I Dreamed I Could Fly…

in semua tulisan/traveling by

Kalau ditanya apakah saya takut ketinggian? Pasti jawaban saya seperti kebanyakan orang pada umumnya, saya takut ketinggian. Meskipun takut ketinggian tapi tiga tahun lalu saya pernah menuliskan whislist kedalam buku bahwa suatu saat saya harus mencoba terbang dengan paralayang atau paragliding. Saya memang suka menuliskan ‘mimpi-mimpi’ aneh yang harus dicoba setidaknya sekali seumur hidup. Mimpi terbang dengan paragliding hampir terwujud dua tahun lalu di Gunung Banyak, Malang. Sayang sekali saat itu begitu sampai disana situasi dan kondisi sangat tidak memungkinkan. Jadilah mimpi terbang dengan paragliding itu kandas.
pg30
Beberapa waktu lalu, entah karena apa tiba-tiba saya ingat kembali mimpi terbang itu belum terwujud. Dan sayapun iseng melemparkan ajakan untuk mencoba paragliding ke grup whatsapp teman-teman, alhasil terkumpullah enam orang untuk join. Namun pada hari H, tiga orang teman membatalkan ajakan tersebut karena satu dan banyak hal. Jadilah saya dengan dua orang teman yang memang sering jalan bareng yang masih semangat untuk mencoba paragliding.

Sesampainya di lokasi cuaca yang awalnya cerah berubah sedikit mendung dan sempat gerimis kecil. Saya sempat hopeless melihat perubahan cuaca, bahkan dua teman saya malah sempat melemparkan ajakan untuk mencari alternatif tempat wisata kalau batal paragliding karena cuaca buruk. Alhamdulillah sesampainya di atas bukit, tempat untuk terjun paragliding cuaca mulai bersahabat. Kitapun segera mendaftar, sialnya karena kita turis lokal yang tarif terbangnya lebih murah daripada turis asing yang mayoritas dari timur tengah diperlakukan curang oleh petugas. Urutan antrian yang tidak jelas membuat kita menunggu hampir dua jam karena mereka lebih memprioritaskan turis asing untuk terbang lebih dulu. Sayapun sempat protes dan memaksa untuk melihat nomor urutan terbang. Dan benarlah kita dilewatkan berkali-kali karena saya sempat mengenali turis asing yang mendaftar jauh setelah kita diprioritaskan untuk terbang lebih dulu. Bukan saja tentang nomor urut, sewa kamerapun mendadak jadi lebih mahal tiga kali lipat daripada info yang saya dapat sebelumnya. Merekapun cuek dan tidak mau menurunkan harga sewa kamera karena memang sedang ramai pengunjung. Siaalll!!

Meskipun sedikit kesal saya mencoba untuk menikmati suasana, daripada sudah jauh-jauh dan membayar mahal malah tidak menikmati pengalaman baru. Setelah lama menunggu, taraaa!! Giliran saya terbang sudah tiba. Sedikit deg-degan sih, tapi tidak terlalu karena terbawa euphoria. Sempat dua kali gagal take off karena layar parasut tidak mengembang sempurna. Rasanya ingin segera melompat saja. Begitu yang ketiga kalinya layar parasut mengembang sempurna saya sudah siap berlari dan lompat terjun di pinggiran bukit dan kemudian terbang. Saya berteriak sekencangnya di angkasa, tidak ada rasa takut atau deg-degan, bahkan saking senangnya saya sempat mengambil hp dari kantong celana dan selfie-selfie. Hal yang sangat jarang saya lakukan. 😀
pg3
Sekitar lima belas menit terbang akhirnya saya mendarat mulus, perlu dicatat bahwa tidak semua bisa mendarat mulus. Alhamdulillah. Sedikit catatan kurang menyenangkan hanyalah masalah pelayanan petugas yang kurang bersahabat. Bahkan saya baru diberitahu petugas di bagian pendaratan kalau semua peserta paragliding mendapatkan sertifikat namun tidak diinformasikan oleh petugas yang diatas. Ya sudahlah, saya dan teman-teman mengikhlaskan saja sertifikat tersebut daripada harus balik lagi ke atas bukit dengan suasana yang mulai gerimis dan kelaparan. Yang penting saya sudah menikmati pengalaman terbang dengan paragliding. Berani melawan ketakutan akan ketinggian dan kepanikan. Dan sepertinya saya bakal mengulang lagi suatu saat. Selamat mencoba teman-teman.

An amateur blogger & life enthusiast by night ● Ancient ● Art ● Travel ● Book ● Culture ● Finance ● Food ● Gamelan ● Javanese

6 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*