Ranu Kumbolo, Danau Cantik Yang Misterius

in semua tulisan by
Ranu Kumbolo saat matahari terbit

Sudah pernah ikut trip yang penuh drama? Alhamdulillah saya sudah, untungnya sih nggak berlanjut terus-terusan, cukup drama kita aja yang nggak pernah berakhir (lupakan kalimat terakhir!). Yeay! akhirnya kesampaian juga mengunjungi danau paling indah dalam impian saya, Ranu Kumbolo. Sudah tau donk danau yang saya maksud?  Berkat baca novel 5 cm kemudian dilanjut nonton filmnya, akhirnya saya mupeng juga untuk kemping ceria di pinggiran danau tersebut.

Drama sudah  dimulai dari awal merencanakan ikut trip ini, yang pertama dari izin cuti, setelah cuti disetujui, mendadak saya mendapat info kalau tiket kereta kepulangan sudah habis. Duuuh, piye iki? Akhirnya teman-teman sepakat untuk merubah tanggal keberangkatan dan kepulangan. Eh, ladalah, saya kan nggak segampang itu untuk merubah jadwal cuti. Macam pepatah Jawa “esok tempe, sore dele” pagi tempe, sorenya berubah lagi jadi kedelai. Saya harus mencari momen dan alasan yang pas supaya perubahan cuti disetujui. Pe er nomer satu!

Akhirnya setelah urusan revisi percutian disetujui. Saya terus memantau grup whatsapp untuk menunggu perkembangan selanjutnya. Eh, nggak dinyana-nyana ternyata jadwal trip berubah ke tanggal yang disepakati diawal, berhubung tiket kepulangan yang tersedia hanya separuh dari total jumlah peserta trip setelah jadwal dirubah. Dan saya pun harus mengajukan revisi cuti kembali. Pe er nomer dua! Abang lelah, Dek! 

Drama cuta-cuti kelar, drama selanjutnya adalah drama tiket kepulangan. Rencana kepulangan dari stasiun Malang mendadak batal karena kehabisan tiket pulang. Alhasil, demi mengejar waktu liburan berjalan sesuai jadwal cuti, teman-teman memutuskan untuk mengejar tiket balik dari stasiun Semarang. Kebayang dong ya, Malang-Semarang, kita memutuskan untuk sewa mobil elf. Akhirnya setelah rembugan sana-sini, sebagian peserta memutuskan untuk extend di Malang dengan jadwal kepulangan berbeda-beda. Saya dan separuh teman lainnya yang fakir cuti tergabung dalam grup kepulangan via stasiun Semarang. Via darat, eh maksudnya naik mobil elf.

sunrise-nya kece banget
misty

Okay, drama-drama sudah memasuki episode terakhir, saatnya kita fokus untuk menikmati perjalanan. Jakarta-Malang ditempuh dalam waktu kurang lebih 17 jam. Tidur di kereta dengan posisi punggung vertikal, sejujurnya saya nggak bakalan bisa tidur dengan posisi badan begitu. Akhirnya, berhubung kita berada di posisi gerbong paling belakang, saya bertiga teman memutuskan untuk menggelar matras dan tidur di bagian belakang. Baru sekitar satu jam merebahkan badan di atas matras, tiba-tiba saya dibangunkan oleh Polsuska, kami dilarang tidur di bawah karena posisinya mengganggu penumpang yang ingin ke toilet. Pfffttt!!

Balik lagi ke kursi, saya tetap tidak bisa tidur. Akhirnya saya menggelar matras di kolong bangku. Memaksakan diri untuk tidur horizontal, karena besok badan harus bugar supaya kuat trekking menuju Ranu Kumbolo. Tau kan? space kolong bangku kereta itu seluas apa, beruntunglah badan saya ideal jadi muat aja, meskipun nggak bisa bolak-balikin badan saat tidur.

Paginya, sesampainya di Malang impian saya adalah sarapan nasi pecel, sarapan nasi pecel adalah kemewahan bagi saya yang tinggal di Jakarta. Namun sayang banget karena waktunya mepet, pas sampai warung makan, pecelnya keburu habis  Dari stasiun Malang menuju basecamp sementara, kami nyarter angkot menuju Tumpang untuk beristirahat dan belanja logistik.

Oro-Oro Ombo
Ranu Kumbolo dari Tanjakan Cinta

Dari sini kita akan diangkut mobil jeep menuju Ranu Pane, Ranu dalam bahasa jawa berarti air atau sebutan untuk danau yang dalam bahasa sunda sering disebut Situ atau Setu. Di Ranu Pane kami dikumpulkan ke dalam basecamp penampungan, kemudian antri untuk diberi briefing mengenai dos and don’ts selama trekking hingga turun kembali. Intinya jangan pernah meninggalkan apapun kecuali jejak dan jangan mengambil sesuatu kecuali foto. Berhubung tadi pagi belum sempat makan pecel, saya menyempatkan diri untuk membeli pecel sayur untuk bekal makan nanti malam, jangan takut basi karena suhu di sini sangat dingin, jadi pecelnya tetap segar meski ditaruh ke dalam tas.

Trekking dimulai dari gerbang selamat datang, selepas solat ashar atau sekitar setengah lima sore. Jarak antar pos berbeda-beda jauhnya, sekitar satu sampai dua jam-an. Jarak paling jauh adalah dari pos 2 menuju pos 3. Pas di pos 3 ada sedikit tanjakan, harus sedikit ekstra hati-hati karena jalur malam itu licin bekas hujan badai sehari sebelumnya. Sempat sedikit gerimis tapi Alhamdulillah cuaca cerah kembali hingga kami pulang.

Ada 4 pos yang harus kami lewati, di pos pertama dan kedua ada warung yang menjual makanan dan buah-buahan. Lumayan untuk mengisi perut, saya sih lebih suka makan buah selama perjalanan. Selain segar, buah juga mudah diserap tubuh untuk mengembalikan energi yang terpakai. Infonya sih, di setiap pos ada yang menjual makanan tapi hanya di pos 1 dan 2 yang buka sampai malam hari.

Sebenarnya kalau trekking di gunung nggak bawa apa-apa pasti badan enteng, iyalah, tapi kan nggak mungkin ke gunung tanpa perlengkapan. Saya sendiri membawa carriel dan daypack, ditambah tenda dan logistik dari minyak goreng sampai beras. Kebayang dong kalau sudah capek, saya buru-buru nyandar di pohon atau kalau ada tempat luas untuk istirahat saya langsung geletak gitu aja. Gak peduli basah, becek atau kotor. Yang penting –hati– punggung bisa merebah, meski cuma sebentar.

Ranu Kumbolo dingin? Jawaban saya : Enggak, eh maksudnya nggak salah lagi 😀 (abaikan!) sebenarnya ini yang saya takutkan. Hasil browsing sana-sini cuaca dingin di Ranu Kumbolo mencapai puncaknya pas musim kemarau, sekitar Juli-Agustus tepat saat saya berada di sana. Dan saya paling sebel sama cuaca dingin, cukup sikap dia aja yang dingin, kamu jangan! Okay, lupakan curhatan saya.

Demi menahan hawa dingin di Ranu Kumbolo, saya memakai enam lapis baju, tidak langsung saya pakai semuanya sih, tapi bertahap. Sewaktu trekking saya memakai kaos polyester yang saya anggap pengganti Long John kemudian T-shirt lalu dilapisi kemeja flannel baru kemudian jaket gunung. Namun, sewaktu tidur saya memakai tambahan jaket dan jas hujan. By the way, jas hujan ini ampuh lho untuk menahan dingin sikapnya Ranu Kumbolo. Setelah itu baru masuk ke dalam Sleeping bag.

Apa yang menarik di Ranu Kumbolo? Banyak banget, melihat keindahan bulan di atas danau, kebetulan cuaca sedang cerah. Paginya menikmati sunrise yang muncul dari dua bukit, menjelang siang naik sedikit menuju Tanjakan Cinta, mitosnya kalau pas naik ketika dipanggil nggak menoleh cinta kita akan abadi. Saya sih tetap nengok meski nggak ada yang manggil, sayang kalau view danau yang indah dari atas dilewatkan begitu saja.

Dari Tanjakan Cinta turun sedikit kita menuju Oro-Oro Ombo, dalam bahasa Jawa Oro-Oro Ombo berarti padang yang sangat luas. Sumpah, tempat ini keren bin instagramable banget, berupa hamparan padang yang maha luas, ditumbuhi bunga Verbena berwarna ungu, berhubung ini bunga parasit yang tergolong hama, kalian diijinkan loh untuk memetik dan membawanya pulang. Tapi jangan sekali-kali memetik bunga Edelweis ya!.

(Bersambung…)

An amateur blogger & life enthusiast by night ● Ancient ● Art ● Travel ● Book ● Culture ● Finance ● Food ● Gamelan ● Javanese

49 Comments

    • Edelweis bunga yang dilindungi, Kak. Sekali ketahuan di pos jaga metik Edelweis, disuruh lagi balik ke Ranu Kumbolo buat ngangkut sampah sekantong plastik penuh sebagai hukuman, mau? 😀

  1. Keren tulisannya mas..pertama kali ngintip blog nya, baca pertama yg ini..kebetulan jg td ada di tipi..:D

    Ranu Kumbolo, one of my ‘been there done that’ yang belum kesampaian wkwkw..pengeeen..insyaAllah semoga ada kesempatan ke sana..

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*