Memilih (Menjadi Investor) Bahagia, Membuka Mindset Baru tentang Investasi

Setuju nggak kalau buku itu selalu memberikan sudut pandang baru tentang segala hal? Termasuk dalam dunia investasi dan keuangan. Dunia tersebut bukanlah bidang yang asing buat saya, meski begitu, saya selalu tertarik untuk membaca buku-buku baru tentang investasi dan keuangan.

Kali pertama membaca buku berjudul “Memilih (Menjadi Investor) Bahagia”, saya langsung tertarik untuk mengulasnya. Apa sih yang membuat buku ini menjadi “mahal”? Saat membuka buku ini tibalah saya di halaman 126 buku ini yang berjudul “The Art of Doing Nothing ala Ngawi”. Saya menyadari bahwa buku bukanlah buku sejenis “100 Cara untuk Menjadi Kaya dalam Satu Hari”. Lebih dari itu, buku ini mengingatkan saya tentang konsep “balanced life”.

Apa sih, tujuan kita untuk menjadi investor? Menjadi kaya? Banyak uang? Bisa liburan ke mana aja? Atau apa? Bisakah kita bahagia ketika menjadi investor?

Tiba-tiba saja saya teringat sebuah kutipan di sebuah platform media sosial “jika kamu cantik, maka 60 persen masalah hidupmu akan teratasi, jika kamu ganteng, maka 40 persen masalah hidupmu akan teratasi maka jika kamu punya uang, maka 99 persen masalah hidupmu teratasi”. Ya, benar. Uang memang bukanlah segala-galanya, tapi segalanya butuh uang. Kutipan ini sangat sederhana tapi ngena banget buat saya.

Lantas, jika sudah memiliki uang apakah kita langsung menjadi bahagia? Jawabannya bisa “ya” dan juga bisa “tidak”. Tergantung bagaimana cara pandang seseorang tentang uang. Pada hakikatnya uang hanyalah media atau alat tukar, bukan tujuan.

Konsep-konsep investasi yang mengedepankan pilihan hidup untuk bahagia dan seimbang ini banyak saya pelajari dari bukunya Mas Wuddy ini. Mulai dari keluarga, pendidikan, membangun karir, memilih lingkungan, melakukan perjalanan, pengalaman yang menginspirasi, hingga cara hidup baru di era new normal seperti sekarang, bisa kita baca dari buku ini.

Salah satu cerita menarik buat saya ada di halaman 126 buku ini. Judulnya “The Art of Doing Nothing ala Ngawi”. Dari judulnya, saya langsung tertarik dengan kata Ngawi. Maklum, saya lahir dan besar di kota kecil tersebut. Sedikit banyak pengalaman dan cara hidup orang Ngawi bisa saya pahami.

Sedikit saya ulas cerita dari orang-orang Ngawi di buku tersebut agar nggak spoiler. Sebagai orang yang berasal dari Ngawi, Mas Wuddy melakukan perjalanan pertamanya ke kota kecil tersebut tahun 1997. Ya, benar. Bisa kita bayangkan perjalanan darat di tahun tersebut berbeda 180 derajat dengan sekarang yang bisa ditempuh hanya dalam waktu 8-9 jam melalui tol Trans Jawa.

Kehidupan yang sederhana di kota Ngawi sungguh sangat berbeda dengan Jakarta. Suasana damai, tentram, dan sederhana langsung terasa saat kita ke kota Ngawi. Di kota ini, orang tidak berpikir terlalu rumit. Simple mindedness. Simple life, simple mind. Konsep waktu juga sangat sederhana. Orang-orang Ngawi hanya mengenal pagi, siang, sore, dan malam. Santuy! Kalau kata anak sekarang.

Saking santainya, kita bisa lupa waktu. Mas Wuddy juga bercerita tentang alun-alun kota yang cocok untuk mencari inspirasi dan mempraktikkan “The Art of Doing Nothin ala Ngawi”. Di sini Mas Wuddy membandingkan dengan konsep hidup mindfulness ala Jakarta, terutama investor pasar modal dalam menghadapi dinamika pergerakan saham. Sebagai investor pasar modal, kita tentu tidak mau mengalami depresi dan proses pengambilan keputusan menjadi rusak karena tidak mampu lagi berpikir jernih.

Di tempat seperti Ngawi, tidak ada alasan untuk bersembunyi dan tidak perlu ada ketakutan akan kegagalan atau merasa tidak kompeten. Sangat tulus dan sederhana. Di kota ini kita bisa menikmati keindahan dan tidak berbuat apa-apa selain hidup di masa kini alias present moment.

Dengan menggabungkan cerita ringan tentang kehidupan dan konsep investasi membuat buku ini menjadi menarik untuk dibaca. Tidak butuh teori yang njelimet untuk mengaplikasikannya dengan investasi. Bahasanya juga lugas dan sederhana.

Matur nuwun sanget buat Mas Wuddy Warsono yang sudah berbagi pengalamannya selama 22 tahun di dunia pasar modal melalui buku ini. Banyak insight baru dan seru untuk dipelajari. Btw, saya baru tau kalau Mas Wuddy satu kampung dengan saya: Ngawi.

Sekali lagi, ini bukanlah buku tentang cara menjadi kaya dalam waktu singkat. Banyak cerita ringan, cerita kehidupan yang kaya makna, dan cerita perjalanan yang menginspirasi serta penuh gizi. Buku yang membuka cara pandang baru saya tentang konsep investasi. Jauh berbeda dengan buku-buku sejenis pada umumnya.

Selamat membaca!

Judul: Memilih (Menjadi Investor) Bahagia

Pengarang: Wuddy Warsono, CFA

Harga: IDR 150k

Penerbit: Elex Media Komputindo

 

5 Shares:
2 comments
  1. Aku belum pernah ke Ngawi, apa ya destinasi wisata yang menari di sana, Chi? Semoga suatu hari bisa main ke sana. Tren investasi memang malah naik sih saat pandemi, oran makin sadar untuk menyiapkan masa depan dengan melihat saat ini yang serba tak menentu. Aku sendiri masih awam soal investasi, apalagi pasar modal dan trading gitu. Tapi baca ulasan buku ini kayaknya asyik juga, banyak cerita yang menghangatkan. Hidup orang Ngawi!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like

Cinta? Embuhlah..

“I didn’t mean to fall in love, but you made it so easy…” Jika ada yang mengatakan bahwa…
Continue Reading

Pengalaman Horor saat Ngetrip

Gimana rasanya nginep di kamar hotel sendirian? Duh, jujur saya paling nggak seneng kalau terpaksa harus nginep di…

Generasi Milenial Melek Finansial

Ngobrolin generasi milenial alias generasi Y atau orang sering menyebutnya sebagai generasi langgas  memang seru. Meskipun sering kali…