Mari cegah disabilitas karena kusta

Cegah Disabilitas karena Kusta, Ini Saran dr Sri Linuwih Susetyo

Kusta merupakan salah satu jenis penyakit berbahaya. Penyakit ini disebabkan oleh Mycobacterium Leprae. Bagian tubuh yang mengalami sakit adalah kulit, jaringan saraf perifer, mata, dan selaput bagian dalam hidung. Dalam kondisi akut bisa menyebabkan disabilitas atau cacat pada bagian tubuh yang sakit tersebut. Bagaimana cara cegah disabilitas karena kusta?

Mari lanjutkan baca!

Tanda awal dari gejala kusta adalah bercak pada kulit seperti panu namun lama-lama menjadi baal. Selain itu juga dapat berupa rasa lemas dan berlanjut menjadi mati rasa. Indonesia sampai saat ini masih masuk kategori sebagai negara dengan kasus kusta  tertinggi.

Baca juga: NYIMAK CERITA DOKTER YANG MENANGANI PASIEN KUSTA

Talkshow Yuk Cegah Disabilitas karena Kusta yang Diselenggarakan oleh Ruang Publik KBR

Penyakit kusta masih menjadi salah satu penyebab disabilitas yang cukup besar di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh kesadaran masyarakat akan munculnya gejala tersebut masih rendah. Ditambah dengan stigma yang salah sehingga penderita merasa malu dan enggan untuk berobat. Sedang penyembuhannya sendiri memerlukan waktu yang cukup lama.

Penularan penyakit ini melalui percikan ludah atau dahak pada saat batuk atau bersih. Efek dari penyakit yang bisa fatal menyebabkan penderita dijauhi oleh masyarakat. Paradigma yang salah juga menjadikan penderita menutup diri. Ini semakin menambah susah pengobatan karena kurang terbuka terhadap akses kesehatan. Akibat fatalnya adalah terjadinya disabilitas atau cacat baik sementara maupun permanen.

Oleh karena itu Ruang Publik KBR menyelenggarakan Talkshow dengan tema “Yuk Cegah Disabilitas Karena Kusta” pada tanggal 20 Desember 2021. Penyakit ini terbukti telah menurunkan kualitas hidup penderitanya. Hadir dalam acara yang diselenggarakan secara virtual tersebut sebagai pembicara, dr Sri Linuwih Susetyo SpKK(K), Ketua Kelompok Study Morbus Hansen (Kusta) Indonesia.

Selain itu, hadir pula salah satu anggota Kelompok Perawatan Diri (PKD) Astanajapura, Cirebon. Beliau adalah salah satu penderita yang sembuh setelah melakukan perawatan diri  selama satu tahun.

Disabilitas Akibat Menderita Kusta

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, kuman penyebab kusta akan merusak saraf, kulit mata, dan bagian lain. Indikasi awal adalah terjadinya baal atau mati rasa. Jika penderita mengalami luka dan tidak dapat merasakannya maka bisa berakibat fatal karena terlambat melakukan pengobatan.

Sedang menurut dr Sri Linuwih, jika bagian yang terserang kusta adalah siku, mata, atau hidung, dapat menyebabkan cacat sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Penderita dapat mengalami kelumpuhan karena gangguan pada saraf motoriknya. Pada penderita yang tidak segera mendapat penanganan medis, maka kuman dapat menyerang otot dan tulang.

Penderita kusta mempunyai risiko mengalami cacat pada tangan, kaki, kulit, dan mata. Meski begitu, pasien kusta harus tetap berpikir positif. Tidak semua gejala dapat menyebabkan cacat. Diagnosa sejak dini dan pengobatan yang tepat bisa mengurangi risiko tersebut. Jika timbul gejala sebaiknya pasien segera mengunjungi fasilitas kesehatan agar secepatnya mendapat perawatan yang tepat.

Perawatan dan cara pencegahan terjadinya cacat tergantung dari gejala yang timbul. Efek masuknya kuman kusta sampai menjadi kusta membutuhkan waktu yang lama. Jeda tersebut merupakan saat yang tepat untuk melakukan pencegahan akibat fatal yang ditimbulkan.

Cara Pencegahan Penyakit Kusta

Pola hidup bersih dan menjaga kebersihan lingkungan merupakan langkah awal untuk mencegah terjadinya kasus kusta. Edukasi dan monitoring penyebarannya juga harus terus dilakukan. Kegiatan memberikan kesadaran bahwa kusta bukanlah aib dan merupakan penyakit yang dapat sembuh perlu mendapat perhatian.

Secara medis, kemoprofilaksis adalah pemberian obat dalam rangka mencegah terjadinya penyebaran kusta. Dokter Sri Linuwih melanjutkan, orang sehat dapat tertular dan ikut menderita kusta dari penderita yang belum tertangani. Oleh karena itu pencegahannya sangat penting dilakukan. Namun menurut beliau sebenarnya daya tular kuman penyebab kusta cukup rendah. Terlebih bagi orang dengan kekebalan tubuh yang prima.

Pengobatan Kusta

Kusta merupakan penyakit yang membutuhkan waktu penyembuhan cukup lama. Namun demikian, dengan penanganan tepat potensi kesembuhannya tinggi. Perlu waktu 6 sampai 12 bulan bagi penderita untuk dapat dinyatakan sembuh total. Masih menurut dr sri Linuwih Susetyo, pasien dapat berobat secara gratis dengan mengunjungi fasilitas kesehatan seperti Puskesmas. Obat tersebut disediakan dalam satu paket sehingga memudahkan penderita untuk meminumnya.

Perawatan Sendiri

Penyakit kusta dapat sembuh dengan perawatan mandiri asal konsisten. Hal ini terbukti dengan pengalaman pasien kusta di wilayah Kecamatan Astanajapura, Cirebon yang dapat sembuh total. Komunitas yang bernama “Kelompok Pengobatan Diri” atau KPD ini beranggotakan 20 orang yang pernah menderita kusta dan saat ini sudah dinyatakan sembuh.

Saling kontrol dan mensupport antar sesama penderita memberi kekuatan serta semangat untuk segera sembuh. Tidak jarang antar anggota menanyakan apakah sudah membersihkan diri dengan benar secara rutin. Ketua PKD, Dulamin mengatakan bahwa edukasi dan pengetahuan tentang kusta, baik penyebab, pencegahan dan cara penyembuhan sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Pengetahuan tersebut dapat menjadi bekal agar tidak terjadi penyebaran penyakit dan bisa melakukan pengobatan secara mandiri.