Menelusuri Jejak Pelarian Prajurit Majapahit di Candi Sukuh

Matahari pagi sudah beranjak di atas kepala. Dengan setengah mengantuk, saya melangkahkan kaki menuju sebuah warung di depan Stasiun Jebres. Jalanan kecil yang menuju sebuah pasar ini ramai dilintasi pedagang dan pembeli. Mata saya menggeliat begitu melihat deretan jajan pasar dan lauk pauk yang masih fresh dari penggorengan tertata apik di atas meja. Botok, tempe goreng tanpa tepung, sosis solo, perkedel kentang dan sederet makanan dalam baskom-baskom blirik berwarna hijau, terlihat sangat menggiurkan. Perut pun sudah memprotes dengan musik keroncong bernada sumbang.

“Bade dahar napa, Mas,” sapa ibu pemilik warung. Dari tata bahasanya yang khas ala Jawa Tengahan yang halus, tampak bahwa ibu setengah baya ini sangat ramah melayani pembeli.

“Nyuwun sekul, sayur oblok-oblok mbayung, niku napa nggih, Bu?” Tanya saya sambil menunjuk gorengan seperti risol tapi nampaknya bukan. “Oh, itu sosis solo, Mas. Kersa?” Sahut ibu pemilik warung. “Nyuwun kalih, Bu.” pinta saya.

Sepagi ini, entah lapar mata plus lapar perut, saya memesan banyak lauk di atas nasi. Dari penampakannya tampak menggiurkan. Bukan hanya jarang dijual di Kota Jakarta, beragam makanan ini sudah sekian tahun tidak saya konsumsi. Terutama oblok-oblok mbayung. Sayur yang berbahan dasar daun kacang panjang dan parutan kelapa yang dicampur ikan teri dan cabai rawit ini, target utama saya begitu masuk warung.

Baca juga Papandayan, Gunung Api Cantik di Bumi Garut

Di beberapa daerah, sayur oblok-oblok mbayung ini sering disebut dengan “Jangan Bobor”. Yang membedakan antara sayur oblok-oblok dengan jangan bobor adalah parutan kelapanya yang dicampur langsung ke dalam sayur. Selain itu, rasa sayur oblok-oblok cenderung pedas. Bahan dasarnya pun bisa menggunakan beragam sayur seperti jantung pisang, daun singkong, atau daun lembayung/mbayung (daun kacang panjang).

Sepiring nasi dengan sayur langsung habis saya lahap. Sebagai pelengkap sarapan, saya menyeruput segelas teh jawa. Aroma khas campuran bunga melati, membuat teh panas ini semakin nikmat. Bagi yang belum tahu, kalau kita memesan segelas teh di Jawa (baik tengah maupun timur) tidak perlu menambahkan kata “manis”. Secara default, orang Jawa selalu menyajikan teh dengan rasa manis alias ditambah gula. Baik teh panas atau es teh. Kecuali jika kita menginginkan teh dengan rasa tawar.

Dering notifikasi ojek daring membuyarkan kenangan-kenangan saya akan kuliner zaman dulu yang sering dimasak simbah sewaktu tinggal di Ngawi. Puas menikmati sarapan, saya segera membayar dan mencari driver ojek yang sudah menunggu di sekitar warung. Sarapan pagi yang sederhana tetapi sangat nikmat ini tidak membuat kantung jebol. Driver ojek segera meluncur dan mengantar saya menuju Stasiun Solo Balapan. Sekitar pukul tujuh lewat saya harus menjemput teman dari Jakarta yang datang menyusul dan siap untuk menjelajahi Kota Surakarta dan sekitarnya.

Sugeng rawuh di Kota Solo alias Surakarta. Surakarta sendiri adalah nama lain dari Kota Solo yang lebih banyak dikenal orang. Mari kita mulai penjelajahan.

Kolam Pemandian Jawa Dwipa Resort, Kolam Berarsitektur Candi Kuno

Bus antarkota mengantarkan saya menuju daerah Karanganyar. Daerah yang berada di lereng Gunung Lawu ini berada di tenggara Kota Solo. Jarak antara Solo dan Karanganyar bisa ditempuh dalam waktu satu setengah jam.

Sejujurnya, ini adalah kali kedua saya menjelajahi Karanganyar. Kota kabupaten ini berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Timur. Hawa sejuk langsung menyambut kami begitu masuk kawasan Tawangmangu. Bagi sebagian besar orang yang tinggal di daerah Solo dan sekitar perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur, Tawangmangu adalah destinasi untuk ‘kabur’ dari hiruk pikuk rutinitas harian. Semacam daerah ‘Puncak’nya mereka.

Sekitar satu jam dari Solo, saya dan teman-teman langsung menuju destinasi pertama: Jawa Dwipa Resort. Destinasi ini tidak sengaja kami temukan saat menuju hotel di Tawangmangu. Berada persis di pinggir jalan raya utama. Mungkin banyak yang bertanya-tanya, apa istimewanya resort ini? Ya, buat saya, Jawa Dwipa Resort memiliki keistimewaan yakni kolam renangnya yang sejuk, jernih, dan memiliki arsitektur seperti candi-candi peninggalan Majapahit di Mojokerto.

Dari luar, bangunan Jawa Dwipa Resort tampak seperti istana Jawa pada zaman dahulu. Struktur bangunan didominasi dengan batu-bata warna terakota tanpa plester atau pelapis. Material yang terbuat dari kayu berukir dan gebyok menghiasi setiap sudut interior. Saya merasa seperti berada di Istana Majapahit.

Usai membayar tiket masuk kolam seharga dua puluh lima ribu rupiah, saya segera mengganti baju dan menuju kolam renang. Jalanan menuju kolam didesain seperti labirin berundak dengan material batu-bata kokoh. Jika diamati dari dekat, strukturnya terlihat sangat cantik. Tangga menuju kolam pun terlihat sangat apik dan instagramable.

Pagi itu, suasana kolam tampak lengang. Hanya beberapa pengunjung yang datang dan bisa dihitung dengan jari. Hawa sejuk langsung menyergap begitu badan saya menyentuh permukaan air kolam. Di seberang kolam, tampak gerbang atau gapura dengan desain atap paduraksa (atap tertutup). Gapura ini sepintas mirip desain Candi Bajang Ratu di Trowulan. Di bagian tengah candi dibuat tangga yang menuju ke arah kolam. Benar-benar seperti kolam pemandian para raja zaman dahulu.

Sungguh, saya benar-benar menikmati suasana sejuk kolam pemandian ini. Airnya berwarna biru tosca. Perpaduan yang apik warna kolam dengan gerbang yang berdiri kokoh. Puas berenang, saya duduk sejenak di pinggiran kolam sambil menghirup udara segar di kaki Gunung Lawu.

Matahari berada tepat di atas kepala saat kami menyudahi aktivitas berenang. Taksi daring yang kami pesan sudah menunggu dan siap mengantarkan kami menuju Candi Sukuh. Jaraknya hanya sekitar dua puluh menit dari Jawa Dwipa Resort dengan jalur yang cukup menegangkan. Ya, meskipun tidak terlalu ekstrem, tetapi tanjakan menuju Candi Sukuh cukup curam.

Candi Cetho dan Candi Sukuh, Jejak Pelarian Prajurit Majapahit

Berada di wilayah administratif Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Candi Sukuh menawarkan pemandangan sejuk, megah, nyeleneh, nyentrik, sekaligus unik. Candi Hindu peninggalan sekitar abad ke-15 ini cukup kontroversial. Beberapa bagian candi dihiasi relief yang cukup erotis dan terkesan vulgar. Tampak berbeda dengan candi Hindu pada umumnya.

Meski demikian, arsitektur candi ini sangat indah. Sekilas, bentuknya mirip dengan Kuil Aztec. Candi ini dibangun dengan struktur menyerupai piramida. Secara keseluruhan bangunan candi masih terlihat bagus dan terawat. Bagian atap berbentuk kubus seperti piramida terpotong di bagian atap. Hawa di sekitar candi sangat sejuk. Maklum, candi ini berada di bawah kaki Gunung Lawu bagian barat.

Bila ditelusuri lebih jauh, Candi Sukuh ini merupakan sisa peninggalan Majapahit. Saat Indonesia masih bernama Hindia Belanda, candi ini ditemukan oleh seorang arkeolog pada masa pemerintahan Gubernur Raffles tahun 1815. Diperkirakan, candi ini dibangun pada saat Majapahit di bawah pemerintahan Suhita. Ratu Majapahit terakhir yang memerintah pada tahun 1429-1446. 

Jika dilihat dari relief-relief yang berada di halaman, pembuatan candi ini ditujukan untuk upacara ruwatan. Dalam tradisi Jawa, ruwatan bertujuan untuk menangkal dan melepaskan energi buruk. Saya memandangi relief demi relief, sambil membayangkan betapa hebatnya leluhur kita di masa lalu, hingga bisa menciptakan ‘media penyimpanan’ file seperti ini yang bertahan hingga ratusan tahun. Relief bagi saya merupakan media penyimpanan yang umurnya jauh panjang dibandingkan hardisk.

Saat menyapa masyarakat sekitar candi, saya menyadari bahwa masyarakat di sini masih banyak yang menganut Hindu Kejawen. Sedikit berbeda dengan umat Hindu Bali. Dari cerita yang disampaikan, leluhur mereka berasal dari prajurit Majapahit yang mengungsi ke barat saat Majapahit mengalami keruntuhan. Suasana sakral masih menyelimuti kawasan percandian. Aroma dupa dan sesajen masih banyak diletakkan di setiap sudut candi.

bersambung …

46 Replies to “Menelusuri Jejak Pelarian Prajurit Majapahit di Candi Sukuh”

  1. Dulu ketika ke Candi Sukuh aku ketemu dengan orang (mungkin pemeluk Hindu Kejawen) yang sedang sembahyang. Jadi selain untuk wisata, candi sukuhmasih sering digunakan untuk sembahyang.

  2. Wah ternyata di kaki gunung Lawu ada pemandian dengan arsitektur cantik. Jadi penasaran dengan Candi Sukuh, dari arsitekturnya saja sudah bisa membayangkan megahnya Majapahit zaman dahulu. Terima kasih ulasannya, Mas.

  3. Kunjungan saya ke Candi Sukuh waktu itu kebetulan saja. Sekalian lewat jadinya tidak sempat eksplore sejarahnya. Candinya sangat indah dan recommended sebagai destinasi wisata sejarah. Terimakasih Mas Achi ditunggu kelanjutan informasi sejarahnya ….

  4. Wah, aku baru tahu ada Candi Sukuh. Masuk list ah, siapa tau bisa ke sana kalau ada waktu dan rejeki. Ngobrolin peninggalan Majapahit enggak pernah ada abisnya ya Mas.
    Keren banget resortnya, berasa kayak hidup di jaman dahulu.

  5. Duh pasti saya merasa menjadi kanjeng ratu jika saya berenang di pemandian Jawa Dwipa Resort ini. Arsitekturnya juga membawa kita ke jaman kerajaan Majapahit.

    Candi Cetho dan Candi Sukuh merupakan salah tujuan impian yang belum sempat terwujud.

  6. Woww… Menarik banget cara mas Achi menyampaikan cerita tentang wisata di kolam pemandian Jawa Dwipa resort yang serasa jadi raja/ratu kalau mandi di situ. Abis itu tentang candi Sukuh yang kesannya berbeda dari candi peninggalan hindu pada umumnya. Hemm semoga bisa mampir ke sini pas mau ke nanjak ke Lawu… ditunggu lanjutan ceritanya mas..

  7. Kata demi kata, gambar demi gambar, serasa ikut Mas Achi menelusuri jejak pelarian prajurit majapahit di candi sukuh. at least, kayak nonton film dokumenternya Mas Achi.
    setuju sih pendahulu kita di masa lalu itu hebat banget bisa nyiptain ‘media penyimpanan’ yang bertahan hingga ratusan tahun sehingga anak cucunya masih bisa melihat dan menikmati

  8. Sueger banget kolam pemandiannya, arsitekturnya mendukung banget jadi ala-ala raja. Saya belum pernah ke Candi Sukuh, jadi makin penasaran karena ceritanya bersambung.

  9. Wah iya betul, Candi Sukuh berundak2 kayak Aztec versi kecilnya… Tentang penjelasan “vulgar” di atas, saya baru ketemu jawabannya di gambar bawah 🙂 Benar2 vulgar..

  10. Aku ke Candi Sukuh 7 tahun lalu kayaknya ya..sekalian ke candi Cetho juga. Sempat kaget dengan relief yang erotis disana-sini. Terus tanjakannya, terutama ke Cetho gilaaa..tajam sekali. Tapi sepadan dengan perjalanan. Candinya sungguh menakjubkan
    Ditinggu part 2 dari Menelusuri Jejak Pelarian Prajurit Majapahit di Candi Sukuh

  11. Niatnya pengen berkunjung ke Candi Cetho dan Candi Sukuh dalam satu kali kunjungan, apadaya.. di perjalanan menuju Candi Sukuh saya mengalami kecelakaan kecil yang mengakibatkan putar balik ke Karanganyar. Semoga masih ada kesempatan lain untuk kesana.. Aamiin..😊

  12. Saya belum pernah ke Candi Sukuh. Tapi membaca pengalaman mas Aci yang sangat terkesan dengan peninggalan para leluhur dulu membuat saya ingin sesekali berjalan-jalan mengunjungi candi-candi di Indonesia.

  13. Dari ulasan Mas Achi, aku jadi tertarik dengan Candi Sukuh karena beberapa faktor yaitu, sejarah penggunaan candi, bentuk candi yang mirip arsitektur bangunan suku Aztec dan kalau beruntung aku mau lihat ritual Hindu Kejawen yang sedang sembahyang. .

    nice info 🙂

  14. Langsunh jatuh cinta ketika melihat Candi Sukuh dan kolamnya. Kok ya warnanya minta oengen dikunjungi banget ya. Ah terima kasih banyak ulasannya Mas Achi, jadi makin sadar kalau saya buta banget soal wisata di Jawa Tengah huhu. Soon akan ke sana

  15. Benar juga ya, Candi Sukuh bentuknya berbeda dengan candi lainnya. Seperti Piramida gitu, meskipun dalam skala kecil. Tulisan ini jadi referensi nih, agar bisa main ke candi unik lainnya

  16. Kota Solo, banyak menyimpan keindahan ternyata ya mas. Candi nya bikin saya jatuh cinta, pengen liat langsung kesana sekalian mengenal sejarah lebih dalam. Air kolamnya pun bening banget mas, sejuk banget pastinya.. Duhh beneran mupeng akutuhh..

  17. Wah ku baru tau tentang candi suko , keren banget pemandangannya apalagi kolam pemandiannya unik banget. Terimakasih infonya mas

  18. Sebelum baca Menelusuri Jejak Pelarian Prajurit Majapahit di Candi Sukuh ini aku dibikin lapar sama pengantarnya. Btw aku suka banget beberapa panganan khas yang disebut di atas mas. Jadi pengen kan ini wkwkwk

  19. Lagi seru seru baca media penyimpanan kuno malah bersambung. Pemahaman saya tentang candi sedikit sekali. Jadi nambah referensi candi candi yang terdapat di Indonesia.

    Gagal fokua mas ngeliat foto kolam renangnya, rasannya pengen ikutan nyebur . ☺️

  20. Indah sekali pemandangan di resort-nya.

    Kamu keren banget mas, benar” menginspisrasi lewat tulisan. Karena tulisan mu ini aku jadi tahu ada Candi Sukuh dan mempesona sekali.

    Next mau bahas candi apa lagi mas? Aku menanti nih hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *