Para Priyayi, Sebuah Novel

Jpeg
Jpeg

Apakah arti dari sebuah kata “Priyayi”?

Priyayi dalam budaya Jawa adalah kalangan yang berasal dari keturunan bangsawan atau memiliki trah langsung dari anggota kerajaan. Dalam novel Para Priyayi, arti priyayi bisa sangat berlainan dengan yang diistilahkan oleh Wikipedia.

Adalah Sastrodarsono yang memiliki nama kecil Soedarsono mengawali jenjang kepriyayiannya dari seorang anak buruh tani. Tekad dan dorongan yang kuat dari anggota keluarga membuat Sastrodarsono berhasil menjadi orang yang pertama kali mbubak kawah (menjadi pembuka jalan) bagi keluarganya untuk menapaki dunia kepriyayian.

Mengambil setting di era bangsa Indonesia mengalami penjajahan oleh Belanda dan Jepang hingga zaman pemberontakan G30S PKI, novel ini mampu memberikan sudut pandang yang kaya bagi para pembacanya. Tidak hanya tokoh utama yang diceritakan, namun semua tokoh baik dari Sastrodarsono, istrinya, anak-anaknya, menantu-menantunya bahkan cucu-cucunya dengan berbagai masalah kehidupan yang rumit mampu dihadirkan dengan menarik.

Ada satu tokoh protagonis yang menjadi sorotan utama dalam novel ini selain Sastrodarsono.Adalah Lantip, seorang anak penjual tempe keliling di Wanagalih. Di umur yang masih belia, ia dititipkan emboknya di rumah keluarga Sastrodarsono, keluarga priyayi terpandang di kabupaten. Ia sudah dianggap anak di rumah besar tersebut. Lantip mampu tumbuh menjadi sosok yang cerdas,berwibawa dan memiliki naluri kepedulian yang luar biasa bagi sesamanya.

Di tangannya, semua permasalahan keluarga Sastrodarsono mampu diselesaikan dengan baik tanpa menimbulkan konflik yang berkepanjangan. Ibarat mencabut rambut dari tepung tapi jangan sampai tepungnya berantakan, begitulah cara Lantip menyelesaikan konflik keluarga. Meski ia bukan anak kandung, melainkan seorang anak jadah (anak hasil hubungan tidak sah) dari keponakan Sastrodarsono yang raib entah ke mana, namun jiwa kekeluargaanya begitu kuat.

Lantas apa makna sesungguhnya dari Priyayi itu? Benarkah priyayi adalah kalangan orang terpandang yang hidup berkecukupan? Mampukah pondasi kepriyayian yang dibangun keluarga Sastrodarsono bertahan menghadapi zaman, cucu-cucu Soedarsono sendiri kemudian hidup di zaman mereka. Anak-anak kelas menengah yang manja, terlibat pergaulan bebas, Gestapu dan sebagainya.

Berkaca dari novel tersebut andaikan kita adalah ‘cucu-cucu Soedarsono’ yang hidup di zaman sekarang, akankah kita mampu meneladani sosok kepriyayian yang ditunjukkan Lantip? Seperti dalam eulogi yang disampaikan Lantip saat Embah Kakung Sastrodarsono seda (meninggal dunia).“ … Saya telah mencoba menyampaikan pemahaman saya tentang darma Embah Kakung semasa hidupnya. Yaitu, menanam penerjemahan semangat priyayi sebagai semangat pengabdian kepada masyarakat wong cilik…”. Novel setebal 337 halaman ini akan menyajikan makna sesungguhnya tentang priyayi.

-Jakarta, 18 Januari 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *