Janadriyah, Ketika Menikahimu Adalah Satu-Satunya Untuk Cara Membunuh Rindu

in semua tulisan by
Bersama Mas Febriandi, penulis novel Janadriyah

“Belajar yang rajin, jangan lupa mengaji, Emak enggak bisa ngasih harta dan warisan, cuma bisa ngasih ilmu karena Emak yakin, cuma ilmu pengetahuan yang bisa mengubah masa depan..”

Kutipan novel Janadriyah ini membuat saya penasaran, awalnya saya enggan untuk membaca novel setebal kurang lebih lima ratus halaman tersebut. Karena sepintas kalau dilihat dari sampul depannya, novel karya Achi TM dan Febriandi Rahmatullah ini, memang lebih mirip buku-buku agama yang sering menjadi penghias rak buku di rumah saya ketimbang dibaca. Inilah alasannya kenapa saya pada awalnya enggan untuk membukanya.

Meskipun ada ungkapan “Don’t judge the books by it’s cover” tapi saya punya pertimbangan pribadi mengapa saya enggan membaca buku-buku yang cover depannya kurang menarik menurut saya. Alasan sederhananya : cover buku merepresentasikan keseluruhan isi buku saat pertama kali kita lihat, kalau desainnya kurang menarik dan terlihat asal-asalan, bagaimana kita akan tertarik dengan isinya. Mungkin banyak yang tidak sependapat, tetapi itu memang alasan pribadi saya sih, alasan lainnya karena saat ini membaca buku-buku religi belum masuk prioritas saya. Jadi kalau melihat buku dengan sampul depan berbau religi belum tentu saya tertarik membacanya.

Launching Novel Janadriyah

Launching Novel Janadriyah bersama Mbak Achi TM dan Mas Febri

Berlokasi di Ef Hive,The Breeze BSD, launching novel pagi itu diawali dengan pertunjukan seni Rudat dari Banten, jujur ini pertama kalinya saya menikmati seni Rudat. Boleh dibilang seni ini sudah hampir punah, Rudat mempunyai kemiripan dengan seni Hadroh dan Terbangan namun dibalut dengan seni beladiri Banten. Iringan solawat dan tari-tarian daerah menjadi bagian dari pertunjukan Rudat. Nuansa religius dan islami memang sengaja dihadirkan sebagai latar dari peluncuran Janadriyah.

Banyak kisah unik dari pembuatan novel ini, Mbak Achi TM dikenal melalui novel yang sudah difilmkan yaitu “Insya Allah, Sah” sudah menulis puluhan novel, dan saat pembuatan novel ini berada di Indonesia sementara Mas Febri sendiri berada di luar negeri, tepatnya di Qatar. Mempunyai latar belakang yang berbeda-beda dan hanya dua kali bertemu muka dalam pembuatan novel ini. Komunikasi hanya dilakukan via whatsapp dan email, tidak heran jika pembuatan novel ini memakan waktu hingga 2 tahun.

Pertunjukan Rudat

Kembali ke Janadriyah, yang menarik dari novel ini ditulis berdasarkan kisah pribadi sang penulis Mas Febriandi Rahmatullah, meskipun terkesan religius namun penulis tetap menyematkan keluguan dan nilai-nilai kultural  yang cukup menggugah rasa. Terinspirasi dari pengalaman pribadinya sebagai seorang  praktisi marketing data analytics Vodafon di Qatar dan mimpi-mimpinya sebagai pemuda Indonesia pada umumnya.

Rahmat yang menjadi tokoh utama dalam novel ini mempunyai kehidupan yang penuh warna, berasal dari keluarga sederhana yang taat dalam beragama, kedua orang tuanya selalu menanamkan nilai-nilai agama sejak kecil. Rahmat kecil kerap berpindah-pindah sekolah lantaran pekerjaan abahnya sebagai tenaga pelaksana di sebuah perusahaan swasta yang sesekali menjadi guru bantu honorer di SD.

Prestasi Rahmat di bidang akademis boleh dibilang biasa saja, tidak secemerlang bintang. Namun keberuntungan seringkali menghampirinya, ketika Rahmat dewasa memutuskan menikah dan tinggal di luar negeri, banyak ‘keajaiban’ yang mereka alami. Tinggal di sebuah apartemen sempit hanya ditemani kasur tiup dan pemanas ruangan yang tidak berfungsi. Saat melahirkan anak ke-duanya kondisi ekonomi keluarganya pun sedang tidak stabil, bahkan nyaris di titik nol, mengalami penipuan, konflik asmara serta jauh dari keluarga dan kerabat.

Alur dalam novel ini mengalir ringan, di beberapa bagian harus flashback ke masa lalu, kisah dan konflik keluarga dalam novel ini mengingatkan saya dengan novel Para Priyayi karyanya Umar Kayam, tidak mirip, boleh dibilang demikian, setting waktu dan latar kulturalnya pun berbeda namun keduanya memiliki kesamaan dalam menyelesaikan konflik dalam keluarga. Nilai-nilai luhur yang ditanamkan keluarga sejak kecil menjadi senjata ampuh dalam mengarungi kehidupan.

Di beberapa bagian saya juga menyukai kutipan-kutipan dari Janadriyah, seperti : “Satu-satunya cara untuk membunuh rindu adalah menikahimu..”, “Jika pernikahan adalah surga dunia, aku ingin ke sana bersamanya..” kata-kata ‘makjleb’ seperti ini sesekali menjadi penyegar ketika membaca sebuah novel yang lumayan panjang.

Banyak pesan moral yang diselipkan Mas Febriandi dalam novel pertamanya ini, sikap optimistis, selalu berpikir positif  dan semangat dalam menjalani kehidupan yang terkadang banyak hal-hal mengejutkan. “Intinya jangan pernah meng-underestimate diri sendiri, jika kita mempunyai impian dan idealisme hendaknya selalu dipegang walaupun iming-iming materi selalu menggoda untuk melunturkannya..” ujar Mas Febri saat peluncuran Janadriyah.

Kata Janadriyah sendiri terinspirasi dari nama sebuah festival tahunan di Riyadh. Akan ada banyak rasa yang bisa kita nikmati ketika membaca novel ini. Susah, sedih, senang, bahagia campur aduk mengolah emosi kita, karena sejatinya hidup adalah perjalanan. Perjuangan dan rasa sakit adalah bumbu yang akan selalu menambah rasa sedap kehidupan.

Janadriyah – Sebuah Perjalanan
Penulis : Achi TM & Febriandi Rahmatullah
Harga :Rp.170.000
Fyi : seluruh keuntungan dari penjualan buku ini disumbangkan untuk kegiatan sekolah dasar.

An amateur blogger & life enthusiast by night ● Ancient ● Art ● Travel ● Book ● Culture ● Finance ● Food ● Gamelan ● Javanese

10 Comments

  1. Harganya lumayan ya, mas. Tp kl dilihat dr tebal halaman dan ceritanya yg tampaknya menarik ya worth it. Btw, iya banget nih “Satu-satunya cara untuk membunuh rindu adalah menikahimu.” 😂

  2. Sudah sekian lama, novel menjadi ‘urutan’ terakhir hal yang ingin saya baca, tapi tulisan mas Achi membuat saya kudu revisi kebiasaan tersebut…

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*