Pasien kusta bukan aib. Mari bantu mereka untuk bangkit.

Nyimak Cerita Dokter yang Menangani Pasien Kusta

Duh! Sebenarnya saya agak ngeri kalau denger cerita-cerita dari para dokter yang menangani pasien saat pandemi. Satu kata buat mereka. SALUT! Bagaimana tidak, di saat orang-orang asyik ber-WFH, mereka harus terjun langsung ke lapangan. Berhadapan langsung dengan pasien dengan risiko tinggi. Dedikasi dokter memang luar biasa. Termasuk dokter yang menangani pasien kusta di saat pandemi.

Tau nggak berapa rasio dokter berbanding dengan jumlah penduduk. Hanya 0,4 per 1.000 penduduk. Ini artinya hanya 4 dokter per 10.000 penduduk. Rasio idealnya berdasarkan WHO adalah 1-6 per 1.000 penduduk. Kita masih ketinggalan dibandingkan dengan negara-negara tetangga di Asia Tenggara. Bayangin satu dokter saja gugur. Pasti jumlahnya makin sedikit. Penduduk yang membutuhkan bantuan dokter pun pasti akan semakin kesulitan. Termasuk pasien kusta.

Cerita ini saya dapatkan dari dokter Ardiansyah, salah satu pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) dan Udeng Daman, Technical Advisor NLR Indonesia. Cerita mereka disiarkan secara streaming oleh KBR yang merupakan penyedia konten berita dengan pengalaman 22 tahun lebih di bidang jurnalistik.

Fakta Penyakit Kusta di Indonesia

Ngobrolin masalah penyakit kusta sepertinya ngeri-ngeri sedap. Di Indonesia sendiri belum bisa dipetakan dengan baik di wilayah mana saja yang menjadi endemis penyakit ini. Penyakit ini tersebar tidak merata di beberapa wilayah. Berdasarkan data dari Kemenkes, ada beberapa kabupaten/kota di Indonesia yang belum mencapai eliminasi. Totalnya ada 110 kabupaten/kota yang belum mencapai eliminasi yang tersebar di 21 provinsi.

Jadi, bisa saja provinsinya sudah tereliminasi dengan jumlah kasus pasien kusta di bawah satu persen. Tapi beberapa kabupaten di bawahnya masih belum. Ada 7 provinsi yang belum terliminasi dari kasus kusta. Prevalensinya di atas 1 per 10.000 penduduk. Sebagian besar di wilayah Indonesia bagian timur seperti Maluku, Papua, Maluku Utara, dan Papua Barat. Namun, di ibu kota Indonesia yakni DKI Jakarta juga masih ditemukan pasien kusta.

Faktor penyebab yang membuat daerah yang belum tereliminasi berbeda-beda disebabkan oleh beragam faktor. Mulai dari lingkungan, sanitasi, kepadatan penduduk, sosial ekonomi, hingga perilaku hidup bersih (PHB).

Cara Dokter Menangani Pasien Kusta

Seperti penyakit menular lainnya, kusta membutuhkan perhatian khusus agar penyebarannya terkendali. Kalau bisa angkanya ditekan menjadi nol. Tapi ini sangat sulit dilakukan mengingat untuk melakukan pelacakan pasien dan kontak-kontak terdekat seperti keluarga atau tetangga tidak mudah. Stigma negatif pasien penyintas penyakit apa pun, termasuk pasien kusta sulit dilepaskan. Umumnya mereka malu dan takut menjadi bahan perundungan tetangga dan masyarakat.

Jika saja mereka mau jujur dan memeriksakan diri, kemungkinan risiko penularan terhadap keluarga bisa dicegah. Memang penyakit kusta menular, tapi tingkat penularannya sangat rendah.  Untuk menangani penyakit kusta ini, NLR, sebuah organisasi non-pemerintah (NGO) yang berbasis di Belanda sejak 1967 bekerja sama dengan pemerintah Indonesia sejak 1975 dengan menerapkan program 3 zero, yakni

Zero Transmission (Penularan Nol Kasus)

Untuk bisa menekan penularan penyakit kusta hingga nol tentunya tidak mudah. Tetapi juga bukan hal yang tidak mungkin. Untuk memutus penularan kusta, edukasi melalui program Desa Sahabat Kusta gencar dilakukan. Baik di tingkat provinsi maupun kabupaten dengan menggandeng pemerintah setempat. Program ini dilakukan di 26 Puskesmas dan 30 desa.

Zero Disability (Cacat Nol Kasus)

Pendekatan ini dilakukan dengan diagnosis dini dan pengobatan yang cepat. Melalui pendekatan ini biasanya pasien bisa sembuh tanpa konsekuensi yang merusak. Ada 3 tahapan pendekatan yang dilakukan. Kombinasi pendekatan KPD untuk kusta dan Filariasis, Semi Active Surveillance Pasca-berobat kusta dan Konseling Sebaya Kombinasi Pendekatan KPD.

Untuk kusta dan Filariasis dilakukan pertemuan antarpenderita kusta agar bisa saling membantu dan memberikan support serta konseling antarsesama.  SAS adalah pemantauan penderita disabilitas tingkat 2 dengan penyelesaian pengobatan.

Zero Exsclusion (Eksklusi Nol Kasus)

Upaya ini dilakukan untuk menurunkan stigma negatif pasien kusta melalui program Mardika (Masyarakat Ramah Disabilitas dan Kusta). Mendukung kebijakan yang inklusif bagi pasien kusta dan penyandang disabilitas, untuk memperoleh akses pendidikan dan kemandirian secara ekonomi melalui pekerjaan formal maupun informal.

Setelah mengetahui fakta tentang penyakit kusta, banyak yang bisa kita lakukan untuk membantu pasien kusta dengan memberikan informasi dan edukasi yang tepat. Jika ingin mengetahui informasi lebih lanjut mengenai penyakit kustan atau ingin berpartisipasi? Silakan mengunjungi nlrindonesia.or.id