Menjelajahi Baduy Dalam

Hujan deras menyambut kami malam itu. Setelah trekking sekitar empat jam naik turun bukit sampailah kami di perkampungan Baduy Dalam. Butuh ekstra energi dan semangat untuk mencapai perkampungan terpencil ini. Jalur yang tidak mudah disertai hujan ringan sepanjang sore, membuat kita harus ekstra hati-hati supaya tidak tergelincir saat mendaki atau menyusuri jalan setapak.

Kesunyian malam ditemani gemuruh hujan membuat suasana malam semakin syahdu. Senthir atau lampu minyak tergantung di tengah-tengah rumah panggung yang terbuat dari bilik bambu. Penerangan remang-remang membuat sajian makan malam yang kita santap semakin nikmat. Sekitar 20an orang, saya dan teman-teman dari komunitas Backpacker Jakarta menginap di salah satu rumah warga Baduy Dalam. Tidak ada fasilitas MCK di perkampungan tersebut. Semua aktifitas MCK dilakukan di sungai yang berjarak sekitar 50 meter dari rumah.

Malam itu kami habiskan dengan bercengkrama di dalam rumah bersama Mulyono Marsinun alias Mul, pemuda 26 tahun asal desa Balimbing Baduy Luar yang menjadi guide kami selama 2 hari. Dia menjelaskan tentang sejarah suku Baduy, ada sekitar 63 perkampungan Baduy. 3 perkampungan Baduy Dalam dan 60 perkampungan Baduy Luar. Kepala suku Baduy disebut Pu’un. Mereka menganut agama Slam Sunda Wiwitan. Percampuran antara agama Islam dan Hindu. Kebutuhan hidup sehari-hari ditopang oleh hasil ladang dan perkebunan yang mereka kelola. Wanita Baduy Luar mengisi waktu dengan menenun dan wanita Baduy Dalam lebih sering memasak, sementara kaum laki-lakinya sama berkebun di ladang atau mencari madu di hutan. Sebagian dari mereka menjual souvenir khas Baduy.

Waktu seakan berhenti di perkampungan ini. Bersyukur sore sebelum hujan deras saya dan teman-teman menyempatkan mandi di jernihnya air sungai. Tidak banyak aktifitas yang bisa kami lakukan malam itu. Selain hujan deras yang mengguyur dari sore, kami juga ingin beristirahat guna menyiapkan energi untuk trekking besok pagi . Diskusi dengan Mulyono kita akhiri dengan minum-minum teh dan kopi hangat. Tidak dapat disangkal menjelajahi Baduy Dalam dan Baduy Luar adalah pengalaman yang membuat kita belajar tentang cara mempertahankan kearifan lokal ditengah-tengah maraknya budaya modern yang kita serap sekarang. Semoga eksistensi mereka terus bertahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *