Stunting pada Anak, Kenali dan Cegah Sejak Dini

Ketua Yayasan Al Hadi, Ibu Hanifah Qowiyatun di antara narsum (baju putih)

Stunting, apa itu? Mungkin nggak semua orang akrab dan paham istilah stunting. Kebetulan Sabtu, 25 Januari kemarin, saya berkesempatan ikut acara bincang-bincang tentang stunting yang diinisiasi oleh Yayasan Al Hadi bekerja sama dengan PT Mayora Indonesia. Acara yang bertema “Kenali Stunting dan Cara Mencegahnya” tersebut bertepatan dengan peringatan Hari Gizi Nasional 2020.

Saya sendiri memang sudah sering mendengar istilah stunting. Tapi, dampak buruk dan penyebab dari stunting memang belum tau banyak. Saya suka bagaimana acara ini mengajak anak muda milenial dan calon orangtua untuk membuka mata dan memahami lebih jauh tentang darurat stunting di Indonesia.

Serunya lagi, talkshow ini diisi oleh para pakar yang mumpuni di bidangnya. Ada dr. Sandy Prasetyio, SpOG, Hj. Netti Herawati (Ketua Himpunan Pendidik Usia Dini Indonesia), Ibu Farah Amini perwakilan dari Kemenkes, Reisa Broto Asmoro (Brand Ambassador Le Mineral, artis sekaligus duta untuk melawan stunting), Ibu Athalia Ridwan Kamil (Istri Gurbernur Jawa Barat). Acara ini juga dihadiri oleh Ibu Wapres Wury Ma’ruf Amin.

Stunting, Apa Itu?

Jadi, stunting adalah kondisi di mana anak tumbuh kerdil, tidak sesuai dengan pertumbuhan pada usia yang seharusnya. Kondisi ini bisa menghambat perkembangan otak yang membuat kecerdasan anak tidak maksimal. Jika kondisi ini dibiarkan berlarut-larut dan tidak segera dicegah sejak dini akan mengakibatkan penurunan kualitas generasi Indonesia.

Apa Penyebabnya?

Festival Anak Ceria

Penyebabnya banyak, di antaranya adalah kurangnya gizi anak akibat kurang ASI serta rendahnya berat badan bayi saat lahir. Infeksi pada anak yang sering berulang juga bisa menyebabkan stunting. Selain itu, mental calon orangtua yang akan menikah juga harus disiapkan. Dr. Sandy Prasetyo mengatakan bahwa untuk tumbuh kembang anak perlu diupayakan dari masa kehamilan sang ibu agar nutrisi terpenuhi dengan baik. Salah satu faktor yang memengaruhi berat badan rendah pada bayi ialah status gizi buruk pada sang ibu sebelum maupun selama kehamilan.

Perlu diketahui, rendahnya tinggi badan bukan berarti seorang anak terkena stunting. Dr Sandi Prasetyo mengungkapkan, anak tumbuh kecil, kurang, mungkin faktor genetik. Jadi, orangtua tidak perlu cemas. Tapi kondisi ini bisa dianggap serius kalau tidak diikuti berat badan yang ideal. Yang harus dipahami adalah stunting adalah gangguan pertumbuhan kronis akibat anak kekurangan nutrisi dalam jangka waktu yang cukup lama.

Misalnya anak berusia 2-5 tahun dengan tinggi badan 120 cm, maka berat badan yang ideal berkisar 23-25 kg. Sedangkan, seorang anak dikatakan stunting jika berat badannya hanya 19-20 kg dengan tinggi yang sama.

Bagaimana Mencegahnya?

Di sini, peran orangtua sangat penting, mereka harus mendeteksi sejak dini tentang anaknya sendiri, sehingga bahaya stunting dapat dicegah. Pemerintah melalui Kemenkes telah berupaya maksimal untuk untuk mencegah stunting pada anak.

Tindakan paling ampuh adalah dengan memenuhi gizi anak sejak masa kehamilan. Perlu diketahui bahwa stunting bisa menimpa siapa saja. Tidak hanya kelas menengah ke bawah tapi juga kelas menengah ke atas. Bahkan, Ibu Athalia Ridwan Kamil menyampaikan bahwa angka stunting di Jawa Barat lebih tinggi dibandingkan angka nasional. Stunting di Jabar banyak diderita oleh mereka yang berasal dari kelas menengah ke atas.

Sebagai upaya pencegahan, sebaiknya calon orangtua secara rutin melakukan pemeriksaan saat kehamilan. Jika usia kehamilan sudah menginjak tujuh bulan, sebaiknya calon orangtua melakukan pemeriksaan lebih rutin, misalnya dua kali sebulan. Selain itu, upayakan agar ibu hamil selalu mengonsumsi makanan sehat dan bergizi maupun suplemen atas anjuran dokter.

Pemberian ASI ekslusif bisa mengurangi potensi stunting pada anak. Makanan pendamping ASI (MPASI) yang bergizi setelah bayi berusia enam bulan juga membantu mengurangi potensi stunting pada anak. Upayakan selalu memantau tumbuh kembang anak dengan rutin melakukan pemeriksaan secara berkala di Posyandu maupun klinik khusus anak. Menjaga lingkugan tetap bersih harus rutin dilakukan. Seperti yang diungkapkan dr. Reisa, biasakan sebelum menyentuh anak cuci tangan terlebih dahulu untuk menghilangkan kuman-kuman yang menempel.

So, udah tau kan apa itu stunting? Yuk, kita cegah bareng-bareng supaya risiko stunting pada anak Indonesia menurun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *