film adaptasi novel arumi e
Bawa 'gelas kosong' sebelum Merindu Cahaya de Amstel

Bawa ‘Gelas Kosong’ sebelum Nonton Film Merindu Cahaya de Amstel

“Dulu hidupku bebas sekali, semua hal buruk pernah kucoba, tapi, apa pun yang terjadi, aku yakin, memeluk Islam adalah keputusan terbaik dalam hidupku … “ Khadija – Film Merindu Cahaya de Amstel.

***

Dulu, saya pernah baca buku menarik yang kutipannya saya ingat, tapi sayang judulnya lupa. Isi kutipan tersebut kira-kira begini: “Datanglah dengan gelas kosong jika kamu ingin mengisi sesuatu … “ Dari kutipan ini saya selalu berusaha untuk selalu ‘mengosongkan’ diri alias ‘tidak sok tau’ jika ingin menikmati sesuatu yang baru, maupun saat bertemu dengan orang baru.

Termasuk saat ingin menonton film. Buat saya, menikmati film bukan sekadar menikmati hiburan visual yang memanjakan mata. Lebih dari itu, saya hanya menginginkan apa yang saya lihat mengalir tanpa saya harus merasa digurui. Makanya, ‘mengosongkan diri’ sebelum menonton film itu hukumnya fardhu ain buat saya.

Baca juga: FILM ‘AKU BUKAN JODOHNYA’, DEBUT PERDANA SYAKIR DAULAY SEBAGAI SUTRADARA TAYANG DI MAXSTREAM

Jangan Lupa! Bawa ‘Gelas Kosong’ sebelum Menonton Film Merindu Cahaya de Amstel

Film religi yang disutradarai hadrah daeng ratu
Film Merindu Cahaya de Amstel layak ditonton oleh siapa saja

Senin (17/1) kemarin, saya menonton film Merindu Cahaya de Amstel di CGV, Grand Indonesia. Jujur, ini baru kali kedua saya menginjakkan kaki di bioskop selama pandemi.

Excited? Sudah pasti!

Seperti biasa, kutipan dari buku tentang ‘membawa gelas kosong’ saya niatkan dari awal sebelum duduk di bangku bioskop. Saat masuk ke dalam ruangan saya sempat melirik poster dan trailernya sekilas. Oh, ini pasti drama religi. Pikir saya tanpa berminat untuk menonton trailer-nya sampai tuntas.

Lagi-lagi, saya tidak mau terjebak pada genre tertentu. Buat saya, semua film selalu menyuguhkan hal baru tanpa kita harus merasa ‘digurui’ oleh pesan-pesan yang ingin disampaikan sang sutradara maupun penulis skebarionya.

Awalnya, saya mengira film ini akan berlatar di Kota Paris atau Perancis karena ada selipan kata “de” dalam judulnya. Tapi, kok, di belakangnya ada kata Amstel yang berarti Amsterdam. Ya wislah. Saya coba nonton tanpa harus direpotkan untuk mengira-ngira makna judulnya.

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya nikmati setelah menonton film Merindu Cahaya de Amstel ini. Salah satunya adalah premis dari film yang ingin menyuguhkan perspektif seorang Muslim Indonesia yang justru belajar dari seorang mualaf di Eropa.

Poin ini menggugah kesadaran saya sebagai seorang Muslim Indonesia yang sedari lahir ceprot sudah ‘melihat’ Islam di sekeliling saya. Tanpa saya sadari, sebagai salah satu warga mayoritas di negeri ini, saya jarang merasakan sikap intoleran dari kelompok lain.

Saya tidak pernah merasakan sebagai kelompok minoritas dalam hal beragama. Justru sebaliknya, karena sudah terbiasa dengan Islam, saya malah tidak merasa istimewa dengan value agama yang saya anut dari kecil ini.

Durasi film ini sekitar 107 menit. Tidak terlalu lama dan juga tidak terlalu cepat. Jalan cerita film Merindu Cahaya de Amstel ini bikin emosi saya naik turun sepanjang durasi. Maklum, menurut saya, film drama yang bagus mempunyai kekuatan yang terletak pada alur cerita yang tidak mudah ditebak. Akankah happy ending atau sad ending?

Lain halnya kalau nonton film action yang langsung disuguhkan adegan ‘sat set, das des’. Kekuatan film drama yang dibintangi Bryan Domani ini bisa mengolah emosi saya sebagai penonton sampai ceritanya berakhir.

Totalitas Aktor dalam Film Merindu Cahaya de Amstel

So, gimana akting para aktornya?

Totalitas pemain sangat tampak saat mereka harus berdialog dengan aksen masing-masing. Bryan yang berperan sebagai Muhammad Nicolas van Dijck dan Amanda Rawles yang berperan sebagai Khadija “Si bule Belanda”. Keduanya tampak sangat fasih berdialog sebagai native Belanda.

Karena rambut Amanda Rawles dicat pirang, saya malah berpikir kalau si aktor ini memang asli Belanda yang mungkin pernah tinggal di Indonesia. Atau setidaknya mereka bule asli lulusan sekolah internasional di Jakarta. Sumpah, nggak terlihat sama sekali kalau kedua aktor ini memang berdarah blasteran. Tampang keduanya sangat-sangat ‘native bule’ dalam film yang disutradarai oleh Hadrah Daeng Ratu ini.

Belum lagi akting dari Rachel Amanda dan Maudy Koesnadi. Masing-masing memerankan tokoh anak dan ibu yang berasal dari Pulau Jawa, kemungkinan dari Yogyakarta. Rachel menjadi Kamala, anaknya Maudy yang kuliah di Amsterdam. Aksen medok yang ditampilkan Rachel dan Maudy sangat sempurna menurut saya dari kacamata sebagai orang ‘native Jawa’. Tampak sangat natural dan tidak dibuat-buat.

Ini terjadi sepanjang dialog saat mereka berkomunikasi dengan semua lawannya. Padahal, si Rachel ini kelahiran Jakarta dan Maudy sendiri berdarah Sunda. Saya kurang tau apakah si Rachel ini memang keturunan keluarga Jawa yang kebetulan lahir di Jakarta, atau memang belajar aksen Jawa secara otodidak. Yang jelas, mereka berdua tampak sangat-sangat fasih berdialog dengan aksen Jawa.

Selain tokoh-tokoh di atas, beberapa nama pemain lainnya turut memeriahkan film ini. Salah banyaknya adalah Oki Setiana Dewi, Dewi Irawan, komika Ridwan Remin, Rita Nurmaliza, dan beberapa aktor native Belanda.

Film yang Diadaptasi dari Novel Best Seller

Siapa penulis cerita di balik film Merindu Cahaya de Amstel? Film ini memang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Arumi E. Film yang bergenre drama berbalut religi ini mengisahkan cinta segitiga yang rumit antara Muhammad Nicolas van Dijck, Khadija, dan Kamala. Banyak tantangan dan masa lalu yang harus didamaikan. Belum lagi konflik batin yang tercipta antara tiga tokoh berbeda kewarganegaraan ini.

Buat yang sudah baca novelnya, lebih baik ‘kosongkan dulu gelasnya’ sebelum menonton. Jangan pernah berekspektasi apa pun. Yang pasti, tampilan visual pasti jauh berbeda dengan imajinasi yang dibangun saat membaca novelnya. Terlebih, jika melihat sinematografil latarnya yang sangat memanjakan mata. Pemandangan Kota Amsterdam di film ini membuat saya pengin backpacking-an ke sana.

Jadi, film ini layak ditonton, nggak? Buat saya ini layak banget! Banyak pelajaran yang bisa diambil saat nonton film Merindu Cahaya de Amstel. Yang nggak sabar, silakan tunggu penayangan resmi film ini pada 20 Januari 2022 di seluruh bioskop di Indonesia.

Selamat menonton!