diskusi perubahan iklim bumi
Efek perubahan iklim Bumi semakin nyata.

Buang Basa-basi Soal Pencegahan Efek Perubahan Iklim Bumi

Merasa nggak sih, kalau belakangan ini Bumi kita sedang tidak baik-baik saja? Pergantian musim sudah tidak seperti puluhan tahun silam. Setiap enam bulan sekali selalu berganti secara rutin antara musim penghujan dan musim kemarau. Sekarang? Tau sendirilah, ya. Kadang pagi dan siang hari panas cetar membara, sorenya hujan lebat. Efek perubahan iklim Bumi memang fakta. Saatnya kita bersama-sama melakukan nyata. Tidak hanya sekadar wacana.

Baca juga: SOLUSI HIJAU DARI FOODBANK OF INDONESIA (FOI) UNTUK PENYELAMATAN SISA MAKANAN

***

Belum lama ini saya mengikuti acara talkshow bertajuk “Cut the Tosh, Ubah Narasi Jadi Aksi”. Acara ini menyerukan gerakan untuk semua pemangku kepentingan menciptakan kolaborasi untuk menghadapi efek perubahan iklim Bumi. Keren sih acara yang diinisiasi oleh Multi Bintang Indonesia (MBI) ini.

Jarang-jarang lho, produsen minuman yang punya ide nyata untuk berkontribusi terhadap efek perubahan iklim Bumi. Kalau pun ada, jumlahnya tidak banyak. Paling hanya sebatas wacana. Beda dengan MBI sudah punya cetak biru untuk melakukan kolaborasi yang tertulis dalam Sustainability Report 2021. Pada praktiknya, MBI ini tidak melakukannya sendirian. Yang saya lihat, MBI menggandeng semua pihak melalui program kolaborasi.

Semakin banyak bersuara tanpa melakukan aksi nyata memang seperti tong kosong nyaring bunyinya. Semua butuh aksi nyata untuk mencegah efek perubahan iklim Bumi. Melalui tema “Embracing Differences, Brewing Togetherness”, MBI merancang program bagaimana perusahaan harus berkolaborasi memberikan manfaat. Kondisi iklim Bumi yang sedang tidak baik-baik saja, mendorong semua pihak untuk turun tangan dan berbuat lebih.

Baca juga: GAYA HIDUP MINIMALIS CEGAH KERUSAKAN DAN PERUBAHAN IKLIM BUMI TIPIS-TIPIS

Tiga Pilar MBI Cegah Kerusakan Iklim Bumi

cut the tosh
Saatnya ubah narasi jadi aksi

Sebelum memulai aksi nyata, MBI sudah membuat inisiatif yang tertuang dalam Sustainability Report 2021. Inisiatif ini bersandar pada tiga pilar utama, yakni Lingkungan, Sosial, dan Konsumsi yang Bertanggung Jawab. Ketiganya menjadi fokus utama MBI dalam mencegah kerusakan iklim Bumi.

Mengapa MBI memilih tiga pilar ini?

Banyak alasannya. Salah satunya adalah MBI ingin mencapai “Path to Net Zero Impact” alias menuju dampak terendah terhadap efek perubahan iklim Bumi. Sekadar informasi, hingga saat ini fasilitas produksi dari produk-produk MBI sudah menggunakan sumber energi terbarukan. Secara presentase sudah mencapai 28 persen dari seluruh total konsumsi energi yang digunakan. Salut banget!

MBI sendiri punya target yang luar biasa dan bisa menginspirasi siapa saja. Dalam kurun waktu tiga tahun ke depan alias tahun 2025, MBI berencana menggunakan energi terbarukan 100 persen untuk seluruh produksinya. Termasuk pemanfaatan biomassa. Kalau dihitung-hitung dari sekarang, waktu yang ditargetkan kurang lebih tinggal tiga tahun lagi. Luar biasa!

Menariknya lagi, sustainability yang digagas MBI tidak hanya berfokus pada pelestarian alamnya saja. Sewaktu menyimak talkshow “Cut the Tosh”, saya jadi makin tau kalau MBI juga mendorong agar masyarakat sekitar turut terlibat. Banyak program yang sudah diupayakan perusahaan agar masyarakat dan komunitas lokal turut berdaya. Salah satuya melalui program pembinaan bank sampah. Hingga saat ini, sudah lebih dari 300 unit pembinaan bank sampah yang berada di Tangerang dan Mojokerto.

Dua kota ini dipilih karena menjadi pusat produksi dari produk-produk MBI. Program pembinaan bank sampah ini setidaknya sudah memberikan manfaat kepada 28.000 orang. Selain itu, program baik ini juga sudah berjalan secara mandiri.

Selain pembinaan bank sampah, MBI sendiri juga concern terhadap pengelolaan air. Ini bisa dimaklumi karena bahan baku utama produk MBI adalah air. Jumlah air yang digunakan untuk bahan baku produksi mencapai 95 persen. Nggak heran dong MBI mendukung penuh beragam program dan inisiatif engelolaan air. Dari hulu hingga ke hilir, mulai dari penghijauan hingga pembuatan waste trap. Pembuatan waste trap berfungsi untuk menangkap sampah sepanjang daerah aliran sungai (DAS) hingga ke laut.

MBI sendiri juga turut mengedukasi masyarakat agar masyarakat turut andil terhadap konservasi air. Inisiatif River2River diharapkan mampu memulihkan area hingga 428 ha pada 2025.

Edukasi Konsumen Melalui Kampanye #IAmResponsible

Program untuk lingkungan dan sosial sudah dilaksanakan. Satu pilar lain yang digagas MBI untuk membantu mencegah efek perubahan iklim Bumi adalah Konsumsi yang Bertanggung Jawab.

Maksudte piye iki?

Kurang lebih begini. MBI kan dikenal sebagai produsen bir. Baik yang menggunakan alkohol maupun yang tidak. Btw, sudah pada tau belum kalau MBI juga mengeluarkan produk-produk non-alkohol? Beberapa di antaranya adalah Redller yang kadar alkoholnya zero percent alias 0,0%. Beberapa varian rasanya adalah lemon, anggur, dan minuman Malt berkarbonasi Bintang Zero.

Sebagai perusahaan yang salah satu produknya adalah minuman beralkohol, MBI bertanggung jawab untuk memberikan edukasi kepada konsumennya. Tahun ini, MBI sudah membuat roadmap atau peta jalan untuk 2021 hingga 2023. Pembuatan roadmap ini bertujuan untuk mengedukasi konsumen agar tidak mengonsumsi alkohol secara berlebihan. Selain itu, MBI juga melawan penyalahgunaan konsumsi alkohol yang berbahaya. Misalnya minuman oplosan. Banyak kan, kasus masyarakat yang menjadi korban penyalahgunaan konsumsi alkohol ini.

Melalui kampanye #IAmResponsible ini, MBI berharap agar konsumennya bisa meningkatkan kesadaran melalui beragam program dan kegiatan interaktif. Baik melalui games dan kompetisi serta sosialisasi dan edukasi yang dilaksanakan secara virtual.

Edukasi yang digagas ini disampaikan langsung oleh Ika Noviera, Direktur Corporate Affairs MBI saat bincang-bincang di “Cut the Tosh”:

“Meskipun begitu, apa yang sudah kami lakukan hingga saat ini mungkin masih bagaikan setetes air di lautan. Itulah kenapa kita perlu lakukan ini bersama-sama. Semua untuk mengatasi tantangan yang ada dan mengingatkan dampaknya. Ini bukan waktunya untuk berkompetisi, melainkan untuk berkolaborasi. Mari kita stop sekadar bicara dan ubah jadi perbuatan. Let’s cut the talks, let’s cut the tosh!”. Begitu tutur Ika Noviera.

Serba-serbi “Cut the Tosh, Ubah Narasi Jadi Aksi”

diskusi cut the tosh
Cut the Tosh, aksi nyata untuk pencegahan efek perubahan iklim Bumi

Seperti yang saya tulis di atas, untuk membantu mencegah efek perubahan iklim Bumi nggak cukup dengan kata-kata. Butuh usaha nyata dari kita semua. Karenanya, program “Cut the Tosh” ini harus diupayakan.

Gerakan “Cut the Tosh” yang diinisiasi oleh MBI ini menjawab stigma seputar Sustainability atau praktik berkelanjutan. Tidak cukup dengan kata-kata, tapi harus ada aksi nyata dari semua pihak. Program ini bertujuan untuk meningkatkan upaya, skala, serta dampak dari praktik berkelanjutan yang bisa diukur melalui target dan rencananya.

Alasannya sederhana.

Semua upaya akan sia-sia jika sekadar wacana. Kolaborasi yang besar dari semua pihak akan membuat semuanya berjalan sesuai rencana.

Kita sebagai bagian dari masyarakat bisa melakukan kontribusi melalui tiga agenda “Cut the Tosh” berikut ini:

  • Tipple Talk, diskusi seputar lingkungan, sosial, dan responsibility consumption.
  • Sustainability Competition atau CTT Incubators, yakni incubator ide-ide brilliant dan beragam inovasi keberlanjutan yang berasal dari seluruh mahasiswa di Indonesia.
  • CTT 3 Days Summit yang akan mengundang semua aktivis yang telah berkontribusi untuk “meracik Indonesia yang lebih baik”.

Wah! Salut, ya, kalau ada perusahaan yang punya concern besar terhadap efek perubahan iklim Bumi seperti ini. Kira-kira kamu setuju, nggak? Tulis di kolom komentar, ya!