Strategi Pribadi Menghadapi Masa Resesi

Suatu ketika, di sebuah platform berbagi pengetahuan secara daring, saya membaca sebuah pertanyaan yang diajukan oleh seseroang yang kurang lebih begini:

“Bagaimana cara Anda membayar tagihan rumah tangga bulanan senilai dua belas juta, sedangkan Anda baru saja di-PHK karena Covid, dan tagihan PLN tiba-tiba membengkak drastis? Kondisi Anda tanpa tabungan dan simpanan barang berharga”.

Baca juga: Milenial di Antara Empat Tantangan Ekonomi Global

Seketika, setelah membaca pertanyaan tersebut, saya tergelitik untuk menjawab dan berbagi pengalaman dalam menghadapi kondisi serupa meski tidak sama persis. Jawaban saya dari pertanyaan tersebut kurang lebih begini:

“Berpikir jernih dulu dengan tenang. Mulai tuliskan tagihan yang dimaksud, apakah utang yang harus segera dibayar atau pengeluaran rutin bulanan. Kalau utang yang harus segera dibayar coba lihat aset yang ada untuk dijual dan melunasi utang. Komunikasikan dengan kreditur apakah bisa dicicil. Jika bunganya besar sebaiknya segera dilunasi dengan menjual aset yang ada. Kalau tagihan yang dimaksud adalah pengeluaran rutin rumah tangga, segera buat rencana pengeluaran selama 3–6 bulan ke depan sesuai kebutuhan hidup minimal. (Buang rencana pengeluaran yang tidak dibutuhkan seperti hiburan dan sejenisnya). Jual aset yang ada untuk menutup rencana pengeluaran tersebut. Setidaknya Anda punya waktu 3–6 bulan untuk berpikir tenang guna mencari penghasilan baru. Mulailah untuk berbisnis sesuai pengetahuan Anda. Jangan lupa berdoa untuk dimudahkan urusannya”.

Tak disangka dan tak dinyana, ternyata jawaban saya tersebut banyak mendapatkan respon positif dan dibagikan hingga ribuan kali hanya dalam beberapa hari. Pada mulanya, saya hanya iseng ingin membantu menjawab dengan apa yang saya bisa. Saya tidak menyangka jika tulisan singkat tersebut disukai banyak orang. Alhamdulillah jika memang bermanfaat buat orang banyak. Setidaknya, meski tidak bisa membantu secara materi, kita bisa berbagi dengan hal-hal yang bermanfaat.

Sebenarnya dari dulu saya memang menyukai dunia perencanaan keuangan. Itulah mengapa selama dua belas tahun saya betah berkecimpung di dunia perbankan, sebelum akhirnya harus berpisah dari dunia tersebut karena satu dan lain hal. Meski demikian, sampai saat ini saya masih suka dengan dunia yang berhubungan dengan literasi keuangan.

Tahun 2020 ini boleh dibilang tahun yang sangat berat bagi siapa pun, baik mereka yang berprofesi sebagai karyawan maupun pengusaha. Saya pun merasakan tahun ini adalah tahun terberat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pandemi Covid19 yang melanda Indonesia sejak bulan Maret lalu dan belum ada tanda-tanda akan pergi, membuat fundamental finansial berantakan.

Kondisi ini tentunya memberikan dampak yang luar biasa bagi dunia usaha. Orang-orang masih takut untuk bepergian dan membelanjakan uangnya. Pada akhirnya kondisi ini membuat dunia ekonomi bergerak lambat. Perlambatan ini akhirnya menyebabkan negara-negara di dunia terancam resesi, termasuk Indonesia.

Bahkan, ancaman resesi ini sudah disampaikan langsung oleh beberapa pakar ekonomi, termasuk Ibu Menkeu kita Sri Mulyani. Terus, apa sih sebenarnya resesi itu? Apa dampaknya bagi kita? Bagaimana cara menghadapinya?

Resesi, apa itu?

Secara teknikal, resesi bisa diartikan penurunan atau kemorosotan aktivitas ekonomi yang berlangsung terus-menerus, hingga menyebabkan pertumbuhan ekonomi menjadi minus atau negatif, selama dua kuartal berturut-turut dalam satu tahun. Fyi, Guys! Dalam satu tahun itu ada empat kuartal (tiga bulanan). Secara makro, pertumbuhan ekonomi bisa dilihat dari petumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB atau GDP) dalam satu kuartal.

Analogi gampangnya begini, jika dalam satu rumah jumlah uang anggota keluarga kita kumpulkan setiap bulannya meningkat, artinya kondisi ekonomi bagus. Sebaliknya jika jumlah uang yang dikumpulkan setiap bulannya terus menurun, artinya ekonomi keluarga kita tumbuh negatif.

Setiap anggota keluarga mendapatkan penghasilan dari gaji, untuk membiayai kebutuhan hidup. Nah, bayangkan, jika selama enam bulan (dua kuartal) berturut-turut gaji atau penghasilan dipotong terus menerus sehingga kita tidak mampu membiayai kebutuhan hidup minimal. Apa yang akan terjadi dengan kehidupan keluarga kita selanjutnya? Mau tidak mau kita harus bisa menutup pengeluaran dengan meminjam uang atau utang. Atau solusi lainnya dengan mencari penghasilan tambahan.

Bayangkan jika itu terjadi di suatu negara, yang indikator atau alat ukurnya adalah PDB tadi. Apa yang akan terjadi jika pertumbuhannya terus negatif? Tentu ini akan mengancam kestabilan ekonomi seluruh warganya. Secara makro, pertumbuhan kondisi ekonomi akan dilaporkan setiap tiga bulan sekali (satu kuartal). Laporan keuangan setiap satu kuartal tersebut juga menjadi acuan standar laporan keuangan perbankan. Itulah alasan mengapa jangka waktu deposito di perbankan akan bertenor satu, tiga, enam, dan dua belas bulan. Jangka waktu tersebut disesuaikan dengan laporan keuangan yang diterbitkan setiap kuartal.

Jika resesi ini berlangsung lama dan berkepanjangan, maka kondisi ekonomi bisa disebut depresi. Depresi ekonomi yang semakin parah akan menyebabkan great depression. Jadi, sampai sini sudah tau, ya, bedanya resesi, depresi, dan great depression.

Belajar dari pengalaman dan sejarah resesi di Indonesia

Sebenarnya resesi ekonomi adalah hal yang wajar dalam satu siklus ekonomi. Indonesia sendiri sejak merdeka tahun 1945 sudah mengalami beberapa kali siklus resesi. Namun, saya tidak mengalami semuanya. Resesi ekonomi yang pernah saya rasakan pertama kali saat tahun 1998. Meski saat itu masih kecil dan tidak terlalu banyak tau, dampaknya sangat terasa. Terutama saat uang saku sekolah dipotong dan keluarga harus berhemat untuk memenuhi kebutuhan hidup karena harga pangan yang tiba-tiba menjadi mahal.

Resesi yang kedua terjadi tahun 2008. Gonjang-ganjing politik dalam negeri dan kasus kebangkrutan terbesar di Amerika Serikat menjadi penyebab resesi di tahun ini. Kondisi ini turut membuka borok pasar keuangan Amerika yang pasar bergantung kepada aset ‘busuk’. Meski imbasnya tidak begitu terasa bagi Indonesia, tapi pertumbuhan ekonomi negara kita tahun 2008 sempat menurun jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya (year on year).

Lalu, krisis ekonomi selanjutnya terjadi tahun 2015. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun tersebut turun dari 5,02 di tahun 2014 menjadi 4,79. Terendah dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.  Berbagai tekanan dan pergeseran fundamental ekonomi dunia menjadi faktor utama. Meski demikian, dampaknya tidak separah dengan tahun 1998. Fundamental ekonomi Indonesia sendiri saat itu sudah jauh lebih kokoh.

