“Ada yang beruntung dan ada yang belum mendapat anak. Tapi kamu dan pasanganmu tak boleh patah semangat. Ini hanya seperti menunggu giliran."

6 Tahun Menikah Tapi Belum Punya Momongan, Ini Saran dr Indra Anwar, Sp. OG (Kisah Nyata Pejuang Dua Garis Biru)

 “Ada yang beruntung dan ada yang belum mendapat anak. Tapi kamu dan pasanganmu tak boleh patah semangat. Ini hanya seperti menunggu giliran.” (Kisah nyata pasangan yang sudah menikah tapi belum punya momongan)

Perkenalkan, namaku Veronica. Aku adalah seorang apoteker di sebuah rumah sakit swasta. 6 tahun menjalani pernikahan, Tuhan belum juga memberikan amanah agar aku bisa menimang bayi. 6 tahun boleh dibilang bukan waktu yang singkat untuk menanti kehadiran buah hati di tengah keluarga kecil yang kami bangun sejak 2014.

Sejujurnya, sejak 3 tahun usia pernikahan, aku dan suami pernah mencoba berkonsultasi dengan salah satu dokter andrologi di sebuah rumah sakit ibu dan anak. Ikhtiar ini kami jalani agar buah hati yang didambakan bisa segera hadir untuk menghangatkan biduk rumah tangga kita.

Baca juga: PENGEN PUNYA BAYI TABUNG? KONSULTASI DULU DENGAN DR. INDRA NC ANWAR SP. OG

Setahun setelah menjalani ikhtiar tersebut, kami mendapatkan kabar yang kurang baik. Suamiku mengalami gangguan Azoospermia (air mani tidak mengandung sperma). Azoospermia sendiri adalah salah satu masalah infertilitas yang bisa terjadi pada pria. Dalam kondisi tertentu, air mani yang dikeluarkan sangat sedikit mengandung sperma atau bahkan tidak ada sama sekali.

Kami juga dijelaskan bahwa sekitar satu persen dari semua pria di dunia mengalami gangguan ini dan 15 persen terjadi pada pria yang tidak subur. Kondisi ini tidak pernah disadari oleh suamiku. Selama ini suamiku merasa sehat dan tidak ada masalah dengan kesuburan, karena kami juga rutin melakukan hubungan seks secara teratur.

Setelah berkonsultasi dengan dokter andrologi, kami juga mendapatkan informasi bahwa penyebab Azoospermia bisa terjadi karena beberapa faktor. Beberapa di antaranya disebabkan seseorang tengah menjalani pengobatan kanker, rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu, mengalami pembengkakan skrotum atau varikokel dan hormon yang tidak seimbang, serta karena faktor keturunan.

Berdoa agar Diberikan Dokter yang Tepat

Buah hati kami akhirnya lahir, penantian kami tak pernah sia-sia

Menerima takdir yang digariskan Tuhan memang tidak mudah. Sudah 6 tahun menikah tapi belum punya momongan memang pengalaman yang cukup berat untuk kami. Setelah mengetahui kondisi suami yang memang membutuhkan perhatian khusus, saya mencoba untuk ikhlas dan berlapang dada. Butuh proses dan waktu yang cukup panjang untuk menerima semuanya.

Di sisi lain, saya juga tidak boleh patah semangat. Kami berdua saling mendukung dan menguatkan satu sama lain. Tidak lupa pula saya selalu meminta dan berdoa kepada Tuhan agar kami segera diberi momongan. Ikhtiar tetap kami lakukan. Selain berdoa agar buah hati yang kami inginkan segera hadir, saya juga sering kali menyelipkan doa agar Tuhan memberi kami dokter yang tepat. Semata-mata agar ikhtiar dan impian kami membuahkan hasil.

Puji Tuhan, ikhtiar tidak akan pernah menghianati hasil. Dokter andrologi—tempat saya berkonsultasi sebelumnya—menyarankan agar kami segera ke klinik Morula IVF, salah satu klinik program bayi tabung dan fertilitas terbesar di Indonesia untuk mendapatkan tindakan lanjutan.

Di sana kami bertemu dengan salah satu dokter Sp. OG yang sangat baik. Beliau adalah dokter Indra Nurzam Chalik Anwar, Sp. OG atau kami biasa memanggilnya dokter Indra Anwar. Sehari-hari beliau praktik sebagai spesialis obstetri & ginekologi atau Sp.OG (Kebidanan dan Kandungan), di RSIA Bunda Jakarta dan Morula IVF Jakarta. Mulai dari Senin hingga Sabtu, dari pukul 10.00-14.00 WIB. Selain itu, beliau menjadi konsultan dokter di Makuku Family dan menjadi salah satu pengasuh online di Halodoc.

Setelah bertemu dengan dokter Indra Anwar, kami dianjurkan untuk melakukan prosedur bayi tabung. Pilihan ini bukan tanpa sebab. Selain gangguan Azoospermia yang dialami suami, usia saya dan suami juga makin bertambah.

Proses yang kami lakukan tidak lama. Setelah waktunya tepat yakni sekitar hari kedua atau ketiga saat saya menstruasi prosedur bayi tabung dilakukan.

Mengapa di hari kedua atau ketiga saat menstruasi?

Karena di saat itulah, organ reproduksi wanita beristirahat. Prosedur yang saya lakukan mulai dari USG transvaginal, pemeriksaan estradiol, prolactin (hormon air susu), pemeriksaan hormon FSH (Folicle Stimulating Hormone), pemeriksaan LH ( luteinizing hormone) yang merupakan pemeriksaan menggunakan sampel darah yang diambil dari pembuluh darah vena di lengan untuk mengukur konsentrasi LH dalam darah, TSH (pemeriksaan tonjolan di leher atau tyroid), hingga pemeriksaan AMH (anti-mullerian hormone) untuk melihat cadangan sel telur.

Dua minggu pertama setelah seluruh prosedur bayi tabung dilakukan, kami berdua menunggu hasilnya dengan harap-harap cemas. Cemas jika nanti jika hasilnya gagal. Tapi di balik itu semua, kami sudah memahami risiko prosedur bayi tabung ini. Sejak awal bertemu dengan dokter Indra Anwar, beliau sudah memberikan edukasi bahwa setiap tindakan yang kami lakukan selalu ada risiko kegagalan. Tingkat probabilitasnya tidak mungkin seratus persen.

Edukasi yang diberikan dokter Indra Anwar membuat saya sedikit tenang. Tugas kita hanya berikhtiar dan memasrahkan hasilnya kepada Tuhan. Dan akhirnya puji Tuhan bulan Oktober 2021 kemarin saya melahirkan putra pertama. Kehadiran buah hati ini merupakan anugrah yang tak ternilai. Penantian panjang ini akhirnya membuahkan hasil.

Karena biaya untuk melakukan prosedur bayi tabung ini lumayan besar, akhirnya kami memutuskan juga untuk sekalian melakukan embryo freezing atau membekukan embrio sampai batas waktu tertentu, untuk saya siap hamil kembali.

Prosedur ini kami pilih agar kami tidak memulai prosedur bayi tabung dari awal lagi jika suatu saat ingin hamil. Metode ini merupakan pengembangan yang dilakukan oleh para pakar untuk meningkatkan peluang kehamilan selanjutnya. Mohon doanya agar tahun depan kami bisa mendapatkan momongan kembali.

Pesan untuk Pejuang Dua Garis Biru (Pasangan yang Belum Punya Momongan)

Bagi teman-teman pejuang dua garis biru alias sudah menikah belum punya momongan dan memiliki pengalaman serupa, jangan pernah menyerah untuk berusaha. Sekali lagi, ikhtiar tidak akan menghianati hasil. Setelah melakukan ikhtiar, pasrahkan semua kepada Tuhan. Apa pun yang terjadi, semua atas kehendakNya.

Jika memang sudah setahun menikah tapi belum dikaruniai buah hati, segera lakukan konsultasi dan pemeriksaan. Semakin dini melakukan pemeriksaan, potensi untuk segera mendapatkan momongan semakin besar.

Terkhusus untuk dokter Indra Anwar, Sp. OG, kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas bantuan dan edukasinya selama ini. Saya dan suami sangat puas dengan hasilnya. Andai boleh memberikan nilai, saya akan memberikan nilai 10/10. Mulai dari edukasi hingga hospitality-nya. So perfect!

Salam dua garis biru~Veronica & Franky, Kenzo, buah hati kami.

*Kisah ini seperti yang dituturkan oleh Veronica kepada Achi Hartoyo