Sara & Fe, Stadhuis Schandaal, Roman Tragis Berlatar Sejarah

in review by

Saya selalu menyukai hal-hal yang berbau sejarah, buat saya sejarah mempunyai kekuatan untuk mengajak kita kembali menjelajahi masa lalu. Seperti film “Sara & Fe, Stadhuis Schandaal” film yang bergenre drama thriller dengan latar sejarah ini sangat menarik. Bercerita tentang kisah romansa klasik sekitar abad 17-an atau zaman-zaman VOC menjajah nusantara.

Meskipun menyelipkan kisah romansa klasik, namun ini bukan film sejarah. Konsepnya tetap kekinian, Fei sang pemeran utama film ini adalah seorang mahasiswi jurusan Ilmu Budaya UI. Dia sangat tertarik dengan tugas kampus untuk meneliti The Old Batavia.

Penggunaan judul dalam bahasa Belanda bukan tanpa alasan, ini memang disengaja supaya dari awal penonton tau kalau film ini memang berlatar zaman Belanda. Sewaktu Fei meneliti sebuah ruangan di Museum Fatahillah atau yang dalam bahasa belanda Stadhuis, tiba-tiba dia dikejutkan dengan kehadiran noni-noni cantik dengan gaun eropa abad pertengahan yang bernama Sarah. Eh, tapi bukan film horror lho, gadis cantik dari ‘masa lalu’ itu ternyata leluhur Fei. Dia hadir untuk mengajak Fe melihat kisah leluhurnya di masa lalu yang pernah menjadi bagian dari sejarah Batavia. Fei dan Sarah kemudian masuk ke lorong waktu abad 17. Kenapa harus Fei? Penasaran kan, kisahnya?

Konfliknya tidak hanya seputar kisah klasik leluhur Fei, namun juga ada kisah cinta segitiga antara Fei, Chiko dan Danny. Chiko adalah mantan pacar Fei dengan latar masa lalu yang suram. Sementara Danny adalah partner bisnis ayah Fei yang ia temui di Shanghai. Konflik pun semakin rumit karena Chiko terlibat cyber crime dan pemerasan.

Film Sara & Fe, Stadhuis Schandaal ini mengambil setting di tiga tempat; Shanghai, Museum Fatahillah Jakarta dan perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Tengah.

Dua kekuatan yang menjadi andalan film ini adalah kehadiran sang sutradara Adi Surya Abdy dan kehadiran pemain-pemain muda yang fresh. Mas Adi ini dulunya adalah sutradara senior yang sudah belasan tahun berkarya di era 80-90-an. Buat kalian yang besar di tahun-tahun tersebut pasti nggak asing dengan film “Bangku Kosong”, “Perjanjian Terlarang”, “Macan Kampus”, “Ketika Cinta Telah Berlalu”, “Roman Picisan”. Setelah sekian tahun vakum dari dunia sinetron, Mas Adi kini kembali ke layar lebar dengan film barunya “Sara & Fe, Stadhuis Schandaal”.

Sementara pemain-pemain baru seperti: Amanda Rigby dan Tara Adia dipercaya Mas Adi untuk menjadi pemeran utama. Wajah Amanda tak asing lagi di dunia sitkom, sementara Tara Adia adalah seorang penyanyi dan pemain biola. Dalam film “Sara & Fe, Stadhuis Schandaal” Tara juga menunjukan kepiawaianya bermain biola. Akting  kedua pemain ini tak perlu diragukan lagi.

Dukungan pemain senior seperti Rency Milano, Septian Dwi Cahyo, Tio Duarte dan Rowena Umboh membuat film ini semakin menarik. Kepiawaian mereka dalam berakting tak perlu diragukan lagi.

Demi totalitas, film ini juga membuat set sendiri untuk menyesuaikan adegan. Setting berupa benteng Belanda dan tangsi abad 17-an dibangun untuk memenuhi unsur artistik. Tidak hanya mengandalkan bangunan Museum Fatahillah atau Kota Tua. Pemilihan kostum dan detil property juga sangat diperhatikan.

“Saya memang tidak ingin membuat film sejarah, tetapi membuat film yang menggambarkan sebuah situasi atau sebuah episode yang konon pernah terjadi di zaman kolonial, yakni tentang gedung yang penuh skandal” ujar Mas Adi, sang sutradara. “Film ini menawarkan sesuatu yang berbeda dengan format kekinian, tapi tidak melupakan unsur histori”.

Meskipun judul filmnya berbahasa Belanda, namun tidak semua dialognya menggunakan bahasa Belanda, hanya beberapa adegan yang menyuguhkan bahasa Belanda, supaya unsur filmnya terpenuhi. So, kalian tidak perlu khawatir.

Film “Sara & Fe, Stadhuis Schandaal” tayang serentak pada tanggal 26 Juli 2018. Konon, film ini nantinya juga akan ditayangkan di Tiongkok. Buat kalian yang penasaran, buruan nonton di bioskop terdekat.

An amateur blogger & life enthusiast by night ● Ancient ● Art ● Travel ● Book ● Culture ● Finance ● Food ● Gamelan ● Javanese

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*