FoI
Foodbank of Indonesia (FoI) sangat membantu masyarakat terhadap penyelamatan sisa makanan.

Solusi Hijau dari Foodbank Of Indonesia (FoI) untuk Penyelamatan Sisa Makanan

Tahukah kamu, Indonesia menjadi penyumbang sampah makanan nomor 2 di dunia? Riset dari badan pangan dunia mencatat, setiap orang di Indonesia berpotensi membuang rata-rata tiga ratus kilogram makanan dalam setahun. Sebagian penduduk Indonesia tidak merasa bersalah membuang sisa makanannya di tempat sampah. Info mengejutkan ini saya dapatkan saat mengikuti kegiatan buka puasa bersama Foodbank of Indonesia (FoI) yang diadakan di Pasar PSPT, Tebet, belum lama ini.

Beruntungnya, tidak semua orang beranggapan seperti ini. Masih banyak orang yang menyadari bahwa makanan tidak pantas dibuang. Masih ada sekelompok orang yang sadar terhadap dampak sampah makanan. Mereka peduli dan bergerak menyelamatkan sisa makanan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah Foodbank of Indonesia (FoI).

Baca juga: LUNCURKAN “BIKIN DAPUR NGEBUL”, FOI KENALKAN RERAGAM SUMBER PANGAN UNTUK KELUARGA

Mengenal Foodbank of Indonesia (FoI)

Apa itu FoI atau Foodbank of Indonesia? Apa pula perannya terhadap pengelolaan sisa makanan (foodwaste)? Mungkin, banyak teman-teman yang belum tau apa itu FoI. Foodbank of Indonesia atau lebih dikenal dengan FoI adalah yayasan non-profit yang bergerak di bidang sosial.

Yayasan Foodbank of Indonesia yang berada di Jakarta ini sangat aktif membuka akses pangan dan membasmi kelaparan di berbagai daerah di Indonesia. FOI juga mendukung negara untuk mencapai Sustainable Development Goals (SDGs) dalam mencapai kedaulatan pangan dan menerapkan pola produksi dan konsumsi yang bertanggung jawab.

Dampak dari Sisa Makanan yang Terbuang Sia-sia

Kalian pernah makan tapi sering nggak habis? Hayo ngaku! Siapa yang sering kayak gini. Dulu pun saya pernah melakukannya. Tapi, sejak saya sadar menyisakan makanan adalah kebiasaan yang tidak baik, sebisa mungkin setiap kali mengonsumsi sesuatu, selalu saya habiskan. Prinsip saya: ambil secukupnya.

‘Dosa’ dan dampak dari menyisakan makanan itu banyak. Selain mubazir, sadarkah bahwa di luar sana masih banyak orang yang belum beruntung untuk makan tiga kali sehari. Jangankan untuk makan tiga kali sehari ditambah ngemil, makan dua kali sehari pun masih banyak yang tidak mampu. Jika kita sadar bahwa kebiasaan membuang makanan tidak baik, pasti kita akan berusaha mencegahnya.

Dalam setiap piring makanan yang kita ambil, di sana tercermin rasa tanggung jawab. Saat mengambil seporsi makanan, kita bertanggung jawab untuk menghabiskannya. Jangan pernah menyisakan makanan dengan alasan apa pun. Sederhananya, jika tidak punya rasa tanggung jawab terhadap makanan, bagaimana kita akan bertanggung jawab sesuatu yang lebih besar.

Membuang makanan, selain mubazir juga memberikan beragam dampak negatif. Mulai dari dampak negatif ekonomi, ekologi, hingga dampak kesehatan. Sisa makanan yang kita buang akan menghasilkan emisi gas rumah kaca. Nantinya, emisi gas rumah kaca ini akan berdampak pada perubahan iklim. Sisa makanan yang membusuk dan terbuang sia-sia juga menjadi pencetus munculnya hewan yang menjadi hama seperti tikus, kecoa, dan lalat.

Selain itu, membuang sisa makanan juga memberikan dampak terhadap ekonomi. Jika dalam setahun orang Indonesi a membuang sisa makanan sejumlah 184 kilogram per kapita, tinggal kalikan saja berapa nilai kerugian ekonomi yang dihasilkan dari sisa makanan yang terbuang.

Sayang banget kan. Sebenarnya, sisa makanan tadi masih bisa diolah dan didaur ulang lagi untuk beragam kebutuhan. Yang pasti akan memberikan dampak positif pada ekonomi jika kita mau melakukannya.

Foodbank of Indonesia Edukasi Masyarakat saat Peringati Hari Bumi 2022

Seperti yang saya tulis di atas, belum lama ini FoI mengadakan peringatan hari Bumi di Pasar PSPT, Tebet. Dalam peringatan Hari Bumi tersebut FoI sekaligus memberikan edukasi secara langsung kepada masyarakat agar tidak membuang sisa makanan.

Kenapa lokasi peringatannya di Pasar PSPT?

Jawabannya sederhana. Karena di pasar banyak bahan pangan yang berpotensi terbuang. Padahal, bahan pangan tersebut masih bisa diolah dan didistribusikan untuk mereka yang membutuhkan. Karenanya, lembaga seperti FoI sangat dibutuhkan untuk membantu memberikan edukasi kepada masyarakat.

Menurut survei, Indonesia menjadi salah satu negara penyumbang utama penghasil makanan yang terbuang mubazir. Karenanya, untuk memperingati Hari Bumi 2022, FoI memberikan solusi untuk mengatasi kemubaziran makanan dan mengakhiri kelaparan.

Mengapa Indonesia menjadi salah satu penyumbang terbesar? Hal ini disebabkan negara kita kaya akan bahan pangan seperti sayur mayur dan segala jenis makanan yang mudah busuk jika tidak disimpan dalam lemari es. Sisa makanan ini pada umumnya masih bisa diolah dan disumbangkan.

FoI Tawarkan Solusi “Hijau” untuk Penyelamatan Sisa Makanan

Sebagai lembaga NGO yang bertanggung jawab terhadap foodwaste, FoI menawarkan solusi ‘hijau’ untuk membantu penyelamatan sisa makanan. Berikut ini pesan-pesan yang disampaikan FoI saat memperingati Hari Bumi 2022:

  • jangan pernah menyisakan makanan dengan alasan apa pun. Jika masih memiliki bahan pangan yang masih layak dikonsumsi, sebaiknya segera didonasikan agar tidak terbuang mubazir.
  • Konsumsi sampai habis apa pun yang kita ambil. Belajarlah untuk bertanggung jawab terhadap makanan sekecil apa pun.
  • Biasakan untuk mengolah sisa atau limbah makanan yang terbuang menjadi pupuk atau kompos
  • Biasakan untuk memilah dan memisahkan sampah makanan dan sampah anorganik.

Jadi gimana? Kamu sudah siap ikut bertanggung jawab untuk penyelamatan sisa makanan? Mari kita lakukan bersama-sama.