Milenial di Antara Empat Tantangan Ekonomi Global

Tahun 2020, berbagai risiko yang mengintai perekonomian global menjadi momok bagi semua negara termasuk Indonesia. Perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia yang diprediksi masih terjadi di 2020, menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku bisnis di seluruh dunia. Tantangan ini nggak cuma buat pelaku bisnis, lho. Generasi milenial dan generasi Z yang mendominasi penduduk Indonesia bakalan merasakan dampaknya.

Belum lama ini saya mengikuti bincang-bincang “Outlook Ekonomi 2020, Optimistis Tetap Bertumbuh” yang diinisiasi oleh BCA. Acara seru dan keren ini rutin digelar di Kafe BCA setiap tiga bulan sekali. Dari sini, saya semakin tau banyak tantangan ekonomi apa yang diharus dihadapi oleh semua orang. Termasuk saya. Rasanya generasi muda wajib tau arah dan kebijakan ekonomi apa yang bakal digulirkan pemerintah.

Terus, gimana sih, pandangan ekonom dan milenial dalam menyikapi kondisi ini?

Nah, di acara ini, BCA menghadirkan tiga narasumber yang kompeten untuk membahas Outlook Ekonomi 2020 tadi. Ada David Sumual yang merupakan ekonom BCA, Direktur Riset CORE Indonesia, Pieter Abdullah, dan Kepala Kajian Makro LPEM UI Mas Febrio Nathan Kacaribu. Bincang-bincang ini makin seru karena dimoderatori oleh news anchor kenamaan dari Kompas TV, Mas Bayu Sutiyono. Pada tau, kan, Mas Bayu ini dulu rutin menjadi news anchor Liputan 6 SCTV sebelum pindah ke Kompas TV membawakan acara Sapa Indonesia Pagi.

Dalam bincang-bincang ini disebutkan oleh para ekonom setidaknya ada empat tantangan yang bakal mengintai perekonomian dunia 2020.

Pertama, kenaikan suku bunga Bank Sen­tral Amerika Serikat (AS) atau The Fed. Ini maksudnya apa? Jadi gini, umumnya kita sebagai milenial hanya tau suku bunga yang berhubungan langsung dengan perbankan tempat kita menyimpan atau meminjam dana. Baik suku bunga penempatan dana (Giro, Tabungan, dan Deposito) atau suku bunga pinjaman alias kredit. Saat suku bunga pinjaman rendah, kita cenderung termotivasi untuk mengambil pinjaman. Begitu juga sebaliknya, jika suku bunga pinjaman tinggi, kita pasti enggan meminjam uang di bank.

Dalam lingkup makro, efek perubahan suku bunga ini bisa meluas hingga menjangkau suatu negara. Apalagi jika mata uang sebuah negara dijadikan sebagai mata uang dunia seperti dolar Amerika (USD). Alasan utama mengapa dolar digunakan sebagai mata uang internasional karena pergerakannya yang relatif stabil. Jika dibandingkan dengan banyak mata uang negara maju, dolar memang punya nilai tukar cukup tinggi dan pergerakannya nggak liar. Selain itu, kondisi politik di Amerika yang dinilai stabil membuat dolar semakin dipercaya untuk dijadikan pegangan atau simpanan.

Nah, kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (AS) ini pastinya punya dampak besar terhadap perekonomian seluruh negara. Termasuk Indonesia yang memiliki utang dalam bentuk dolar.

Utang ini nggak cuma pemerintah aja yang punya, swasta juga punya. Meningkatnya suku bunga The Fed membuat dolar ‘pulang kampung’ ke negaranya. Jadi, karena dolar yang ‘kelayapan’ di seluruh negara ini semakin sedikit, membuat nilainya semakin tinggi. Ingat ya, hukum permintaan barang: jika barang yang tersedia sedikit dan permintaan banyak, maka, nilai atau harga barang akan naik. Dalam periode tertentu pemerintah dan swasta membutuhkan cadangan devisa dalam bentuk dolar untuk membayar utang (pokok dan bunganya) ke Amerika atau negara lain.

Jadi ngerti ya, kalau nilai dolar naik, maka nilai utang dalam bentuk dolar otomatis ikutan naik. Kondisi ini juga memengaruhi industri dalam negeri yang menggunakan bahan baku impor. Karena belinya pakai dolar, maka harga bahan bakunya juga meningkat. Mau nggak mau mereka harus menaikkan harga jualnya.

Kedua, drama perang dagang AS-Tiongkok yang belum kelar mengakibat­kan penyusutan perdagangan global. Duh, ngebahas perang dingin, eh perang dagang ini emang agak berat. Beragam kebijakan yang diterapkan oleh Amerika untuk membatasi investasinya di perusahaan-perusahaan China dan upayanya untuk membuang saham China yang ditanam di Amerika bakalan berbuntut panjang. Drama perang ini belum kelar juga meski udah berlangsung setahun lebih.

Lalu apa dampaknya?

Nah, kalau ada dua negara dengan perekonomian terbesar di dunia berseteru, tentu akan memberikan dampak turunan bagi negara lain yang melakukan transaksi dagang dengan dua negara tersebut. Termasuk Indonesia yang mengekspor barang-barangnya ke AS dan China. Gampangnya gini, kalau kita berdagang sama dua orang teman, sebut saja A dan B, terus A dan B ini bermusuhan yang membuat kondisi ekonomi masing-masing merosot, pasti dagangan kita ke mereka bakalan kena dampaknya. Minimal nggak laku karena mereka juga lagi memperbaiki kondisi ekonominya masing-masing. Apalagi pembeli terbesar dagangan kita si A dan si B tadi. Jadi udah paham, ya, apa dampaknya kalau dua negara perang dagang.

Ketiga, ancaman perlambatan ekonomi Tiongkok. Ngejelasin ini juga rada berat. Gampangnya gini aja, kalau kita mau jualan sama si A, sementara kondisi ekonomi si A ini lagi kembang kempis, pastinya kita juga ketar-ketir, kira-kira dagangan kita bakalan laku nggak, ya, kalau dijual ke si A tadi. Nah, kalau Indonesia mau jualan ke China sementara kondisi ekonomi China juga merosot, pastinya bikin khawatir kan? Kurang lebih seperti itu dampak perlambatan ekonomi Tiongkok. Tau sendiri kan, negara ini punya pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi dari tahun ke tahun dan ekpsor kita banyak ke negara Tiongkok.

Ke­empat, tren kenaikan harga minyak dan gejolak harga komoditas. Dampak ini harus diantisipasi oleh semua negara termasuk Indonesia. Harga minyak dunia itu selalu fluktuatif karena faktornya banyak. Para ekonom dalam bincang-bincang tersebut juga sepakat bahwa harga minyak tahun 2020 masih belum stabil. Negara-negara pengekspor minyak yang tergabung dalam OPEC berencana memangkas perkiraan pertumbuhan permintaan minyak dunia pada tahun 2020 karena perlambatan ekonomi global.

Kalau produksi minyak dipangkas harganya bakalan naik karena persediaannya terbatas. Naiknya harga minyak bakal jadi ancaman defisit RI di tahun depan. Indonesia yang sudah keluar dari OPEC bakal kena imbasnya. Semoga aja ancaman ini nggak terjadi, ya. Karena kalau harga minyak naik bisa dipastikan harga-harga kebutuhan pokok ikut naik. Simpelnya gini, lalu lintas perdagangan di Indonesia dengan demografi wilayah yang luas, membutuhkan sarana transportasi yang sebagian berbahan bakar minyak. Naiknya biaya transportasi memengaruhi kenaikan harga jual barang. Efek dominonya juga banyak. Kalau harga jual naik, barang belum tentu laku dijual. Kalau penjualan menurun imbasnya perusahaan akan memangkas jumlah karyawannya supaya nggak defisit. Kalau karyawan dirumahkan, pengangguran meningkat. Ini belum termasuk pabrik-pabrik yang menggunakan bahan bakar minyak untuk proses produksi, lho. Semoga kondisi di atas nggak terjadi, ya.

Optimistis Ekonomi Indonesia Tumbuh di Kisaran 5,0-5,2 Persen

Di tengah carut-marut dan beragam tantangan ekonomi global yang dihadapi Indonesia tahun 2020, ekonom BCA, David Sumual meyakini ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh di kisaran 5,0-5,2 persen. Gampangannya gini aja, kalau tahun 2019 total harta yang kita kumpulkan dalam setahun mencapai seratus juta rupiah, terus tahun 2020 naik lima persen aja, harta kita bakalan naik menjadi 105juta rupiah. Nah, ini berlaku untuk pertumbuhan ekonomi suatu negara. Termasuk Indonesia.

Beragam faktor yang memengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu negara itu banyak. Salah satunya adalah risiko eksternal yang masih terjaga, di mana defisit neraca transaksi berjalan berada di level 2,0-2,5 dari Produk Domestik Bruto (PDB). Lebih jelasnya seperti ini: misal harta kita tahun 2020 naik tujuh persen dari seratus juta rupiah menjadi 107juta rupiah, terus karena satu dan lain hal, misal harus bayar utang sekitar dua jutaan rupiah. Nilai harta kita untuk membayar utang tadi setara dua persen dari total harta yang kita miliki. Kita masih surplus sekitar lima persen setelah dikurangi untuk bayar utang.

Selain asumsi makro tadi, beragam paket kebijakan fiskal dan moneter pro-growth yang dibuat pemerintah, turut mendukung proyeksi pertumbuhan ekonomi di tahun 2020. Pertumbuhan ini juga ditopang oleh beragam kebijakan lain di antaranya, pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan dan rencana pemindahan ibu kota bakalan mendorong kinerja sektor kontruksi dan properti, termasuk industri turunannya.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini masih ditopang oleh sektor konsumsi. Bayangin aja, jumlah penduduk Indonesia saat ini mencapai sekitar 250juta jiwa. Jumlah penduduk sebesar itu pasti semua butuh makan. Perputaran uang di sektor konsumsi dalam negeri ini, membuat Indonesia memiliki daya tahan dari gempuran tantangan ekonomi global.

Bonus demografi yang dinikmati Indonesia saat ini turut memberikan keuntungan lain. Salah satunya adalah memunculkan kekuatan baru ekonomi digital. Jumlah penduduk yang didominasi usia produktif (Generasi Milenial dan Generasi Z) membuat ekonomi digital berkembang pesat. Data yang dirilis Google, Temasek, dan Bain menyatakan bahwa Indonesia menyumbang Rp.567,49 triliun dari total ekonomi digital di Asia Tenggara. Nggak kira-kira kan jumlahnya?

Nilai ekonomi sebesar itu berasal dari lima sektor, yakni media daring, niaga daring, wisata atau travel, finansial, dan ride-hailing (seperti Gojek dan Grab). Proyeksi ekonomi Indonesia tahun 2025 diperkirakan mencapai 133miliar dolar AS.  

Semoga aja ya, dengan proyeksi pertumbuhan di tengah beragam tantangan tadi, membuat kita optimistis menyongsong tahun 2020. Beberapa tips yang bisa disiapkan milenial untuk mengantisipasi gejolak ekonomi global di antaranya adalah berinventasi dalam memperkaya ilmu pengetahuan dengan mengikuti seminar atau workshop yang menambah pengetahuan. Melakukan investasi finansial misalnya dengan membeli produk-produk investasi seperti saham, reksadana, dan surat berharga lainnya. Di BCA banyak kok beragam produk finansial yang bisa dibeli. Menyiapkan tabungan pensiun sedini mungkin, disiplin menyisihkan penghasilan minimal sepuluh persen setiap bulan, membeli produk proteksi/asuransi untuk melindungi asset, dan membatasi konsumsi yang kurang produktif.

Semoga tips ini bisa membantu kita menghadapi tantangan ekonomi global.

“99 Nama Cinta”, Film Apik Bernuansa Religi

“Saya datang kemari karena diminta untuk mengajari kamu mengaji … “

Begitulah kurang lebih penggalan dialog yang diucapkan Kiblat (diperankan oleh Deva Mahenra) saat bertemu Talia (Acha Septriasa) dalam trailer film 99 Nama Cinta.

99 Nama Cinta adalah sebuah judul film yang mengisahkan seorang perempuan mandiri dan ambisius bernama Talia. Perjuangannya yang menghalalkan segala cara untuk mengangkat derajat dirinya, dinilai terlalu egois. Talia yang diperankan apik oleh Acha Septriasa, berprofesi sebagai presenter infotainment sekaligus produser profesional di dunia pertelevisian.

Continue reading ““99 Nama Cinta”, Film Apik Bernuansa Religi”

Tokopedia dan Pemerataan Ekonomi Digital di Indonesia

“Eh, kameramu beli di mana?” Suatu ketika, pertanyaan tersebut muncul dari mulut teman saat melihat kamera di atas meja kubikel di kantor saya. “Yaelah, hari gini, cari aja di Tokopedia,” jawab saya singkat.

Jawaban tersebut memancing beragam pertanyaan lanjutan yang akhirnya  menjadi bahan diskusi ringan sepanjang hari itu. Saya dan teman-teman kantor jadi bernostalgia sekian tahun silam sebelum adanya Tokopedia. Zaman dulu nyari apa-apa susah. Mau belanja sesuatu harus datang langsung ke tokonya. Padahal yang dibutuhin cuma sepotong baju atau sepasang sandal jepit. Beda banget ama sekarang. Tinggal buka Tokepedia terus gesar-geser layar ponsel, transaksi kelar.

Continue reading “Tokopedia dan Pemerataan Ekonomi Digital di Indonesia”

Berburu Diskon di GBK Mandiri I SEE FEST 2019

Siapa sih, yang nggak suka diskon? Rasanya hampir semua orang suka diskon. Apalagi kalau lagi ada event-event khusus yang memang banjir diskon. Seperti yang sebentar lagi bakal digelar: Mandiri I SEE FEST 2019 di Gelora Bung Karno (GBK). Buat yang belum tau, I SEE FEST adalah “Hybrid Festival” pertama di Indonesia yang menggabungkan konsep festival outdoor dengan sentuhan budaya. Keren, ya!

Continue reading “Berburu Diskon di GBK Mandiri I SEE FEST 2019”

Dunia Kartun, Wahana Baru Dufan yang Spektakuler

Kapan terakhir kali ke Dunia Fantasi Ancol? Ngomongin keseruan wahana di Dufan, rasanya nggak pernah ada abisnya dan nggak pernah bosen karena banyak wahana permainan baru yang menantang. Boleh dibilang, Dufan selalu menyuguhkan inovasi yang spektakuler setiap waktu. Tiap akhir pekan atau hari libur, Dufan yang merupakan wahana permainan paling ngehits di Jakarta ini selalu dipenuhi pengunjung.

Continue reading “Dunia Kartun, Wahana Baru Dufan yang Spektakuler”

Siap-Siap, Ajang Gowes PRURide Indonesia 2019 Bakal Digelar di Jogja

Memang benar dan harus diakui, buat sebagian orang termasuk saya, Jogja adalah salah satu tempat ‘pulang’ dari jenuhnya kehidupan di ibu kota ataupun kota-kota besar di Indonesia. Kota Pelajar ini, punya seribu alasan dan daya tarik yang kuat agar kita kembali lagi menyambanginya. Meskipun bukan kota kelahiran, buat saya Jogja selalu istimewa. Lewat keramahan dan budaya Jawa yang kuat, kota ini mampu memberi saya jutaan inspirasi.

Continue reading “Siap-Siap, Ajang Gowes PRURide Indonesia 2019 Bakal Digelar di Jogja”

Gadai Emas 3,5 Gram Bisa Dapat Kuota Haji

Sekitar tahun 90-an, sewaktu simbah saya masih ada, beliau rajin mengoleksi kain-kain batik. Kain-kain batik tulis yang sudah berumur puluhan tahun itu tersimpan rapi di dalam lemari di kamarnya. Beliau pernah bilang kalau kain-kain batik tulis itu sangat berharga. Bahkan, saking berharganya beliau pernah bilang, kalau kain-kain batik itu bisa digadaikan di pegadaian. Iya, itu sekitar tahun 90-an.

Continue reading “Gadai Emas 3,5 Gram Bisa Dapat Kuota Haji”

Banyak Untung, Pengalaman Pakai Profil Bisnis di Aplikasi Grab

Mau sedikit sharing, neh. Jadi, belum lama ini saya ngikutin acara Ngobrol Produktif bareng Grab yang diadakan oleh Grab kerja bareng Kompas, dan saya baru tau kalau sekarang Grab udah punya layanan Grab for Bussiness. Iya, layanan terbaru dari Grab ini punya banyak kelebihan ketimbang menggunakan layanan yang konvensional alias layanan yang sering kita pakai pada umumnya. Saya sendiri memang tergolong rutin menggunakan jasa transportasi online. Tau sendiri, kan, tinggal di Jakarta yang macetnya kadang bikin sakit hati. Daripada capek bawa kendaraan sendiri, lebih nyaman dan praktis pakai transportasi online. Tinggal klik, duduk manis nunggu jemputan datang.

Continue reading “Banyak Untung, Pengalaman Pakai Profil Bisnis di Aplikasi Grab”

Tips Cari Baju Branded Murah di FO Mangga Dua Square

“Kuy! Cari baju branded murah di FO buat liburan.” Mungkin kalau ada ajakan seperti ini, ingatan kita langsung mengarah ke deretan FO ternama di jalan-jalan utama kota Bandung. Nggak salah, Bandung emang surganya Factory Outlet alias FO buat cari baju branded. Hampir semua jalan-jalan utama di kota ini memiliki FO atau toko baju khas distro. Entah sekadar buat outfit harian atau outfit buat liburan. Emang nggak ada apa, ya, FO di Jakarta yang menyediakan baju branded murah dan terjangkau? Jawabannya: ADA BANGET! Yes, baju branded murah FO berkualitas dengan harga terjangkau ada di Mangga Dua Square.

baca juga Traveling Hemat ke Jepang

Continue reading “Tips Cari Baju Branded Murah di FO Mangga Dua Square”

‘Indonesian Moslem Lifestyle Festival’, Pameran Industri Halal dan Syariah Terlengkap Tahun Ini

Sebagai orang yang berkecimpung di dunia ekonomi syariah, saya merasa senang karena tahun ini ada gelaran Indonesia Muslim Lifestyle Festival. Festival kali ini mengangkat Pameran Industri Syariah & Halal Suguhkan Gaya Hidup Halal yang Komprehensif. Well, mungkin nggak banyak yang tau kalau selama ini saya berkecimpung di dunia perbankan syariah. Iya, selama kurang lebih dua belas tahun saya nyemplung di dunia perbankan syariah.

Continue reading “‘Indonesian Moslem Lifestyle Festival’, Pameran Industri Halal dan Syariah Terlengkap Tahun Ini”