Throwback Konser The Professor Band di Makara UI

in semua tulisan by

“Music expresses that which cannot be said and on which it is impossible to be silent” – Victor Hugo

Ungkapan Victor Hugo di atas memang benar adanya. Musik adalah salah cara kita untuk mengekpresikan diri apa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata dan tidak mungkin didiamkan. Saya sendiri menyukai musik dan juga sesekali menikmati konser musik hidup. Sementara untuk bermain musik saya lebih menyukai gamelan. Musik adalah bahasa yang paling universal untuk saling memahami.

Meskipun tergolong generasi millenial, saya juga suka kok lagu-lagu jadul seperti Koes Plus & Panbers. By the way, Jumat 27 Juli 2018 kemarin, saya dan teman-teman seseruan bareng liat konser The Professor Band (TPB) Plus bawain lagu-lagunya band legendaris Koes Plus & Panbers. Konser selama kurang lebih 3 jam di Auditorium Makara Art Center Universitas Indonesia berlangsung sukses dan meriah. Kita throwback yuk, mengingat-ingat keseruan konsernya yang lalu.

Buat kalian yang belum tau The Professor Band (TPB), nih saya kasih bocoran. Grup band ini memiliki personel dari kalangan akademisi mulai dari professor, dosen hingga mahasiswa dari civitas akademika Universitas lndonesia (Ul).  Dibentuk dari tahun 2002 dan masih eksis hingga sekarang. So, kurang lebih sudah lima belas tahun berkarya.

Hingga sekarang TPB sudah memiliki banyak anggota. Beberapa nama yang ikut tampil dalam konser malam itu diantaranya: Prof. DR. Triyatno Yudoharyoko dan Prof. DR. Agus Sardjono, SH. MH sebagai gitaris, Prof. DR. Roni Nitibaskara – Mandolin, Prof. DR. Paulus Wiroutomo. MSc. Sebagai drummer sekaligus ketua TPB, Prof. DR. Budi Susilo Supanji – Flute, sedangkan vokalis digawangi oleh Dr. Iriani Shopiaan, MSi, Drs. AG. Sudibyo, MSi dan Eki Melinawati, dan masih banyak lagi.

Meskipun personelnya dari kalangan akademisi yang terkenal kaku dan serius, namun penampilan mereka malam itu sangat cair dan menghibur, nggak main-main dan sekedar asal lho! Semua personel tampil maksimal. Kostumnya pun sangat elegan, seperti laiknya konser musik pada umumnya. Paduan blazer hitam untuk pemain musik dan warna merah untuk para vokalis. Sangat stylish dan ciamik serta tidak meninggalkan unsur lndonesia dengan pemilihan kostum lurik. Sementara untuk choir yang digawangi ibu rektor tampil dengan kostum warna hijau.

Filosofi dibentuknya grup band ini adalah untuk menyeimbangkan kinerja otak kanan dan otak kiri. Ya maklumlah, sebagai pendidik, keseharian mereka lebih banyak dihabiskan untuk mengajar yang notabene lebih dominan menggunakan otak kiri, mulai dari kata-kata, logika, matematika, urutan, analisis dan lain sebagainya.  Nah, supaya otak kanan dan kiri seimbang, maka dibentuklah band TPB ini untuk menyeimbangkan kinerja otak kanan.  Tau kan, kalau musik dan semua kegiatan yang meliputi kreativitas, irama dan imajinasi adalah tugas otak kanan.

Dengan bermusik membuat para akademis tampak awet muda karena menyenangkan. Satu hal yang harus diingat: belajar dan bermain musik itu sama pentingnya.

Kiprah The Professor Band Plus pun sudah mendunia. Beberapa kali diundang manggung ke luar negeri dan sudah menelurkan album pada tahun 2015 yang berjudul Seribu Satu Malam. Selain tampil di ‘kandang sendiri’ di UI untuk berbagai event kampus, TPB juga sudah 3 kali ikut Jakarta Jazz Festival dan 6 kali Java Jazz Festival. TPB juga pernah mendapat penghargaan dari Muri sebagai band dengan jumlah anggota professor terbanyak. Keren ya!

Konser yang berlangsung beberapa waktu yang lalu, memang dipersembahkan untuk band legendaris: Koes Plus dan The Panbers. Konser langsung digeber dengan lagu Muda Mudi-nya Koes Plus. Beberapa hits yang pernah menjadi andalan band tersebut sukses ditampilkan. Lagu-lagu seperti: Bujangan, Kisah Sedih di Hari Minggu, Andaikan Kau Datang Kembali, Kembali ke Jakarta dan masih banyak lagi membuat antusias penonton semakin meriah.

Satu pesan yang dititipkan TPB kepada para penonton adalah mari turut melestarikan lagu-lagu Indonesia pop-klasik ditengah menjamurnya lagu-lagu pop sekarang yang cepat popular namun cepat pula dilupakan. TPB juga ingin berperan aktif agar lagu-lagu lndonesia kembali berjaya di ’rumah’-nya sendiri.

Lagu Bujangan – Koes Plus yang menjadi penutup konser malam itu, sukses mengajak penonton bergoyang. Wah, senang banget rasanya bisa melihat langsung konser TPB. Semoga tahun depan TPB bisa menghibur kembali.

An amateur blogger & life enthusiast by night ● Ancient ● Art ● Travel ● Book ● Culture ● Finance ● Food ● Gamelan ● Javanese

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*