Sudut lain Jogja part 2

Menyambangi kota Jogja memang tidak membosankan buat saya, seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, kali ini saya tuliskan kembali beberapa aktifitas dan hal-hal menyenangkan saat berada di Jogja menurut saya, dan tulisan ini sangat subyektif.

Menikmati kuliner kuno raja Jogja
Sepanjang yang saya tahu ada 2 tempat di Jogja yang memang mengkonsep restoran ala raja-raja jaman dulu, mulai dari menu hingga lokasinya yang memang berada di sekitaran keraton Jogja. Yang pertama resto Bale Raos, terletak di halaman keraton, restoran ini menyajikan menu-menu kuno seperti Semur Piyik, Bebek suwar-suwir, Bestik lidah, Gudeg manggar, Nasi Blawong dan sebagainya. Buat saya menu-menu ala jawa ini memang cocok dilidah, terlebih jika kita pernah membaca Serat Centhini pasti akan merasa penasaran rasa kuliner kuno ini. Beberapa menu Bale Raos ini memang tercantum di Serat Centhini, sebuah ensiklopedi Jawa yang ditulis pada abad 18 sehingga ketika mencicipi kuliner ini, kita serasa kembali ke masa lalu.

Restoran dengan konsep serupa adalah Restoran Gadri, restoran ini milik adik Sri Sultan Hamengkubuwono. Berlokasi di kediaman pribadi adik Sri Sultan, tatanan restoran ini tak ubahnya seperti rumah pribadi bangsawan Jawa kuno. Pendopo yang dipenuhi perabot antik, gamelan, hingga lukisan keluarga membuat kita betah untuk mengeksplorasi sudut-sudut pribadi kediaman sang bangsawan. Menu-menu di Resto Gadri tidak kalah menariknya dengan Bale Raos. Ada berbagai jajan pasar kuno seperti Pis Kopyor, Gudir, Manuk Nom yang mana jaman dahulu adalah dessert favorit sang raja. Terbuat dari campuran tape ketan berwarna hijau dipadu dengan agar-agar membuat santapan ini terasa unik. Dan favorit saya adalah Pis Kopyor, paduan dari kelapa muda, nangka dan santan yang dikukus. Aroma daun pandan dan kukusan daun pisang membuat hidangan ini terasa lezat.

Nyekar di makam raja di daerah Imogiri
Kedengarannya memang kurang asik, tapi percayalah nyekar atau ziarah ke makam raja jogja ini sangat menarik dan bisa memberikan pengalaman baru. Makam raja-raja Jogja beserta keturunannya berada di kawasan Imogiri Bantul. Makam raja di Imogiri ini bisa ditempuh kurang lebih satu jam dari pusat kota. Dan hanya dibuka untuk umum pada hari Jumat dan Minggu pukul 1 siang. Memasuki area pemakaman aura mistis sangat terasa. Pemakaman berada diatas bukit dengan menaiki sekitar 400an anak tangga. Dikanan kiri tangga pepohonan tumbuh tinggi menjulang. Para peziarah diwajibkan mengenakan baju adat jawa saat memasuki makam raja.

Cungkup atau makam utama raja jogja yang pertama yaitu Pangeran Mangkubumi berada paling atas. Peziarah dianjurkan membawa bunga tabur yang banyak dijual di sekitar makam. Memasuki area utama bau dupa tercium kuat. Untuk memasuki makam utama peziarah harus antri menunggu intruksi dari juru kunci. Makam berada di tengah bangunan joglo yang dikelilingi krobongan atau dinding kayu dengan pintu masuk setinggi 50 cm. Di dalam makam hawa pengap mulai terasa. Suasananya gelap dan hanya diterangi lilin-lilin kecil. Sebagai umat muslim saya hanya bisa berdoa tanpa embel-embel apapun di dalam makam.

Sebenarnya masih banyak hal-hal menarik di Jogja. Well, nanti kalau ada waktu saya teruskan kembali tulisan mengenai sudut-sudut lain kota Jogja..

One Reply to “Sudut lain Jogja part 2”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *