Umrah Selagi Muda, Kenapa Nggak?

Yeay! Ramadan tiba. Bulan suci yang dinantikan umat Muslim sedunia ini memang spesial. Beragam cara dilakukan umat Muslim untuk bisa mendekatkan diri sama Yang Di Atas. Salah satunya dengan melaksanakan perjalanan spiritual umrah. Tapi, yang namanya umrah enggak harus di bulan Ramadan. Bulan-bulan lain juga bisa kok. Sepanjang tahun! Misalnya dengan mengambil paket umroh November Karena pada bulan November, cuaca di Makkah relatif lebih sejuk. Suhunya sekitar 24-36 derajat.

Beberapa waktu lalu, saya nggak sengaja bongkar-bongkar file lama di laptop. Saat membereskan folder-folder foto yang berantakan, tiba-tiba mata saya tertuju pada sebuah folder berlabel umrah. Pas banget dibuka, saya jadi teringat bahwa perjalanan umrah ini sudah setahun lalu. Perjalanan umrah saya selesai tepat sehari sebelum Ramadan. Di mana saya harus kembali ke Tanah Air setelah kurang lebih 11 hari di Tanah Suci.

Nggak terasa memang, rasanya baru kemarin saya sibuk sana-sini menyiapkan berbagai printilan dan administrasi untuk perjalanan umrah. Kalau diingat, keinginan saya umrah sebenarnya sudah lama banget, kira-kira tahun 2012 silam. Ya, namanya juga keinginan, nggak tau kapan bisa merealisasikannya.

Baca juga A Spiritual Journey to Mecca and Medina part 1

Lucunya, waktu itu saya beli kain ihram di Tanah Abang tanpa ada rencana kapan mau umrah. Niat saya cuma satu: beli aja dulu kain ihram, kalau belum kepakai bisa dibuat koleksi atau sekadar mengingatkan untuk berumrah ketika membuka lemari pakaian. Enam tahun berlalu, akhirnya niat umrah baru terlaksana tahun 2018 lalu.

Kenapa sih pengin umrah?

Well, sebenarnya buat saya, umrah adalah reward/hadiah perjalanan spiritual pribadi. Saya yakin kok, setiap manusia memiliki beragam aspirasi dalam hidupnya. Termasuk dalam memberikan reward bagi dirinya sendiri. Nah, umrah buat saya adalah fase di mana saya harus tau, kapan saya berhak mendapatkan reward tersebut.

Umrah nggak harus menunggu usia lanjut, karena ibadah umrah butuh kesiapan fisik yang lebih

Umrah bukanlah perjalanan wisata rohani yang menghambur-hamburkan uang. Lebih dari itu, buat saya umrah bisa memberikan ketenangan batin. Semacam perjalanan religi yang setidaknya harus dilakukan sekali seumur hidup. Yakan, kalau mau naik haji daftar tunggunya pasti lama. Lagipula, biaya untuk naik haji jauh lebih besar daripada umrah.

Berumrah buat saya bukan berarti kita langsung menjadi manusia yang paling suci atau harus ‘suci’ dulu dari segala macam dosa. Justru menurut saya, umrah bisa menjadi tolok ukur awal untuk menjadi manusia yang lebih baik. Karena, pada hakikatnya manusia itu berproses, dan ‘proses’ untuk menjadi manusia yang lebih baik, tidak akan pernah berhenti hingga kita meninggal.

Terus apa saja persiapannya?

Jujur, saya sendiri tidak banyak melakukan persiapan yang macam-macam. Kalau banyak yang bilang: Jangan umrah kalau belum ‘bersih’, nanti kamu bakal ‘dibalas’ di sana. Well, saya katakan itu ungkapan yang keliru. Saya sendiri merasa masih sangat ‘kotor’ saat mau berumrah. Tapi saya yakin, kalau kita mau bertamu ke rumah Tuhan, pasti Tuhan akan sangat senang menyambut kita di rumahNya. Ingat ya, kalau kita mendekat satu meter dengan Tuhan, Dia akan lebih cepat mendekat seratus meter dengan hambaNya.

Toh, bukankah agama selalu mengajarkan kita untuk selalu mengedepankan husnuzan atau berprasangka baik dalam segala hal? Alhamdulillah, dengan memilih berpositif thinking sebelum berumrah, saya justru merasa semuanya dilancarkan. Enggak ada tuh, yang namanya perbuatan buruk selama hidup dibalas di sana.

Baca juga A Spiritual Journey to Mecca and Medina part 2 (Tamat)

So, saya ulangi lagi kalau ada ungkapan seperti itu, keliru besar! Kalau pun ada yang mengalami hal seperti itu, bisa jadi sedari awal dia memang sudah berprasangka buruk dengan Tuhan. Bukankah Tuhan sesuai dengan prasangka hambaNya? Beware of your mouth, Guys! Pokok’e, jangan takut berumrah hanya karena merasa kita belum ‘suci’.

Masjid Nabawi

Saya hanya perlu menyiapkan fisik agar nggak sakit selama menunaikan ibadah umrah. Selebihnya, saya membaca buku-buku panduan ibadah umrah, dan minta restu dari ibu sebelum berangkat. Bahkan, saya tidak mengadakan pengajian atau semacamnya sebelum berangkat. Bagi yang ingin mengadakan pengajian sebelum berangkat umrah, itu sah-sah saja, dan itu baik. Bagi yang tidak seperti saya, juga sah-sah saja. Itu pilihan. Yang penting bagi saya niat untuk beribadah.

Bagaimana persiapan biayanya?

Fyi, umrah itu enggak harus mahal kok! Kita bisa menyiasatinya dengan mencari program umroh promo dari beragam biro travel. Biaya umrah masih lebih terjangkau bila dibandingkan biaya traveling ke Eropa. So, mumpung masih muda jangan sia-siakan kalau punya kesempatan dan kesiapan biaya untuk berumrah. Umrah selagi masih muda tentu lebih nikmat rasanya dibandingkan ketika beribadah umrah saat usia lanjut, karena umrah membutuhkan kesiapan fisik yang lebih.

Selamat menunaikan umrah dan selamat berpuasa!

3 Replies to “Umrah Selagi Muda, Kenapa Nggak?”

  1. Semoga bisa berumrah lagi bahkan berhaji ya. Dan semoga terwujud di usia muda. Trip spirirual yang tidak cukup diungkapkan dengan kata-kata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *