Hidup dengan sedikit barang
Hidup minimalis menjadi tren global

Boleh Hidup Minimalis, tapi Tabungan Harus tetap Maksimal

Beberapa tahun belakangan ini konsep hidup minimalis mulai menjadi tren di kota-kota besar. Banyak faktor yang menyebabkan gaya hidup sederhana ini diminati beragam kalangan. Mereka yang mengadopsi gaya hidup simpel ini umumnya adalah anak-anak muda (Generasi Milenial dan Generazi Z). Termasuk saya sendiri yang memang sejak awal pandemi mulai menerapkan gaya hidup yang sudah menjadi tren global ini.

Menerapkan gaya hidup minimalis tidak harus membuat kita hidup merana. Kita masih bisa dan boleh menikmati hidup dengan beragam cara. Tidak harus terpaku dengan satu, dua barang saja. Saya sendiri tidak seekstrim itu menerapkannya. Masih menoleransi sesuatu yang memang masih saya butuhkan sehari-hari. Misalnya, saya tidak akan berprinsip minimalis pada tiga hal, yakni Uang, Buku, dan Pengalaman. Ketiganya menurut saya adalah kebutuhan dasar yang akan membuat hidup saya lebih bermakna dan sejahtera.

Baca juga: 13 THINGS CHANGED MY LIFE

Ya, siapa sih, yang mau uang di dompetnya minimalis? Kan, lebih enak ‘menangis (baca sedih) di dalam mobil ketimbang sedih di trotoar’. Kedua, Buku membuat hidup saya menjadi lebih bermakna. Banyak pelajaran hidup yang bisa dipetik setelah membaca buku. Pepatah mengatakan “Buku adalah jendela dunia” dan ini penting buat hidup saya. Terakhir adalah Pengalaman. Dengan banyak pengalaman seperti melakukan traveling, membuat hidup lebih berwarna. Saya bersumpah, tiga hal ini tidak akan saya buat minimalis selama hidup.

Alasan Menjalani Gaya Hidup Minimalis

Jujur, saya sendiri belum bisa sepenuhnya mengadopsi gaya hidup ini. Alasan saya tertarik menjalani hidup minimalis ini banyak. Salah banyaknya setelah membaca bukunya Fumio Sasaki yang berjudul “Goodbye Things, Gaya Hidup Minimalis ala Orang Jepang”.

Di buku ini si penulis mengaku bahwa ia hanyalah pria biasa yang mudah tertekan di tempat kerja. Tidak percaya diri, dan terus menerus membandingkan diri dengan orang lain. Sampai suatu hari ia memutuskan untuk mengubah hidupnya dengan mengurangi barang yang ia miliki. Setelahnya, ia merasakan banyak manfaat dengan menjalani hidup minimalis.

Selain buku karya Fumio Sasaki saya juga membaca bukunya Francine Jay yang berjudul “Seni Hidup Minimalis”. Buat saya, buku yang satu ini memberi banyak pandangan baru soal minimalis. Dasar-dasar pemikiran soal minimalis dipaparkan dengan sangat detail. Minimalis memang sering diidentikkan dengan segala sesuatu yang serba cukup. Tapi kadar cukup ini bisa jadi berbeda pada tiap orang.

Keuntungan Hidup tanpa Banyak Barang

Keuntungan hidup minimalis
Keuntungan hidup dengan sedikit barang

Sebelum tertarik menjalani hidup minimalis, ada baiknya kamu yang tertarik menerapkannya mengetahui dulu manfaatnya. Dengan begini, kita tidak sekadar mengikuti tren atau latah.

Berikut ini beberapa keuntungan jika kita memilih hidup minimalis:

Pikiran menjadi damai. Ya, dengan tidak memiliki banyak barang di sekeliling kita, membuat pikiran kita menjadi lebih luas. Tidak perlu memusingkan ruang yang makin sempit dengan banyaknya tumpukan barang yang semakin bertambah setiap hari. Kamar atau ruangan menjadi lebih lega dan membuat pikiran menjadi semakin tenang.

Tidak mudah stres. Siapa yang pulang ke rumah jadi stres karena harus berbenah dulu. Semua orang penginnya pulang ke rumah untuk beristirahat dan bersantai ria. Bukan untuk melakukan pekerjaan rumah yang kacau karena barang-barang menumpuk di setiap sudut. Dengan memiliki sedikit barang kita tidak perlu berbenah setiap pulang kerja.

Bisa fokus pada kesehatan dan hal penting lain. Dengan memiliki sedikit barang, tentu saja kita bisa lebih fokus pada hal-hal penting dalam hidup. Misalnya kesehatan. Waktu untuk melakukan olahraga menjadi semakin banyak karena kita tidak harus membuang waktu untuk beberes.

Hidup menjadi cukup. Ambisi yang besar terhadap suatu barang atau benda membuat kita merasa kurang setiap hari. Dengan hidup sederhana dan minimalis, tentu saja kita akan merasa cukup setiap saat. Dengan begini uang dan energi yang berlebih bisa kita alokasikan untuk hal penting lainnya.

Menghemat banyak uang. Ini adalah manfaat yang paling nyata jika menjalani gaya hidup minimalis. Dengan memiliki sedikit baju, sepatu, tas, dan barang-barang lainnya tentu saja tidak membuat dompet jadi jebol. Uang lebihnya bisa ditabung dan diinvestasikan. Semakin dini menabung dan berinvestasi, tentu saja goals untuk sejahtera di masa depan menjadi lebih cepat.

Belajar Menabung dari Pelaku Hidup Minimalis

SMB
Sampoerna Mobile Banking

Beberapa waktu lalu, saya mengikuti event virtual yang diselenggarakan oleh Bank Sampoerna. Di event ini, Bank Sampoerna menghadirkan salah satu milenial yang menjadi praktisi hidup minimalis. Talk show virtual ini bertema “Hidup Minimalis untuk Masa Depan Maksimal”. Talk show menampilkan influencer sekaligus investment storyteller, Felicia Putri Tjiasaka dan pelaku gaya hidup minimalis, Olga Agata.

Dari sini saya jadi tau salah satu permasalahan terbesar generasi milenial sulit menabung adalah karena faktor mudahnya akses internet. Ini seperti yang diceritakan Mbak Felicia dalam talk show.

“Ada beberapa faktor yang membuat kaum milenial dan gen Z ini boros dan sulit menabung, seperti akses internet yang memperbolehkan kita melihat dunia yang lebih luas dan juga e-commerce yang mendemokratisasi pembelian barang antar kota, provinsi dan bahkan negara,” kata Felicia.

Padahal, survei  menyebutkan bahwa Generasi Milenial mulai menabung sejak usia 24 tahun. Generasi ini tentu saja memiliki peluang untuk hidup sejahtera di masa depan jika mereka terus konsisten menabung. Apalagi jika dikombinasikan dengan gaya hidup minimalis yang serba sederhana dan tidak neko-neko.

Peluang hidup sejahtera semakin besar jika mereka tidak mengikuti tren seperti FOMO (Fear of Missing Out), dan YOLO (You Only Live Once) yang marak di media sosial. Di sisi lain mereka juga memiliki tantangan jika terlahir sebagai generasi sandwich (generasi yang harus menanggung hidup orang tua, diri sendiri, dan anak atau adik-adik) dan membelenggu banyak generasi muda.

event virtual SMB
Launching Sampoerna Mobile Banking

Karenanya, menjalani hidup minimalis dan mendisiplinkan diri untuk terus menabung menjadi keharusan jika mereka ingin hidup sejahtera di masa depan. Terlebih saat ini ada beragam platform digital yang bisa digunakan oleh generasi milenial untuk menabung. Seperti Sampoerna Mobile Banking yang baru saja diluncurkan.

Platform digital Sampoerna Mobile Banking ini memiliki produk Sampoerna Mobile Saving yang menjadi solusi digital untuk generasi muda menabung. Dengan beragam fitur yang dihadirkan, Generasi Milenial kini bisa menabung dari mana saja tanpa harus datang ke kantor cabang. MUDAH, MURAH, dan Banyak HADIAH yang ditawarkan.

So, nggak usah ragu. Buat kamu yang ingin menabung di Sampoerna Mobile Saving, sebagai nasabah kamu akan mendapatkan poin undian yang akan diundi setiap bulan, serta undian grand prize setiap triwulanan, dengan total hadiah 3 (tiga) miliar rupiah.

Jadi, kapan kamu mulai menabung untuk masa depan yang lebih cerah? Jangan lupa untuk menrapkan gaya hidup minimalis agar masa depan keuanganmu semakin bersinar.

Selamat menabung!