Menilisik Semarang yang Penuh Kenang

Sebagai kota yang berada di wilayah pesisir, Semarang seringkali dianggap sebagai kota yang memiliki cuaca panas dan lembap sebagaimana kota-kota pesisir lainnya seperti Batavia, Cirebon, dan Surabaya yang memiliki julukan bandar dagang internasional. Namun, sejatinya wilayah Semarang tidak hanya berada di jalur Pantura.

Sebagian Kota Semarang memang membentang di jalur Pantura yang bersejarah. Jalur ini membentang 1.000 kilometer dari Anyer, Jawa Barat ke Panarukan, Jawa Timur. Pada masa Hindia Belanda, jalur pantura dibangun oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels hanya dalam waktu satu tahun, yakni 1808-1809.

Tak hanya jalur Pantura, pada masa kolonial Belanda, jejak-jejak kota metropolitan klasik masih bisa kita nikmati hingga kini. Kota lama Semarang meninggalkan puluhan bangunan bersejarah yang sayang untuk dilewatkan.

Sepenggal kisah dari masa lalu

Sayup-sayup derit roda kereta mulai melambat saat memasuki Stasiun Tawang. Saat kereta berhenti dengan sempurna, langkah kaki saya mulai cepat mengikuti arus penumpang yang menuruni gerbong kereta. Hawa sejuk menyambut saya malam itu. Kota Semarang baru saja basah oleh hujan. Sambal menunggu driver ojol, saya mengamati kawasan sekitar Kota Lama Semarang.

Empat tahun berlalu setelah terakhir kali ke kota ini, kini Semarang telah berdandan cantik. Sepanjang jalan menuju tengah kota, saya melihat perubahan yang sangat signifikan. Untuk kali pertama kota pesisir ini mendapat penghargaan sebagai kota terbersih di Asia Tenggara.

Saya berencana untuk menjelejahi Semarang selama tiga hari ke depan. Tujuan saya bukan hanya di kotanya saja, tetapi juga daerah Semarang Kabupaten. Dalam sejarahnya, Kota Semarang dan kota-kota pesisir lainnya di Indonesia seperti Batavia, Cirebon, dan Surabaya dijadikan Belanda sebagai salah satu pusat pemerintahan kala itu.

Gedung-gedung tua masih berdiri kokoh di sepanjang jalan. Bangunan ini menjadi saksi sejarah bahwa di  masa lampau kota ini pernah menjadi salah satu kota metropolitan. Yang membuat saya takjub, bangunan kota lama Semarang tak pernah tergilas oleh modernitas. Seolah mencerminkan toleransi antara bangunan lama dengan bangungan baru.

Di Indonesia sendiri, tak banyak sisa-sisa bangunan lama yang masih berdiri apik. Banyak gedung-gedung tua yang sudah tergilas oleh perubahan dan modernitas. Sebagian besar bangunan hanya tersisa dan tertulis dalam kisah di buku-buku sejarah.

Perjalanan menuju Restoran Bandeng Juwana hanya butuh waktu beberapa menit. Di sana, saya akan temu ramah dengan teman-teman di Semarang. Kami menyepakati Restoran Bandeng Juwana menjadi titik temu teman-teman yang akan melakukan perjalanan di Semarang esok hari. Tak semuanya berasal dari Semarang, beberapa di antaranya berasal dari kota lain. Antarkota lintas provinsi, begitu saya menyebut pertemuan ini.

Usai menikmati asem-asem bandeng dan segelas jeruk hangat, kami menyudahi obrolan ngalor-ngidul malam itu. Boleh dibilang, Bandeng Juwana ini menjadi salah satu tempat favorit saya di Semarang. Ragam kuliner khas berbahan dasar bandeng memang sangat menggoda. Berbeda dari olahan daging bandeng yang sering saya temui, bisa dipastikan semua masakan bandeng di sini tidak berbau tanah seperti halnya ikan-ikan air tawar yang dibudidayakan.

Keriuhan malam itu harus berakhir karena esok masih ada jadwal panjang yang menanti. Usai berswafoto, kami pun bergegas pulang ke hotel.

Menelisik Kabupaten Semarang

Udara pagi Kota Semarang lumayan sejuk. Usai menikmati semangkuk soto bening khas Semarang, pagi ini kami berencana melipir ke arah selatan Semarang. Tepatnya di daerah Bandungan.

Kota yang dikenal sebagai ibu kota Provinsi Jawa Tengah ini, tak hanya memiliki wisata kota lama yang menjadi salah satu ikon Semarang. Kawasan Kabupaten Semarang yang berada di selatan dikenal memiliki udara yang lebih sejuk bila dibandingkan dengan Semarang kota. Rencananya, kami akan mengunjungi beberapa daerah wisata yang cukup terkenal di Kabupaten Semarang.

Perjalanan menuju Kabupaten Semarang ditempuh kurang lebih satu setengah jam melalui tol Semarang-Ungaran. Sekitar pukul 10 pagi kami tiba di hotel C3 Ungaran sebagai titik temu pertama dengan teman-teman Famtrip Semarang. Famtrip ini digagas oleh dinas pariwisata Jawa Tengah.

Destinasi pertama yang akan kami kunjungi adalah Pabrik Sidomuncul. Di sini kita akan diajak berkeliling untuk menyaksikan proses pengemasan produk-produk dari Sidomuncul. Di kawasan pabrik ini juga dilengkapi kebun binatang mini. Di sini kami diajak berkeliling untuk menyaksikan ragam binatang yang dimiliki Pabrik Sidomuncul.

Usai menikmati kebun binatang mini, kami langsung menuju pendopo utama. Di sini kami akan mengikuti saresehan dengan tim dari Sidomuncul. Bangunan utama pendopo ini menghadap danau buatan. Suasana pagi cukup sejuk karena diguyur hujan. Begitu kelar saresehan kita disuguhi jamu kunyit asem khas Sidomuncul. Matahari sudah mulai tinggi, kami melanjutkan perjalanan menuju ke Umbul Sidomukti.

Perjalanan ditempuh selama kurang lebih satu jam. Di sini kami menikmati sejuknya hawa pegunungan.

-Bersambung-

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like
Continue Reading

Pengalaman Horor saat Ngetrip

Gimana rasanya nginep di kamar hotel sendirian? Duh, jujur saya paling nggak seneng kalau terpaksa harus nginep di…

Para Priyayi, Sebuah Novel

Apakah arti dari sebuah kata “Priyayi”? Priyayi dalam budaya Jawa adalah kalangan yang berasal dari keturunan bangsawan atau…