Menyambangi Eksotisme Bumi Jember (Bag. 1)

Matahari belum terlalu tinggi saat kereta api Probowangi jurusan Surabaya-Banyuwangi menapaki bumi Jawa Timur. Di luar jendela kereta, tampak bagaskara bersinar teduh. Lingkarannya penuh berwarna jingga. Bang Eka, salah satu peserta trip ke Jember membangunkan kami berenam untuk menikmati keindahan sunrise pagi itu. Masih setengah terpejam, saya berusaha untuk membuka kelopak mata. Kami takjub dengan pemandangan yang disuguhkan. Hamparan sawah menghijau dipenuhi kabut dan embun pagi. Sayup-sayup derit roda kereta api berjalan melambat mengantarkan perjalanan kami menuju Stasiun Jember.

Usai menikmati sunrise, saya melangkahkan kaki menuju gerbong restorasi. Perjalanan menuju stasiun Jember ditempuh selama kurang lebih empat jam dari stasiun Gubeng, Surabaya. Sambil menyeruput secangkir teh di gerbong restorasi, saya berusaha menikmati setiap detik perjalanan pagi itu. Cahaya bagaskara menembus jendela menghangatkan tubuh dari terpaan udara AC. Di seberang meja, tampak satu keluarga tengah menikmati mie instan. Dari dialeknya, saya bisa menebak bahwa mereka adalah keluarga peranakan dari Surabaya.

Perjalanan ke Jember ini adalah kali pertama saya. Sampai dengan 2019, belum pernah terlintas di pikiran saya untuk traveling ke Jember. Hingga akhirnya, saya berkesempatan untuk menyambanginya. Tak sabar rasanya menginjakkan kaki di bumi Jember yang eksotis dari penduduk Pandhalungan.

Secara demografi, wilayah Jember berbatasan langsung dengan Kabupaten Probolinggo dan Bondowoso di bagian utara. Di bagian barat Jember berbatasan langsung dengan Kabupaten Lumajang. Sedangkan di bagian timur, berbatasan langsung dengan Kabupaten Banyuwangi. Samudera Hindia menghiasi sisi selatan Kabupaten Jember.

Jember terletak di wilayah Tapal Kuda, Jawa Timur. Dinamakan Tapal Kuda karena kawasan tersebut mirip dengan bentuk tapal kuda. Kawasan Tapal Kuda sendiri meliputi Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Jember, Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi.

Sekitar pukul delapan pagi, kereta Probowangi berhenti di Stasiun Jember. Kami berenam dari Jakarta langsung disambut oleh teman-teman dari komunitas Blogger Jember. Senang sekali rasanya mendapatkan sambutan hangat dari mereka. Keramahan dan ketulusan mereka membuat kami langsung cair satu sama lain. Mereka langsung mengantarkan kami menuju kafe Hararu yang berada tepat di depan Stasiun Jember.

Pagi itu, kami dengan lahap menikmati sarapan di kafe Hararu. Kafe ini menyajikan beragam makanan Jepang. Mulai dari shabu-shabu, sushi, dan berbagai minuman yang dikawinkan dengan selera lokal. Pilihan menu yang tersedia, membuat kami lahap mencicipi satu per satu. Kafe yang mempertahankan bangunan asli Belanda ini terasa sangat sejuk meski kami berada di beranda tanpa pendingin ruangan.

Meja, kursi serta perabotan lain di kafe Hararu ini didesain kekinian. Namun, bangunan aslinya tidak diubah sama sekali. Pemiliknya berusaha melestarikan bangunan loji peninggalan Belanda tersebut.

Pada awalnya, saya mengira iklim kota Jember pada musim kemarau pastilah sangat terik. Tidak salah memang, namun, selama kurang lebih satu minggu belakangan, cuaca kota Jember berubah sejuk. Mungkin pengaruh anomali cuaca atau memang Jember memiliki kekhasan cuaca sendiri dalam menyambut kedatangan kami. Entahlah.

Singgah ke Puslit Kopi dan Coklat

Usai menikmati sarapan, teman-teman dari Blogger Jember mengajak kami untuk beristirahat di Warung Kembang. Di Warung Kembang, kami puas menikmati beragam kuliner khas Jember seperti sayur terong yang begitu nikmat (semacam mangut yang berisi terong), kuluban (urab), ikan bakar, sayur bening, ayam goreng dan beragam menu menggugah selera lainnya.

Warung Kembang ini mengusung konsep tradisional dengan berbagai menu pilihan. Desain interiornya cukup nyaman untuk leyeh-leyeh. Di salah satu sisi ruangan, terdapat halaman luas yang bisa digunakan untuk acara wedding dengan konsep outdoor. Lantai dua-tempat kami leyeh-leyeh-didesain untuk makan secara lesehan.

Usai makan siang, kami bergerak menuju perkebunan kopi dan coklat. Sepanjang perjalanan kami menikmati pemandangan kebun karet di kanan-kiri jalan. Agenda hari itu cukup padat, tenaga sudah mulai pulih usai diisi dengan beragam kuliner lezat.

Di kebun puslit kopi dan coklat, saya belajar banyak bagaimana perjalanan sebuah biji kopi dan coklat menjadi minuman/camilan yang menggugah selera. Perkebunan ini cukup luas. Puas berkeliling dengan menumpang ‘kereta kencana’ dan berjalan kaki, saatnya berbelanja produk-produk turunan dari biji kopi dan coklat. Beberapa box coklat batangan dan minuman coklat dingin, masuk ke dalam kantung belanjaan. Perjalanan sore itu ditutup dengan menyusuri area kebun menuju Pantai Papuma di sisi selatan kota Jember.

Menikmati Senja di Pantai Papuma

Boleh dibilang perjalanan menuju Pantai Papuma tidak terlalu jauh. Sekitar satu jam dari pusat kota Jember, mobil yang mengantar kami naik-turun melewati bukit. Ya, Jember memiliki julukan kota seribu gumuk alias bukit. Demografi wilayah Jember memang didominasi bukit. Monyet-monyet liar menyambut kedatangan kami di Pantai Papuma. Keindahan Pantai Papuma bisa dilihat dari ketinggian bukit.

Pantai Papuma sendiri terbilang bersih dan eksotis. Batu-batu karang menjulang di sepanjang bibir pantai. Selain menampilkan keindahan yang eksotis dan magis, bebatuan karang raksasa ini juga berfungsi sebagai pemecah ombak alami pesisir pantai selatan yang terkenal ganas dan menggelegar.

Naik sedikit ke atas bukit, mata kita dimanjakan dengan pemandangan Pantai Papuma dari Siti Hinggil. Sebuah menara pandang yang bisa membuat kita puas menikmati seluruh area pantai dari ketinggian. Sambil menikmati buah kelapa, kami menutup senja dengan bercengkerama satu sama lain di atas bukit. Malam itu kami menginap di Papuma Resort.

Festival Waton 2019

Matahari pagi masih malu-malu muncul dari balik bukit. Saya bersama teman-teman pagi itu berencana melihat kedatangan nelayan sepulangnya dari melaut saat Subuh. Namun, apa daya, mata kami masih belum bisa diajak kompromi. Sekitar pukul setengah tujuh kami baru bisa menikmati keindahan pesisir pantai sambil menikmati ikan bakar segar dari laut.

Hari itu kami akan melihat Festival Waton. Ya, selain dikenal dengan Jember Fashion Carnival (JFC), Jember juga memiliki agenda wisata tahunan yakni Festival Waton. Dalam Bahasa Jawa, Waton berarti asal. Namun tidak dengan Festival Waton. Waton kependekan dari Watu Ulo Pegon. Pegon sendiri adalah dokar khas Jember yang ditarik dengan dua ekor sapi. Beruntung sekali kami bisa menghadiri festival yang sangat meriah ini.

Masyarakat Jember ‘tumplek blek’ menyaksikan arak-arakan Pegon di sepanjang Pantai Watu Ulo. Puluhan Pegon dihias dengan indah. Sebagai masyarakat ‘Pandhalungan’ alias pendatang, Jember tidak memiliki penduduk asli. Suku campuran ini berasal dari Madura, Osing dan sebagian berasal dari Ponorogo. Dengan beragamnya suku asal masyarakat Jember, Festival Waton tidak hanya menampilkan parade Pegon, tetapi juga reog Ponorogo dan Tabhuta’an. Tabhuta’an berasal dari Bahasa Jawa yang berarti Butha/Butho alias raksasa. Sekilas bentuknya mirip Ondel-ondel dari Betawi atau Ogoh-ogoh dari Bali.

Meriahnya Festival Waton juga dihadiri Bupati Jember, Ibu Faida. Tak hanya parade Pegon, Reog dan Butha’an yang bisa disaksikan masyarakat dan pelancong yang datang, FBI alias Festival Bakar Ikan dan gunungan ketupat, lepet menjadi ajang rebutan pengunjung. Meski panas dan berdesak-desakan, kami sangat menikmati pesta rakyat hari itu. Siangnya, kami menikmati jamuan tumpeng robyong dengan segala lauk pauknya yang sudah didoakan oleh tokoh agama setempat.

Kemeriahan acara belum berakhir saat kami harus melanjutkan perjalanan menuju Rembangan. Meski sedikit lelah, tetapi sangat puas dengan sajian dan keramahan masyarakat ‘Pandhalungan’ bumi Jember.

Rembangan, ‘Puncak’nya Jember

Bergeser ke arah utara, demografi wilayah Jember didominasi dataran tinggi. Salah satunya adalah Rembangan. Malam itu kami akan menginap di Hotel Rembangan. Sebelumnya, kami singgah dan menikmati sore hari sambil menyeruput teh, kopi dan camilan singkong goreng renyah serta pisang kukus di Villa Koffie Afdeling Rayap. Villa berbentuk bangunan loji ini asli peninggalan Belanda abad 18. Kondisi bangunan masih asli dan tertata apik. Beberapa buah kursi rotan kuno tampak menghiasi area dalam dan luar villa

Sore itu, saking nikmatnya, tanpa sadar saya menghabiskan beberapa buah singkong goreng dan pisang kukus. Usai menikmati teh beraroma vanilla, kami menuju Perkebunan Nusantara XII Kebun Renteng Pabrik Rayap. Di sini, saya dan teman-teman disuguhkan teknik pengolahan kopi dan cengkih. Kami menghabiskan sore sambil menyusuri perkebunan yang dikelilingi sungai dan parit berair jernih … (bersambung)

4 Replies to “Menyambangi Eksotisme Bumi Jember (Bag. 1)”

  1. Cerdas ya pemkab Jember, bisa mengolah tradisi puluhan tahun jadi komoditas wisata yang bisa dijual. Bukan cuma pantainya yang indah kayak Papuma, tapi kekayaan budaya dan kulinernya juga ajiib. Jadi pengin balik ke Jember nih. Kangen ma pisang kukus ma singkong goreng yang renyah gurih. Maknyus!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *