Foto: by Pexel

Strategi Beresin Keuangan Biar Cuan, Mulai dari Sini

Saya harus punya strategi beresin keuangan. Itu impian saya beberapa tahun silam

***

Suatu ketika, ketika saya sedang menikmati secangkir teh di sebuah warung kopi—tempat saya biasa nongkrong bareng teman-teman di sekitaran Blok M—ingatan saya kembali throwback saat kali pertama bekerja dan menginjakkan kaki di ibu kota Jakarta.

Ingatan tersebut terus membawa saya ke masa awal-awal kuliah dengan biaya yang saya tabung sendiri dari hasil kerja. Ya, dari kecil saya memang terbiasa mandiri. Termasuk dalam hal keuangan, sebisa mungkin untuk tidak mengandalkan orang lain selagi masih bisa mencari sendiri.

Baca juga:

Strategi Pribadi Menghadapi Masa Resesi

Throwback Mengenal Dunia Perencanaan Keuangan dan Strategi Beresin Keuangan 

Dulu, waktu masih kecil saya pernah membaca sebuah tabloid yang di dalamnya ada satu kolom yang rutin mengulas tentang perencanaan keuangan. Yang saya ingat, kolom tersebut diasuh oleh Mas Safir Senduk. Saat itu, saya belum begitu paham dengan dunia perencanaan keuangan, tapi saya sangat menyukainya dan rutin membaca setiap artikel yang ditulis. Mas Safir Senduk sendiri boleh dibilang sebagai pionir perencana keuangan pertama di Indonesia, sebelum profesi perencana keuangan booming belakangan ini.

Begitu memasuki dunia kerja dan bisa mencari uang sendiri secara mandiri, saya rutin membeli buku-bukunya Mas Safir Senduk. Dari sana saya banyak belajar bagaimana mengatur keuangan agar “tidak jebol”, dan bisa merencanakan tujuan keuangan untuk masa depan. Termasuk mengumpulkan biaya kuliah dari hasil kerja.

Karena masih awam dengan dunia perencanaan keuangan—termasuk produk investasi yang kosakatanya masih sangat awam, saat itu—saya memutuskan belajar tentang perencanaan keuangan dari berbagai sumber. Termasuk dari beberapa perencana keuangan baru seperti Mas Aidil Akbar, Ligwina Hananto, Prita Ghozie, Ahmad Ghozali, dan lain-lain yang mulai bermunculan. Mereka rutin mengadakan kelas-kelas dan seminar, serta aktif menulis berbagai artikel keuangan di dunia maya.

Setelah lulus kuliah, saya diterima bekerja di salah satu bank swasta. Meski berbeda dengan jurusan pendidikan yang saya ambil saat kuliah, saya menikmati profesi sebagai bankir. Dari dunia perbankan, saya banyak belajar tentang basic-basic keuangan. Bagaimana uang berputar dan menggerakkan roda ekonomi sebuah negara. Saya jadi makin tau dengan dunia investasi dan keuangan. Dari sana, saya juga pelan-pelan mengatur keuangan pribadi agar makin stabil. Termasuk mulai belajar strategi berinvestasi dan disiplin menerapkan prinsip-prinsip keuangan secara otodidak.

Apa saja strategi yang saya terapkan? Baca terus ya …

Strategi Mengatur Keuangan Pribadi secara Otodidak

Melanjutkan tulisan dari topik di atas, apa saja yang sudah saya lakukan untuk mengatur keuangan pribadi. Jujur, membenahi dan mengelola keuangan pribadi secara konsisten butuh kedisplinan dan perjuangan yang tidak mudah. Apalagi banyak godaan di sana-sini. Kuncinya cuma satu: disiplin dengan goals dan blue print keuangan yang sudah kita buat di awal.

Kita mulai dari awal, ya.

Cek Kesehatan Finansial

Contoh tabel untuk melacak larinya uang selama satu bulan. Pos bisa disesuaikan sendiri

Ini penting banget sebelum membuat blue print keuangan. Caranya mudah. Coba buat catatan selama satu bulan penuh. Apakah penghasilan kita cukup untuk memenuhi semua kebutuhan selama sebulan? Apakah setiap akhir bulan selalu minus? Jika, iya, berarti ada yang salah dengan pengelolaan arus kas kita. Mari kita lacak di mana letak “bocornya”.

Strategi untuk melacak kebocoran dimulai dari pencatatan pengeluaran rutin selama satu bulan penuh. Catat semua pengeluaran berapa pun nilainya. Bisa dengan mencatat secara manual atau menggunakan aplikasi pencatatan keuangan melalui ponsel. Setelah melakukan pencatatan rutin selama satu bulan, mulai buat klasifikasi pengeluaran. Mulai dari Tabungan, Cicilan Utang, Makan, Transportasi, Dana Sosial, dan Pengeluaran lain-lain.

Berapa total pengeluaran?

Setelah melakukan pelacakan, apakah masih minus? Jika, ya, apakah masih bisa dilakukan penyesuaian anggaran? Misal, kalau selama ini anggaran makan terlalu besar karena rutin makan siang di luar, bisa disiasati dengan membawa bekal sendiri. Apakah biaya entertainment bisa dikurangi? Misalnya kalau setiap akhir pekan sering rutin ke bioskop atau nongkrong cantik di kafe bisa dikurangi satu atau dua kali sebulan.

Inti dari cek kesehatan finansial ini cuma satu: jangan sampai “lebih besar pasak daripada tiang”. Jika terus-terusan bocor, sampai kapan pun kita tidak akan bisa berinvestasi untuk memenuhi kebutuhan masa depan kita.

Buat Anggaran dan Disiplin Menerapkan agar Strategi Beresin Keuangan Lancar

Langkah dan strategi beresin keuangan selanjutnya adalah dengan membuat anggaran. Caranya mudah, kok. Setiap menerima gaji, langsung tarik semua dan alokasikan ke pos-pos yang sudah kita buat.

Berikut ini rumus anggaran yang saya terapkan agar pondasi keuangan stabil. 20/30/50. Saya menggunakan rasio Semua saya dapatkan dari perencana keuangan dan disesuaikan dengan kebutuhan pribadi:

  • Pos tabungan dan investasi 20 persen dari gaji/penghasilan. Pos investasi meliputi dana pensiun, dana pendidikan untuk anak, tabungan untuk DP KPR, dana darurat, dll. Makin besar rasionya, makin bagus.
  • Pos cicilan utang maksimal 30 persen dari gaji/penghasilan. Cicilan utang yang disarankan untuk membeli aset atau barang-barang yang nilainya naik seperti KPR atau kendaraan yang memang dibutuhkan untuk bekerja dan memberikan penghasilan.
  • Pos biaya hidup 50 persen dari gaji/penghasilan. Biaya hidup ini meliputi semua kebutuhan rutin bulanan, makan, transportasi dana sosial, kebutuhan entertainment, dan lain-lain.

Oh, iya, rasio 20/30/50 ini tidak mutlak. Semua saya terapkan sesuai kebutuhan pribadi. Jika teman-teman ingin menggunakan rasio lain seperti 10/30/60 dan lain-lain, silakan saja. Selama pos-pos tersebut disiplin diterapkan, insyaallah semua tujuan keuangan tercapai dan pondasi keuangan tetap sehat. Tidak minus setiap bulan.

Membuat Neraca Keuangan Pribadi

Contoh neraca keuangan pribadi. Pos bisa disesuaikan sendiri.

Neraca? Apa itu?

Basic pendidikan saya memang bukan dari Ekonomi, tetapi setelah 12 tahun berkecimpung di dunia perbankan, saya belajar banyak apa itu fungsi neraca dan manfaatnya untuk memantau pertumbuhan aset perusahaan.

Jika diri kita diibaratkan sebuah perusahaan, kita bisa memantau pertumbuhan aset yang kita miliki setiap saat. Sebulan sekali misalnya. Caranya mudah, kok! Susunlah daftar aset dari yang paling likuid seperti uang kas dan setara kas (tabungan, giro, atau deposito), aset surat berharga seperti saham, emas, kendaraan, dan properti (hitung perkiraan nilai saat ini), hingga aset lain-lain kemudian jumlahkan total nilainya. Buatlah daftarnya di kolom Excel.

Setelah membuat daftar aset, kemudian susunlah daftar saldo utang yang masih harus dibayar seperti saldo cicilan KPR, saldo utang kendaraan, saldo cicilan kartu kredit, dan saldo utang lainnya (jika ada). Totalkan nilainya. Kemudian kurangi jumlah total aset tadi dengan jumlah total saldo utang. Hasilnya adalah harta bersih yang kita miliki.

Rumusnya Total Aset-Total Utang = Harta Bersih

Jumlah Total Aset nilainya harus sama jumlah Total Utang+Harta Bersih. Jika masih selisih berarti penyusunan neracanya masih salah. Jika nilai harta bersihnya masih minus, berarti keuangan kita belum sehat. Usahakan rasio total saldo utang maksimal 30 persen dari total aset yang kita miliki. Susunlah semua daftar di kolom Excel.

Gampang kan?

Membuat Blue Print dan Tujuan Keuangan secara Jelas

Jika pondasi keuangan sudah sehat, kini saatnya melangkah ke tahap beresin strategi keuangan selanjutnya, yakni  membuat blue brint atau tujuan keuangan. Tujuan keuangan itu bisa dibagi menjadi tiga: Jangka Pendek (kurang dari satu atau dua tahun), Jangka Menengah (lebih dari dua hingga tujuh atau sepuluh tahun), Jangka Panjang (lebih dari sepuluh tahun).

Sebagai contoh, tujuan keuangan untuk jangka pendek kurang satu tahun misalnya ingin menyiapkan dana liburan, membayar tagihan kartu kredit, membeli gadget baru, membuat dana darurat, menyiapkan dana pernikahan dsb. Kemudian dilanjutkan dengan membuat tujuan keuangan jangka menengah seperti menyiapkan biaya perjalanan ibadah (umrah, ziarah ke tempat suci bagi nonmuslim), menyiapkan uang masuk sekolah anak, biaya renovasi rumah, dsb.

Terakhir, mumpung masih muda jangan lupa untuk menyiapkan tujuan keuangan jangka panjang, seperti dana pensiun, dana untuk pendidikan anak masuk ke universitas, tabungan haji, dll. Makin dini kita menyiapkan dana tersebut, makin ringan nominal yang harus diinvestasikan setiap bulannya.

Setiap membuat tujuan keuangan, jangan lupa untuk mencatat nominal angka dan target waktu yang diinginkan. Lakukan evaluasi setiap 6 bulan atau satu tahun sekali.

Memilih Instrumen Investasi yang Tepat untuk Semua Tujuan Keuangan

Dulu, sewaktu menjadi Funding Officer (FO) di bank swasta, saya sering mendapat curhatan dari nasabah. Pada umumnya mereka sering bertanya: investasi apa yang memberikan return paling tinggi? Hmm … pertanyaan ini seperti buat saya seperti “kendaraan apa yang paling bagus untuk bepergian?”.

Jadi, investasi apa yang paling baik untuk dimiliki?

Buat saya, investasi itu ibarat kendaraan. Sebelum memilih kendaraan, sebaiknya kita tentukan dulu tujuannya mau ke mana. Dari rumah mau ke masjid atau warung yang jaraknya cuma 50 meter, mau pergi ke luar kota, atau ke luar negeri? Kalau mau ke warung cukup dengan jalan kaki, ke luar kota bisa dengan mobil atau pesawat terbang. Semua tergantung jarak dan kemampuan yang kita miliki. Ke luar kota dengan pesawat tentu lebih cepat dan hemat waktu untuk sampai di tujuan.

Kembali ke topik, kalau buat saya sendiri investasi paling dasar yang harus dimiliki adalah investasi di pengetahuan. Investasi “leher ke atas” ke atas kalau istilah gaulnya zaman now. Dengan memiliki pengetahuan yang baik terhadap sebuah instrumen investasi, kita tidak mudah terpengaruh dalam menentukan pilihan.

Kalau mau diurutkan instrumen investasi dari yang paling dasar adalah Tabungan Rencana, Deposito, Logam Mulia, Reksa Dana pasar uang (RDPU), Reksa Dana Pendapatan Tetap (RDPT). Instrumen ini cocok untuk tujuan jangka pendek. Kemudian ada reksa dana campuran untuk jangka menengah dan saham atau properti untuk tujuan jangka panjang.

Oh, iya. Investasi itu seperti kendaraan. Setiap saat bisa berubah. Selalu ada yang baru seperti mata uang kripto. Saya sendiri tertarik untuk mengoleksinya. Prinsipnya, jangan sampai ketinggalan dengan perkembangan informasi tebaru dari instrumen investasi. Intinya jangan sampai menyesal nantinya.

Strategi Diversifikasi Investasi dengan Kripto

Dari dulu sejak suka baca buku tentang investasi, kita selalu diajarkan untuk tidak menaruh telur dalam satu keranjang. Tujuan dari strategi diversifikasi atau memecah investasi ke dalam beberapa instrumen yang berbeda agar jika suatu saat ada yang loss, tidak semua rugi atau hilang. Kalau ada instrumen baru yang memang bagus dan relate dengan kondisi saat ini dan masa mendatang, kenapa enggak?

Berikut ini beberapa alasan yang membuat saya tertarik dengan mata uang:

  • Memiliki potensi kenaikan harga yang tinggi di masa depan. Iya, sih, secara perkembangan dunia digital yang semakin cepat, membuat mata uang kripto semakin diminati.
  • Sangat ampuh untuk menghindari pemalsuan uang karena sistem blockchain tidak memungkinkan mata uang sama melakukan dua transaksi berbeda.
  • Perkembangan teknologi blockchain membuat proses pembayaran mata uang digital berlangsung cepat, aman, dan mudah.
  • Data pribadi dijamin aman. Kita bisa melakukan transaksi keuangan tanpa harus menunjukkan identitas asli.

Dari beberapa alasan di atas, menerapkan strategi diversifikasi ke dalam mata uang kripto buat saya sangat penting. Selain untuk diversifikasi, jelas tujuan utamanya, ya, cuan. Kan, mata uang kripto mudah untuk di-trading-kan. Sama seperti saham, karena volatilitasnya yang sangat tinggi alias gampang naik dan gampang turun. Trading kripto ini bisa menjadi salah satu strategi untuk mendapatkan cuan dalam waktu cepat. Beli di harga rendah kemudian menjualnya di saat nilainya naik. Ini prinsip utamanya.

Cara membeli mata uang kripto ini juga mudah, kok. Bisa dibeli dan diperdagangkan melalui Tokocrypto. Sebagai salah satu platform jual beli bitcoin dan aset krypto lainnya di Indonesia, melalui Tokocrypto kita bisa melakukan transaksi jual beli aset kripto dengan sangat mudah dan aman. Jenis-jenis aset kripto yang diperdagangkan di Tokocrypto ini beragam seperti ETH, DOGE, BTC, USDT, dll.

Sebagai informasi, Tokocrypto atau Tokocrypto Digital Exchange sendiri merupakan perusahaan berbasis digital Indonesia teregulasi yang bergerak dalam bidang perdagangan aset kripto. Perusahaan ini didirikan akhir 2017, dan sudah mulai beroperasi Mei 2018.

Tokocrypto kemudian diperkenalkan ke publik pada 15 September 2018. November 2019, Tokocrypto resmi terdaftar di Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI) dan merupakan pedagang aset kripto pertama yang terdaftar di lembaga resmi tersebut hingga sekarang.

Saatnya Ambil Keputusan Beresin Keuangan Biar Cuan

Memiliki perencanaan keuangan yang baik selain bisa memberikan keamanan dan kenyamanan, juga membuat hidup menjadi lebih tenang dan mandiri. Tujuan merencanakan keuangan bukan semata-mata mencari cuan, lebih dari itu, buat saya pribadi perencanaan keuangan membuat saya tidak bergantung secara finansial dengan orang lain. Dalam kondisi darurat seperti  pandemi saat ini, kita sudah memiliki bantalan atau pondasi finansial yang kuat jika suatu saat harus “soft landing”.

Selain itu, dengan memiliki strategi yang baik, kita bisa menciptakan peluang untuk mendapatkan cuan. Kuncinya jangan pernah berhenti, malas belajar, dan hanya berfokus pada salah satu instrumen investasi. Terapkan diversifikasi untuk mencapai tujuan keuangan dengan lebih cepat dan lebih baik.

Jadi gimana? Apakah kamu sudah mengambil keputusan untuk beresin strategi keuangan agar cuan maksimal? Kalau belum jangan ditunda, ya!

Selamat berinvestasi!