Sajak-Mu Piye? Part 3

in semua tulisan by

Tubuh yang tabah, menasbihkan namaMu, menisbahkan seluruh rindu. PadaMu @samudra_hening

Rinduku terdalam lalu lalang menuju pulang, di bening keningmu yang hening @samudra_hening

Bertamulah di kerinduanku, cicipi secangkir sepi dingin, semaumu. @samudra_hening

Serupa bahtera Nuh, kita adalah sepasang, yang terselamatkan dari banjir rindu, lalu berlabuh di bukit-bukit pelukmu @samudra_hening

Di altar Prambanan, kau serupa kinanthi yang kunantikan, senyummu, seribu rindu yang kucandikan @samudra_hening

Tak lagi kudongengkan tentang Jonggrang,jika rindu ini menggenapi seribu kutukan dalam wujud Bondowoso yang berbeda @samudra_hening

Yang tersisa dari udara subuh ialah rindu yang tak lagi rapuh. Nun jauh, puasamu mencipta puisiku. @samudra_hening

Dalam setangkup doa, rindu adalah kejap matamu, yang setia menangkap aminku, yang setia nenemani imanku @samudra_hening

Telah tiba masanya, segala yang disingkirkan rindu satu per satu akan disangkarkan waktu @samudra_hening

Kutemukan senja lain, terbenam disudut matamu,cahayanya redup sejak rindu sering bertiup @samudra_hening

Secangkir puisi kau buatkan, barangkali syair hanyalah pemanis bagi kopi yang kau seduhkan dalam kata @samudra_hening

Di pelupuk matamu, awan hujan mulai turun, rintik airnya tergenang hingga ke dasar hatiku @samudra_hening

Sore ini, kulihat matahari terbenam di mata kananmu, gerimis mulai turun di mata kirimu, dan hatiku mulai basah oleh airmata @samudra_hening

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*