Cerita Inspiratif Laura Aurelia, Atlet Difabel yang Bangkit dari Keterpurukan

Di tengah kondisi pandemik yang tidak pasti seperti ini, banyak hal yang bisa dilakukan agar hidup terus berjalan sesuai dengan kondisi normal baru yang kita inginkan. Memang, semua kegiatan yang sering kita lakukan saat kondisi normal, tak bisa lagi dilakukan dengan sama seperti sebelumnya.

Kondisi ini seperti yang diobrolkan narasumber inspiratif dalam bincang-bincang live yang dihadirkan melalui akun Instagram @homecreditid tadi malam. Beruntungnya, saya bisa mengikuti bincang-bincang tersebut. Bincang seru selama satu jam ini bertajuk #AyoMajuBersama dengan topik “Tetap Asik Hadapi Momen Serba Gak Pasti”.

Mau tahu cerita lengkapnya? Baca terus, ya!

Bincang-bincang live tadi malam menghadirkan Laura Aurelia Dinda. Obrolan seru ini banyak menambah insight baru bagi saya. By the way, buat yang belum tau, Laura ini adalah atlet renang difabel, lho. Nggak nyangka sih, sedari kecil, Laura udah menggemari olahraga renang. Padahal, mulanya Laura berenang hanya untuk terapi asma. Ia mulai berenang saat umurnya sekitar tujuh tahun atau kelas empat SD.

Karena terlanjur jatuh cinta sama dunia renang, ia pun rajin berlatih setiap hari. Beruntungnya, Laura mendapatkan dukungan penuh dari kedua orang tuanya. Nah, berkat dukungan tersebut, Laura mulai mengikuti kejuaraan. Saat itu, ia beberapa kali mengikuti kejuaraan di provinsi untuk tingkat nasional. Salah satunya, Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) 2015. Tuh, kan! Hobi apa pun kalau mendapatkan dukungan dari keluarga tercinta, pasti hasilnya bisa maksimal.

Makanya, saya suka heran kalau ada orang tua yang sering melarang kegiatan yang dianggap tidak sesuai dengan pilihan orang tua. Pelajaran buat saya pribadi, selama kegiatan tersebut positif dan tidak merugikan, sebaiknya didukung. Toh, hasilnya pasti akan membanggakan keluarga. Iya, nggak?

Eh, karena hobinya ini, Laura pun keterusan sampai bisa menjadi atlet nasional dan menjuarai berbagai pertandingan, lho. Salah satunya pada ASEAN Para Games 2017. Keren, ya! Oya, Laura pernah mengalami kecelakaan tepat sehari sebelum kejuaraan POPDA 2015. Ia jatuh di kamar mandi. Beruntungnya, niatnya untuk bertanding tidak terhalangi gara-gara musibah tersebut. Hingga satu bulan setelah kejadian tersebut, ia masih bisa beraktivitas seperti normal.

Beberapa waktu setelahnya, Laura mengalami kecelakaan lagi. Saat itu, ia tengah membungkuk untuk mengambil ponselnya yang jatuh di lantai. Ternyata, akibat jatuh di kamar mandi yang pernah ia alami beberapa waktu lalu membuat tulang belakang Laura patah. Ketika membungkuk, tulangnya terpisah. Setelah diperiksakan ke dokter, syaraf Laura tidak bisa ditolong lagi. Akibatnya, ia pun menderita kelumpuhan permanen dan harus duduk di kursi roda untuk selamanya.

Meski sempat mengalami putus asa dan depresi, Laura harus bisa menerima kenyataan. Ia pun mulai bangkit dan mulai dari nol lagi. Baginya, ini adalah titik terendah dalam hidup. Berkat kegigihan dan keuletannya dalam berlatih renang, kerja keras Laura berbuah manis. Olimpiade Paralimpik Nasional (Peparnas) XV tahun 2016 menjadi ajang pertamanya sebagai atlet paralympic.

Selain itu, Laura juga berhasil memecahkan rekor ASEAN Para Games yang sebelumnya dipegang atlet Thailand. Ia berhasil membawa pulang dua medali emas dari ASEAN Para Games 2017. Salut, deh!

Lagi-lagi semua berkat dukungan keluarga, terutama ibunya. Satu hal yang bisa dipelajari dari kisah Laura, dukungan keluarga itu penting banget untuk kemajuan seseorang. Pelajaran lainnya yang bisa ditiru adalah keterbatasan fisik tidak membatasi dirinya untuk berprestasi.

FYI, selain jago renang dan menjadi atlet, Laura juga menjadi mahasiswi psikologi di Universitas Gajah Mada, lho. Ia pun sempat bercerita kalau suatu saat ingin menjadi psikolog yang bermanfaat dan bisa membantu atlet sekaligus memajukan dunia renang. Semoga cita-cita dan harapannya segera terwujud, ya. Amin.

Semoga, kisah Laura dan motivasinya untuk bangkit dari keterpurukan serta menghadapi dunia yang tidak pasti, bisa menginspirasi. Satu hal yang bisa dipelajari: untuk sukses kita harus bisa menerima diri sendiri. Terima kasih banyak Laura. Semoga obrolan inspiratif seperti ini makin banyak. Jangan patah semangat, untuk terus berkarya dan membagikan inspirasi #AyoMajuBersama dan ikuti terus obrolan-obrolan seru dan inspiratif lainnya di akun Instagram @homecreditid setiap minggunya. Kalau Laura bisa bangkit dari keterpurukan, kita pun mempunyai kesempatan yang sama. Never give up!

 

0 Shares:
10 comments
  1. Wah ceritanya sangat menginspirasi kak, saya pernah baca tentang Laura ini tapi ternyata banyak banget ya prestasinya. berkaca dari Laura, saya semakin bersyukur kepada Tuhan dengan apa yang saya miliki hari ini, semoga niat kuliahnya Laura tercapai ya untuk menjadi psikolog

  2. Ga nyangka Laura yg awalnya berenang untuk terapi asma, malah jadi atlit renang. Dari sekian banyak orang yg terpuruk krna difabel, Laura malah bangkit menginspirasi banyak orang. Lovee, Laura ♥️

  3. Sangat menginspirasi sekali cerita Laura ini ya, Mas. Terkadang saya malu juga yang normal sering mengeluh, padahal Laura saja penuh semangat dan berhasil bangkit dari terkepurukannya dan menjadi atlet renang, plus berhasil dalam akademiknya juga.

    Kisah Laura ini semakin membuka mata kita, kekurangan bukan penghalang untuk maju. setiap orang punya kelebihan dan kekurangan, maka harus terus semangat meraih cita-cita.

  4. Jadi awalnya dia memang difabel lalu kecelakaan di kamar mandi dan harus selamanya pakai kursi roda? Hiks bener2 hebat ya bisa bangkit dari keterpurukan. Aku dulu kecelakaan motor pe tangan patah aja rasanya udah terpuruk banget sedih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like

Kota Solo

Kalau mendengar kota Solo mungkin dalam bayangan kita yang muncul adalah kota tempat presiden RI ketujuh berasal. Apa…