KENTAL MANIS
Kental manis bukanlah susu

Sadar Gizi Itu Penting, Sama Pentingnya Mengetahui Kalau SKM Bukan Susu

SKM bukan susu. Apa saja bahayanya?

***

Suatu sore, di tengah hamparan kebun teh di kaki Gunung Lawu, saya menyesap secangkir teh. Sembari menikmati pemandangan senja, saya membaca artikel tentang SKM alias susu kental manis—sebutan yang sudah hits sejak dulu kala. Kafe tempat saya nongkrong ini memang lumayan luas. Arsitekturnya masih asli berupa bangunan peninggalan Belanda. Saya menambahkan kental manis untuk menambah cita rasa teh. Jujur, saya tidak akan menyebutnya susu karena saya tau SKM bukan susu seperti yang dipahami banyak orang selama ini.

Membaca artikel tentang “SKM Bukan Susu”, membuat saya merenung betapa bahayanya produk ini jika dikonsumi setiap hari dan dianggap sebagai minuman bergizi. Saya sendiri mengonsumi kental manis hanya sesekali. Itu pun saya campur sebagai bahan tambahan atau topping. Bukan minuman utama. Misalnya, sebagai pemanis teh atau pun kopi. Sudah lama saya tau kalau kandungan gula dalam SKM ini bisa di atas 50 persen. Jumlah yang sangat mengerikan jika saya rutin mengonsumsinya.

kental manis bukan susu
SKM dan teh, paduan yang cukup “adil”

Sekian tahun berlalu, saya kembali mendapat undangan untuk menghadiri seminar tentang #MilenialSadarGizi yang digagas oleh YAICI. Tepatnya pada 5/9 kemarin di Universitas Muhammdiyah, Jakarta. Melalui seminar ini, saya disadarkan kembali tentang nilai-nilai gizi yang sering kita konsumsi. Seminar ini sangat menarik hingga tak sadar membuat waktu cepat berlalu. Terlebih, pematerinya orang-orang yang berkompeten di bidangnya. Ada Mas Arif Hidayat, Ketua Harian YAICI, Ns. Nyimas Heni Purwanti. M.Kep.,Sp.Kep An., Dosen UMJ,  Mochamad Awam Prakoso, Ketua Umum Kampung Dongeng Indonesia, dan tentu saja pembicara favorit saya Kang Maman Suherman sebagai Pegiat Literasi.

Insight seru apa yang saya peroleh? Banyak pastinya. Silakan baca terus.

Baca juga: “SKM” BUKANLAH SUSU, KETAHUI ATURANNYA

Mahasiswa Punya Peran Mengedukasi Masyarakat tentang Bahaya SKM

pembicara skm bukan susu
Pembicara inspiratif pada seminar Milenial Sadar Gizi

Saya bersyukur bisa hadir di seminar tentang gizi kemarin. Lebih senang lagi karena acaranya diselenggarakan di dalam kampus yang mayoritas audiensnya mahasiswa. Saya yakin, materi yang disampaikan bisa digetoktularkan oleh mahasiswa sebagai “penyambung lidah” antara praktisi gizi dengan lingkungan sekitarnya. Terutama keluarga dan masyarakat yang memang literasi gizinya sangat rendah.

Bisa dibayangkan, hingga saat ini masih banyak lho, masyarakat yang menganggap “SKM” adalah susu yang memiliki kandungan gizi, serta baik dikonsumsi oleh balita. Saya jadi ingat, dulu, sewaktu masih kecil sering diberi minuman kental manis ini oleh ibu saya. Saya yakin, sebagian besar generasi milenial seperti saya pasti pernah mengalami.

Dengan adanya seminar tentang Milenial Sadar Gizi beberapa waktu lalu, saya percaya ini bisa menjadi titik awal pemahaman masyarakat tentang fakta bahwa SKM bukan susu. Jika mahasiswa banyak yang sudah paham, tentunya mereka bisa menyebarkan informasi berharga ini. Terutama untuk circle terdekatnya seperti keluarga dan masyarakat luas pada umumnya.

Dari seminar ini pula, saya kembali diingatkan tentang bahaya pemahaman SKM bukan susu. Setelah beberapa tahun lalu tau info tentang ini, saya sendiri sangat jarang mengonsumsi kental manis sebagai minuman murni. Hanya sesekali menambahkannya pada secangkir teh atau kopi. Saya menganggapnya sebagai pemanis pengganti gula. Sesekali juga saya pakai sebagai tambahan topping makanan pada kue atau pun puding. Saya tau, kandungan gula pada kental manis ini sangat tinggi. Lebih dari 50 persen. Jika rutin dikonsumsi, pastinya akan membahayakan kesehatan. Ujung-ujungnya saya bisa terkena penyakit diabetes—induk segala jenis penyakit. Amit-amit!

Pastinya, siapa pun tidak mau terkena diabetes, kan? Karenanya, yuk, kurangi konsumi kental manis. Sesekali masih boleh, tapi jangan sampai dijadikan asupan rutin. Apalagi menganggapnya sebagai susu dan memiliki beragam kandungan gizi. BIG NO!

Efek Lain dari Rutin Mengonsumsi Kental Manis secara Berlebihan

pembicara skm bukan susu
Kang Maman menyampaikan paparan tentang SKM bukan susu

Menikmati kental manis memang enak. Saya pun tidak memungkirinya. Bahkan, bisa membuat kita kecanduan dengan rasa manisnya. Sayangnya, efek yang ditimbulkan akibat rutin mengonsumsi ‘gula beraroma susu’ ini juga besar. Terutama pada anak-anak dan balita.

Dalam seminar Milenial Sadar Gizi yang saya hadiri, saya jadi makin paham risiko kental manis pada anak-anak. Seperti yang dipaparkan oleh salah satu narsumnya, Ns. Nyimas Heni Purwanti. M.Kep.,Sp.Kep An. Beliau mengungkapkan jika kental manis menjadi salah satu faktor penyebab stunting. Stunting sendiri bisa diartikan gagal tumbuhnya anak karena kurang gizi. Gagal tumbuh pada anak ini menyebabkan terganggunya perkembangan otak, metabolisme tubuh, dan pertumbuhan fisik

Anak-anak yang rutin mengonsumsi kental manis sebagai “gizi pelengkap” juga berisiko tinggi mengidap diabetes dan obesitas. Mengonsumsi kental manis secara rutin dalam jangka panjang juga bisa menurunkan sensitivitas insulin dalam tubuh. Mengerikan memang. Tapi begitulah kenyataanya. Selain itu, kental manis juga memengaruhi gigi anak-anak. Gigi balita yang masih dalam masa pertumbuhan, akan mudah rusak jika tidak segera dibersihkan setelah mengonsumsinya.

Sebagai alternatif, balita dan anak-anak lebih dianjurkan mengonsumsi ASI atau susu sapi murni. Ini jauh lebih baik dan lebih menyehatkan.

Sebagai catatan akhir pada tulisan ini, mari kita sepakati  bersama untuk STOP mengonsumsi kental manis sebagai minuman susu murni. Menganggap kental manis sebagai minuman bergizi adalah sebuah kebodohan. Apalagi untuk anak-anak. Perlu diketahui pula bahwa kandungan susu dalam kental manis tidak lebih dari 20 persen. Sisanya 45-50 persen hanyalah gula yang sangat berbahaya. Silent killer. BPOM sendiri sudah lama menginformasikan bahwa “SKM tidak ditujukan sebagai pengganti susu yang digunakan untuk pemenuhan gizi”.