berumah tangga.

Tau kan, kebiasaan yang kita jalankan setiap harinya menentukan seperti apa masa depan kita, lho! Tak terkecuali dalam hal keuangan. Coba amati cara dan kebiasaan kita mengelola uang. Kalau saat ini kondisi keuangan kita masih carut marut, meskipun memiliki penghasilan rutin bulanan, tetapi kita nggak dapat menikmatinya atau pas-pasan bahkan defisit setiap akhir bulan, saatnya instrospeksi diri.

Mengenal beberapa kebiasaan baik tentang keuangan yang udah dipraktikkan oleh mantan nasabah-nasabah deposan saya berikut ini, bisa menjadikan hidup saya lebih positif.

Yuk, kita mulai!

Menabung

Ini sih simpel ya kedengarannya. Dari kecil dulu kita udah diajarin sama orangtua dan guru buat menabung. Tapi kenyataanya, banyak lho teman-teman saya yang penghasilannya dua digit tapi selalu defisit setiap bulan. Banyak juga dari mereka yang berprinsip YOLO (You Only Live Once) so, nggak peduli seberapa besarnya penghasilan kalian, kalau nggak pernah menabung ya bakalan abis.

Saya sih selalu rutin menabung setelah terima gaji. Produk tabungan banyak kok, nggak cuma tabungan reguler tapi juga ada tabungan rencana. Sistemnya bisa autodebet tiap abis gajian, uang kita masuk ke rekening tabungan rencana yang nggak bisa diambil setiap saat lewat atm atau tarik tunai. Produk tabungan rencana ini cocok banget buat kalian yang nggak bisa disiplin menabung.

Mencatat pengeluaran

Tau nggak sih, mantan nasabah saya dulu teliti banget kalau mengatur masalah keuangan. Setiap pengeluaran rata-rata dicatat secara rutin. Tujuannya untuk mengendalikan pengeluaran, dengan mencatat pengeluaran kita bisa lebih bijak dalam menata masa depan, iya nggak? Aseek.

Catatan pengeluaran ini bisa jadi acuan dalam membuat anggaran bulanan. Biar nggak jebol, selain itu dengan mencatat pengeluaran kita juga bisa memperbaiki kebiasaan buruk dalam mengelola keuangan.

Bijak dalam berutang

Sepanjang yang saya amati sih ya, mantan nasabah saya jarang banget berutang. Apalagi sekadar buat beli barang-barang yang nilainya turun seperti barang elektronik, kendaraan bermotor, baju atau perlengkapan yang boleh dibilang pengeluaran konsumtif.

Kalaupun terpaksa berutang mereka akan mengalokasikan utangnya untuk barang-barang yang nilainya akan naik di masa mendatang. Atau mereka akan benar-benar berutang dalam kondisi yang sangat darurat. Jarang banget menggunakan kartu kredit untuk belanja karena mereka tau bunga kartu kredit sangat tinggi. Bisa mencapai 36 persen per tahun. Ngeri, ya! Saya sendiri juga nggak pernah punya kartu kredit satu pun. Lebih suka belanja dengan kartu debit.

Menjaga keamanan finansial keluarga

Caranya gampang sih, yang saya tau dan saya pelajari, mantan nasabah-nasabah saya mengalokasikan sebagian pengeluarannya untuk membeli asuransi. Asuransi ini berfungsi untuk melindungi diri dari segala kerugian dan hal-hal yang tidak kita inginkan.

Asuransi juga berfungsi sebagai perencanaan risiko karena sakit dan pengganti nafkah karena pemberi nafkah tidak bisa bekerja saat sakit. Salah satu cara mudah membeli asuransi adalah melalui platform HappyOne. Kenapa mudah? Karena cukup dengan satu ID, kita bisa lho membeli beragam asuransi. Apalagi buat pasangan muda. Asuransi ini cocok banget karena jenis perlindungannya banyak dengan biaya cukup terjangkau.

Berinvestasi

Banyak cara untuk berinvestasi. Bisa dengan menabung atau membeli logam mulia, deposito, reksadana, saham ataupun membeli properti. Ini sih tergantung tujuan keuangan dan jangka waktu kapan uangnya mau dipakai lagi. Mantan nasabah saya dulu melakukan diversifikasi untuk melakukan investasi. Ibaratnya sik, nggak menaruh telur dalam satu keranjang. Mereka

Selain itu, produk investasi bisa disesuaikan dengan profil risiko masing-masing. Mulai dari yang konservatif, moderat atau agresif. Kalau masih muda dan belum banyak tanggunan, bisa kok masuk ke saham atau reksadana saham. Pengalaman dari membeli reksadana saham, imbal hasilnya lumayan kok.

Dari lima kebiasaan di atas, mana saja yang udah diterapkan? Saya sih, insyaallah udah semuanya. Yuk, mumpung masih di awal tahun. Dengan mulai menerapkan perencanaan keuangan dengan baik, insyaallah masa depan kita jauh lebih baik. Iya, nggak?