Nah, kalau resesi terjadi di Indonesia, apa dampaknya?

Nggak cuma berdampak pada ekonomi negara-negara di dunia aja, lho. Resesi itu ibarat wabah. Efek dominonya bisa menular dari satu negara ke negara lain. Dari ekonomi suatu negara merembet ke ekonomi secara personal. Yah, yang namanya rantai ekonomi kan, sambung menyambung. Ingat rumus dasarnya: pengeluaran kita adalah penghasilan bagi orang lain. Kalau orang-orangnya takut belanja dan mengerem pengeluarannya. Hasilnya pendapatan orang lain tentu akan turun.

Jika pendapatan menurun, maka bisa dipastikan daya beli pun menurun. Hal ini akan berimbas pada industri dan usaha yang ada di suatu negara. Para pengusaha tentu sudah berhitung untuk mengurangi kerugian. Salah satunya dengan melakukan PHK untuk melakukan efisiensi biaya. Jika gelombang PHK terjadi, maka masyarakat yang mengandalkan gaji bulanan untuk menopang hidup akan kehilangan pendapatannya. Kondisi ini akan mengakibatkan tingkat kemiskinan meningkat.

Sebenarnya, imbas resesi ini nggak cuma menimpa golongan menengah ke bawah saja, lho. Kalangan menengah ke atas yang berinvestasi di pasar modal pun kena imbasnya. Nilai-nilai portofolio investasi akan menurun. Investor akan lebih banyak mengambil posisi bermain aman. Selain itu, imbas lain dari resesi membuat kurs dolar jadi nggak stabil.

Bagaimana strategi menghadapi resesi?

Bagi sebagian besar orang, resesi memang terkesan menakutkan. Namun, buat sebagian lain akan terasa biasa saja. Tergantung dengan cara kita menyikapinya. Then, strategi apa yang harus kita siapkan agar saat resesi kita bisa tetap survive? Berikut beberapa cara yang saya pelajari dari berbagai sumber.

Jaga kesehatan mental

Buat saya menjaga kesehatan mental jauh lebih penting. Tidak perlu takut yang berlebihan tapi juga jangan sembrono. Menjaga kesehatan mental, akan membuat imun tubuh makin kuat untuk menghadapi segala perubahan yang serba tidak pasti dan bisa membuat stress. Kadang, saya sendiri mencoba untuk “mempersempit sudut pandang”. Tau lebih banyak tentang sesuatu seringkali membuat kita stress. Lebih baik fokus pada solusi daripada tau banyak tentang masalahnya.

Stop pengeluaran hedon

Jika sebelumnya kita terbiasa hidup dengan prinsip “Bagaimana nanti ajalah”, kini, saat yang tepat untuk berubah dan mulai berpikir “Nanti bagaimana?” ketika harus mengambil keputusan finansial. Harus bijak mengontrol keuangan agar bisa hidup stabil dan bahagia. Kurang-kurangi gaya hidup hedon seperti nongkrong di kafe dan membuang prinsip “Biar tekor asal kesohor”.

Stop utang konsumtif dan mulai melunasi

Utang konsumtif yang tidak penting sebaiknya mulai ditinggalkan. Belilah barang sesuai dengan kemampuan. Jika masih mempunyai utang dengan bunga tinggi sebaiknya mulai dilunasi dari sekarang. Jangan sampai bunga utang makin membengkak seiring berkurangnya penghasilan di saat resesi.

Mulai belajar hidup minimalis

Sejak membaca buku “Seni Hidup Minimalis”, saya mulai tertarik untuk menerapkan gaya hidup sederhana dan minimalis. Saya mulai mengurangi belanja barang seperti baju, travel gear, dan lain-lain. Toh, barang-barang tersebut pada akhirnya hanya memenuhi kamar dan membuat sumpek. Menerapkan strategi hidup minimalis seperti ini sangat cocok untuk menghadapi resesi.

Memperbanyak dana darurat

Resesi bisa berlangsung singkat tapi juga bisa berlangsung lama. Tergantung seberapa cepat wabah Covid19 akan berakhir. Jika berlangsung lama, perekonomian bisa semakin tidak pasti. Mulailah memperbanyak dana darurat untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak pasti, seperti kehilangan pekerjaan ataupun hal-hal darurat lainnya.

Meningkatkan penghasilan dan disiplin menerapkan perencanaan keuangan

Banyak cara untuk mengubah kesempitan menjadi peluang. Mulai berbisnis daring atau mencari peluang lainnya untuk menambah penghasilan. Satu hal yang sangat penting untuk dilakukan adalah disiplin dalam mengontrol dan melakukan perencanaan keuangan. Ini bisa menjadi senjata agar kita tetap survive di masa resesi nanti.

Bantu UMKM dengan belanja

Salah satu cara untuk menjaga roda perekonomian tetap berjalan adalah dengan melakukan aktivitas belanja. Ingat! Pengeluaran kita menjadi pendapatan bagi orang lain. Dengan belanja, setidaknya kita bisa mengurangi risiko resesi dan membuat perekonomian bergerak. Ingat pula bahwa karakteristik perekonomian Indonesia mayoritas ditopang oleh UMKM. Mulailah belanja ke warung-warung tetangga.

Semoga tips-tips ini bisa menjadi strategi kita untuk menghadapi masa resesi yang tidak pasti.

3 Shares:
5 comments
  1. Yes, mempersempit sudut pandang, as i told you before. Seperti pendapatku waktu itu, klo lagi masa sulit kayak gini, mandangnya jangan jauh2. Nggak perlu memandang kondisi ini seluas negara. Nanti stres sendiri. Cukup sempitkan pandang, hanya seluas diri/keluarga kita. Fokus pikirin diri/keluarga sendiri aja.

  2. Relevan banget nih, Chi. Bencana resesi memang berat dan menakutkan siapa saja bahkan pas baru diomongin. PR banget nih buat meningkatkan penghasilan dan beresin utang walaupun bukan konsumtif. Untuk belanja UMKM sih sebisa mungkin ya buat dukung ekonomi lokal, itung-itung juga bantu tetangga. Sambil nunggu wabah terhenti, aku banyakin doa deh semoga ekonomi segera membaik dan negara kembali bangkit. Terima kasih saran dan pandangannya, Chi.

  3. Dalam kadar tertentu ya akhirnya balik ke pepatah Jawa “urip kuwi mung sak dermo nglakoni”, sambil usaha terbaik dan berdoa, kita jalani saja skenario Tuhan ini dengan luwes dan optimisme. Aku setuju banget bahwa perencanaan keuangan mestinya jadi panduan wajib setiap orang dan keluarga, ga cuma pas pandemi menjelang resesi begini.

  4. Aku suka artikel ini. Kamu bisa jelasin tentang resesi, dampaknya, dan bagaimana cara menghadapinya dengan bahasa yang mudah dipahami. Yes, aku setuju dengan pendapatmu bahwa sekarang adalah saat yang tepat untuk mengubah mindset. Dunia sedang berubah, manusia harus sigap beradaptasi, termasuk dalam hal ekonomi juga gaya hidup. Yang nggak perlu-perlu banget nggak usah dulu lah ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like

Kirim Paket Hemat dengan Paxel

Jujur, saya jarang banget yang namanya kirim-kirim barang. Malah sebaliknya, saya sering banget terima barang kiriman dari kurir…

Generasi Milenial Melek Finansial

Ngobrolin generasi milenial alias generasi Y atau orang sering menyebutnya sebagai generasi langgas  memang seru. Meskipun sering kali…