Empat Jam Menuju Pantai Sedahan, Disambut Badai Pasir Semalaman

Ransel, daypack, tenda, dan peralatan kemping sudah tertata rapi di atas motor. Siang itu, kami berempat berencana kemping di Pantai Sedahan. Buat saya, nama pantai ini cukup asing dan baru pertama kali mendengarnya. Perjalanan dimulai dari pusat kota Jogja. Setelah satu hari menginap di hotel, hari itu kami check out dengan membawa peralatan yang menggunung.

Sejam kemudian, motor membawa kami menuju kawasan Gunung Kidul di selatan Jogja. Jika dilihat dari Google Maps, perjalanan menuju Pantai Sedahan akan ditempuh selama kurang lebih dua hingga dua setengah jam sampai di titik akhir daerah Wonosari yang terdeteksi oleh aplikasi. Setelahnya, kami akan mengandalkan informasi dari penduduk lokal untuk menuju pantai tempat kita kemping.

Kami berempat dari Jakarta tanpa disertai penduduk lokal. Targetnya, sebelum Magrib harus sudah sampai di lokasi. Kami juga tidak ingin kebut-kebutan di jalanan. Santai saja, toh hanya sekitar dua jam perjalanan. Kalaupun meleset paling menjadi dua setengah atau tiga jam-an. Kami juga berencana akan beristirahat sambil makan siang di daerah Gunung Kidul.

Baca juga: Soto Kemangi Pasar Kotagede

 

Buat saya pribadi, ini merupakan kali pertamanya perjalanan jarak jauh dengan menggunakan motor alias touring. Saya sendiri tidak berekpektasi apa pun dengan perjalanan ini. Saya hanya berusaha menikmati pemandangan yang disuguhkan alam Jogja. Toh, Jogja bagi saya sendiri bukan tempat asing untuk bertualang atau mengeksplorasi alam. Jogja buat saya adalah “rumah” untuk leyeh-leyeh melepaskan kepenatan. Saya lebih suka menikmati Jogja dengan cara sendiri. Tapi, berhubung ini bukan perjalanan pribadi, mau tidak mau saya harus mengalahkan ego dan ikut teman-teman touring ke Pantai Sedahan.

Aspal dan cuaca kota Jogja siang itu cukup terik. Motor perlahan kita pacu menuju dataran tinggi Gunung Kidul. Jalanan mulai berliku naik-turun. Saya sendiri memilih menjadi driver ketimbang membonceng di belakang. Dengan begini, pandangan saya lebih leluasa menikmati jalanan. Sialnya, helm yang saya pakai cukup sempit hingga membuat kepala sedikit pusing. Kaca helmnya pun tidak bisa disetel naik-turun. Mau tidak mau harus saya ganjal dengan kertas. Beruntungnya, saya dipinjami kacamata oleh teman, jadi mata tidak perih dan silau terkena debu jalanan.

Pasir Pantai Sedahan sangat bersih dan lembut seperti bedak bayi

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam-an, kami beristirahat di sebuah mini market. Sambil membeli logistik untuk kemping, saya merenggangkan otot kaki dan punggung. Ini kali pertamanya saya ke daerah Wonosari, Jogjakarta. Dalam bayangan saya, daerah Wonosari, Gunung Kidul merupakan daerah terpencil yang kering dan tandus. Saat musim kemarau akan kesulitan mencari sumber air bersih seperti yang diberitakan di televisi.

Jika dihitung jaraknya dari pusat kota Jogja, daerah Wonosari memang terbilang cukup jauh dan terpencil. Apalagi untuk menuju Pantai Sedahan. Namun, kalau dibilang kering dan tandus seperti yang diberitakan, saya rasa tidak demikian. Pepohonan di kanan-kiri jalan cukup rimbun dan hijau. Mungkin, saya kurang mengeksplorasi karena hanya melihatnya dari jalanan utama. Bisa jadi.

Meskipun jauh dari pusat kota, daerah Wonosari bukanlah daerah yang terbelakang seperti yang saya pikirkan sebelumnya. Sepanjang jalan, infrastruktur di kabupaten Wonosari ini cukup baik dan lumayan maju. Jalanan utamanya pun sangat mulus. Beberapa gedung perkantoran dan sarana publik seperti rumah sakit, pasar daerah, masjid agung, alun-alun, dan taman untuk ruang interaksi antarwarga tampak sangat terawat. Sayangnya, karena saya menjadi driver, jadi tidak bisa mengabadikan pemandangan tersebut.

Keluar dari Jalan Utama Menuju Pantai Sedahan

Pengunjung yang kemping di Pantai Sedahan bisa dihitung jari.

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih tiga jam, Google Maps mengarahkan kami untuk belok kanan dari jalan utama. Dalam hati saya membatin, alhamdulillah akhirnya sampai juga. Setelah keluar dari jalan utama antarprovinsi, pemandangan mulai berubah perlahan-lahan. Bergantian antara pemukiman warga dan hutan jati. Demografi wilayahnya juga mulai naik turun.

Awalnya saya cuma berpikir, paling dari jalan utama menuju pantai kurang lebih lima belas menit atau paling banter setengah jam. Tapi, setelah setengah jam berlalu, hawa-hawa Pantai Sedahan belum juga terlihat. Di sepanjang jalan hanyalah pepohonan jati. Saya baru ingat kalau jarak antara Wonosari menuju Pantai Sedahan terputus di titik akhir yang terjangkau oleh Google Maps. Saat ini, Google Maps masih berfungsi dengan baik. Ini artinya perjalanan masih panjang.

Secara nggak sadar, tiba-tiba mata saya melirik ke arah indikator tangki BBM. Tinggal dua strip dari yang semula penuh. Saya mulai sedikit khawatir karena pemukiman penduduk sudah mulai jarang. Saya menyesal karena tadi lupa isi ulang bensin saat di jalur utama. Pokoknya cuma bisa berdoa semoga bertemu dengan penjual bensin eceran. Jangan sampai kehabisan bensin di tengah jalan, apalagi hari mulai sore. Jam tangan sudah menunjukkan waktu pukul empat kurang.

Setelah beberapa waktu, akhirnya kami bertemu dengan penjual bensin eceran. Alhamdulillah. Kami beristirahat di teras rumah penjual bensin sambil membeli minum dan bertanya berapa lama lagi kami akan sampai ke Pantai Sedahan. Sinyal di Google Maps sudah mulai hilang tapi hawa-hawa pantai belum juga ditemukan.

Kami mulai meneruskan perjalanan dengan mengandalkan informasi dari penduduk setempat yang kita temui. Jalanan mulai menyempit dan naik turun. Di sebuah pertigaan kami sempat tersasar karena informasi penduduk yang tidak akurat. Agak ngeri juga karena hari sudah mulai gelap dan jalanan semakin terjal. Pemukiman penduduk juga makin jarang.

Dengan optimistis dan mengandalkan feeling, akhirnya kami sampai juga di sebuah gerbang bertuliskan Pantai Wedhi Ombo. Dari informasi yang kami baca sebelumnya. Lokasi Pantai Sedahan sudah tidak terlalu jauh dari titik ini. Petugas menginformasikan agar kami berhati-hati karena sebentar lagi kami akan tiba di ujung jalan yang beraspal. Selanjutnya, jalanan mulai rusak dan menanjak. Sekitar lima belas menit berlalu, jalur yang sesungguhnya mulai tampak di depan mata. Tidak ada aspal. Hanya bebatuan diselingi jalur beton kecil yang terputus-putus karena masih dalam pembangunan swadaya masyarakat.

Milky Way di Pantai Sedahan

Saat berada di titik atas tikungan, teman saya sempat panik dan memberi tahu kalau HP-nya hilang dari kantung jaket. Kemungkinan besar terjatuh karena guncangan. Akhirnya kami berhenti dan beristirahat. Kami berinisiatif membagi kelompok, dua teman saya turun duluan menuju Pantai Sedahan untuk memasang tenda, saya menunggu barang-barang bawaan di atas, sementara teman saya yang HP-nya jatuh, mencari sendiri ke jalur sebelumnya dengan menggunakan motor. Maklum, hari sudah mulai gelap dan treknya semakin terjal.

Setelah beberapa waktu, teman saya kembali dengan wajah sumringah karena HP-nya ketemu. Sekitar pukul lima sore akhirnya kami sampai juga di titik akhir pos Pantai Sedahan. Sambil melepas penat dan menitipkan motor di sebuah warung, kami memesan nasi goreng dan mi instan. Saya cuma membatin, “Untung hari cerah dan tidak hujan, kalau hujan, mending saya tidur di hotel daripada sengsara di perjalanan.” Hehehe. Memang saya akui, saya bukan tipikal pejalan ekstrem garis keras. Saya mau senang-senang bukan mau sengsara di perjalanan.

Badai Pasir di Pantai Sedahan

Muka-muka bahagia setelah menempuh perjalanan selama empat jam menuju Pantai Sedahan

Menjelang Magrib, kami mulai membangun tenda di pinggir pantai. Awalnya, saya mengira akan cepat mendirikan tenda. Toh, udah biasa juga, paling butuh waktu sekitar sepuluh menit. Tapi ternyata, sore itu angin pantai sangat kencang. Bahkan, untuk mendirikan satu tenda pun kita butuh empat orang. Beberapa kali pasaknya sempat tercabut dan membuat tenda berterbangan. Setelah kurang lebih setengah jam, tenda akhirnya berdiri. Itu pun dibantu sama mas-mas guide tenda tetangga sebelah dengan menambahkan pasak dari kayu.

Badai angin bercampur pasir belum juga reda. Saya langsung masuk ke dalam tenda agar mata tidak kelilipan dan tendanya tidak terbang tertiup angin saking kencangnya. Sampai tengah malam badai yang bercampur pasir belum juga usai. Baru kali ini saya tidur di pantai dengan menggunakan baju panjang lengkap dengan selimut saking dinginnya. Saya malas keluar karena tenda akan penuh pasir jika dibuka. Kami tidur dengan ditemani ‘guyuran’ pasir pantai. Gagal sudah rencana ngopi-ngopi ‘with the view’ di pantai saat malam hari.

Dini hari, badai pasir mulai reda. Teman-teman saya mulai keluar untuk berfoto ria dengan latar ‘milkky way’. Saya sendiri milih tidur meski saya akui pemandangan di Pantai Sedahan saat malam memang sangat indah. Apalagi di sini tidak ada sinyal. Pengunjungnya pun tidak banyak. Sepanjang pantai, jumlah tenda yang berdiri bisa dihitung jari. Nggak sampai sepuluh buah. Jadi pantainya lumayan sepi.

Paginya, saya baru bisa menikmati pantai dan berkenalan dengan penghuni tenda sebelah. Ternyata mereka pengunjung dari Jakarta. Tidak banyak pengunjung lokal. Mungkin karena bukan akhir pekan.

Saat berkeliling pantai, saya merasakan pasir Pantai Sedahan ini sangat lembut. Warna pasirnya juga putih bersih. Butirannya sangat halus mirip bedak bayi. Selama di pantai, pengunjung dilarang mandi karena ombaknya sangat kuat. Maklum, Pantai Sedahan ini berada di pesisir selatan Pulau Jawa yang arusnya terkenal kuat karena menghadap langsung ke Samudra Hindia. Akhirnya, setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih empat jam dengan penuh drama, saya bisa menikmati secuil keindahan yang jauh dari hiruk pikuk kota.

 

 

 

 

 

 

 

3 Shares:
11 comments
  1. Di daerah gunung kidul memang banyak sekali pantai. Menurutku seperi “Balinya Jawa”. Eh tapi itu seriusan ada milky way?? Whoaaaa masuk ke bucket list deh kalau begitu pantai sedahan.

  2. Waaa senengnyaaa bisa ketemu blog travel ini. Sebelumnya salam kenal, ya, Kak! 😀

    Baca tulisan ini bikin kangen banget sama Jogja. Lupa kapan terakhir ke sana dan emang bener ya, Jogja tuh enggak ada habisnya untuk di-explore. Ahhh semoga pandemi lekas berakhir, kangen banget jalan-jalan lagi.

  3. ya ampuuuuun, pantainya bagus, kebayang pasirnya halus tuh betah deh jalan barefoot gitu di sepanjang pantainya. Itu memang pantainya masih sepi ya and belum banyak dikenal orang ya? Masih bersih banget soalnya. Jadi kangen ke pantai deh

    1. Huaah ngebayangin d posisi Kak Achi saat bada pasir bkayaknya aku bakal parno sendiri. Btw Aku baru denger nama pantai ini juga padahal orang keturunan Gunkid hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like

Kutipan Tafsir Al Misbah

Berikut ini adalah kutipan-kutipan dari #TafsirAlMisbah yang disampaikan oleh Pak Quraish Shihab selama bulan Ramadan kemarin Jangan pernah…