“Jaga Tradisi, Rawat Bumi”, Mengenal Masyarakat Nusantara Bijak Berpangan

Saya tuh, paling seneng kalau lagi pulang kampung jalan-jalan ke sawah. Iya, soale selama tinggal di Jakarta hampir separuh hidup, saya jarang banget liat pemandangan ijo-ijo yang bikin seger mata. Memang sih, di beberapa wilayah Jakarta masih banyak pohon, tapi nggak ada sawah.

Entah kenapa kalau liat pemandangan sawah yang luas, saya langsung bahagia. Nggak cuma sawah aja kok, kebun buah atau ladang yang banyak menghasilkan bahan pangan seperti umbi-umbian (tegalan istilah Jawa-nya) juga bikin hepi. Saya jadi mengingat kembali memori saat tinggal di kampung. Simbah saya dulu punya tegalan dan sawah. Dulu, waktu kecil saya sering banget main ke tegalan.

Kalau siang hari panas menyengat, kita bisa neduh bareng di rumah gubug yang dipakai buat istirahat para petani saat meladang. Sambil ngaso, kita bisa makan siang dari rantang blirik warna ijo. Beragam bekal mulai dari nasi, sayur (janganan Jawa-red), lauk pauk, tempe tahu goreng, sambal dan minuman sudah disiapkan sama simbah putri dari rumah. Saya kalau pulang sekolah dan nggak ada kegiatan, biasanya ikut nganterin bekal ke tegalan.

Memang menu makanannya sederhana tapi rasanya buat saya nikmat banget. Sayang, setelah kedua simbah saya almarhum, sawah dan tegalan akhirnya dijual karena anak-anaknya nggak ada yang ngurus. Hiks, sedih. Main di sawah dan tegalan menjadi memori yang membekas hingga sekarang.

Terus, belum lama ini saya lihat ada di sebuah mall di Jakarta, ada event Panen Raya Nusantara 2019 yang berlangsung dari tanggal 6-8 Desember kemarin. Demi mengobati rasa kangen memori masa kecil saat bermain di sawah dan tegalan, akhirnya saya datang acara tersebut.

Dan benarlah sesuai gambaran saya. Event Panen Raya Nusantara 2019 ini menghadirkan beragam sumber pangan lokal berkualitas. Banyak banget sumber bahan pangan lokal yang saya jarang tau. Indonesia dengan demografi wilayahnya yang beragam dan berada di jalur khatulistiwa, membuat tanahnya subur dan menghasilkan sumber pangan sepanjang tahun. Ibarat pepatah “Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkah kayu dan batu jadi tanaman”.

Semua jenis bahan pangan pokok bisa tumbuh tanpa harus mengolahnya dengan susah payah. Mulai dari padi, sagu, jagung, umbi-umbian, sampai sumber pangan hewani melimpah ruah. Dalam talkshow yang digelar dengan tema “Jadikan Pangan Bijak Gaya Hidupmu” saya banyak mendapatkan insight baru.

Iya, alam Nusantara selain diberkahi dengan ragam pangan yang beraneka rupa, sudah menjadi tanggung jawab tak tertulis bagi kita menggunakan sumber pangan dengan bijak. Toh, alam ini diciptakan Tuhan bukan cuma untuk kita yang hidup saat ini, tapi juga untuk anak cucu dan generasi yang akan datang.

Indonesia sendiri memiliki 77 jenis tanaman sumber karbohidrat, 75 jenis tanaman sumber minyak atau lemak, 26 jenis kacang-kacangan, 389 jenis buah-buahan, 228 jenis sayuran, 40 jenis bahan minuman, 110 jenis rempah dan bumbu. Jumlah ini belum termasuk sumber pangan yang berasal dari hewan. Banyak banget, kan?

Dengan banyaknya jenis makanan dan keanekaragaman hayati yang luar biasa, rasanya nggak mungkin ada kasus stunting, kekurangan gizi, malnutrisi dan beragam kasus lainnya di Indonesia, kalau sumber pangan ini dikelola dengan bijak.

Beragam cara sudah diupayakan oleh nenek moyang kita untuk menjaga kelestarian sumber pangan. Salah satu cara menjaganya dengan kearifan lokal, bisa dengan tidak menebang hutan, melakukan penanaman dengan pola ‘tumpang sari’ alias berganti-ganti supaya tanah tetap subur, dan mencegah sistem tanam monokultur.

Festival Parara 2019 ini juga salah satu cara untuk mengenalkan dan mendekatkan produsen makanan lokal dan kekayaan alam Indonesia kepada konsumen. Ada seratus komunitas lokal dari seluruh Nusantara hadir di festival ini.

Serunya lagi, selain bisa mengenal beragam jenis sumber pangan, pengunjung juga bisa menikmati beragam sajian yang disediakan di Festival Parara 2019. Di acara ini dibuatkan kafe PARARA Indonesian Ethical Store yang menyajikan berbagai menu makanan sehat, enak dan bergizi yang terbuat dari bahan pangan yang berkualitas dari nusantara.

Saya juga sempat menikmati jamuan PARARA seperti wedang bunga telang, kolak, kopi, brownies yang terbuat dari Sorgum, sosis solo isi rebung, bubur dari Juwawut, nasi goreng dari beras organik, dan macam-macam.

Nggak cuma makanan aja kok. Di festival Parara 2019 kita bisa menikmati beragam kerajinan seperti tenun, bambu, dan fesyen Nusantara.

Oya, acara Panen Raya Nusantara 2019 yang tahun ini memilih slogan “Jaga Tradisi Rawat Bumi” ini adalah konsorsium yang diinisiasi oleh lima lembaga. Ada WWF Indonesia, NTFT, Aman, dan beberapa lembaga lainnya.

Selain dapat menikmati jamuan PARARA, pengunjung juga dihibur dengan penampilan musik tradisional dari masyarakat adat yang tergabung dalam festival Panen Raya Nusantara 2019. Semoga festival PARARA tahun dengan semakin menginspirasi generasi muda untuk melestarikan sumber pangan lokal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *