Sroedji, Sang Patriot

in books/semua tulisan by

“Untuk mengalahkan bangsa yang besar tidak dengan mengirimkan pasukan perang, tetapi dengan cara menghapus pengetahuan mereka atas kejayaan para leluhurnya, maka mereka akan hancur dengan sendirinya..”

Kutipan di atas cukup jitu digunakan penjajah untuk menghancurkan nusantara. Banyak generasi muda sekarang enggan dan malu mempelajari sejarah dan wawasan kebangsaan. Padahal, kalau mau mengkaji lebih jauh dan mau belajar lagi, betapa para leluhur kita adalah orang-orang yang sangat luar biasa.

Sebelum nusantara terbebas dari penjajahan, tingkat buta huruf aksara latin masyarakat lndonesia memang di bawah 10 persen. Namun, mereka tidak buta huruf dengan aksara leluhurnya. Banyak sekali para pejuang yang bisa membaca dan menulis dengan aksara warisan leluhurnya seperti: hanacaraka. Output yang mereka hasilkan pun sangatlah besar. Kemerdekaan yang kita nikmati sekarang adalah buah dari kegigihan para pendahulu kita.

Buta huruf aksara latin bukan berarti mereka bodoh dan terbelakang. Justru sebaliknya, dengan mengenali mereka, membuat kita semakin tangguh dan percaya diri.

Pada tanggal 9 Juli 2018 yang lalu, saya mengikuti workshop tentang “Penelusuran  Jejak Perjuangan Letkol Moch. Sroedji”. Selain menumbuhkan rasa nasionalisme, acara tersebut juga membantu saya untuk mengenal lebih jauh tentang siapa beliau.

Letnan Kolonel Mochammad Sroedji atau yang sering dikenal dengan Suradji adalah salah satu tokoh bangsa yang mungkin tidak banyak kita tahu. Sosoknya yang pantang menyerah dan rela berkorban sangat menginspirasi saya untuk melakukan hal yang sama. Beliau adalah salah satu tentara yang hijrah, kemudian kembali lagi ke kampung halamannya, untuk melawan militer Belanda yang melakukan penyerangan ibu kota Republik lndonesia pada tahun 1948, yang pada waktu itu terletak di Yogyakarta.

Letkol Sroedji sendiri lahir di Bangkalan, Madura pada tanggal 1 Februari 1915. Lahir di masa Indonesia belum merdeka, semasa kecil Letkol Sroedji juga mengenyam pendidikan di Hollandse Inlandshe School (HIS) di Kediri kemudian melanjutkan pendidikan di Ambacthsleergang dan menjadi anggota Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor angkatan 1 dengan gelar: Chuudanchoo Dai II Daidan 1 – Kencong Jember.

Dengan segala keterbatasan yang ada, Sroedji mampu menembus bumi Jawa Timur dan memimpin sekira 5000 anak buah. Memulai lagi perlawanan dari nol dengan membawahi empat batalyon: Yon 25 yang dipimpin Mayor Syaifuddin, Yon 26 pimpinan Mayor Magenda, Yon 27 Pimpinan Letkol Abdul Rivai dan Yon Depo pimpinan Mayor Darsan.

Sebagai komandan, Letkol Sroedji tidak hanya dituntut untuk memimpin anak buah, tapi juga harus mampu memberikan teladan. Selain itu beliau juga harus bisa mengatur strategi agar pasukannya bisa selamat dan memenangkan pertempuran.

Berbagai pertempuran dahsyat untuk merebut kembali kemerdekaan bangsa telah dilalui letkol Sroedji hingga pada akhirnya beliau gugur di desa Karang Kedawung, Kabupaten Jember. Hal yang paling tragis dan menyedihkan adalah jenazahnya dijadikan alat propaganda Belanda dengan cara diseret dan dipertontonkan selama tiga hari berturut-turut.

Beliau juga memperoleh penghargaan Tanda Jasa Pahlawan pada tanggal 5 Oktober 1949 oleh Presiden Soekarno. Tanda Kehormatan Bintang Sakti pada tanggal 18 Maret 1975 oleh Presiden Soeharto. Tanda Jasa Bintang Mahaputra Utama dari Presiden Jokowi. Dan masih banyak lagi bintang kehormatan yang beliau peroleh. Hingga kini namanya diabadikan sebagai nama jalan di seluruh jalur pertempuran beliau. Nama Letkol Mochammad Sroedji juga diabadikan sebagai nama sebuah universitas swasta, Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) di Jember.

Sekilas kisah heroik Letkol Sroedji tadi, bisa kita baca dalam novel Sang Patriot karya Irma Devita. Sang pengarang sendiri tak lain dan tak bukan adalah cucu dari Sang Letkol Sroedji. Dengan semangat menanamkan rasa cinta dan bangga kepada para pendahulu bangsa, kita sebagai anak-anak muda diajak kembali untuk menggali lagi rasa nasionalisme, rasa bangga akan bangsa dan rasa cinta tanah air yang semakin pudar.

Wisata Napak Tilas Sejarah

Satu hal yang membuat saya tertarik untuk menelisik lebih jauh tentang sejarah adalah betapa negara kita ‘kaya’akan orang-orang hebat pada masa lalu. Mereka adalah sosok-sosok yang patut untuk dijadikan teladan.

Buat kalian yang menyukai sejarah, cobalah sesekali melakukan wisata napak tilas. Seru lho mengikuti wisata seperti ini. Wisata napak tilas membuat kita seperti bertamasya ke masa lalu.

Selain mengenal lebih jauh tentang sosok pahlawan bangsa seperti Sroedji, dalam workshop “Penelusuran  Jejak Perjuangan Letkol Moch. Sroedji“, saya jadi tau lebih banyak mengenai potensi wisata sejarah yang berada di Jawa Timur. Peninggalan-peninggalan Letkol Sroedji banyak terdapat di Kabupaten Jember.

Beberapa situs bersejarah peninggalan Letkol Sroedji di Jawa Timur terbuka untuk pengunjung. Mulai dari Monumen Bambu Runcing, Monumen Kaliwates, Monumen Mastrip, Monumen Gumuk Baung Sukoreno, Monumen Letnan Suyitman, Tugu Monumen Curah Buntu, Monumen Palagan hingga Tugu Monumen Kopral Soetomo. Belum lagi peninggalan-peninggalan yang tersebar di wilayah Kabupaten Bondowoso, Kabupaten Gresik, Kabupaten Bojonegoro, Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Lamongan.

Dengan adanya wisata napak tilas seperti ini, generasi muda akan digugah kembali tentang pemahaman nilai-nilai kepahlawanan dan perjalanan sejarah bangsa. Salah satu cara untuk mencintai lndonesia dan memaknai nasionalisme.

An amateur blogger & life enthusiast by night ● Ancient ● Art ● Travel ● Book ● Culture ● Finance ● Food ● Gamelan ● Javanese

15 Comments

  1. Setuju banget sama opening speech nyaaaa. Paragraph pembuka blog .
    Kerenn
    Dan it so true
    Kadang kkta terlalu terlena dengan kenikmatan kemajuan zaman, sampai lupa tentang sejarah nusantara .
    Semoga pemuda2 indonesia bisa mengikuti jejak peejuangan bpk Soerdji

  2. Ooo jd kisahnya dijadikan novel oleh cucunya ya? Bagus sih ya, dijadikan buku dan ada napak tilas supaya mengingatkan kita utk lbh kenal lg pahlawan dan terus mengenang jasanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*