Sajak-Mu Piye? Part 2

in semua tulisan by

Hatimu memang terlampau dalam, namun disana aku rindu rasanya tenggelam @samudra_hening

Lepas senja seorang lelaki pergi ke bulan “langitnya dicat warna apa sayang?” Sang kekasih menggantungkan pelangi @samudra_hening

Pergilah ke langit, disana puisi tak pernah kehilangan sunyi. Tertanda – penyair bumi @samudra_hening

Memang, senyum mautmu selalu ditebar diam-diam, namun ia mampu membunuhku hidup-hidup @samudra_hening

Berhati-hatilah mencintaiku karena aku tak mampu mencintaimu setengah hati @samudra_hening

Disini, rindu membeku diantara bongkahan waktu, jangan biarkan ia meleleh lalu menggenangi sudut matamu @samudra_hening

Disini, rindu membeku diantara bongkahan waktu, jangan biarkan ia meleleh lalu menggenangi sudut matamu @samudra_hening

Di sudut meja, secangkir kopi panas perlahan mendingin, kekasihnya pergi mencari pemanis lain @samudra_hening

Dalam sekotak wayang, kita adalah sepasang peran yang saling mempermainkan dalang,dan penonton siap berkisah @samudra_hening

Sore ini, kulihat matahari terbenam di mata kananmu, gerimis mulai turun di mata kirimu, dan hatiku mulai basah oleh airmata @samudra_hening

Tak perlu lagi asam cuka jika senyum yang kau masamkam terfermentasi hingga detik yang kesekian. — @samudra_hening

Tak lagi kudongengkan tentang Jonggrang,jika rindu ini menggenapi seribu kutukan dalam wujud Bondowoso yang berbeda @samudra_hening

Berhati-hatilah mencintaiku karena aku tak mampu mencintaimu setengah hati @samudra_hening

Sementara aku mencemaskanmu diam-diam,rinduku kau kubur hidup-hidup @samudra_hening

Saat embun berebut turun, sepiring senyum dan secangkir puisi sudah kau hidangkan pagi ini @samudra_hening

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*