Papandayan, Gunung Api Cantik di Bumi Garut

Hawa sejuk langsung menyergap begitu saya menjejakkan kaki di bumi Garut. Malam itu bulan bersinar penuh sebelum akhirnya tertelan oleh bayangan Bumi. Ya, momen gerhana bulan menjadi penyambut kehadiran saya dan teman-teman di salah satu wilayah di bumi Pasundan. Ransel dan daypack segera kita pindahkan ke dalam mobil Elf yang akan mengantarkan kita ke kaki Gunung Papandayan.

Kota Garut yang sejuk ini telah lama menyimpan sejuta pesona, sebelum saya berencana untuk mendaki Gunung Papandayan. Gunung cantik ini menjulang setinggi 2.665 meter di atas permukaan air laut. Garut sendiri sebelumnya bernama Kabupaten Limbangan pada tahun 1811, sebelum akhirnya dibubarkan oleh Daendels dengan alasan produksi kopi dari daerah Limbangan menurun hingga titik paling rendah: nol, dan bupatinya menolak perintah menanam nila (indigo). 

Mobil Elf langsung melaju menembus hawa dingin malam. Setengah mengantuk, mata saya masih mengingat slogan kota ini: Tata Titi Tengtrem Kerta Raharja, slogan yang menggambarkan sebuah wilayah yang Tertib, Tenteram dan Sejahtera. Sepintas memang tidak jauh beda dengan slogan dalam Bahasa Jawa yang sudah lama saya ingat: Tata titi tentrem kerta raharjo, gemah ripah loh jinawi.

Bila ditelusuri lebih jauh, slogan ini berasal dari konsep Prabu Wastu Kencana sebagai raja Sunda-Galuh (1382) atau juga dikenal sebagai Prabu Siliwangi ke-2, dalam prasastinya yang ditemukan di Astana Gede Kawali Ciamis – Jawa Barat. Ya, sejarah masa lalu Nusantara telah menanamkan ajaran luhur agar kita mampu menjaga kedamaian dan ketertiban dalam bermasyarakat untuk mencapai kesejahteraan bersama.

Sekitar pukul empat pagi, mobil Elf telah sampai di kaki Papandayan. Hawa dingin semakin menusuk begitu saya keluar dari mobil. Sembari memanggul carriel, saya dan rombongan langsung menuju ke sebuah warung yang berderet di dekat pintu gerbang Gunung Papandayan. Sambil menunggu pagi, kami beristirahat di sebuah bale yang terbuat dari anyaman bambu dilapisi karpet. Mata ingin memejam sejenak, tapi apa daya, dinginnya hawa Papandayan semakin memeluk erat. Sambil berdiang di dekat api unggun yang dibuat oleh warga sekitar, saya menyeruput wedang jahe untuk menghangatkan badan.

Langit pagi masih menyisakan gugusan bintang untuk dinikmati. Langit yang cerah membuat sebagian teman-teman fotografer yang tergabung dalam rombongan, mengabadikan momen fotografi Milky Way. Bagi saya, Papandayan memiliki daya tarik tersendiri setelah terakhir kali meletus pada 2 November 2002. Berdasarkan sejarah, letusan Gunung Papandayan ratusan tahun silam, telah menyisakan hutan mati yang eksotis. Deretan pepohonan yang meranggas di sebuah dataran yang tertutup lava dingin memiliki pesona yang tiada tara. Hutan mati inilah yang menjadi salah satu daya tarik Papandayan.

Matahari pagi menyapa kami di ufuk timur. Semburat cahaya kuning keemasan menghangatkan badan. Selesai berkemas, kami segera membentuk barisan. Beberapa intruksi dan pembagian tugas sudah diberikan oleh ketua rombongan. Kini saatnya kami untuk menikmati pendakian.

Secara geografis, Gunung Papandayan berada di wilayah administratif Kabupaten Garut. Gunung api strato atau gunung yang terbentuk akibat erupsi atau letusan yang berulang-ulang serta berselang-seling antara letusan lava dan ledakan ini cukup terkenal sebagai daerah wisata di Garut. Jalurnya tidak terlalu ‘mengerikan’ buat pendaki pemula seperti saya. Jalur tracking-nya juga lumayan landai. Tanjakannya pun tidak terlalu tinggi dan melelahkan. Meski demikian, kita harus tetap waspada karena trek ini banyak bebatuan besar dan kecil yang licin. Gunung ini sangat cocok bagi teman-teman yang ingin belajar mendaki.

Selain memiliki jalur yang aman, buat wisatawan yang malas mendaki bisa menyewa ojek. Pilihan yang sangat menyenangkan bagi mereka yang sekadar ingin dekat dengan alam tanpa harus bersusah payah. Bahkan, rombongan kami pun sepakat menggunakan ojek untuk membawa ransel dan carriel saat turun. Selain bisa lebih leluasa menikmati pemandangan, dengan bantuan ojek ini bisa menghemat energi yang tersisa tanpa harus direpotkan dengan membawa perbekalan yang menggunung. Namun, menaiki ojek Gunung Papandayan membutuhkan keberanian karena rute yang dilalui dan cara driver membawa motor ojeknya membuat kita sport jantung.

Singgasana Para Dewa

Bagi sebagian besar masyarakat Nusantara kuno, gunung adalah tempat sakral. Gunung merupakan singgasana dewa-dewa. Tak terkecuali Gunung Papandayan. Gunung berapi adalah kekuatan terbesar alam yang dapat memelihara kehidupan atau menghancurkannya. Bagi wisatawan atau pendaki yang berkunjung ke gunung ini, haruslah berlaku sopan. Menghindari kata-kata kasar saat melakukan pendakian adalah hal yang sangat wajar. Ini mengingat gunung adalah tempat yang sangat mungkin tidak hanya dihuni oleh manusia, tetapi juga makhluk gaib.

Makhluk-makhluk gaib bisa jadi terganggu oleh kehadiran kita yang kurang sopan. Karenanya, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, sebagai ‘tamu’ sebaiknya tetaplah berlaku sopan dan menjaga tutur kata. Salah satu mitos atau larangan yang diyakini oleh sebagian orang saat mendaki Gunung Papandayan adalah larangan yang berkaitan hujan dengan angin.

Sebagian pendaki memercayai bahwa saat ada angin berhembus kencang ke arah pendaki, sebaiknya mereka menghentikan pendakian. Jika larangan ini dilanggar, pendakian mereka akan terhalang oleh hujan. Misteri Gunung Papandayan seputar larangan yang harus ditaati oleh para pendaki ini, mau tidak mau harus dipatuhi. Lebih baik berhenti sejenak ketimbang harus berhenti lama karena terhalang oleh hujan yang deras.

Begitu pun dengan rombongan kami. Selama pendakian kami sebisa mungkin untuk mematuhi dan tidak melanggar larangan yang sudah menjadi aturan tak tertulis. Ini mengingat, pulang kembali ke rumah dengan selamat adalah tujuan sebuah perjalanan. Meski banyak fakta dan misteri yang menyelimuti Gunung Papandayan, tetapi tidak menyurutkan wisatawan untuk datang. Buktinya, gunung cantik ini tetap ramai dikunjungi saat akhir pekan tiba.

Sepuluh Pos untuk Mencapai Puncak Papandayan yang Dipenuhi Padang Edelweiss

Sebenarnya, untuk menuju puncak Gunung Papandayan, ada dua jalur pendakian yang bisa dilewati. Jalur yang pertama yakni melewati Hutan Mati. Namun, jalur ini memiliki karakteristik yang cukup ekstrem dengan tanjakan curam dan berbatu. Sedangkan jalur kedua adalah jalur yang sering digunakan oleh pendaki pemula. Tentu saja rombongan kami memilih jalur yang kedua. Alasan sederhananya adalah kami bukanlah pendaki profesional yang lebih suka menikmati perjalanan daripada harus bersusah payah.

Untuk mencapai area kemping yang bernama Pondok Saladah, rombongan kami membutuhkan waktu sekitar tiga jam-an. Selama pendakian kami benar-benar menikmati beragam pemandangan yang disuguhkan Papandayan. Bahkan, di beberapa pos banyak warung yang menjajakan makanan dan minuman untuk mengganjal perut. Boleh dibilang, pendakian ini tidak begitu melelahkan seperti yang dibayangkan oleh pendaki pemula seperti saya.

Sekitar pukul sebelas siang, kami semua sudah sampai di area camping ground. Satu hal yang menyenangkan kemping di Gunung Papandayan ini adalah fasilitasnya yang cukup lengkap. Deretan warung siap memanjakan kami saat lapar atau haus. Fasilitas MCK pun disediakan. Jadi, kami tidak perlu khawatir dan kerepotan mencari sumber air untuk kebutuhan masak dan MCK.

Setelah semua tenda siap, sebagian rombongan kami beristirahat dan sebagian lagi menyiapkan makan siang. Perbekalan yang kami bawa lebih dari cukup. Beragam makanan dan minuman instan siap saji sudah terhidang. Usai beristirahat dan makan siang, sebagian rombongan melanjutkan perjalanan untuk menuju Tegal Alun. Saya sendiri memilih untuk beristirahat di tenda sambil membaca buku. Bagi saya, untuk menikmati gunung tidak harus mencapai puncaknya. Pendapat ini tentu sangat subyektif.

Untuk mencapai puncak Gunung Papandayan, pendaki harus melewati sepuluh pos. Salah satu area yang menjadi “ajang perburuan” para pendaki adalah Tegal Alun yang merupakan hamparan luas dipenuhi bunga edelweiss. Tegal Alun menjadi titik tertinggi atau puncak bagi para pendaki Gunung Papandayan. Memandang keindahan padang bunga edelweiss menjadi kepuasan tersendiri. Sajian bunga bernama latin Anaphalis javanica menjadi area favorit pendaki. Luas area Tegal Alun mencapai 35 hektare. Padang edelweiss ini menjadi semakin indah saat diselimuti kabut.

Menikmati Pesona Hutan Mati yang Eksotis

Rombongan kami menghabiskan satu malam untuk kemping di Pondok Saladah. Sekitar pukul tujuh malam, sebagian rombongan kami yang sorenya menuju Tegal Alun sudah kembali ke area kemping dengan selamat. Malam itu kami habiskan dengan berbagi cerita satu sama lain. Sambil menikmati sajian makan malam, kami berbagi pengalaman mendaki gunung. Saya, tentu saja sekadar menjadi penikmat cerita karena tak punya banyak pengalaman mendaki dibandingkan dengan mereka.

Hawa dingin malam hari semakin menusuk tulang. Suara binatang malam menambah syahdunya malam. Beruntung malam itu cuaca lumayan cerah tanpa hujan ataupun gerimis. Sekitar pukul sebelas malam kami langsung terlelap di dalam tenda masing-masing. Bulan di langit semakin tinggi. Mimpi-mimpi indah sudah menjemput di antara selimut kabut.

***

Udara Subuh membangunkan kami satu per satu. Sebagian rombongan kami yang Muslim menjalankan ibadah salat Subuh di bawah fly sheet yang dipasang di depan tenda. Sebagian kami mengawali pagi dengan memasak sarapan. Sajian yang kami masak tak jauh beda dengan kemarin. Saya memilih susu hangat untuk menikmati pagi sambil melihat sekeliling area kemping.

Sekitar pukul lima pagi, beberapa teman memilih untuk melihat sunrise di Hutan Mati. Saya pun tidak mau ketinggalan. Perjalanan menuju Hutan Mati dari Pondok Saladah ditempuh sekitar lima belas menit. Menikmati sunrise di spot ini  lumayan mengasyikkan. Jalur menuju Hutan Mati banyak ditumbuhi bunga edelweiss. Hutan Mati sendiri merupakan area sabana dengan pepohonan yang telah mati. Deretan batang pohon yang mengering tanpa daun, terlihat sangat eksotis ditimpa cahaya matahari pagi. Ratusan pohon cantigi yang berwarna hitam menambah kesan mistis area ini.

Puas menikmati sunrise di spot ini, kami segera kembali ke tenda. Di sana teman-teman yang lain sudah menyiapkan sarapan pagi. Usai sarapan bersama, kami berencana membongkar tenda dan mengemasi perbekalan. Pagi ini kita akan turun gunung melewati jalur Hutan Mati. Sesuai kesepakatan bersama, kami berencana menyewa ojek untuk mengangkut perbekalan dan perlengkapan tenda.

Matahari pagi sudah mulai tinggi saat kami turun gunung. Dengan badan ringan tanpa membawa logistik, kami lebih leluasa menikmati perjalanan. Saat melewati jalur Hutan Mati, kami berhenti sejenak untuk kembali menikmati keindahannya sebelum kami benar-benar turun.

Perjalanan turun terasa lebih cepat dibandingkan saat naik. Hanya butuh waktu sekitar satu jam-an untuk mencapai gerbang Gunung Papandayan. Akhirnya kami bisa puas menikmati pendakian Gunung Papandayan tanpa harus bersusah payah. Gunung api cantik yang tanahnya subur memikat petani. Perjalanan pulang menyisakan pemandangan desa-desa yang bertebaran di lereng gunung. Semoga catatan perjalanan ini menjadi kenangan abadi seperti bunga edelweiss yang magis.


4 Replies to “Papandayan, Gunung Api Cantik di Bumi Garut”

  1. Asek banget aku pas ke Garut cuma mampir aja. Dan Papandayan uda lama banget jaman masa kuliah. Kapan ke sana lagi.

    Sekarang udah banyak berubah yah. Dulu mah beda banget lebih asyik kayaknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *