Ada Bangsal Rawat Inap Khusus Remaja di RS Dharmais

Salah satu sudut bangsal rawat inap remaja di RS Dharmais, lucu ya!

Jujur, ketika saya mendapat ajakan untuk mengunjungi rumah sakit, saya langsung merasa kurang nyaman. Ya, saya salah satu orang yang kurang menyukai suasana rumah sakit. Bukan hanya itu, bau obat-obatan, emergency room, ruang operasi dan segala macamnya, membuat saya pusing dan mual.

Selain itu, ketika mengunjungi rumah sakit, saya seperti diajak flashback beberapa tahun lalu saat dirawat dan melakukan operasi kecil. Saya sadar, rasa trauma seperti ini memang nggak mudah dihilangkan. Alasan-alasan inilah yang membuat saya kurang suka dengan suasana rumah sakit.

Sebagai orang yang tidak menyukai hawa-hawa rumah sakit, saya sangat salut dengan teman-teman yang memilih jalur profesi dan terjun ke dunia medis, yang buat saya seperti memiliki hawa negatif. Entah itu dokter, perawat, apoteker atau profesi apapun yang berhubungan dengan dunia medis.

Sedikit cerita, belum lama ini saya diajak untuk mengunjungi peresmian bangsal rawat inap remaja bagi teman-teman cancer fighter. Tepatnya di Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta. Nggak gampang buat saya berdamai dengan situasi seperti ini. Namun, saya berpikir ulang, apakah saya mau terus-terusan dijajah dengan rasa khawatir dan trauma seperti ini?

Mirip ruang belajar, pasien remaja pun jadi lebih semangat.

Akhirnya, dengan mantap saya menerima ajakan tersebut. Sekali lagi, nggak mudah buat saya untuk melangkahkan kaki ke sana. Selain itu, di rumah sakit tersebut saya serasa diingatkan kembali oleh sahabat baik saya, yang beberapa tahun silam berpulang di sana. Sedih? Tentu saja, tapi saya harus kuat.

Belajar dari Seorang Survivor dan Cancer Fighter

Sedikit mengenang, sebelum saya berpindah profesi dan beralih kerja di tempat yang baru, saya mempunyai nasabah seorang survivor dan cancer fighter. Saya cukup dekat dengan beliau sewaktu masih bekerja di dunia perbankan. Beliau ini kakak kandungnya mantan petinggi negeri.

Meskipun sekarang saya sudah berpindah profesi, kami masih berhubungan baik dan masih keep in touch. Dulu, saya sering berkunjung ke rumahnya untuk sekadar silaturahmi dan belajar banyak dari beliau. Mantan nasabah saya ini seorang ibu-ibu yang sudah berumur.

Beliau cukup kuat dalam menghadapi cobaan yang demikian berat. Pada akhirnya, beliau mampu sembuh dan terbebas dari kanker. Sewaktu melakukan pengobatan atau kemoteraphy, beliau selalu mengajak “alat-alat medis berkomunikasi”. Dengan begitu, ia akan merasa nyaman saat melakukan kemoteraphy. Ibu ini selalu mengajak komunikasi alat infuse, suntikan, obat-obatan untuk “berdamai” dengan dirinya, jangan memberikan rasa sakit dan sebagainya.

Seperti ruangan bermain anak-anak yang cheerful

Ia berusaha tabah dan sabar serta selalu berpikiran positif. Dan sekarang beliau sudah dinyatakan sembuh oleh dokter yang menanganinya. Pengalamannya sebagai seorang survivor membuat saya terinspirasi.

YOAI dan Prudential Indonesia Menginisiasi Pembangunan Bangsal Rawat Inap Remaja untuk Pasien Kanker

Lain halnya jika seorang survivor cancer dialami oleh remaja. Menurut WHO, remaja di bawah usia 18 tahun dikategorikan anak-anak, tetapi mereka bukanlah anak kecil. Usia remaja sangat rentan dalam pencarian jati diri.

Dalam menangani pasien kanker remaja, tentu dibutuhkan perlakuan khusus. Termasuk dalam penyediaan ruang rawat inap yang tidak bisa disamaratakan dengan orang dewasa. Karena remaja bukanlah orang dewasa mini.

Pembangunan bangsal khusus remaja di RS Kanker Dharmais ini, diinisiasi oleh Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI) dengan Prudential Indonesia. Tujuan pembanguan bangsal ini untuk menciptakan lingkungan rumah sakit yang kondusif, agar pasien kanker anak-anak dan remaja merasa nyaman selama masa perawatan dan pengobatan medis.

Selama berkunjung ke sini, saya cukup salut dengan relawan dan tenaga medis yang menangani pasien kanker. Bangsal rawat inap remaja ini didesain khusus dengan suasana segar dan cheerful. Tidak kaku dan menyeramkan sebagaimana ruang rawat inap di rumah sakit pada umumnya.

Dindingnya penuh mural dan hiasan anak-anak maupun remaja. Bahkan di beberapa ruangan tampak seperti ruangan bermain. Saat saya menyusuri koridor bangsal, dinding kanan kirinya dicat warna-warni. Bangsal rawat inap khusus remaja dan anak ini berada di lantai empat RS Kanker Dharmais.

Bangsal yang diresmikan tanggal 27 Februari 2019 kemarin ini diresmikan oleh Ibu Menkes, Nila Moeloek. Ibu Menkes sangat mendukung setiap inisiatif yang memfasilitasi pengobatan kanker, terutama pasien anak-anak dan remaja.

Peresmian bangsal rawat inap remaja juga dihadiri oleh Presdir Prudential Indonesia, Jens Reisch. Jens turut mengungkapkan dukungan Prudential Indonesia dalam upaya menciptakn Indonesia yang lebih sehat. “Kesehatan dan keselamatan merupakan salah satu inti dari Program Community Investment Prudential Indonesia,” demikian seperti yang disampaikan Jens saat peresmian.

Di sisi lain, dukungan ini juga hasil inisiasi dari  YOAI. Ketua Umum YOAI Rahmi Adi Putra Tahir turut memberikan speech “Melalui kerja sama dengan berbagai pihak, baik dari pemerintah maupun swasta YOAI bisa sejumlah inisiatif untuk mendukung pengobatan kanker anak di Indonesia,”.

 Oh ya, sekedar informasi ruang rawat khusus remaja ini merupakan yang ruang inap pertama di Indonesia. Semoga dengan makin meningkatnya beragam fasilitas di bangsal ini, adik-adik cancer fighter semakin ceria dan semangat dalam menjalani perawatan.

Teruntuk teman-teman cancer fighter, never give up! We do good.

2 Replies to “Ada Bangsal Rawat Inap Khusus Remaja di RS Dharmais”

  1. Waah inisiatif yang keren, ada bangsal khusus rawat inap remaja yang sangat cheerful disesuaikan karakter remaja. Jadi semakin memberikan dukungan bagi para cancer fighter remaja. Salut…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *