Tokopedia dan Pemerataan Ekonomi Digital di Indonesia

“Eh, kameramu beli di mana?” Suatu ketika, pertanyaan tersebut muncul dari mulut teman saat melihat kamera di atas meja kubikel di kantor saya. “Yaelah, hari gini, cari aja di Tokopedia,” jawab saya singkat.

Jawaban tersebut memancing beragam pertanyaan lanjutan yang akhirnya  menjadi bahan diskusi ringan sepanjang hari itu. Saya dan teman-teman kantor jadi bernostalgia sekian tahun silam sebelum adanya Tokopedia. Zaman dulu nyari apa-apa susah. Mau belanja sesuatu harus datang langsung ke tokonya. Padahal yang dibutuhin cuma sepotong baju atau sepasang sandal jepit. Beda banget ama sekarang. Tinggal buka Tokepedia terus gesar-geser layar ponsel, transaksi kelar.

Well, baru-baru ini saya mengikuti symposium yang diselenggarakan oleh Tokopedia, LPEM FEB UI, dan Katadata. Dalam symposium ini dijelaskan bahwa transaksi Tokopedia, jika tidak ada halangan diproyeksikan bisa mencapai Rp222triliun pada 2019 ini. Angka fantastis ini setara dengan satu setengah persen perekonomian Indonesia. Keren, ya!

Tokopedia Membuat Harga-Harga Barang Jadi Lebih Murah

Ternyata, kelahiran Tokopedia di industri digital tanah air membawa dampak bagi banyak orang. Mungkin, banyak orang beranggapan bahwa Tokopedia sama seperti marketplace lain yang menjual beragam produk secara online. Anggapan ini keliru, Guys! Tokopedia sendiri tidak menjual barang sama sekali.

Saat ini, Tokopedia yang merupakan lokapasar terbesar di Indonesia, telah bertransformasi menjadi sebuah perusahaan unicorn yang berpengaruh tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di Asia Tenggara. Pada 2018, tercatat jumlah penjual di Tokopedia mencapai lima juta. Nggak main-main, lho, ya. Dengan jumlah penjual sebesar itu, Tokopedia memiliki peran yang signifikan dalam menurunkan harga-harga barang.

Sewaktu mengikuti symposium ini, saya jadi tau kalau Tokopedia membuat harga 21 persen lebih murah. Data ini diungkapkan oleh Wakil Direktur LPEM FEB UI, Kiki Verico. Di sisi lain, Tokopedia juga memiliki peran mengedukasi masyarakat dalam memilih produk investasi. Iya, karena di Tokopedia sendiri nggak cuma menyediakan barang-barang kebutuhan masyarakat, tetapi juga produk-produk investasi seperti logam mulia. Cara belinya juga mudah. Jadi, masyarakat lebih paham tentang produk investasi digital.

Fakta-Fakta Menarik Tentang Tokopedia

Dalam diskusi panel tersebut, dihadirkan beberapa narasumber kompeten untuk menyampaikan hasil riset dari LPEM FEB UI. Di antaranya William Tanuwijaya (CEO & Co-Founder Tokopedia), Kiki Verico (Wakil Direktur LPEM FEB UI), Laras Anggraini (Pendiri Smitten by Pattern).

Dari hasil riset tersebut banyak, lho, fakta-fakta menarik untuk diketahui. Berikut ini beberapa di antaranya:

Berdasarkan riset UI 2019, setidaknya ada 6,4 juta masyarakat Indonesia yang mengembangkan bisnis dan produknya melalui Tokopedia. 94 persennya adalah penjual skala ultra mikro atau penjualan di bawah seratus juta per tahun. Jumlah pengusaha ini tersebar di 96 persen kota/kabupaten di Indonesia. Dari jumlah tersebut 86,5 persennya merupakan pengusaha baru yang gigih membangun brand-brand masa depan Indonesia. Sumpah ini keren banget menurut saya. Virus ini seperti tagline-nya “Mulai Aja Dulu”. Dengan semangat #MulaiAjaDulu, banyak orang yang awalnya takut dan ragu-ragu kemudian mencoba terjun membuka usaha dan akhirnya punya usaha sendiri. Contohnya, ya, salah satu narasumber yang inspiratif tadi: Laras Anggraini owner-nya Smitten by Pattern.

Fakta menarik kedua adalah populasi Tokopedia pada 2018 hampir dua kali populasi penduduk Pulau Sumatra. Setidaknya ada lebih dari 90 juta pengguna aktif setiap bulannya. Jumlah tersebut lebih dari enam puluh persen angkatan kerja di Indonesia.

Menariknya lagi, yang berbisnis di Tokopedia ini nggak cuma orang-orang yang berdarah entrepreuneur, lho. Banyak juga di antara mereka yang merupakan pekerja kantoran dan menyisihkan waktunya untuk berbisnis sampingan di Tokopedia alias nyambi.

Fakta lain yang nggak kalah menarik dari Tokopedia adalah perannya yang menjadi ‘penyambung tangan’ pemerintah dalam pemerataan kue ekonomi di Indonesia. Dengan membuka ‘warung’ di Tokopedia, membuka peluang bagi para penjual menembus pasar yang semula jauh dari jangkauan mereka. Misalnya, penjual dari Indonesia bagian timur kini bisa bertransaksi langsung dengan pembeli yang berada di ujung barat Indonesia. Berlaku juga sebaliknya.

Nggak cuma memeratakan peluang bagi para penjual, Tokopedia juga mendorong pemerataan akses ekonomi dan banyak mendorong masyarakat untuk bertransaksi secara cashless.Terutama dalam menghadapi industry 4.0 dengan mengadopsi digitalisasi pembayaran. Di sisi lain Tokopedia juga berperan dalam meningkatkan pendapatan masyarakat.

Hasil riset juga memaparkan bahwa Tokopedia turut menciptakan pertumbuhan lapangan kerja dari Aceh hingga Papua. Banyak alasan yang membuat orang mau menjalankan usahanya di Tokopedia. Beberapa di antaranya adalah kemudahan dalam mengelola bisnis dan kepercayaan terhadap Tokopedia. Data tahun 2018 sendiri menunjukkan bahwa 857ribu lapangan kerja tercipta dari Aceh hingga Papua. Sementara tahun ini jumlahnya diprediksi meningkat hingga lebih dari 1,136 pekerjaan. Besar banget, kan?

Sejalan dengan misi Tokopedia yakni pemerataan ekonomi secara digital di Indonesia, para pengusaha mikro, kecil, dan menengah bisa memanfaatkan Tokopedia untuk belanja barang produksi. Seenggaknya ada lima provinsi di Indonesia yang bisa menurunkan biaya bahan baku tertinggi, yakni Jambi, Kalimantan Tengah, Gorontalo, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku Utara.

Fakta-fakta lain yang juga dipaparkan dalam diskusi panel yang saya ikuti malam lalu adalah upaya Tokopedia dalam mendorong literasi keuangan di Indonesia. Menurut data dari Badan Pusat Statistik, pada 2018 jumlah penduduk Indonesia yang memiliki rekening di bank masih di bawah 50 juta orang. Adanya Tokopedia memberikan kontribusi pada literasi dan inklusi produk-produk keuangan. Berikut ini beberapa kontribusinya:

Pemahaman pembeli tentang dompet digital/dompet elektronik dari semula tak paham meningkat hingga 82,11 persen. Pemahaman pembeli akan produk investasi digital dari semula tak paham meningkat menjadi 78,6 persen. Sisanya adalah peningkatan pemahaman konsumen tentang transfer antarbank menjadi 72,34 persen dan pengetahuan masyarakat tentang produk tabungan menjadi 70,87 persen.

Dengan adanya Tokopedia ini saya jadi semakin paham bahwa pemerataan kue ekonomi di Indonesia semakin tumbuh dan berkembang.

Semoga Tokopedia terus berkomitmen menjadi lebih relevan dan bermanfaat untuk Indonesia ke depannya. Seperti ungkapan Co-founder dan CEO Tokopedia, William Tanuwijaya, “Sejak awal Tokopedia berdiri, kami memang berkomitmen untuk memudahkan masyarakat dalam memulai dan menciptakan lebih dengan pemanfaatan teknologi. Menginjak usia yang ke-10 ini, kami terus bertransformasi menjadi sebuah Super Ecosystem yang menjembatani semua pihak dalam misi sejalan untuk maju dan tumbuh bersama serta mengakselerasi pemerataan ekonomi digital di Indonesia.” Tutup William dalam acara diskusi panel tersebut.  

2 Replies to “Tokopedia dan Pemerataan Ekonomi Digital di Indonesia”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *